
"Airin," ucap Arsen dengan lirih.
Aaron menggenggam tangan Airin dengan erat seolah tidak membiarkan Airin untuk menemui Arsen.
"Kalau tidak boleh aku akan menurut," kata Airin dengan tersenyum.
Aaron menghela nafas lalu menginjinkan Airin untuk melihat Arsen.
"Ayo kita lihat Arsen," kata Aaron.
Tak hanya Aaron dan Airin, Arcelo dan Arthur juga mendekat ke tempat tidur dimana Arsen berbaring.
"Arsen," ucap mereka barengan.
Perlahan Arsen membuka matanya, dia tersenyum menatap para sahabatnya dan Airin.
"Airin," panggilnya.
"Istirahatlah Arsen, kondisi kamu masih lemah," kata Airin.
"Aku sudah baik kok," timpal Arsen.
"Arsen aku dan Airin pamit pulang dulu ya, biar arcelo dan Arthur yang menjaga kamu, nanti sore aku kesini lagi," pamit Aaron.
"Iya, silahkan," sahut Arsen meski dia menginginkan Airin yang menungguinya.
Arsen mengingat kembali saat awal bertemu dengan Airin, mulai mereka bermusuhan dan perlahan Arsen modusin Airin di kapal pesiar yang selanjutnya membuatnya jatuh cinta dengan Airin.
Meskipun Arsen kasar dan suka memaksakan kehendak pada Airin tapi dia sangat perhatian dari hal yang terkecil.
Hingga uang saku Airin Arsen lah yang memberi dan demi memberikan hadiah dan uang pada Airin saat itu Arsen bekerja membantu papanya di kantor.
__ADS_1
Arsen tersenyum mengingat itu semua.
"Apa semua kini kisah itu tinggal kenangan Airin?" batin Arsen dengan menangis.
Dia tak sanggup untuk melihat Airin menikah dengan Aaron.
"Kamu kenapa Arsen?" tanya Arcelo.
"Aku mengingat semua Arcelo," jawab Arsen.
"Selama setahun aku memendam rindu dan saat aku pulang kenapa aku malah kecelakaan," ucap Arsen dengan menangis.
Arcelo dan Arthur mencoba menghibur Arsen, mereka juga dapat merasakan sakit hati Arsen karena Arcelo dan Arthur juga merasakan yang sama.
Seminggu telah berlalu, Arsen telah pulih dan sudah mulai bekerja kembali.
Pernikahannya dengan Amanda telah dibatalkan, Papa Sean menanggung semua kerugian karena batalnya pernikahan yang telah ready seratus persen.
Amanda yang menyesal mencoba mendatangi Arsen lagi, dia memohon maaf dan mencoba membujuk Arsen untuk mau menikahinya.
"Amanda, kamu telah membuat aku kecewa. Bisa-bisanya kamu menukar obat aku," kata Arsen.
"Aku tau, tapi semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintai kamu Arsen," sahut Amanda.
"Bulsyit dengan cinta kamu Amanda lagipula cinta aku untuk kamu telah hilang," timpal Arsen.
Amanda terus merengek dan meminta Arsen untuk kembali mencintainya namun Arsen enggan untuk menerima Amanda kembali.
"Pergilah, jangan pernah temui aku lagi," kata Arsen.
Amanda mengindahkan perkataan Arsen, dia bersikeras untuk bersama Arsen.
__ADS_1
"Tidak ingatkah kamu Arsen kalau kamulah yang telah memilih aku dan kini kamu membuang aku seperti sampah," ucap Amanda.
"Bukan aku yang membuang kamu Amanda tapi ulah kamu sendiri yang membuat aku kecewa padamu, tak hanya aku tapi kedua orang tuaku juga iya, belum apa-apa kamu sudah psikopat seperti ini, lalu bagiamana nanti? bisa-bisa kamu membunuh aku," sahut Arsen.
Amanda pergi dengan membawa segala luka dihatinya, keegoisannya telah menyeret dia menjadi seorang yang menghalalkan segara cara untuk mendapatkan apa yang dia minta.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Arsen," kata Amanda dengan air mata yang jatuh.
Di ruangannya Arsen membuang semua benda yang ada di mejanya, dia menyesali semuanya.
"Kenapa Tuhan!" teriak Arsen.
**************
Sepulang dari kantor Arsen pergi ke rumah Airin, dia sungguh rindu dengan Airin.
Dari kejauhan nampak mobil Aaron sehingga Arsen putar balik dan pergi dari kompleks perumahan Airin.
Pikiran Arsen yang kacau membuatnya mengukur jalan tanpa tau arah dan tujuan.
Dua jam muter-muter di jalanan membuat Arsen lelah dan memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Airin.
Melihat Aaron sudah pulang, Arsen nampak senang.
Tok
tok
tok
Arsen mengetuk pintu rumah Airin dan tak berselang lama Airin membukakan pintu.
__ADS_1
"Arsen," katanya kaget.
"Aku rindu Airin," sahut Arsen.