
"Bisakah kamu membuat aku dan Airin bertemu Arcelo?" tanya Arsen.
"Ya nanti kita kan ngadain pesta lajang untuk Aaron, ya udah datang saja," jawab Arcelo.
"Aaron juga ngechat aku tapi belum aku balas," sahut Arsen.
"Nah, ya sudah kan bisa ketemu Airin tuh, na cocok nti tinggal ngomong saja ma Aaron, kelar masalah. Gitu saja kok ribet," timpal Arcelo.
Arsen menghela nafas, semua tidak sesimpel itu namun Arsen tetap ingin mencobanya.
Malam hari pun tiba, kali ini mereka pergi rumah papa Daffa yang dekat dengan pantai cocok banget untuk pesta mereka.
Tiga jam melakukan perjalanan kini mereka telah sampai di rumah papa Daffa, rumahnya sederhana namun sangat bagus.
"Di sini hanya aku saja yang tampan," kata Airin dengan tertawa.
"Iya mereka bertiga kenapa tidak membawa kekasih biar kamu ada temannya," sahut Aaron.
"Tau sendiri kita itu jomblo abadi seperti es di kutub selatan," timpal Arthur.
Mereka semua mengobrol sambil nyamil di tepi pantai. Banyak sekali yang mereka ceritakan bahkan mereka saling mengingatkan kalau siapa yang menikah duluan ketiga lainnya akan menjadi pelayan dan menyiapkan keperluan calon pengantin.
"Memangnya kita dulu buat kesepakan seperti itu?" tanya Arcelo.
"Iya," jawab Arthur dan Aaron barengan.
__ADS_1
Arsen tersenyum sinis, dia enggan sekali menjadi pelayan dan menyiapkan keperluan Aaron, bukannya benci sama Aaron hanya saja dia takut sakit hati.
"Gimana Arsen?" tanya Aaron.
"Baik lah," jawab Arsen.
"Sayang, Bunda dan ayah kapan pulang? beberapa hari ke depan kita kan harus menikah," tanya Aaron.
"Sehari sebelum hari H mereka baru pulang," jawab Airin.
"Kalau mereka pulang aku pulang ya Aaron?" tanya Airin.
"Iya," jawab Aaron lalu mengecup kening Airin.
Arsen mengepalkan tangannya, dia sangat sakit melihat kemesraan Aaron dan Airin tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu bisa main gitar Arsen?" tanya Aaron.
"Nggak," jawab Arsen.
Sebenarnya dulu saat dia kuliah, temannya di Jerman pawai memainkan gitar sehingga sedikit demi sedikit Arsen bisa meski tidak handal.
Aaron memberikan buku chord pada dan Arsen dan Arsen memainkannya.
"Takdir memisahkan kita, belum sempat kita rasakan bahagia, kini kau telah pergi untuk selamanya tinggalkan cerita kisah cinta kita, jatuh air mata ini karena ku tak sanggup kehilangan kamu, kaulah bahagiaku di dunia ini.... hiks hiks hiks," Arsen tidak melanjutkan lagunya, air matanya beneran jatuh.
__ADS_1
Arcelo menepuk bahu temannya, dia bisa merasakan kesedihan temannya.
"Kamu ok Arsen?" tanya Aaron.
"Ya, sangat baik. im very well," jawab Arsen lalu tersenyum.
Aaron merubah raut wajahnya begitu pula dengan Airin, mendengar lagu yang dinyanyikan Arsen membuat dada Airin sesak.
Aaron menggenggam tangan Airin dengan erat, dia kini sangat dilema untuk menikah, apa dia sanggup menikah dan membuat hati Arsen hancur? Arsen bagi Aaron adalah sesosok kakak yang selalu membelanya dulu mengingat usia Arsen lebih tua daripada Aaron.
"Astaaga kenapa malah sedih sedihan sih, ah nggak asik banget." Arthur mencoba mengurai keheningan diantara mereka.
Aaron mengambil gitar yang di letakkan Arsen kembali, kini dia menyanyikan lagu yang happy dia tidak ingin membuat suasana sedih meski hatinya tengah sedih.
Kini suasana riuh kembali, Arsen juga nampak tertawa riang, udara malam semakin dingin dan mereka semua memutuskan untuk tidur.
"Airin boleh nggak aku meminta satu permintaan padamu?" tanya Aaron.
"Boleh, kamu meminta apa?" jawab dan tanya Airin balik.
"Apa kamu yakin ingin menikah dengan aku? please jawab dengan jujur, aku nggak mau kamu terpaksa menikah denganku karena sama sekali aku tidak melihat cinta di mata kamu saat kamu bersama aku," jawab Aaron.
Airin menatap Aaron dengan tatapan yang tak biasa. Dia sungguh bingung. Pernikahan telah di depan mata, ayah bundanya juga sudah mengatur kepulangan mereka bagaimana bisa Airin jujur?
Dia sudah berkomitmen dengan Aaron, dia kini hanya perlu melupakan Arsen meski sangat sangat berat melakukannya.
__ADS_1
"Akuuuuuuuuu...."