
Pagi sekali Airin datang ke kantor Arsen. Dengan malas Airin masuk ke dalam ruangan Arsen.
Bola mata Airin mengelilingi ruangan yang mungkin akan dia tinggalkan.
"Aku akan sangat merindukan kamu," kata Airin.
Ternyata di ambang pintu ada Arsen yang baru datang.
"Merindukan aku?" tanya Arsen.
"Nggak, untuk apa aku merindukan calon suami orang. Aku merindukan ruangan ini. Aku kerja di sini sudah lumayan lama," jawab Airin tanpa menatap Arsen.
Entah mengapa Arsen nampak sedih melihat Airin yang akan resign. Seakan hati dan pikiran Arsen tidak sinkron, hati kecilnya menginginkan Airin untuk berada di sisinya namun pikirannya ingin Airin segera resign.
"Kamu tau Arsen, aku dulu selalu bermimpi bahagia bersama kamu," kata Airin.
"Iya aku tahu, tapi maafkan aku yang tidak ingat sama sekali kenangan kita," sahut Arsen.
"Karena kamu tidak mencoba untuk mengingat masa lalu kita, kamu masa bodoh dengan ingatan yang hilang," timpal Airin.
"Kalau kamu ingin melihatnya, aku ada beberapa video kebersamaan kita dulu. Mungkin dari situ kamu bisa paham betapa aku mencintai kamu," kata Airin.
Awalnya Arsen menolak untuk melihat kenangan-kenangan dengan Airin namun entah mengapa kini dia ingin melihatnya seakan ada yang mendorongnya.
"Ijinkan aku melihatnya," pinta Arsen.
Airin mengambil ponsel di tasnya lalu memberikan pada Arsen.
Di situ terdapat banyak video-video kenangan mereka tak hanya video banyak juga foto-foto mereka.
"Itu foto-foto saat kita masih kuliah dulu, kita selalu bersama dengan A3 bahkan kadang kita selalu menginap di apartemen bersama," kata Airin.
Arsen nampak tersenyum, apa begini sikapnya pada Airin dulu.
Saat itu nampak dia masih bocah tapi sudah doyan messssuuuummm terlihat leher Airin yang merah-merah.
Selama dengan Amanda tidak pernah Arsen meninggalkan jejak cintanya atau melukis senja di leher maupun di dada, meski mereka berpaut tapi tidak sampai meninggalkan jejak atau lebih setiap ingin melakukan lebih entah mengapa Arsen seakan tidak bisa melakukannya? lantas bagaimana saat dia menikah nanti?
Belum selesai melihat videonya, Arcelo datang memanggil Airin.
"Airin ikut ke ruangan aku ya," pinta Arcelo
__ADS_1
"Iya Arcelo," sahut Airin.
Airin pun meminta ponselnya meski ingin melihat video lainnya tapi Arsen menahan keinginannya dan mengembalikan ponsel Airin.
"Seandainya dulu aku mau melihat video itu mungkin aku tidak.... Ah bicara apa sih aku, Amanda yang aku cintai bukan Airin," kata Arsen.
Arsen mulai perang batin, di sisi lain alam bawah sadarnya semakin menunjukkan cintanya pada Airin sedangkan pikiran dan mata masih dibutakan oleh cinta sesaat Amanda.
Di ruangan Arcelo, Airin duduk sambil melanjutkan video yang tadi dilihat Arsen.
Airin nampak tersenyum, "Terlalu manis untuk dilupakan," katanya.
Arcelo yang mendengar juga ikut tersenyum.
"Nggak jadi resign nih," goda Arcelo.
"Tetep resign Arcelo, aku nggak mau sakit hati dan nggak mau jadi perusak hubungan cinta orang lain," sahut Airin.
"Benar juga sih Airin. Sebenarnya aku kurang setuju Arsen menikah dengan Amanda, aku merasa kalau pernikahan mereka terlalu cepat, aku curiga ada apa-apa," kata Arcelo.
"Ada apa-apa gimana maksud kamu?" tanya Airin.
"Entahlah apa mungkin perasaan aku saja," jawab Arcelo.
"Oh ya, aku diminta om Sean untuk mencairkan pesangon kamu dan gaji kamu, tapi kamu resign nya tidak bisa hari ini karena baru lima hari ke depan kita gajian," kata Arcelo lagi.
"Gitu ya, baiklah kalau begitu," sahut Airin.
"Jadi semua aku transfer lima hari lagi ya," kata Arcelo.
"Oh ya setelah ini kamu mau kerja di mana?" tanya Arcelo.
"Entahlah Arcelo, kalau gak dapat pekerjaan di sini ya mungkin mau ikut bunda," jawab Airin.
"Nggak nggak aku nggak setuju nanti aku carikan pekerjaan, kamu kan lulusan terbaik B.A university gak boleh jauh jauh dari kami." Arcelo nggak setuju.
"Kamu tu apaan sih Arcelo," sahut Airin.
"Daripada kamu pergi ikut bunda mending kamu ikut aku, jadi bagian tulang rusuk aku." Arcelo mulai bergombal.
Airin menatap Arcelo dengan kesal sehingga dia ada ide untuk mengerjai sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita menikah, kalau bisa lebih dulu dari Arsen, gimana?" tanya Airin.
Arcelo nampak terkekeh
"Ok," sahut Arcelo.
"Ok," timpal Airin.
Terus saling menyahut akhirnya mereka saling tertawa.
"Maaf maaf aku hanya bercanda," kata Airin.
"Cukup Arsen dan Aaron yang merebutkan kamu, aku nggak ingin ikut andil," sahut Arcelo.
"Nanti pulang kerja mau nggak aku ajak ke suatu tempat," kata Arcelo
"Ok, lagian butuh healing aku," sahut Airin.
"Aaron gimana?" tanya Arcelo.
"Nanti dia ada meeting penting jadi nggak bisa jemput," jawab Airin.
***********
Jam kantor telah usai, Amanda yang ada janji dengan Arsen datang menemui Arsen di kantornya.
"Sayang," panggil Amanda.
"Eh sayang," sahut Arsen.
Seperti biasa Arsen dan Amanda bermesraan di depan Airin, meski sakit tapi Airin bisa memposisikan dirinya untuk cuek.
Tak berselang lama Arcelo juga datang.
"Ayo Airin," ajak Arcelo.
Airin segera memberesi mejanya dengan wajah yang sumringah, dia sengaja memasang wajah senang supaya tidak kelihatan kalau sakit hati.
"Kalian mau kemana?" tanya Arsen yang mulai kepo.
"Kami mau ngedate," jawab Airin.
__ADS_1
Entah mengapa Arsen nampak kesal dan ini membuat Amanda lebih kesal.