
Beberapa jam kemudian, 100 anggota Tengkorak merah yang saat ini tidak lagi menjadi Anggota tengkorak merah, akhirnya bangunan dari pingsan mereka.
Cimoy hanya memandang mereka sejenak, lalu berkata.
"Jika kalian sudah pulih, sekarang ikuti aku!"
"Dasar monster aneh.."
"Hei, aku bukan monster. Aku memiliki nama dan namaku adalah Cimoy.."
Mendengar Cimoy menyebutkan namanya, 100 orang tersebut ternganga tak percaya..
"Nama aneh macam apa itu?"
Setidaknya untuk ucapan mereka di dalam benak sangat kompak.
"Mau ikut tidak? Kalau tidak, aku akan pergi.."
"Tunggu! Kami ikut.."
"Maka cepatlah! Aku masih memiliki sesuatu yang harus aku lakukan.."
"Iya, dasar monster cerewet.."
"Call me Cimoy, Not Monster. Understand?"
Seketika 100 orang itu menjadi blank mendengar Cimoy memakai bahasa Inggris.
"Ayo!" Segera 100 orang itu mengikuti Cimoy entah kemana. Cimoy membawa mereka memutari jalan yang seharusnya di tempuh dengan waktu 15 menit menjadi dua jam.
"Kenapa sangat jauh?"
"Aku memilih jalan yang aman untuk kalian lewati.."
"Hiliiiih"
"Silakan masuk!"
Mereka semua memandang curiga pada cimoy, tapi tetap masuk. Tepat ketika mereka masuk, mereka semua terjatuh akibat beban gravitasi di dalam ruangan itu..
....
Di Zhen Jue hanya memandang laptop milik Jin Lien di depannya, saham yang dia beli sudah cukup banyak.
Dia bahkan menggunakan akun bank rahasia milik Jin Lien untuk masuk. Entah bagaimana dia mendapatkannya.
Rekening lama Jin Lien lumayan memiliki banyak saldo, jadi dia menggunakannya.
Saham yang dia beli perlahan mulai menguntungkan dirinya. Duduk di depan laptop sambil berpikir bagaimana cara membangun perusahaan.
Zheng Jue terus merenung tentang bagaimana caranya membangun perusahaan dengan dirinya yang berada di dunia yang berbeda.
Hal tersebut tentu harus tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.
"Bagaimana ya? Jika aku ingin membangun perusahaan, aku harus memiliki orang kepercayaan. Namun, tidak mudah untuk menemukan orang kepercayaan dengan dimensi yang berbeda seperti ini.."
__ADS_1
Zheng Jue terus berpikir keras untuk membangun perusahaan, hal tersebut tentu untuk membantu kedua orangtuanya membiayai kehidupan mereka bersaudara.
Kembar 20 itu bukan perkara mudah untuk pasangan muda seperti ke-dua orangtuanya, setidaknya itulah yang dia pikirkan.
Mungkin di dunia ini, orangtuanya memiliki segalanya. Namun, jika suatu saat mereka bisa pergi kedunia itu, setidaknya dia telah memiliki pegangan.
"Ugh, terlalu merepotkan. Sebaiknya untuk saat ini, aku hanya perlu membeli saham dan menimbun kekayaan agar kami tidak melarat jika suatu saat kami ke sana.."
Akhirnya Di Zheng Jue memutuskan hanya memantau saham dan berinvestasi pada saham untuk mengumpulkan uang.
Membangun perusahaan mungkin jika dia telah berada di dunia itu. Untuk saat ini saja, biarkan dia menimbun kekayaan untuk keluarganya.
Berbeda dengan Di Zheng Jue yang terus berada di depan laptop memantau saham, Di Zheng Lei duduk di depan tumpukan kertas kosong yang menggunung.
Dia terlihat fokus pada satu kertas di depannya, tangannya dengan lincah memainkan alat tulis berupa pensil.
Dia dengan lincah menggoreskan pensil pada kertas, mimik wajahnya terlihat sangat serius.
Hingga beberapa menit kemudian, dia selesai dengan yang entah apa itu.
Dia tersenyum sumringah melihat hasil karya miliknya yang tidak lain adalah sebuah desain pakaian wanita. Pakaian yang tidak lain adalah hanfu yang dia padukan dengan gaya modern.
Dia berdiri dari duduknya dan langsung plberlari mencari Hong Zhuang dan Jin Lien.
"Mommy! Daddy!"
"Ya Lei sayang, kami ada di dapur."
"Oke Mom, Lei ke sana.."
"Ada apa sayang?"
"Daddy, Mommy, Lihat ini!"
Jin Lien mengambil kertas tersebut, dia dan Hong Zhuang dibuat terdiam ketika melihat desain pakaian di kertas tersebut.
Gambar itu begitu detail hingga setiap bagian pakaian terlihat sangat menarik.
"Kamu yang menggambarnya Lei?"
"Iya Mom, bagaimana?"
"Ini bagus, apapun yang membuatmu senang, kerjakan dengan serius jangan setengah-setengah.."
"Baik Mommy.."
"Daddy juga mendukungmu.."
"Terima kasih Daddy.."
"Lanjutkan kegiatanmu Lei.."
"Oke Mommy, Daddy.."
Segera Di Zheng Lei pergi dan melanjutkan acara menggambarkannya.
__ADS_1
Begitu Di Zheng Lei pergi, Jin Lien dan Hong Zhuang saling memandang.
"Bagaimana menurutmu, Lien kecil?"
Jin Lien tersenyum menanggapi pertanyaan Hong Zhuang.
"Aku berpikir jika mereka memiliki bakat mereka masing-masing, sepeti Jue kecil yang lebih tertarik pada saham dan perusahaan. Lei lebih tertarik pada Desainer dan membuat sketsa pakaian yang mungkin belum pernah terlihat. Selain keduanya, bakat yang lain mungkin akan kita lihat beberapa saat lagi.."
Keduanya kembali melakukan aktifitas mereka.
Memang benar apa yang dikatakan Jin Lien, tidak hanya Zheng Jue dan Zheng Lei. 18 anak lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Di Zheng Mo juga terlihat serius dengan tumpukan kertas dan pensil. Namun, bila dilihat lebih dekat, yang dia gambar adalah sebuah desain. Berbeda dengan Zheng Lei yang membuat desain pakaian. Zheng Mo lebih pada desain mobil yang membutuhkan perhitungan tepat agar semuanya seimbang.
Tentu tidak hanya Di Zheng Mo. Di Zheng Rui bahkan tampak terlihat seperti ilmuan. Dia memakai jas putih dan berexperimen di dalam laboratorium.
Semua memiliki bakat mereka masing-masing termasuk Di Zheng Yue dan Di Zheng Jiu yang sibuk menulis banyak resep. Resep yang bahkan belum di praktekan. Apakah itu enak atau tidak.
Zheng Ruan sendiri juga tengah berhadapan dengan banyak kertas. Dari raut wajahnya yang terkadang seolah berpikir keras, kadang juga berubah sedih ataupun sangat bahagia.
Jika ada yang melihat apa yang dia lakukan, maka mereka pasti akan tercengang. Karena yang Zheng Ruan lakukan adalah menulis, ya dia sedang menulis.
Umur yang masih 5 tahun telah mampu memikirkan plot cerita yang begitu berat sungguh di luar logika.
"Ruan kecil! Apa yang kau lakukan sayang?"
"Agh Mommy, aku hanya menulis cerita.."
"Bisa mommy baca?"
"Tentu, Ruan telah menyelesaikan beberapa part.." Di Zheng Ruan menyerahkan kertas yang terisi cerita miliknya.
Jin Lien mengambil kertas tersebut dan membacanya. Dia membaca dari setiap kata yang di tulis oleh anaknya ke-19 itu.
Dia begitu terhanyut dengan alur yang ditulis oleh Ruan. Hingga Jin Lien menyudahi untuk membaca karya sang anak.
"Kamu hebat nak. Lanjutkan tulisanmu. Yang penting jangan terbebani oke.."
"Oke Mommy. Mommy! Bisakah aku menggunakan Laptop?"
"Laptop dipakai kakakmu, kau bisa menggunakan Smartphone mommy dulu.."
"Benarkah?"
"Ya.."
"Bagus, aku bisa menulis novel online.."
"Ada-ada saja kamu Ruan kecil.."
"Hehehe.."
Melihat semua anaknya memiliki kegiatan masing-masing, Jin Lien tersenyum lembut. Dia tidak menyangka ada rasa kepuasan menjadi seorang ibu.
....
__ADS_1