
Pagi datang dengan cepat, sang mentari juga sudah menyapa dunia dengan sinar hangatnya.
Perlahan Airin membuka matanya, tidurnya sungguh nyenyak dan dia tidak terbangun di tengah malam sama sekali.
"Aku ini ada dimana?" gumamnya dengan bola mata yang menyusuri setiap sudut kamar Aaron.
Airin melihat sampingnya dan betapa kagetnya dia ada Aaron yang tengah tidur di sampingnya.
"Aaaaaaaaa," teriak Airin yang membuat Aaron terbangun.
Airin melihat tubuhnya dan dia nampak lega karena pakaiannya masih lengkap.
"Kamu kenapa sih Airin, pagi-pagi udah teriak-teriak," kata Aaron dengan menguap.
"Kenapa kamu tidur disini Aaron?" tanya Airin.
"La aku harus tidur dimana?" Aaron menjawab pertanyaan Airin dengan pertanyaan balik.
"Memangnya ini dimana?" tanya Airin lagi.
"Kamar aku," jawab Aaron.
Mendengar jawaban Aaron membuat Airin terbelangak kaget bagaimana dia bisa nyasar ke kamar Aaron.
Airin mengingat kembali apa yang terjadi semalam, dia baru ingat kalau semalam saat di mobil dia memejamkan matanya dan setelah itu dia tidak tau apa-apa.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanya Airin.
__ADS_1
"Aku sudah membangunkan kamu Airin tapi kamu nggak bangun-bangun ya sudah aku bawa pulang saja," jawab Aaron santai.
"Ya sudah kalau begitu aku harus segera pulang karena aku harus ke kantor," kata Airin lalu menurunkan kakinya dari tempat tidur.
"Nggak usah, kalau kamu pulang kamu akan terlambat, mending kamu mandi di sini lalu aku antar kamu ke kantor Arsen," saran Aaron.
"Aku nggak bawa baju ganti Aaron," ucap Airin.
"Gampang, kamu mandi dulu. Aku bisa pinjamkan baju mama aku," sahut Aaron lalu keluar kamar.
Aaron menemui mamanya, dia meminjam baju kerja untuk Airin.
"Ma, Aaron boleh nggak pinjam baju mama untuk Airin," kata Aaron.
Mama Putri yang tau kalau Aaron akan melakukan hal itu pun sudah menyiapkan baju plus baju dalam untuk Airin.
Aaron tersenyum, memang mamanya selangkah lebih maju darinya.
"Makasih mama, lope lope deh sama mama," kata Aaron lalu mencium mamanya.
Papa Daffa yang melihat anaknya mencium mamanya jadi iri.
"Papa nggak nih," kata Papa Daffa.
"Enggak usah, masak iya jeruk minum jeruk," kata Aaron lalu keluar.
Setelah meletakkan pakaian Airin Aaron menyiapkan pakaiannya. Di depan lemari dia bingung mau pakai baju apa hingga tak sadar kalau Airin sudah di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Airin.
"Bingung mau pakai baju mana," jawab Aaron.
"Ya sudah kamu mandi sana, aku pilihkan baju buat kamu," sahut Airin.
Aaron menatap Airin dengan lekat, ini pertama kalinya ada wanita yang menyiapkan baju kerja untuknya selain mamanya.
"Ya sudah terima kasih, aku mandi dulu ya?" kata Aaron lalu menuju kamar mandi, namun dia kembali lagi untuk mengambil handuk.
"Airin kamu nggak ingin gitu membantu aku menggosokkan punggung aku," goda Aaron.
Airin tidak menjawab apa-apa hanya matanya yang mengisyaratkan betapa kesalnya dia.
"Iya iya Airin, jangan marah ya," ucap Aaron.
Beberapa saat kemudian, Airin sudah siap dengan baju kerjanya, begitu pula dengan Aaron yang selesai mandi.
Mama putri dan papa Daffa sudah menunggu di meja makan, saat Aaron dan Airin turun mama putri dan papa Daffa menatap keduanya dengan erat.
"Melihat kalian turun dari atas bersama terlihat seperti pasangan suami istri," kata papa Daffa.
Mendengar perkataan papa Daffa membuat Airin malu.
"Ya sudah pa, nikahkan kami secepatnya. Lagipula yang punya sudah memberi lampu hijau," sahut Aaron.
Airin yang kesal mencubit tangan Aaron.
__ADS_1