
Hari berlalu dengan cepat, Yulia sudah kembali melakukan aktivitasnya di kampus.
Aaron yang tidak ingin membuat istrinya merasa cemburu meminta Bu Lia untuk mengganti Maya dengan Yulia dan hal ini tentu membuat Maya kesal.
"Yul, aku tuh heran sama kamu. Kamu sudah memiliki Eril kenapa ingin merebut pak Aaron," maki Maya.
"Aku nggak merebut pak Aaron dari siapa pun justru kamu lah yang menggoda suami aku," balas Yulia.
Mendengar kata-kata Yulia membuat Maya tertawa keras.
"Hello, kalau mimpi itu jangan ketinggalan kalau jatuh sakit Lo," kata Maya mengejek Yulia.
Kini gantian Yulia yang tertawa.
"Siapa juga yang mimpi, la memang kenyataan kalau mas Aaron suami aku," sahut Yulia yang membuat Maya semakin kesal.
Yulia yang semula duduk kini berdiri dan menumpukan pantatnya ke meja.
"Pikir ya May, Aaron tiap mau bicara pasti membawa aku ke mobil, lalu saat aku pingsan dia sangat panik dan menggendong aku kalau bukan suami mana mungkin ngelakuin itu semua," ungkap Yulia.
Maya yang panas masih menyangkal dengan apa yang dikatakan Yulia.
"Aku nggak tau tuh kalau kamu digendong, bisa saja itu hoax," sahut Maya.
"Selama aku tidak dengar sendiri dari mulut pak Aaron aku nggak akan percaya," imbuh Maya lalu pergi meninggalkan Yulia yang ikutan kesal.
"Lihat saja," gumam Yulia dengan tersenyum.
Di sisi lain, Arcelo dan Karin selalu latihan Dp Dp an sehingga Karin yang sejatinya seorang wanita tentu menaruh hati pada Arcelo.
"Arcelo, aku mau lebih dari ini," kata Karin.
"Maksud kamu?" tanya Arcelo dengan was was.
"I love you," jawab Karin yang membuat Arcelo bingung.
"Mati aku, sejarah terulang lagi," batin Arcelo dengan tersenyum kecut.
Arcelo bangun dan merapikan bajunya.
"Karin kan dari awal kita hanya pura-pura, kenapa kamu baper?" tanya Arcelo.
"Aku tau tapi mana ada wanita yang diromatisi setiap hari gak baper Arcelo?" tanya Karin balik.
"Tapi aku nggak ada perasaan apa-apa padamu," jawab Arcelo.
"Sedikitpun?" tanya Karin.
"Iya," jawab Arcelo.
"Kamu ini manusia atau batu, setiap hari mencumbu aku dengan rayuan maut tapi tidak ada perasaan sedikit pun," kata Karin.
"Ya memang seperti inilah aku Karin," timpal Arcelo.
"Oh, bearti aku salah menilai kamu," kata Karin lalu dia membenahi bajunya dan pamit pulang.
"Aku bisa sendiri," tolak Karin.
__ADS_1
Arcelo mengusap rambunya dengan kasar, dia sungguh heran dengan yang namanya wanita.
"Kalian para wanita kenapa mudah sekali baper," kata Arcelo.
Karin yang baru merasakan jatuh cinta pada pria merasa sakit hati atas penolakan Arcelo, Karin mengira kalau Arcelo juga jatuh cinta padanya namun Arcelo melakukan itu hanya pura-pura saja seperti kesepakan di awal.
Karin pulang dengan berlinang air mata dan Airin yang tau pun bertanya pada Karin.
"Kamu kenapa?" tanya Airin.
"it is Ok Airin," jawab Karin.
"Mana mungkin ok sedangkan kamu menangis begini?" tanya Airin lagi.
"Is ok, let me alone Airin, please," pinta Karin yang meminta Airin untuk membiarkan dia sendiri.
Airin menatap punggung Karin yang menjauh, dia berpikir kalau ini semua karena Arcelo.
"Pasti Arcelo, dulu Febri sekarang Karin," batin Airin.
Airin menuju ke kamar, dia segera mengadukan keadaan Karin pada Arsen.
"Sayang," panggil Airin.
"Ada apa?" tanya Arsen.
"Teman kamu tuh buat ulah lagi," jawab Airin.
"Teman mana?" tanya Arsen.
"Tuh, Arcelo," jawab Airin.
"Jangan, tadi dia bilang kalau tidak ingin diganggu," cegah Airin.
"Ya udah besok aku akan bicara padanya," kata Arsen.
Keesokannya Arsen dan Airin mengajak Karin bicara, Karin tau kalau Airin bercerita dengan Arsen pun pura-pura kalau semua baik baik saja.
"Aku baik Arsen, Airin. Aku kemarin menangis karena merindukan papa dan mamaku saja," kata Karin.
"Kamu yakin?" tanya Arsen penuh penekanan.
"Yakinlah," jawab Karin dengan tersenyum.
"Ya sudah, nanti malam kita kumpul ya, A4 nanti akan kumpul di club Arthur," ucap Arsen.
"Ok," sahut Karin.
Meski bingung dia tetap bilang ok pada Arsen dan Airin.
Kini Karin dan Arsen telah berangkat ke kantor, sebelum masuk ke ruangannya, Karin datang ke ruangan Arcelo terlebih dulu.
"Arcelo," panggil Karin.
"Hey Karin," balas Arcelo.
Karin nampak canggung kini, dia mengutarakan keinginannya pada Arcelo. Dia meminta maaf juga tentang semalam.
__ADS_1
"Ok nanti kita berangkat ke club' bersama," kata Arcelo.
Karin tersenyum lalu pamit kembali ke ruangannya.
Meskipun kecewa pada Arcelo minimal Arsen dan Airin percaya kalau tidak ada masalah.
Malam harinya A4 janjian untuk kumpul bersama, sebelum sampai di ruangan VIP mereka, Airin pamit untuk ke belakang dan tak di sangka, Aaron juga ada di sana hingga kini Arini dan Aaron ketemu di lorong.
"Airin," sapa Aaron.
"Iya Aaron," balas Airin.
"Yulia mana?" tanya Airin.
"Ada di sana, masa iya aku bawa ke toilet," jawab Aaron.
"Ya siapa tau kalau kamu bawa," sahut Airin.
"Ya sudah bawa kamu saja ya," goda Aaron.
"Ih apaan sih, messsuuummm banget," sahut Airin dengan mencubit perut Aaron.
"Kamu masih saja suka mencubit," ucap Aaron.
"Sekali kali jangan cubit perut tapi cubit yang lain," imbuh Aaron.
"Tau ah, Aaron kamu masih saja," teriak Airin lalu pergi ke toilet.
Aaron hanya tertawa melihat Airin menurutnya dari dulu tdiak berubah sama sekali.
Kini mereka semua kumpul di ruangan hanya Arthur yang tidak membawa pasangan.
Dia hanya diam sekarang tidak seperti biasanya yang selalu mengejek orang.
"Arthur kamu lagi galau ya," goda Airin.
"Nggak juga," sahut Arthur.
"Lantas kenapa kamu diam saja?" tanya Airin.
"La gak diam gimana kalian bawa pasangan sedangkan aku nggak, nih juga Arcelo kenapa nggak setia sama aku. Kan kita sepakat untuk sehati," ungkap Arthur.
Semua tertawa mendengar ungkapan hati Arthur.
"Kenapa nggak sama teman Yulia saja," kata Aaron.
"What? si orang orangan sawah itu, wanita penggembira itu," sahut Arthur.
"Jangan gitu nanti pak Arthur bisa jatuh cinta sama Ayda Lo," timpal Yulia.
"Hey Yul, ogah bangat sama teman kamu, denger nih ya, kalau sampai aku ma dia menjalin hukuman kalian boleh nimpukin aku pake sepatu," kata Arthur.
"Amin, semoga doanya terkabul ya Arthur, jadi kita puas bisa nimpukin kamu pakai sepatu," ucap Airin dengan tertawa.
Arthur mengangkat ibu jarinya.
Semua bercerita bersama, Airin juga mengobrol dengan Yulia dan juga Karin hingga tak terasa waktu pulang telah datang, semua pun pulang termasuk Arthur.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Karin dan Arcelo nampak terdiam, Arcelo yang sudah kebiasaan memberi Dp pada Karin tiba-tiba menginginkannya.
"Kok aku pengen DP DP an ya," batin Arcelo.