Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Hot DP


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari meeting, Karin nampak terdiam. Dia memikirkan apa tadi dia inginkan, apa dia akan memberikan hal yang lebih pada Arcelo sedangkan Arcelo tidak mencintainya?


"Kamu kenapa?" tanya Arcelo.


Pertanyaan Arcelo membuyarkan lamunannya.


"Eh iya," sahut Karin dengan tersenyum.


"Apa yang kamu pikirkan?" Arcelo mengulangi pertanyaannya.


"Kita," jawab Karin dengan singkat.


"Kita? ada apa dengan kita?" tanya Arcelo yang bingung dengan jawaban Karin.


"Iya, kita. Setiap berciuman dengan kamu, aku selalu meminta hal lebih tapi kamu tidak mencintai aku," kata Karin.


Arcelo nampak tersenyum kecut, dia bingung kini. Ingin maju takut terbebani dengan cinta yang belum jelas ingin mundur tapi dia telah kecanduan men Dp Karin.


"Maafkan aku Karin," sahut Arcelo.


"Tapi semenjak aku dan kamu berpura-pura jujur aku selalu kepikiran kamu, aku ingin selalu bersama kamu, tapi aku tidak bisa mendefinisikan ini cinta atau bukan," ungkap Arcelo.


Karin nampak tersenyum.


"Itu artinya kamu mulai mencintai aku Arcelo," kata Karin.


"Mungkin iya mungkin tidak, intinya aku masih ragu Karin akan perasaanku," timpal Arcelo.


"Apa lebih baik kita berkomitmen saja Arcelo, kita sama-sama dewasa, daripada kita tersiksa seperti ini," kata Karin.


Memang benar apa yang dikatakan Karin, dairpada tersiksa lebih baik saling berkomitmen mungkin cinta akan tumbuh seiringnya waktu.


"Cara pikir kamu sungguh berbeda dengan kami Karin," puji Arcelo.


"Beda gimana?" tanya Karin.


"Kamu mengungkapkan cinta lebih dulu, kamu meminta hal lebih, kamu minta berkomitmen pada aku yang belum yakin," jawab Arcelo.


Karin tertawa dengan keras.


"Mungkin karena aku bukan orang pribumi, aku hanya tidak ingin jadi orang yang munafik Arcelo, memang banyak yang bilang kalau wanita harus jual mahal, tapi aku nggak setuju dengan statement itu," jelas Karin.


"Cinta harus diperjuangkan meski kita menurunkan harga diri, tapi ya lihat-lihat cowoknya juga sih," imbuh Karin dengan tertawa.


"Asal nggak suami orang yang diperjuangkan," sahut Arcelo.


"Betul betul," timpal Karin.


Nilai plus tersendiri untuk Karin, Karin sangat open mind sehingga membuat Arcelo nyambung.


"Jadi apa kamu mau berkomitmen sama aku?" tanya Karin.


"Aku harap kamu jujur jangan hanya mau untung saja," imbuh Karin.


Arcelo menggenggam tangan Karin lalu menciumnya.


"Aku akan mencobanya," kata Arcelo.


Tak selang berapa lama, Karin dan Arcelo sampai di apartemen Arcelo.


Arcelo dan Karin pun duduk duduk untuk menghilangkan lelah karena seharian bekerja.


"Lelah sekali," kata Arcelo.


"Aku pijat ya." Karin menawarkan diri untuk memijat Arcelo.


"Jangan, kamu pasti capek juga kan?" kata Arcelo.

__ADS_1


Arcelo meletakkan kepalanya di paha Karin, dia juga menggenggam tangan Karin dan menciumnya.


"Entah mengapa hari ini aku bahagia sekali," kata Arcelo.


"Kenapa?" tanya Karin.


"Dekat lagi dengan kamu, akhirnya setalah berabad abad tidak dp kamu," jawab Arcelo.


"Kamu ini messssuuuummm sekali sih Arcelo," sahut Karin.


"Bukannya mesum cuma agresif saja," timpal Arcelo dengan tertawa.


Kini pandangan mereka saling bertemu, wajah mereka semakin dekat, dekat dan akhirnya ciuman tidak bisa terelakkan, tak hanya ciuman, tangan Arcelo juga menjelajah masuk ke dalam gunung terlarang milik Karin.


Arcelo meremmmmas gunung putih Karin dengan lembut selembut pautannya.


Pucuk gunung Karin mengeras yang artinya kini dia telah berhasrat.


Puas dengan bibir sang kekasih, Arcelo kini turun ke bawah dimana jenjang leher Karin melambai untuk dilumat juga.


"Huh, Arcelo nikmat sekali," kata Karin dengan lirih sambil memejamkan matanya.


"Aku ingin memuaskan kamu malam ini sayang, kita akan menyatu selayaknya pasangan yang dimabuk asmara," bisik Arcelo.


Karin menarik rambut Arcelo dan menenggelamkan dalam pelukannya.


"Kamu ingin lebih atau kita sampai di sini saja?" tanya Arcelo.


"More, i want more baby," jawab Karin.


"Dengan senang hati," sahut Arcelo.


Tangan Arcelo melepas satu persatu kancing baju Karin, salivanya mengucur deras saat buah dadanya yang besar.


Tanpa aba-aba Arcelo mereeemaaaaasss perlahan meski masih dalam pakaian dalam yang Karin kenakan.


"Baru kamu yang menyentuhnya," sahut Karin.


"Really?" tanya Arcelo.


"Yes," jawab Karin.


Arcelo membuka kait bra milik Karin hingga kini dengan jelas dia bisa melihat pegunungan kembar yang berukuran big.


"Ouuuuhhhhh Sayang besar sekali," katanya yang tak sabar untuk segera memakan buah matang yang ada di depannya.


Tanpa ragu Arcelo segera melahapnya, dia sudah tidak memikirkan dosa yang penting sekarang nikmat.


Mendapatkan sentuhan di dadanya membuat Karin menggeliat seperti ulat, dia sungguh menyesal kenapa nggak dari dulu seperti ini.


"Gigit Arcelo," pinta Karin.


Arcelo menggigit kecil pucuk gunung milik Karin dan ini membuat Karin menjerit dia pun menarik kepala Arcelo dan melahap bibir kekasihnya tersebut.


Setelah sudah mereka menarik nafas dalam-dalam.


"Sudah?" tanya Karin.


"Kamu minta lebih?" jawab Karin.


Seorang bule mungkin berbeda dengan orang pribumi, Bule akan melakukan apapun yang dianggapnya menyenangkan dan seperti itu juga Karin saat ini.


Dia menginginkan hal lebih berani pada Arcelo sedangkan Arcelo masih belum ingin melangkah lebih jauh dari ini, dia masih memikirkan dosa dan dia takut kalau kecanduan bercinta seperti mama dan Papanya yang hampir setiap hari bercinta.


"Aku ingin bercinta Arcelo?" pinta Karin.


"Setelah kita menikah ya," jawab Arcelo.

__ADS_1


"Kamu mau menikahi aku?" tanya Karin.


Arcelo mengangguk dengan mencubit hidung Karin.


"Bagaimana dengan rudal kamu Arcelo?" tanya Karin.


"Nyut nyutan, nahan banget ini," jawab Arcelo.


Karin tertawa sambil melihat celana Arcelo yang benar saja nampak rudal memiliknya berdiri dan menyembur mau keluar.


Mereka berdua yang dimabuk asmara terus melakukan DP DP an yang mengasikkan hingga tak sadar kalau malam semakin larut.


"Astaga sudah jam sebelas," kata Karin.


"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Arcelo.


Sepanjang perjalan pulang nampak Arcelo dan Karin sangat bahagia hingga tak terasa mobil mereka telah memasuki rumah papa Sean.


"Tumben banyak mobil parkir banyak, ada apa?" tanya Arcelo.


"Entahlah," jawab Karin.


Di teras rumah nampak mama Arini dan Airin mengobrol.


Arcelo yang ingin langsung balik mau nggak mau turun.


"Karin, kamu darimana saja, itu papa dan mama kamu datang," kata mama Arini.


Karin yang senang langsung berlari masuk sedangkan Mama Arini menatap Arcelo dengan tatapan tak biasa.


"Paling mereka habis dp DP an ma," Airin mengompori mama mertuanya.


"Airin, sumpah brengsek banget kamu, apa nggak ingat kamu siapa yang ada saat kamu ada masalah dulu," umpat Arcelo.


Airin tertawa melihat ekspresi Arcelo, dia sudah mengira kalau pasti Arcelo dalam hati mengumpati dirinya.


"Iya Tante, eh nggak," kata Arcelo.


"Astaga mulut ini," batin Arcelo.


Mama Arini menghampiri Arcelo.


"Bawa mama dan papa kamu untuk melamar Karin secepatnya ya, mumpung orang tuanya datang," bisik mama Arini dengan mencubit pipi anak sahabatnya tersebut.


"Mampus aku,"


**********


Halo kak gimana kabarnya, baik kan?


mau promo nih kak Novel teman aku, jangan lupa mampir ya.



IZINKAN AKU PERGI


(pipihpermatasari)



Suamiku, jika kamu bahagia bersamanya. Maka Izinkanlah aku pergi. Aku sungguh tidak sanggup bertahan seperti ini terus! Kamu sekarang sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. Kamu sekarang melupakan kewajibanmu,memberikah nafkah dan batin kepadaku. Jika di rumah, tidak ada lagi surga untukku. Maka izinkanlah aku pergi dari hidupmu,agar kamu tidak menanggung dosamu karena kelalaianmu!


Akankah Chandra melepaskan Tika,saat istrinya meminta untuk pergi dari kehidupan suaminya? Atau justru Chandra mempertahankan Tika, dan berubah menjadi suami yang bertanggung jawab?


Atau kah, Tika akan memilih bersama hidup dengan Andrew dan menceraikan Chandra?


Yuk mampir, ceritanya disini .

__ADS_1



__ADS_2