Antara 2 Billionaire

Antara 2 Billionaire
Bertemu di rumah


__ADS_3

Arcelo mengangguk dan pamit pulang sebelum dia diinterogasi lebih dalam oleh mama Arini.


Melihat keponakannya yang langsung membuat Mama Arini tersenyum.


"Vani, Vani anak kamu sungguh menggemaskan, mirip dengan Nick," batin mama Arini.


Rencananya orang tua Karin akan tinggal di Indonesia selama sebulan sekalian mereka ingin menikmati keindahan negara yang terkenal dengan gunung merapinya.


Seminggu telah berlalu, Gabriel sungguh galau dengan hatinya, bayang-bayang Airin seperti hantu yang terus menghantuinya tanpa henti.


Membuat otaknya sulit berpikir, seperti kata tuk Dalang dalam serial film U&I, tidur tak nyenyak, makan tak habis mandi pun tak basah.


Siang itu dia sedang meeting dengan A4, wajahnya yang murung membuat A4 bertanya-tanya.


"Kamu kenapa?" tanya arthur.


"Dia lagi jatuh cinta," jawab Arsen.


"Bagus dong," sahut Arcelo.


"Tapi kenapa malah ditekuk wajahnya?" tanya Aaorn.


"Gimana nggak murung, aku sangat merindukannya tapi aku tak dia siapa dan berada dimana," jawab Gabriel.


Spontan A4 menyahut.


"Kasian,"


Gabriel menatap A4 satu persatu yang menertawakannya. Dia sungguh kesal karena A4 tidak mengerti keadaanya.


"Dasar teman laknut," umpat Gabriel.


"Aku ada solusi," kata Arthur.


Gabriel menatap Arthur dengan berseri, dia segera menggeser Aaron yang saat ini duduk di samping Arthur.


"Apa Arthur?" tanya Gabriel.


"Pinjam alat Doraemon," jawab Arthur dengan tertawa.


Gabriel yang kesal menyumpal mulut Arthur dengan kertas yang dibawanya.


"Brengsek, dasar suneo," ucap Gabriel dengan kesal.


Pertemuan mereka kali ini malah menjadi canda tawa dan bully membully, Gabriel vs A4 tentu Gabriel tetap kalah apalagi nasib percintaan A4 tak setragis dirinya.


"Sudah sudah, aku mau kembali ke kantor daripada cerita sama kalian bukannya dapat solusi malah dapat bullyan," kata Gabriel lalu memutuskan untuk kembali ke kantornya.


Gabriel yang pusing tidak berhenti merokok dan dia memutuskan untuk pergi ke minimarket.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, di mini market dia bertemu dengan Airin yang juga membeli sesuatu.


"Airin," teriak Gabriel.


Wajah yang murung kesini crita kembali seperti matahari yang bersinar lagi setelah tertutup mendung.


"Gabriel," panggil Airin.


Gabriel sungguh bahagia bertemu Airin dia mengajak Airin mengobrol dia kursi depan minimarket.


"Aku kangen sekali Airin," kata Gabriel.

__ADS_1


Airin hanya tersenyum kecut, tak seharusnya dia merindukan wanita yang bersuami.


"Biasakah kamu memberi kamu nomor ponsel kamu? dan bisakah kamu memberi tahu aku dimana alamat kamu?" tanya Gabriel.


"Untuk apa nomor dan alamat rumah Gabriel?" tanya Airin.


"Untuk mengenal kamu lebih dekat," jawab Gabriel


Airin tersenyum kecut.


"Aku sudah memiliki suami Gabriel," kata Airin.


Gabriel seperti disambar petir di siang bolong, dia sungguh terkejut dengan penuturan Airin.


"Kamu tidak bohong kan?" tanya Gabriel.


"Tidak," jawab Airin dengan menunjukan cincin kawinnya pada Gabriel dan ini membuat Gabriel sedih.


"Kenapa Tuhan membuat aku merindukan kamu jika kamu ternyata milik orang lain," kata gabriel.


"Terkadang memang nasib mempermainkan kita Gabriel," sahut Airin yang teringat saat Arsen hilang ingatan dulu.


Airin yang harus segera pergi karena jam makan siang akan segera datang.


"Take care Gabriel," kata Airin.


"You too," sahut Gabriel.


Gabriel mendapat kepergian Airin dengan sedih.


"betapa perih hati ini, apalah ini yang namanya patah hati," gumam Gabriel.


***********


"A4 sold out semua tinggal kamu," kata Gabriel.


"Aku santai Gabriel, jodoh pasti datang sendiri," sahut Arthur.


"Benar juga tapi kalau nggak dicari kita juga nggak akan tau," timpal Gabriel.


"Bagaimana dengan wanita impian kamu itu?" tanya Arthur.


"Ternyata dia sudah menikah," jawab Gabriel.


"Astaga nasib kamu lebih tragis daripada aku," sahut arthur.


Untuk menghilangkan risalah hati mereka, Athur dan Gabriel mumutuskan untuk karaoke bersama, mereka mencoba menghibur diri.


A4 bebrapa hari ini disibukkan dengan dengan kerjaan yang menumpuk, baik Arsen maupun A4 lainya dibuat pusing dengan pekerjaan dan ini membuat para istri protes.


"Janji besok pulangnya nggak malam," bujuk Arsen.


"Awas kalau bohong, no jatah selama sebulan," ancam Airin.


Arsen menelan salivanya.


"Astaga sayang bisa bisa burung garuda milikku akan mengkerut," kata Arsen.


"Boa," sahut Airin.


"Apa itu boa?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Bodoh amat," jawab Airin dengan tertawa.


Keeoskannya sebelum pulang kerja Arsen ditelpon oleh Gabriel dia mengatakan kalau nanti malam harus bertemu untuk membahas kerja sama baru.


"Apa tidak bisa besok saja di kantor aku Gabriel," saran Arsen.


"Aku harus keluar kota Arsen," sahut Gabriel dari seberang sambungan telponnya.


"Tapi aku sudah janji pada istriku kalau hari ini aku tidak akan pulang telat," timpal Arsen.


"Ajak saja ke rumah," sahut Arcelo yang sedari tadi duduk di kursi seberang Arsen.


Arsen tersenyum.


"Bagaimana kalau kamu ke rumah aku saja, kan kamu lama nggak main ke rumah," bujuk Arsen.


Gabriel menuruti keinginan Arsen untuk meeting di rumahnya. Dia berterima kasih pada Arcelo karena sudah memberinya saran.


"Aku nanti kesana apa tidak Arsen?" tanya Arcelo.


"Terserah kamu kalau mau datang ya silahkan kalau nggak ya udah gak papa tapi potong gaji," jawab Arsen dengan terkekeh.


"Come on Arsen, aku ada janji dengan Karin hari ini," timpal Arcelo.


"Kapan Karin kamu lamar Arcelo, tiap saat kamu DP," kata Arsen.


Arcelo tersenyum.


"Nanti aku akan bilang sama mama dan papa dulu," ucap Arcelo.


"Dasar cemen," ejek Arsen.


Arcelo hanya terdiam, bukan soal Cemen atau tidak cuma Arcelo masih mikir dan memantapkan hati dulu. Karena bagaimana pun juga menikah bukan sebuah permainan, nikah memerlukan kemantapan hati yang mana nantinya dia akan mengikat janji untuk selamanya.


Melihat Arcelo terdiam membuat Arsen menepuk bahu Arcelo.


"Kalau cinta jangan buang-buang waktu apalagi kalian juga sudah sama-sama dewasa, terlalu banyak yang dipikir akan menghambat dan ujung-ujungnya menyesal saat dia pergi," pesan Arsen.


Arcelo mengangguk dengan menatap sahabatnya tersebut.


Malam harinya Arcelo dan Gabriel datang di rumah Arsen, Arcelo datang bukan untuk meeting tapi untuk menjemput Karin.


"Lama tidak kesini ternyata banyak yang berubah," kata Gabriel sambil melihat setiap sudut rumah Arsen.


"Ya iyalah kamu kesini saat kita masih SMA dulu," sahut Arsen.


Gabriel tertawa, waktu memang singkat tak terasa kurang lebih sepuluh tahun telah berlalu.


Arsen mengajak Gabriel untuk naik ke ruang kerjanya namun saat mereka naik tangga Airin yang dari dapur memanggil Arsen.


"Sayang," teriak Airin.


Mata Gabriel membola mendengar suara Airin.


"Suara itu tidak asing bagi aku," batin Gabriel.


Suara langkah kaki Airin semakin dekat.


"Ini teman kamu ya," kata Airin.


Saat Airin mendekat bertepatan Gabriel juga menoleh.

__ADS_1


"Airin," batin Gabriel.


__ADS_2