
"Ada apa Arsen?" tanya Arthur saat tiba di rumah Arsen bersama Aaron dan juga Arcelo.
Arsen nampak tersenyum senang tak disangka kawannya datang segera.
"Aku ngidam," kata Arsen.
"Memangnya ngidam apa?" tanya Aaron.
"Makan asem," jawab Arsen.
"Lalu?" tanya Arcelo dengan curiga.
"Kalian manjat ya," jawab Arsen mengiba.
"Ogah," jawab Arcelo, Arthur dan Aaron.
Arsen memelaskan wajahnya berharap temanya bersimpati dan bersedia menuruti keinginannya.
Ketiga lelaki tampan di depan Arsen hanya bisa menghela nafas, demi keponakan tercinta mereka mau menuruti keinginan Arsen yang lebay..
"Baiklah," kata Arcelo, Arthur dan Aaron.
"Yes," sahut Arsen dengan senang.
Mama Arini dan Airin hanya bisa menggeleng kepala.
"Bayi kamu pasti lebih menjengkelkan daripada Arsen nanti," kata Mama Arini.
"Kelihatannya ma," sahut Airin.
Airin dan A4 berangkat untuk mencari pohon Asem, keinginan Arsen kali ini memang agak keterlaluan tapi bagaimana lagi, ngidamnya orang hamil memang tidak bisa dilarang.
"Sek, aku penasaran dengan anak kamu," kata Arthur.
"Mirip aku pasti," sahut Aaron.
"Sembarangan memangnya kamu ikut menyumbang hingga anak aku mirip kamu," maki Arsen tak terima.
"Dulu pernah," ucap Aaron dengan tertawa.
Arsen semakin kesal.
"Aku juga pernah nyumbang," sahut Arcelo.
Airin hanya diam sembari memijat pelipisnya yang pening. Heran dengan A4 yang pada ngaku-ngaku nyumbang benih pada dirinya.
"Lihatlah besok anak kamu satu mirip aku, satu mirip Arcelo dan bau bau Arthur," goda Aaron.
"Brengsek kalian, bukan kah kalian sudah memiliki istri kenapa tanam benih sembarangan," sahut Arsen ketus.
A3 saling tos karena berhasil membuat Arsen kesal dan marah.
"Kalian berempat memang gila," ucap Airin yang kesal.
Lama mencari pohon asem akhirnya mereka menemukannya juga.
Arcelo, Arthur dan Aaron melongo melihat pohon asem yang tinggi.
"Astaga tinggi sekali," kata Arthur.
"Aku melambaikan tangan Arsen, sungguh tak sanggup aku memanjat pohon yang tinggi seperti ini," sahut Arcelo.
"Lalu gimana dong?" tanya Arsen dengan bersedih, padahal dia telah membayangkan makan buah asem dari pohonnya.
__ADS_1
Airin mengelus punggung Arsen.
"Sudahlah sayang kasian kan A3 kalau kamu meminta mereka untuk memanjat pohon asem yang tinggi ini," bujuk Airin.
Arsen mengangguk namun Aaron tak sampai hati melihat Arsen kecewa sehingga dia memutuskan untuk memanjat pohon asem yang tinggi di depannya.
"Baiklah aku yang akan memanjat," kata Aaron.
Aaron segera memanjat, dia mengambil banyak buah asem untuk Arsen.
Tak hanya yang matang, Aaron juga mengambil buah asem yang mentah.
"Sudah cukup Aaron," teriak Airin.
Mendengar teriakan Airin, Aaron bergegas turun.
"Makanlah, itu ada yang mentah juga," ucap Aaron.
"Yang mentah biar dimakan Arthur dan Arcelo," sahut Arsen.
Arthur dan Arcelo membola, mereka enggan untuk memenuhi permintaan Arsen.
"Ayolah, please," pinta Arsen dengan puppy eyes.
"Kalian nggak sayang ya dengan keponakan kalian," imbuh Arsen.
"Sayang kok," sahut Arcelo.
Mau nggak mau mereka memakan asem mentah, Arthur sampai muntah-muntah sedangkan Arcelo menelan potongan kecil asem mentah tersebut tanpa mengunyahnya.
Aaron tertawa melihat temannya yang dipermainkan oleh Arsen.
"Lihatlah dia makan buah asem seperti orang gak punya dosa, begitu santai, begitu slow dan menikmati banget, itu lidahnya udah kebalik atau gimana ya," kata Arthur.
Ngidam Arsen menyiksa A3 tak sampai di sini kali ini dia ingin makan sate ayam, mereka berlima segera mencari restoran yang menjual sate ayam namun Arsen ingin makan sate di pinggir jalan.
"Baiklah kita cari," kata Aaron.
Lama muter-muter kini ketemu juga.
Arsen memesan tiga puluh tusuk untuk dirinya sendiri.
"Busyet, ini bayi apa buto ijo makannya banyak sekali," kata Arthur tak percaya.
"Di dalam kan bayinya ada dua dan aku jadi aku pesan tiga porsi," sahut Arsen.
A3 dan Airin pandang dengan menghela nafas.
"Pak beli 7 porsi ya," kata Arsen.
"Baik mas," ucap Abang tukang sate mari mari sana dengan senang.
Dengan hati yang senang Abang tukang satenya menyiapkan Bakaran untuk membakar satenya.
"Tunggu, biar teman saya yang membakar," cegah Arsen.
"Apalagi ini Arsen?" tanya Arcelo.
"Kalian yang bakar lah, gantian satu satu ok," jawab Arsen.
"Dan untuk kamu sayang, suapi aku makan ya," imbuh Arsen.
A3 sungguh dikapokan oleh Arsen, habis memanjat pohon asem, makan asem mentah dan kini membakar sate entah apa lagi.
__ADS_1
"Kamu mengerjai kami Arsen," protes Arthur.
"Nggak, kan ini permintaan keponakan kalian jadi aku harap kalian maklum ya," kata Arsen memelas.
"Wajahnya sungguh menyebalkan," kata Arthur.
"Banget, sumpah pengen tak cakar," timpal Arcelo.
"Sabar guys, besok kalau istri kita hamil, kita bisa meminta dia untuk berkontribusi," bujuk Aaron.
"Pastilah, awas saja kalau sampai istriku hamil dan dia cuek bebek," sahut Arthur dengan kesal.
"Kamu masih lama Arthur, cewek saja kamu belum punya," ejek Arcelo.
Arthur nampak kesal lalu dia membakar sate terlebih dahulu.
Asap dari arang membuat mata Arthur perih dan dia tak sengaja mengeluarkan air matanya.
"Ini gara-gara Arsen yang membuat aku menangis seperti ini," gerutu Arthur.
Melihat Arthur membakar sate membuat orang yang lewat pada berbelok untuk membeli sate karena dikira yang jualan adalah Arthur.
"Mas bungkus satu dong," kata Seorang ibu-ibu.
"Maaf saya bukan penjualnya," sahut Arthur.
"Ayolah mas, melihat ketampanan Abang membuat jiwa jomblo saya meronta.
"Ingat umur Bu," sahut Arthur lalu mengangkat satenya dan langsung menyajikan di meja Arsen.
Tak hanya Arthur, Arcelo dan Aaron mengalami hal yang sama. Melihat para kaum hawa pada mengantri membuat abang tukang satenya sangat senang, kedatangan A4 menjadi keberuntungannya tersendiri.
"Kamu benar-benar deh Arsen, habis ini apa lagi?" maki Arthur.
"Tak sanggup aku, tanganku pegal sekali mengipas sate tadi," kata Arcelo.
"Untuk hari ini cukup besok lagi ya guys," ucap Arsen.
A3 menghela nafas, kesal karena dipermainkan oleh Arsen, apa memang kehamilan kembar seperti ini? entahlah.
Disisi lain Gabriel mengunjungi Laura lagi, namun kali ini dia tak sengaja melihat Laura tanpa busana.
"OMG," katanya dengan memegangi miliknya yang perlahan menaik.
"Gimana ini, lanjut dosa, mundur sayang." Gabriel bimbang.
"Arrgggggg," Gabriel frustasi.
Bisikan gaib mulai mempengaruhi Gabriel, dia langsung saja masuk kamar Laura.
Laura yang hanya memakai pakaian dalam tentu kaget.
"Gabriel," teriak Laura.
"Aku sudah tidak kuat," kata Gabriel.
Laura tersenyum.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Laura.
"Entahlah, yang penting dia bisa tidur dengan nyenyak," jawab Gabriel.
"Dengan senang hati Gabriel," sahut Laura.
__ADS_1
Mendengar sahutan Laura membuat Gabriel tersenyum licik.