Arrogant Girl Adventure

Arrogant Girl Adventure
AGA 156


__ADS_3

"Kakak Jun, ini bukan apa-apa dibandingkan harus hidup terpisah denganmu."


Melepaskan pelukannya, Jun Kaili memandang Jiang Shu dengan serius.


"Aku berjanji akan menjagamu dan mencintaimu."


"Ya. Ayo pergi!"


Segera mereka meninggalkan pantai dan kembali ke istana kekaisaran Demon.


Penobatan Jiang Shu sebagai Ratu Kekaisaran Demon juga harus segera dilakukan.


....


Istana Kekaisaran Chu.


Jin Tian yang baru sampai di istana, segera pergi untuk menemui istrinya Mu Xue.


Mu Xue saat ini dengan senang hati melatih 18 cucunya langsung tersenyum begitu melihat suaminya kembali.


Dia berdiri dan menghampiri Jin Tian.


"Suami, kau akhirnya kembali. Apakah Jin Hao Li berhasil dikalahkan?"


"Ya itu berhasil dikalahkan, kita harus kembali ke kota angin. Sebulan dari sekarang Zhang Yu akan datang membawa hadiah pertunangan untuk Qi'er."


"Apa? Tidakkah urusan keluarga Jin harus diselesaikan dulu."


"Istri, semua sudah selesai. Keluarga Jin yang tersisa juga telah berada di kota angin."


"Oh.." hanya itu yang bisa diucapkan Mu Xue hingga beberapa saat matanya berbinar penuh kebahagian dan harapan.


"Suami, jika begitu aku ingin segera menikahkan Niu'er dan Mo Fai. Meski sekarang aku memiliki banyak cucu, tapi aku juga ingin menggendong cucu yang diberikan oleh Niu'er dan Fai'er."


"Baik. Apapun untukmu. Ayo kita beritahu pada ayah dan ibu."


"Uhm.."


Ke-duanya pergi menemui Raja dan Ratu Kekaisaran Chu dan meninggalkan 18 cucu mereka yang menatap dengan aneh.


"Apakah kita akan memiliki adik?"


Zhen Rui bertanya pada semua saudaranya


"Rui, untuk punya adik. Kita harus menunggu bibi dan paman menikah terlebih dahulu. Itu tidak sepraktis ibu dan ayah menemukan kita."


Zhen Yue langsung membantah pikiran Zhen Rui yang terlalu jauh itu.


Mendengar itu, Zhen Rui menunduk sedih dan melanjutkan belajarnya sambil menggumam tak jelas.


"Tapi aku menginginkan adik untuk aku gendong."


Segera 17 lainnya sweatdrop mendengar gumaman itu.


.....

__ADS_1


Memegang pistol di tangannya, Mu Ye Lu dan Mu Ye Mi tersenyum.


Pistol itu tidak lain adalah hadiah yang mereka minta dari Jin Lien ketika Jin Lien datang ke Akademi mereka.


Mereka telah menggunakan benda tersebut untuk berlatih hingga mendapatkan tatapan aneh dari ketua tim yang merupakan Di Hong Zhuang.


"Jiejie, ayo kita ke Qinglong Akademi. Aku merindukan Lien kecil."


"Hn."


"Jiejie tidak bisakah kau tidak menggunakan dua konsonan itu? Aku heran kenapa Wan Ge bisa menyukaimu."


Seketika Ye Lu melototi Ye Mi dengan ganas.


"Itu buktinya jika pria menyukai gadis yang tenang."


"Hei Jiejie, kau salah. Buktinya dia menyukaiku dengan segala kelucuanku."


"Hn"


Ye Lu menggeleng tak berdaya, ada senyum lembut di bibirnya. Dia dan adiknya adalah kembar, tapi dia tidak tahu mengapa kepribadian mereka bertolak belakang ibarat api dan es.


Benar, bahkan binatang kontraktual mereka juga memiliki elemen yang bertentangan.


"Mari kita pergi!"


Ke-duanya segera berjalan keluar dari asrama Red Vermilion menuju ruang Hua Chun Wei.


Setidaknya sebelum keluar dari Akademi tanpa melakukan misi, mereka harus mendapat izin terlebih dahulu.


Di Qinglong Akademi, Mu Ye Ran sedang berada di kamarnya, bermain dengan Timi.


Sedangkan Jin Gaoqi tidak repot untuk mengambil Timi kembali padanya dan membiarkan Ye Ran untuk terus berkomunikasi dengan Liu Wu.


"Dari pada bermain dengan Timi, aku lebih merindukan Zhang Yu."


Jin Gaoqi lagi-lagi menghela napas, dia tidak tahu jika Zhang Yu saat ini tengah berada di kekasaran Han untuk menyiapkan hadiah pertunangan untuknya.


Dia memandang jauh ke langit biru, dia sudah lama berada di dunia yang tak dia kenal. Menjadi agen pembunuh di kehidupan pertamanya dan di dunia ini dia menjadi bibi dan keponakan dengan Mayor Jenderal Jin.


Ke-duanya yang memiliki profesi yang saling bertolak belakang disatukan dalam kehidupan ini.


Setidaknya ketika dia kembali ke dunia itu, dia bukan lagi seorang agen pembunuh. Ia juga bisa hidup tenang tanpa harus dikejar oleh musuh dan militer.


Sekali lagi dia menghela napas, mengingat jika hidup memiliki misterinya sendiri.


Di kehidupan pertamanya, begitu banyak pemuda tampan yang ingin mendekati dirinya, tapi tidak ada yang bisa menyentuh hatinya yang telah lama membeku.


Namun, di kehidupan ini, di dunia yang berbeda. Ada sesosok tampan yang tanpa kenal lelah terus mendekati dirinya dan mencairkan hatinya yang membeku.


Sosok yang tidak lain adalah tunangan asli tubuh di mana jiwanya berada. Jika dia memikirkannya lagi, Zhang Yu menyukai dirinya ketika dia menempati tubuh ini.


"Tuhan terima kasih."


Sebelumnya dia telah membunuh banyak orang, darah juga membasahi tangannya, tapi Tuhan masih menyayanginya. Jin Gaoqi tidak ingin lagi menyia-nyiakan hidupnya dengan menyendiri. Dia ingin menjalani kehidupan normal bersama orang-orang yang dia sayangi.

__ADS_1


Tengah asik melamun, dia dikejutkan dengan suara riang Ye Mi yang meneriaki nama Jin Lien.


Dia tidak tahu jika Jin Lien belum pulang dari Misi mereka.


Jin Gaoqi segera menghampiri mereka dengan wajah aneh.


"Lien kecil belum kembali dari misi."


"Ah Bibi, aku merindukanmu."


Mu Ye Mi yang melihat kedatangan Jin Gaoqi segera melemparkan dirinya kepelukan Jin Gaoqi.


"Ck Ye Mi bisakah kau tidak terlalu antusias?"


"Bibi beginilah aku."


"Gadis nakal."


Jin Gaoqi kemudian mengalihkan pandangannya pada Ye Lu yang tetap tenang tanpa terganggu dengan Ye Mi yang terlalu ceria dan bersemangat.


"Pergilah ke kamar Ye Ran! Setidaknya menunggu kedatangan Lien kecil kalian bisa bermain bersama."


"Baik."


"Hn."


Di kamar, Ye Ran tidak mengetahui kedatangan Ye Mi dan Ye Lu. Dia tetap asik bermain dengan Timi.


Bisa dilihat Jika Ye Ran tengah melakukan Video Call bersama Liu Wu.


"Kapan kamu akan datang."


"Itu masih sangat lama."


"Ya aku akan menunggu."


"Uhm."


Di seberang, Liu Wu tengah duduk dengan pakaian formal dirinya. Jika Ye Ran berasal dari dunia itu, dia akan tahu jika Liu Wu tengah berada di kantor miliknya.


Ye Ran yang tengah asik memandang wajah tampan Liu Wu yang sesekali melihat ke arahnya dan mengalihkan pandangannya pada dokumen di tangannya.


Ia tidak menyadari Jika Ye Mi dan Ye Lu tengah berdiri di belakangnya dengan wajah aneh dan terkejut.


Bahkan Ye Lu yang selalu berwajah tenang tidak bisa mempertahankan expresi datar di wajahnya.


Mereka membatu ketika melihat wajah tampan dan familiar yang berada di layar Timi.


Ye Mi yang telah sadar kemudian menyenggol tangan Ye Lu. Wajahnya memiliki expresi penuh arti ketika memandang Ye Lu.


"Bagaimana bisa?"


Gumaman yang penuh pertanyaan berhasil keluar dari bibir Ye Lu yang terus memandang pemuda yang tengah membalikkan dokumen.


.......

__ADS_1


__ADS_2