
"Dengarkan baik-baik! Ayah akan menyebutkan mantra hanya sekali."
"Ya."
Segera ke-duanya menjadi sangat serius. Jiang Shu juga memasang telinganya dan bersiap mendengar mantra yang akan diajarkan oleh ayahnya.
"Aku penghuni lautan, makhluk yang dapat bernapas di dalam air dengan normal, makhluk yang mengagumi daratan dan sangat menginginkan ekor ini dapat berganti menjadi sepasang kaki kapanpun itu. Bersedia menanggung kesusahan surga ketika naik ke permukaan sebagai tanda jika aku bersungguh-sungguh."
Meski panjang, tapi Jiang Shu berhasil menghafal mantra tersebut.
Ketika Jiang Hao selesai melantunkan mantra, dirinya tidak terpengaruh karena dia telah melewati yang namanya kesengsaraan surga.
Mengalami 3 kali Sambaran petir untuk menguji tekadnya. Untuk memiliki sepasang kaki, yang paling dibutuhkan adalah tekad dan keteguhan hati.
Segera, Jiang Shu melantunkan mantra tersebut. Begitu dia selesai melantunkan mantra, tubuhnya bersinar terang. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ekor yang dia miliki juga belum berubah menjadi kaki.
Dia akan mendapatkan sepasang kaki ketika dia telah melalui kesusahan surga dengan sambaran petir.
"Jika kau sudah siap, ayah akan menemanimu ke permukaan untuk menerima pembabtisan surga."
"Ya ayah, aku siap."
Meski Jiang Hao khawatir, dia tidak bisa membatalkan. Jiang Shu sudah terlanjur melantunkan mantra tersebut, jadi dia harus menerima.
Ke-duanya segera berenang keluar dari istana, menjauh dari kerajaan dan dengan perlahan naik ke permukaan.
Ke-duanya muncul tidak jauh dari pulau kecil, dan segera Jiang Hao mengubah ekornya menjadi sepasang kaki dan melangkah ke pulau itu.
Tepat ketika Jiang Shu menampakkan kepalanya di permukaan, langit biru cerah perlahan mengumpulkan awan gelap.
Awan gelap secara perlahan menjadi tebal dan petir kecil saling menyambar.
Awan gelap itu tidak menyebar dan berkumpul menjadi satu tepat di atas kepala Jiang Shu.
Melihat awan gelap itu, Jiang Shu memantapkan hatinya. Jika dia ingin memiliki kaki yang sebelumnya tidak dia miliki, secara alami dia harus mengorbankan sesuatu. Melalui kesengsaraan surga, dia tidak akan mengorbankan sesuatu yang dia sayangi.
Jiang Shu menyeret ekornya menuju pantai, dan dengan tenang menunggu petir yang akan menjadi cobaan untuk dirinya.
Untuk Jiang Hao, dia berada jauh dari Jiang Shu. Tidak di izinkan untuk seorang yang akan mengalami cobaan mendapat bantuan dari orang lain.
__ADS_1
Sebelum petir jatuh, Jiang Hao ragu-ragu dan mendekati Jiang Shu, dia mengeluarkan satu set pakaian.
"Ambil pakaian ini! ayah akan kembali ke laut, kau tidak di izinkan untuk memiliki bantuan."
"Ya ayah!"
Mendengar jawaban pasti putrinya, Jiang Hao tidak menunda waktu lagi. Dia segera menjauh dan berenang sejauh mungkin dari tempat putrinya berada.
Ketika Jiang Hao telah berada sangat jauh, awan hitam gelap yang tadinya sangat pekat, secara alami memudar sedikit.
Melihat itu, Jiang Hao bernapas lega. Jika dirinya lebih lama lagi, mungkin putrinya akan memiliki kilat surgawi besar.
Semakin lama kilat semakin menjadi-jadi, Jiang Shu yang akan mengalami kesengsaraan surga merasa sedikit gugup.
Menginginkan sesuatu, kau harus membayar. Tak ada yang namanya makan gratis.
Menyiapkan mentalnya, Jiang Shu memandang ke awan gelap dengan mata jernih, ada lengkungan tipis di bibirnya menandakan jika dia tersenyum dan hatinya telah siap untuk menerima kesengsaraan surga.
Boooom
Begitu petir pertama jatuh, Jiang Shu merasa sakit di seluruh tubuhnya. Tulangnya seolah dialiri listrik bertegangan tinggi. Meski tubuh putih mulus itu memiliki luka, dia bisa melihat jika sisik di ekornya perlahan memudar.
Booom
Segera petir ke-dua jatuh. Kali ini, Jiang Shu memiliki darah yang mengalir keluar dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Jarinya menghapal kuat membentuk tinju.
Petir ke-dua sedikit lebih kuat daripada petir pertama, tapi Jiang Shu menolak untuk menyerah. Dapat dipastikan jika saat ini, Jiang Shu telah mengalami cedera internal parah.
Ia juga melihat ekornya telah terpisah menjadi dua, membentuk sepasang kaki manusia. Meski itu sudah membentuk sepasang kaki, tapi sepasang kaki itu masih memiliki sisik besar.
Booom
Dhuaaaaaar
Dengan petir terakhir jatuh, Jiang Shu mengalami muntah darah hebat. Rasa sakit yang dia rasakan telah melebihi toleransi dirinya.
Wajahnya sangat pucat seolah tidak memiliki darah, tubuh bagian atasnya telah lama mengalami luka-luka fatal.
Sepasang kaki yang tadi masih diselimuti dengan sisik, saat ini telah menjadi sepasang kaki sempurna.
__ADS_1
Tak ada bentuk ekor, tak ada sisik dan itu sangat putih.
Merasakan kesadarannya akan menghilang, Jiang Shu merasakan suhu hangat perlahan menyelimuti dirinya.
Dia mendongak dan mendapati jika awan tidak lagi berwarna hitam dan perasaan hangat yang dia rasakan berasal dari cahaya yang hanya menyinari dirinya.
Secara perlahan, Jiang Shu dapat merasakan jika luka internal yang dia alami perlahan mulai pulih. Luka luar yang terlihat mengerikan secara perlahan menutup tanpa menyisakan bekas luka.
Melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benang, Jiang Shu mengambil set pakaian yang disediakan oleh Jiang Hao.
Dia mengenakan secara perlahan, ingin segera merasakan ke-dua kakinya.
Dengan pelan, Jiang Shu mulai memusatkan pikirannya pada sepasang kaki yang baru dia dapatkan, dia berkonsentrasi hingga dia menggerakkan jempol di kakinya. Segera setelah melihat dia bisa menggerakkan jempol kakinya, dia menjadi sangat bahagia.
Beberapa saat kemudian, ia tidak hanya sekedar menggerakkan jempol kaki, tapi juga secara perlahan mulai membuat gerakan menendang dengan posisi duduk.
Dengan perlahan mulai beradaptasi dengan sepasang kakinya, Jiang Shu tersenyum manis.
Dia sangat bersemangat dan mulai mencoba untuk berdiri, tapi ketika dia berada di posisi jongkok, tiba-tiba kakinya merasa lemas.
Jiang Shu menghela napas, secara alami seekor Mermaid yang baru memiliki kaki akan sulit beradaptasi dengan sepasang kakinya
Dia tidak menyerah dan terus berjuang. Sebelum merasakan berdiri dengan ke-dua kakinya, Jiang Shu pertama mulai belajar cara merangkak untuk membiasakan dirinya dengan sepasang kaki.
Dari jauh, Jiang Hao memiliki wajah datar tanpa expresi. Dia merasa ingin menangis melihat putrinya yang seperti itu.
Ya, dirinya juga seperti itu ketika pertama kali mendapatkan sepasang kaki.
Belajar merangkak untuk pertama kalinya membuat kesenangan tersendiri.
Jika ada orang lain yang melihat, mereka akan merasa aneh ketika melihat sosok cantik dengan tubuh wanita besar belajar merangkak, mereka akan memandang dengan cara aneh. Seolah kau tak pernah diajari cara berjalan ketika kau masih kecil.
Jiang Shu terus berjalan dengan cara merangkak, dan tidak ingin menyerah hingga beberapa jam berlalu.
Merasa dirinya memerlukan air untuk bernapas. Segera Jiang Shu merangkak ke air.
Dia secara perlahan berpikir mengubah sepasang kakinya menjadi ekor. Benar saja, itu dapat berubah sesuai keinginan.
......
__ADS_1