
Keesokan paginya, Jin Lien terbangun dan seperti biasa, dia melakukan latihan rutin untuk melatih fisik dan pondasi tubuhnya.
Tidak hanya Jin Lien, tapi juga seluruh anggota Black Dragon.
Mo Bing yang berada di pinggir area pelatihan hanya bisa menatap takjub pada pelatihan yang dilakukan oleh tim elit Black Dragon dengan tambahan Cao Xing dan Cao Jiang.
Jenis latihan fisik yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Mo Bing bahkan sampai bergidik melihat setiap orang merayap di atas batu runcing yang telah disusun sedemikian rupa.
Tidak hanya itu, ada juga yang mengharuskan merayap di bawah kawat berduri yang dialiri petir.
Mo Bing menghirup udara dingin dan dengan paksa menelan salivanya.
Tidak pernah terpikirkan olehnya jika ada jenis latihan yang sangat mengerikan.
Mo Bing hanya bisa memandang Mo Fai dengan rumit. Mo Fai yang dengan santai melewati setiap jenis latihan di depannya. Sangat berbeda dengan Mo Fai yang selalu di tindas saat masih berada di istana kekaisaran Xiling.
Namun, latihan tersebut harus terhenti ketika pintu Asrama di dobrak oleh seseorang.
Di luar, penjaga gerbang dengan iba mengantar seorang yang mengatakan jika dia adalah adik dari Mo Fai dan ingin bertemu dengan Mo Fai untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Melihat keadaan gadis yang tampak berantakan dan kelelahan, salah satu dari penjaga gerbang mengantarkan gadis tersebut untuk ke asrama Black Dragon..
Ketika sampai, pintu Asrama langsung didobrak oleh sang gadis yang tentu sangat mengejutkan anggota Black Dragon yang berada di area pelatihan.
Mereka semua segera menghentikan pelatihan mereka dan menuju asrama.
Ketika mereka masuk, mereka menemukan seorang yang tidak asing bagi mereka, seorang yang mereka temui saat berada di dalam dunia kecil kala itu.
Mereka semua mengernyit saat melihat penampilan gadis tersebut yang sangat berantakan.
"Yao'er ada apa? Kenapa penampilanmu sangat berantakan?"
Gadis tersebut yang tidak lain adalah Mo Feng Yao mengangkat kepalanya dan melihat Mo Fai. Segera dia menerjang Mo Fai dan memeluknya erat.
"Dage! Kumohon, kau harus menyelamatkan ayah kerajaan dan saudara serta saudari yang tidak bersalah.."
"Hei tenanglah, ayo duduk dulu.."
Mo Feng Yao melepas pelukannya dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu, dia berusaha mengatur napas dan perasaannya.
Jin Lien yang melihat penampilan Mo Feng Yao segera mengeluarkan pil dan memberikannya pada Mo Feng Yao.
"Telan ini! Dengan begitu energimu yang hilang akan terisi.."
"Terima kasih.."
__ADS_1
Penjaga yang tadi menemani Mo Feng Yao segera pamit untuk kembali bertugas karena menurutnya tugasnya untuk mengantar Mo Feng Yao telah selesai.
Melihat Mo Feng Yao telah tenang, Mo Fai segera bertanya..
"Apa yang membuatmu datang dengan tergesa-gesa?"
Mo Feng Yao memandang Mo Fai dan semua yang berada di ruangan itu.
"Dage! Apakah mereka bisa dipercaya?"
Mo Fai kemudian memandang semua anggotanya, dia lalu memandang Mo Feng Yao dan mengangguk.
"Semua yang berada di sini dapat dipercaya.."
"Dage dan kalian semua, tolong dengarkan aku dengan serius.."
Semua langsung mengambil posisi dan mendengarkan Feng Yao yang terlihat ingin menyampaikan informasi yang sangat rahasia.
Mo Feng Yao menarik napas dalam dan kemudian mulai bercerita.
"Tengkorak merah berniat mengumpulkan jiwa untuk membangkitkan kakekku dari ibuku. Pemimpin mereka tidak lain adalah adik dari ibuku dan mereka juga berniat menguasai Kekaisarn Xiling setelah membunuh Mo Gao Zhan yang selama ini aku kira adalah kakakku, tapi ternyata, dia adalah anak terlantar yang digunakan ibu untuk menggantikan kakakku yang sebenarnya.."
Jin Lien dan yang lainnya terdiam, mereka tidak menyangka jika tengkorak merah melakukan hal keji seperti itu hanya untuk membangkitkan seseorang yang telah mati..
Semakin Mo Feng Yao bercerita, semakin jelek expresi semua orang yang berada di ruangan itu termasuk Mo Bing.
Mo Fai tidak meragukan apa yang dikatakan oleh adiknya itu, meski mereka berbeda ibu, tapi mereka tumbuh bersama.
"Jadi pemimpin tengkorak merah yang sesungguhnya adalah Dongfang Ye?"
"Ya Dage.." Mo Fai kemudian memandang Niu'er yang berada di sampingnya.
"Niu'er! Bisakah kau membawa adikku untuk beristirahat di kamarmu?"
Niu'er tersenyum dan mengangguk.
"Tentu.."
Niu'er dengan senang hati membawa Mo Feng Yao ke kamarnya. Selepas keduanya pergi, Mo Fai kemudian memandang Jin Lien.
"Bagaimana menurut mu Lien kecil?"
"Hmm? Aku akan menunggu Rui kembali dan akan memintanya untuk menyelidiki Dongfang Ye itu.."
"Terserahmu, tengkorak merah tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi.."
__ADS_1
"Ya aku tahu. Ayo kembali latihan.."
Setidaknya mereka telah mengetahui siapa dalang di balik semuanya. Dengan begitu, mereka tidak lagi berada dalam gelap.
Semua anggota Black Dragon kembali memulia latihannya, tapi Jin Lien belum bergerak dari tempatnya.
"Alex, akses dunia kecil! Cari robot bertipe lebah.."
"Oke. Tunggu 5 menit.."
Menunggu Rui kembali, itu akan memakan waktu sangat lama, menggunakan robot lebah pengintai lebih praktis.
Menunggu 5 menit, Robot lebah akhirnya muncul di depan Jin Lien dan berputar mengelilingi Jin Lien lalu hinggap di jari telunjuknya.
"Pergi selidiki tentang Dongfang Ye, data identitas dirinya akan segera masuk di memori ketika kamu melihatnya.."
Setelah Jin Lien mengatakan hal tersebut, lebah itu akhirnya terbang pergi. Barulah saat itu, Jin Lien beranjak dari duduknya dan melangkah menuju area pelatihan..
...
Jin Shan saat ini berdiri di depan semua anggota Skull Eagle.
Aura yang dia pancarkan persis seperti aura saat dia merupakan Mo Zhuting.
Pangeran kutub yang terkenal akan sikap dingin dan kejam serta tanpa ampun, kembali melintas dalam pikiran Yu Jian. Dia dapat melihat sosok Mo Zhuting pada Jin Shan.
Tanpa sadar, dirinya langsung berlutut dengan satu lutut di depan Jin Shan seperti yang sering dia lakukan ketika menghadap Mo Zhuting.
"Yu Jian siap menerima perintah.."
Semua anggota Skull Eagle tercengang dengan tingkah Yu Jian yang spontan berlutut di depan Jin Shan.
Tanpa ada yang sadari, Jin Shan tersenyum tipis.
Dia sangat yakin dengan loyalitas Yu Jian, sesuatu mungkin terjadi hingga memaksa dirinya untuk bergabung dengan tengkorak merah.
"Cih, berapa kali harus aku katakan, jika bertemu denganku tidak perlu berlutut seperti ini.."
"Tapi anda adalah atasan saya.."
"Saudara beruang, aku juga sudah sering mengatakan jika kau sudah seperti saudaraku.."
Deg
....
__ADS_1