Arrogant Girl Adventure

Arrogant Girl Adventure
AGA 143


__ADS_3

Begitu kedua kakinya berubah, bibir Jiang Shu melengkung indah. Tinggal beberapa saat di dalam air untuk mengambil napas hingga satu jam. Setelah itu, ia kembali ke pulau kecil dan mengubah ekornya menjadi sepasang kaki.


Setelah berhasil merangkak, dia sangat bahagia. Dia merangkak ke tempat yang cocok untuknya mencoba berdiri.


Ya dia mencari tempat yang memiliki penyangga untuknya mencoba berdiri seperti pohon kecil.


Ia sangat bahagia ketika bisa berdiri dengan waktu yang lama, melepas pegangannya pada pohon itu dan mulai mengambil langkah pertama.


Walaupun langkah itu pelan dan ia berusaha menahan keseimbangan tubuhnya, tapi Jiang Shu berusaha untuk tidak terjatuh.


Selangkah demi selangkah, Jiang Shu terus mengangkat kakinya untuk bergerak maju dengan canggung.


Perasaan memiliki kaki tidak bisa dia gambarkan, itu sulit saat pertama tidak seperti ketika dia mengendalikan ekornya.


Sejak bayi, dia sudah bisa berenang dengan normal, hal ini juga yang membuat kekaguman Jiang Shu pada makhluk daratan menjadi dalam.


Ketika mereka lahir, mereka tidak langsung bisa berjalan. Hal itu juga karena tulang seorang bayi masih sangat lunak.


Tak bisa melakukan apapun sendiri dan harus dengan bantuan orangtua mereka, hingga usia satu tahun. Barulah saat itu mereka belajar merangkak dan berjalan.


Memikirkan hal itu, Jiang Shu merona. Dia seperti anak bayi itu sendiri yang baru belajar cara berjalan. Yang membedakan adalah, dirinya belajar dengan cepat dan tidak menunggu waktu yang lama.


Saat ini langkah kakinya tidak lagi canggung dan itu sudah stabil meski masih pelan.


Langkah pelan miliknya secara alami menjadi cepat dan semakin cepat hingga ia mampu berlari.


Waktu yang digunakan Jiang Shu untuk belajar merangkak hingga berlari cukup lama.


5 jam dia gunakan secara keseluruhan hingga ia betul-betul bisa mengendalikan kakinya dan tetap seimbang ketika berdiri.


Perjuangan Jiang Shu untuk bisa menggunakan sepasang kakinya tidak diketahui oleh Jun Kaili dan yang lainnya.


Tentang pengetahuan makhluk daratan tentang Mermaid yang dapat berubah menjadi manusia ketika ekornya kering dan dapat langsung berjalan, itu salah besar.


Untuk mendapatkan sepasang kaki, mereka harus mencapai umur tertentu dan melewati kesengsaraan surga. Mereka juga tidak akan berubah menjadi Mermaid begitu mereka melakukan kontak dengan air.


Namun, ketika mereka menangis ketika menjadi Mermaid. Air mata mereka akan berubah menjadi mutiara, tapi ketika mereka menangis ketika ekor mereka berubah menjadi sepasang kaki, air mata mereka hanya air mata biasa.


Itu tidak akan berubah menjadi mutiara.


Merasa puas dan bahagia bisa berjalan menggunakan sepasang kaki, Jiang Shu memutuskan untuk kembali ke istana para Mermaid.


Dia bisa melihat ayahnya di kejauhan tengah tersenyum padanya. Dengan kebahagiaan yang membuncah di dalam hatinya, Jiang Shu segera berenang menghampiri Jiang Hao.


"Selamat."


"Terima kasih ayah."


"Bagaimana perasaanmu?"

__ADS_1


"Ini luar biasa."


"Nak! Ketika kau mengubah ekor milikmu menjadi sepasang kaki, air matamu akan seperti air mata biasa, itu tidak akan berubah menjadi mutiara."


"Shu'er mengerti ayah."


"Kalau begitu, ayo kita kembali!"


"Ya."


Sepasang ayah dan anak kemudian berenang kembali ke kerajaan Mermaid.


Pulau kecil di mana Jiang Shu menerima kesusahan surga secara perlahan di selimuti oleh kabut tebal dan menyembunyikan pulau itu dari pandangan siapapun.


....


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan terus bergema di ruang tertutup.


Dua sosok yang saling berlawanan terus menembak pada lawan yang berdiri di depan mereka.


Dan di ruangan itu hanya ada mereka berdua, dengan seringai yang tampak cantik dan mematikan.


"Ne kakak kenapa kau tidak menyerah?"


Suara merdu itu membawa pesona unik dan ilusi, kegembiraan dapat didengar dari suara yang terdengar lembut itu.


"Menyerah? Apakah kau pernah melihatku menyerah hmm?"


Suara lainnya juga memiliki pesona yang membawa keanggunan pemiliknya.


"Hehehe, kalau begitu mari kita teruskan."


"Siapa takut."


Tidak lagi menggunakan pistol di tangan mereka, ke-duanya memilih saling bertarung di jarak dekat.


Gerakan ke-duanya sangat cepat hingga hanya terlihat kilatan yang menandakan jika mereka tengah bertarung sengit


Tidak ada yang ingin menyerah pada lawan mereka, terus bertarung hingga stamina mereka terkuras banyak.


Dor


Namun, kembali suara tembakan yang berasal dari si kakak kembali terdengar.

__ADS_1


Lengkungan indah dan mempesona menghiasi bibir sang adik, melihat peluru yang berkecepatan tinggi itu yang akan mengenai dirinya tepat di antara alisnya, si adik menggeser badannya ke kiri untuk menghindari peluru.


Peluru yang berhasil di hindari menancap di dinding.


"Kakak, itu adalah peluru terakhirmu? Artinya kau kalah!!"


"Hmmp, jika kau terkena peluru itu, kau tidak layak menjadi adikku."


"Hahahahahaha"


Tawa mereka pecah di ruangan tersebut. Meski mereka memperlakukan masing-masing sebagai lawan, tapi mereka adalah adik dan kakak yang saling menyayangi.


"Kak! Aku merindukannya."


Puas dengan tertawa, air mata si adik akhirnya jatuh.


"Ya, aku juga merindukannya. Kita telah berada di dunia ini semenjak kita lahir. Itu sudah puluhan tahun."


Berbaring di lantai sembari menatap langit-langit ruangan di mana mereka berada, ke-duanya saling mencurahkan kerinduan mereka pada pemuda yang begitu mereka cinta.


Hingga suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan, tapi ke-duanya tidak bereaksi.


Mereka bisa mendengar pintu terbuka dan menampilkan seorang pemuda tampan yang hanya menatap datar pada keduanya.


"Kembali ke kamar kalian!"


Suara itu serak dan dalam, ada sedikit kemarahan pada nada yang dia keluarkan.


Melihat ruangan yang sangat berantakan itu, dia tidak mengatakan apa-apa dan memilih menjauh dari ruangan yang acak-acakan itu.


....


Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya keluarga Jin tiba di kota angin wilayah tengah.


Mereka menatap takjub pada kediaman keluarga Jin yang berada di depan mereka. Itu tidak hanya besar tapi juga megah.


Dengan pohon persik di setiap halaman, membuat seolah berada di Negeri dongeng.


Ketika mereka memasuki kediaman, mereka bisa melihat banyak orang yang melakukan kegiatan mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakan pakaian pelayan.


Tang Wu yang lewat dengan berbagai berkas di tangannya segera menghentikan langkahnya ketika melihat Jin Tian membawa banyak orang di belakangnya.


Ia segera menghampiri Jin Tian dan sedikit membungkuk.


"Tuan, selamat kembali ke rumah."


Jin Tian tersenyum dan mengangguk, dia terkekeh melihat Tang Wu dengan banyak buku di tangannya.


"Apa yang kau bawa itu?"

__ADS_1


"Hehehe, tuan ini hanya beberapa buku pemasukan barang toko dan pengeluaran. Sudah akhir bulan, jadi aku ingin menyelesaikan semua dan mengecek berapa banyak barang yang kita jual dalam bulan ini."


.....


__ADS_2