Arrogant Girl Adventure

Arrogant Girl Adventure
Cuplikan Miracle Secret


__ADS_3

Alena Axelia Manuelo, seorang gadis cantik yang bersemangat, lugu, ceria dan polos. di balik semua itu, dia selalu menyembunyikan bakatnya agar dirinya tidak di jauhi oleh kakaknya yang merasa iri padanya.


Harus merasakan patah hati ketika melihat sahabatnya dan kekasihnya sedang bercumbu di apartemen yang dia sewa bersama sahabatnya.


Kecewa? tentu saja


Sakit hati? tentu saja


tidak cukup merasakan patah hati karena di khianati. Seolah takdir mempermainkannya, Alena mendapat kabar jika dirinya tidak lagi di inginkan di dalam keluarga Manuelo karena Alena bukanlah darah daging keluarga Manuelo. Dia hanya anak angkat yang di pungut oleh Kepala Keluarga Manuelo.


hatinya hancur, merasa tidak sanggup dengan kenyataan yang dia terima. Alena sangat frustasi hingga dia tidak sadar jika seorang perampok berlari ke arahnya dan tiba-tiba menikam dirinya.


Alena terjatuh bersimbah darah. Dia Alena Axelia Manuelo, di Usianya yang 20 tahun harus mati dengan cara mengenaskan.


sebelum kegelaalpan merenggutnya, dia berharap pada Tuhan agar berbaik hati padanya dan memberikan dirinya kesempatan sekali lagi untuk mengubah segalanya.


...


Tuhan mendengar permohonan Alena, Alena sekali lagi membuka matanya.


tentu dia terkejut karena mengira jika dirinya telah meninggal. Dia mengamati sekitarnya dan mendapati ruangan itu tampak familiar.


dia menghirup udara dan melangkah menuju cermin, dia mendapati dirinya saat ini baru berusia 10 tahun.


Alena tersenyum manis dan berterimakasih pada Tuhan, Tuhan telah berbaik hati padanya dan memberikan dirinya kesempatan sekali lagi.


Namun, keajaiban tidak hanya sebatas dia mendapat kesempatan kedua. Masih banyak keajaiban yang menunggunya.


.......


Alena mengikuti keluarga Manuelo menuju sebuah hotel berbintang nan megah di Kota N yang hanya berjarak beberapa Kilometer dari kediaman keluarga Manuelo.


Hotel tersebut adalah hotel Jade Palace yang hanya dapat dimasuki oleh kalangan atas. Pesta peresmian diadakan di lantai atas hotel yang di mana dikhususkan untuk acara besar semacam ini.


Setelah sampai di lantai atas, Alena memisahkan diri dari keluarga Manuelo dan berkeliling sendiri. Di kehidupan pertamanya, keluarga Manuelo mencari alasan agar Alena bermain sendiri supaya keluarga Manuelo tidak memperkenalkannya di hadapan para kolega.


"Mom! Alena ingin berkeliling, apakah boleh?"


Joana tersenyum lembut dan mengangguk.


"Boleh, Asal Alena tidak nakal. Oke?"


"Oke mom, Alena janji gak akan nakal.."


"Anak baik.."


Segera Alena memisahkan diri, dia mencari tempat yang agak sepi dan mengambil minuman tanpa alkohol dan beberapa makanan ringan.


Dia dengan santai duduk menikmati cemilannya, tidak memperdulikan keluarga Manuelo yang berusaha menjilat pengusaha sukses lainnya.


Dia menatap tak tertarik dengan interaksi seperti itu. Bagi dirinya yang telah hidup di dua kehidupan, hal semacam itu hanyalah mainan kecil baginya.


Sambil menikmati cemilannya, Alena mengedarkan pandangannya. Dia tertegun saat melihat seorang anak lelaki berusia 12 tahun. Matanya menyipit mengamati anak tersebut.


"Aku seperti mengenalnya.."


Deg


Hatinya entah mengapa merasa tidak ingin jauh dari anak tersebut. Namun, dia tidak akan segila itu menghampiri anak itu dan bertindak menjijikan.


Alena tidak lagi memperhatikan anak lelaki itu dan memilih melanjutkan cemilannya.


"Pesta ini sungguh membosankan.."


Melihat cemilannya sudah habis, dia melangkah ke arah balkon dan menatap pemandangan di luar.


Banyak kendaraan berlalu lalang, Alena menghirup napas dalam-dalam. Dia kembali merenung tentang rencananya.


"Sebulan sudah cukup untuk semua persiapan. Setidaknya setelah kabur dari sana, aku tidak akan hidup menderita di luar.."


Alena kembali menatap langit biru dengan awan putih yang bergerak perlahan, senyum manisnya merekah ketika membayangkan pemuda yang menolongnya.


"Di mana kau berada saat ini? Ku harap, aku bisa bertemu denganmu dalam waktu dekat ini.."


Meninggalkan balkon, Alena menyusuri aula di mana diadakan pesta mewah. Banyak tamu undangan berpakaian rapi dan mewah.


Tiba-tiba Alena mengernyit saat melihat anak lelaki 12 tahun diseret ke sudut. Hingga Alena sadar jika kejadian ini pernah terjadi di kehidupan pertamanya.


"Cih, orang-orang yang hanya bisa mebully saja.." dia mengikuti kemana anak lelaki itu diseret dan ternyata dia dibawa menuju toilet.


Alena melirik kiri dan kanan mencari orang dewasa hingga matanya menangkap seorang pelayan pria tampan. Dia memutuskan mendekati pria itu.


"Kakak tampan, bisakah anda membantu Alena menyelamatkan teman Alena yang sedang diseret ke kamar mandi?"


Pemuda itu menatap Alena sejenak lalu mengangguk..


"Oke adik manis, ayo kita pergi membantu temanmu itu.."


"Uhm.."


Mereka berdua terburu-buru berjalan ke arah toilet. Benar saja, anak lelaki itu sedang disiksa oleh anak lainnya.


"Hei, kalian apa yang kalian lakukan? Aku akan melaporkan ini pada yang berwajib.."


3 anak yang menyiksa anak lelaki itu segera menjadi ketakutan. Mereka memandang anak lelaki yang mereka siksa dengan mata penuh cemoohan.


"Kali ini kau selamat..."


Melihat ketiganya telah pergi, Alena segera menghampiri anak lelaki itu.


"Hei, kau tak apa?"


"Terimakasih, aku baik-baik saja. Hanya sedikit memar.."


Alena kembali memandang pelayan pria tampan yang membantunya. Dia menunduk sedikit dan berterimakasih.


"Kakak, terimakasih telah membantu Alena.."


"Tidak masalah, sebaiknya kalian pergi. Temanmu perlu mengganti pakaiannya.."


"Baik.."


Segera pelayan itu pergi dan Alena kembali menatap anak lelaki itu.

__ADS_1


"Kau bisa berdiri?"


"Uhm.."


"Mari aku bantu!"


Alena membantu anak lelaki tersebut ke ruangan kosong, dia lalu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Kakak, berapa ukuran pakaianmu?"


Anak lelaki tersebut segera memberitahu ukurannya, Alena juga dengan sigap memberitahu pada orang yang berada di seberang telepon..


Hanya butuh setengah jam, orang yang di telepon oleh Alena datang membawa bungkusan.


Ternyata orang yang di telepon oleh Alena merupakan petugas butiq terpercaya.


"Kakak berapa semuanya.."


"3 juta.." Alena mengangguk dan mengeluarkan kartu tabungannya, tapi dihentikan oleh anak lelaki itu.


"Biar aku yang membayar pakaianku sendiri.."


"Oke kalau begitu.."


Setelah pembayaran selesai, Alena keluar dari ruangan tersebut.


"Kakak, siapa namamu?"


Anak lelaki itu tersenyum kecil memandang Alena.


"Stuart Alven Clooney, kamu?"


"Aku Alena Axelia, salam kenal kak Stuart. Kalau begitu, aku pergi dulu ya.."


"Uhm, sekali lagi terimakasih Alena.."


"Oke.."


Alena keluar meninggalkan Stuart sediri di ruangan itu. Melihat kepergian Alena, Stuart memilih mengganti pakaiannya..


"Cih, para cecunguk itu semakin menjadi-jadi saja.." dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Steve, hancurkan mereka!"


Setelah memberi perintah, Stuart menampakkan senyum kecilnya.


"Biar bagaimanapun, aku berhutang Budi padamu Alena. Aku tidak pernah berpikir, di keluarga pebisnis yang keras dan kotor masih memiliki seorang keturunan yang berhati bersih.."


Tangan Stuart mengeluarkan cahaya hijau, dia perlahan mengarahkan cahaya hijau lembut itu pada memarnya. Ajaib, memar yang di alami oleh Stuart langsung menghilang.


Stuart bersiap untuk keluar, tapi pandangannya berhenti pada sesuatu yang berkilauan.


Sesuatu itu tidak lain adalah cincin. Cincin yang entah kenapa tiba-tiba muncul di tempat itu..


"Heh, kau bahkan begitu ceroboh menjatuhkan benda berhargamu. Aku akan menjaga cincin ini sampai saat itu tiba.." Stuart tersenyum misterius lalu keluar dari ruangan itu.


...


Alena lagi-lagi menghela napas, dia sudah sangat bosan. Tanpa dia sadari, tanda aneh terbentuk di lengan kanannya..


Hingga hari mulai sore, pesta juga akhirnya berakhir.


Keluarga Manuelo beserta Alena kembali ke kediaman Manuelo.


Ketika mereka sampai, Andreas langsung menelpon layanan penyedia internet untuk menyambungkan jaringan internet di kediamannya, dia juga tidak lupa memesan laptop keluaran terbaru untuk Alena.


Baginya barang kecil itu tidak layak di matanya, dia bersedia membelikan apapun untuk Alena asal itu tidak berhubungan dengan saham.


Memberikan apapun untuk Alena sebelum Mereka mengusirnya jika mereka tidak lagi membutuhkannya.


"Mom! Dad, Kak! Alena naik ke kamar dulu ya, Alena lelah.."


"Baiklah sayang, laptop yang kau inginkan akan tiba saat kau bangun nanti.."


"Thank You Dad.."


Alena dengan langkah lelah menaiki tangga menuju kamarnya.


Sepergiannya Alena, Andreas mengajak istri dan anak lelakinya menuju ruang kerjanya.


"Dad, apakah tidak berlebihan memanjakannya?"


"Tidak, justru dengan memanjakannya akan membuat dia semakin bodoh dan malas. Hal itu tidak akan menyusahkan kita saat mengusirnya nanti.."


"Hehehehe Dad, kau tetap yang terbaik.."


.............


Tidak ada yang tahu, jika pencuri yang merupakan peretas merupakan seorang gadis kecil berusia 10 tahun.


Esok paginya, Alena bangun dan mengecek ponsel miliknya untuk memeriksa jumlah tabungan miliknya.


Sejak kelahirannya kembali kemarin, dia sudah sangat jijik untuk tinggal di bawah atap yang sama dengan keluarga Manuelo.


"Aku telah memiliki cukup uang untuk bertahan hidup tanpa bantuan keluarga Manuelo.."


Memandangi laptop keluaran terbaru yang baru saja dibelikan untuknya, Alena tidak memiliki kesedihan ketika memutuskan untuk tidak membawa laptop tersebut.


Begitu dia selesai membersihkan diri, ia turun untuk sarapan bersama keluarga Manuelo.


Dia bisa melihat keluarga Manuelo semua berpakaian formal, hanya dirinya saja yang berpakaian santai.


Selesai sarapan, ketiga anggota keluarga Manuelo memandang Alena dan mengatakan jika mereka akan memiliki bisnis di luar kota dan akan kembali besok pagi.


Alena mengangguk mantap, karena dengan kepergian keluarga Manuelo merupakan kesempatannya untuk meninggalkan keluarga Manuelo.


Namun, satu hal yang membuatnya aneh adalah peringatan wanita yang dulunya sangat ia sayangi ketika di kehidupan pertamanya. Wanita itu terus menerus memperingatinya untuk tidak memasuki ruangan kerja miliknya ketika dia tidak ada.


'Ada sesuatu yang aneh di sini, aku sebaiknya menyelidiki apa yang disembunyikan wanita licik itu..' batinnya


"Baik Bu, aku akan mendengarnya. Besok aku menunggu hadiah dari kalian karena meninggalkanku sendiri.."


Ke-tiganya tersenyum dan langsung meninggalkan Alena.

__ADS_1


Alena mengantar kepergian ke-tiganya dan mengawasi hingga mobil mereka tidak lagi terlihat.


Dengan cepat Alena berlari untuk memeriksa ruangan kerja wanita yang merupakan ibunya itu.


Memasuki ruangan kerja itu, dia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Namun, dia merasa seolah sesuatu yang entah apa menariknya untuk melangkah ke depan lemari buku.


Alena mengernyit bingung dan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menarik buku Dengan sampul berwarna hitam.


Setelah menarik buku tersebut, ia sangat terkejut karena buku tersebut ternyata bukanlah buku melainkan kotak.


Alena membuka kotak tersebut dan mendapati kalung dengan hiasan Liontin kerang dan mutiara.


Di kehidupan pertamanya, Alena tidak menemukan kalung tersebut, dan sekarang ketika memegangi kalung tersebut, ia merasakan perasaan akrab tertentu.


"Mungkinkah ini milikku?"


Alena bertanya pada dirinya sendiri, dia memutuskan untuk memakai kalung tersebut.


"Kenapa ketika aku memakai kalung ini, aku seolah merasa berada didekat keluarga asliku.."


Alen sangat bingung, tapi dia tidak memikirkannya lebih lanjut dan keluar dari ruangan kerja tersebut.


Dia kembali ke kamarnya dan mengemasi beberapa lembar pakaian ke dalam ransel kecil dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.


Meninggalkan ponsel dan buku bank serta laptop yang diberikan oleh keluarga Manuelo, Alena berjalan keluar dari kediaman Manuelo.


Beruntung pelayan di kediaman tersebut tidak menghentikannya dan hanya menatapnya dengan pandangan merendahkan.


Berdiri di luar gerbang, Alena menghela napas dan melangkah menjauh. Di kehidupan ini, dia tidak ingin dimanfaatkan oleh keluarga Manuelo.


Langkahnya cukup ringan dan bibirnya terus dihiasi dengan senyum manis.


"Aku sebaiknya ke bandara dan membeli tiket untuk meninggalkan kota ini."


Alena telah memutuskan, karena kediamannya berada di kompleks perumahan mewah, Alena harus berjalan cukup jauh untuk menemukan taxi.


Sebelum dia menghentikan taxi, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depannya.


Melihat mobil tersebut, Alena memasang wajah datar tanpa expresi karena dia tidak mengenali siapa pemilik mobil mewah tersebut.


Pintu mobil mewah tersebut terbuka dan seorang dengan wajah sangar turun dan membekap Alena.


Karena kekuatan orang tersebut sangat kuat, Alena tidak bisa bergerak ataupun berteriak.


Merasa jika tidak bisa melakukan perlawanan, Alena memilih tetap diam dan tenang.


'Aku diculik?' batin Alena tak berdaya ketika menyadari apa yang dia alami.


Hanya ada dua orang di dalam mobil yang menculik Alena, keduanya memandang Alena dengan persetujuan. Menurut mereka, Alena terlalu takut untuk bereaksi.


Alena melihat keluar jendela mengamati jalan yang dilalui oleh mobil yang menculiknya.


Semakin jauh mobil itu membawanya, pemandangan yang dia lihat juga perlahan berubah.


Setelah sampai di tujuan, kedua orang yang menculiknya segera memerintahkan Alena untuk turun.


Melihat sekitar, itu merupakan dermaga. Dermaga tersebut bukanlah dermaga yang biasa dilalui oleh kapal untuk umum, tapi dermaga yang dibangun khusus.


"Gadis kecil, sebaiknya jangan melawan!" Alena memandang datar dan dingin pada orang yang berbicara padanya.


Untuk sejenak, pria itu merasakan dingin di punggungnya ketika melihat tatapan dingin Alena.


Alena tidak berbicara, dia mengikuti kedua orang tersebut hingga mereka tiba di gudang tua.


Dia bisa melihat banyak anak tengah terikat dan menangis ketakutan. Semua anak yang berada di gudang tersebut memiliki usia 10 tahun ke bawah.


'Perdagangan anak kah?' batin Alena, meski melihat banyak anak yang mungkin berjumlah lebih dari 100, ia tidak mengubah expresinya yang tetap datar.


"Karena kau tidak memiliki perlawanan, kami tidak perlu mengikatmu. Pergilah bergabung dengan yang lainnya!" Alena mengangguk dan melangkah menuju kelompok anak yang yang tengah menangis ketakutan.


Sayup-sayup Alena dapat mendengar pembicaraan mereka.


"Kapan kapal untuk membawa anak-anak ini tiba?"


"Sekitar 30 menit lagi."


Tepat ketika 30 menit berlalu, kapal yang akan memuat mereka akhirnya tiba.


Orang-orang berpakaian hitam dengan senjata segera menggiring Alena dan anak-anak yang lainnya untuk menuju kapal.


"Paman jahat, kemana kita akan dibawa?"


Salah satu dari orang tersebut memandang Alena dengan cibiran.


"Nanti kalian akan tahu."


Alena tidak berbicara lagi dan terus mengikuti orang-orang tersebut menuju kapal besar.


Begitu semua anak-anak naik, kapal besar itu segera berlayar meninggalkan dermaga.


Alena dan yang lainnya di tempatkan di ruangan yang serba gelap tanpa sedikitpun pencahayaan.


Sedangkan Alena dan yang lainnya dikurung. Orang-orang yang menculik anak-anak sedang berada di ruangan tertentu untuk berdiskusi.


"Berapa jumlah anak yang kita tangkap hingga saat ini di Negara B ini?"


"Kita sudah mengumpulkan 1000 anak.."


"Sangat baik, 1000 anak sudah cukup untuk saat ini.."


..


Di dalam ruangan gelap tersebut, Alena meraba ranselnya dan mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah senter. Awalnya dia tidak ingin membawa senter, tapi karena senter tersebut merupakan benda kesayangannya, jadi dia memilih untuk membawanya.


Menyalakan senter tersebut, ruangan yang tadi sangat gelap segera menjadi terang meski cahayanya tidak terlalu terang.


Alena mengamati semua anak-anak yang berada di ruangan yang sama dengannya dengan datar. Banyak dari mereka memiliki luka lebam pertanda jika mereka dipukuli dan disiksa.


Matanya menyipit dan terus menilai setiap anak hingga pandangannya jatuh pada seorang gadis yang mungkin memiliki usia 8 tahun. Meski gadis itu memiliki luka lebam, tapi tekad untuk hidup sangat membara di kedua matanya.


Alena diam-diam tersenyum kecil dan berdiri menghampiri gadis kecil itu.


....

__ADS_1


di tunggu perilisannya. Terima Kasih telah mengikuti AGA hingga S1 tamat


__ADS_2