
Sebelum tidur, Adera merapikan ranjang dahulu. Karna ulah Regan yang bisanya cuma memberantaki saja, Adera bahkan sudah dua kali merapikan badcover dan sprei ranjang.
Sang istri tengah merapikan ranjang, sang suami bukannya membantu malah mengganggu istrinya dengan sengaja memberataki lagi apa yang sudah Adera rapikan.
Bukan cuma menganggu, Regan pun juga dengan sengaja mengangkat Milk, kucing putihnya ke atas ranjang membuat Adera menggeram marah namun melihat keimutan Milk, amarahnya berubah seketika.
Adera mengambil Milk dan mengunyel-unyel wajahnya. Ingat, Adera tidak tahan dengan sesuatu yang terlihat imut.
Melihat itu, Regan menjadi terkekeh sendiri. Segitu sukanya istrinya dengan kucing sampai tidak tahan untuk menguyel-nguyelnya padahal dia tengah marah dan kesal.
Setelah merapikan ranjang, Adera dengan segera tertiduran di ranjang dengan memeluk Milk dengan erat. Walau kelihatannya Milk ingin kabur dari Adera, Adera tidak membiarkan itu.
"Kamu gak boleh pergi, ya. Sama mama aja." Celoteh Adera pada Milk.
Regan yang mendengar Adera memanggil dirinya sebagai Mama dengan kucing putih miliknya tertawa pelan. Apa-apaan itu, kenapa terlihat menggemaskan?
"Siapa namanya tadi?" Tanya Regan. Dia belum menamai kucing peliharaannya jadi dia hanya memanggilnya dengan sebutan putih karna bulunya yang putih bersih.
Namun mendengar Adera memanggil kucing itu dengan nama lain entah kenapa dia menyukainya.
"Milk, namanya Milk. Kenapa?" Jawab Adera.
Regan mengambil Milk dari tangan Adera. Dia duduk di atas ranjang disebelah Adera sambil memangku Milk di pangkuannya.
"Dia bukan anak lo ya. Seenaknya mau dipanggil mama sama Milk." Cibir Regan. Dia membelai bulu Milk dan terlihat Milk menyukai belaiannya majikannya.
"Idih apaan. Dia anak gue, pokoknya." Adera bangun dan terduduk, dia ingin merampas Milk dari tangan Regan namun Regan menepisnya.
"Yaudah gue papanya." Ucap Regan membuat otak Adera loading.
Maksud Regan, mereka menjadi orangtua dan anaknya adalah seekor kucing?
"Kenapa gak setuju lo? Yaudah gue tinggal cari mama baru aja buat Milk." Kata Regan membuat Adera tersadar.
"Jangan! Gue mamanya, jangan mutusin hubungan mama sama anak seenaknya dong!" Protes Adera dan dia langsung beralih pada Milk, kedua sudut bibirnya terangkat.
Adera menundukkan tubuhnya, mencium Milk yang masih setia di pangkuan Regan berulang kali. Dan Regan yang melihatnya merasa kesal karna Milk yang hanya mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Adera bukan dirinya.
"Udah dong nyiumnya." Regan menjauhkan Milk dari Adera membuat Adera kesal. "Sekarang gantian, papanya yang dicium." Lanjutnya, dia mendorong wajahnya mendekat dengan wajah Adera.
Bukannya merona karna wajah mereka berdekatan, Adera malah tertawa kencang. Melihat wajah Regan yang datar secara dekat entah kenapa membuatnya terlihat lucu.
Melihat Adera tertawa lebar pertama kalinya, Regan dibuat terdiam dengan senyum tipis dibibirnya. Ini pertama kalinya Adera menunjukkan tawa yang menggemaskan kepadanya.
"Malah ketawa lo jelek." Cibir Regan membuat Adera memberhentikan tawanya seketika.
__ADS_1
"Biarin." Adera memasang wajah jutek pada Regan.
"Mana?" Tagih Regan membuat Adera bingung.
"Apanya?" Tanya Adera.
Regan berdecak. "Ciuman buat gue." Katanya.
Adera masih tidak mengerti perkataan Regan. Kenapa lelaki itu minta di ciumnya?
Melihat Adera hanya diam saja seperti orang bodoh, Regan menyentil dahinya dan membuatnya terpekik terkejut.
"Malah begong. Gue minta dicium, cepet!"
Adera menyentuh dahinya sendiri. Dia berdecak sebal. "Kenapa gue harus cium lo?" Sengit Adera.
"Wah wah, sekarang mau ngebantah suami lagi? Inget surat perjanjiannya, lo mau ngebangkang lagi?" Regan mengingatkan tentang surat perjanjian itu lagi.
"Iya-iya." Jawab Adera dengan malas.
"Cepetan. Cium kayak yang lo lakuin ke Milk." Perintah Regan.
Adera memutar bola matanya malas dan dia langsung menangkup wajah Regan dengan kedua tangannya, dia menarik kepala Regan mendekat ke wajahnya.
Baru ingin mencium pipi Regan, Regan tiba-tiba menahannya.
"Gak perlu ngelakuin kayak yang lo lakuin ke Milk. Cukup cium.. disini aja." Regan menunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuknya.
Mata Adera melebar. Yang benar saja dia menyuruhnya mencium bibirnya? Kalau cium di pipi sih tidak masalah, dia pun sering melakukannya pada bapaknya dan juga Rani sahabatnya. Namun bibir? Dia belum pernah melakukan itu.
"Cepetan." Tekan Regan.
Adera meneguk slivanya susah payah. Kini dia akan merelakan bibirnya yang suci untuk mencium bibir Regan.
"Ah, udahlah gak jadi. Lo lama." Regan mendorong dahi Kira, dia terlihat kesal karna Adera kelamaan menciumnya. Moodnya jadi berubah seketika.
Adera menatap Regan dengan datar. Padahal dia sudah menyiapkan mental dan hatinya untuk menciumnya namun dengan gampangnya dia membatalkannya.
"Mulai sekarang berhenti ngomong sama gue pake gue-lo. Gak sopan lo sama suami begitu." Kata Regan sambil memainkan Milk yang masih ada dipangkuannya dengan nyaman.
Adera tidak menjawab dan merespon Regan, dia hanya menatap Regan dengan kesal.
Regan menendang kaki Adera karna tidak menjawab perkataannya dan itu membuat Adera makin kesal dengannya. "Dijawab dong!"
"Iya!!" Bentak Adera.
__ADS_1
"Kok lo bentak suami? Durhaka lo."
"Bodo." Adera turun dari ranjang setelah mengatakan itu dan pergi ke kamar mandi.
"Liat tuh Milk mama ngambek." Celoteh Regan pada Milk dan seketika dia tertawa sendiri dengan celotehannya. Dia merasa geli sendiri memanggil Adera dengan sebutan mama padahal kan mereka belum punya anak.
Saking terbahaknya dia tertawa, Regan sampai ingin terjatuh dari ranjang.
......................
Ke besokkan paginya, Regan bangun lebih awal dari Adera. Dia sengaja bangun pagi-pagi agar Adera tidak bisa menghindar lagi dari tugasnya untuk memandikkannya. Regan bahkan sampai rela tidur hanya lima jam agar bisa dimandikan sang istri.
Melihat Adera yang masih tertidur diatas ranjang dengan tenang membuatnya gemas sendiri. Karna dia bangun pagi-pagi seperti ini, dia jadi mengetahui fakta bahwa Adera kalau tertidur mengeluarkan banyak liur sampai ke pipi-pipinya.
Bukannya jijik dengan liur Adera, Regan malah ingin mengigit pipi Adera yang terlihat lucu itu. Apalagi mulut Adera yang sedikit terbuka, membuatnya semakin lucu dimata Regan.
Melihat betapa nyenyak dan nyamannya Adera tertidur, Regan tidak tega membangunkannya. Dia tahu waktu pertama kali Adera pindah kesini, Adera tidak bisa tertidur dengan nyenyak karna katanya dia merasa tidak nyaman tidur bersamanya.
Namun melihat Adera sudah bisa tertidur dengan nyenyak seperti ini membuat Regan senang. Mungkin saja Adera sudah mulai perlahan-lahan nyaman dengannya.
Tangan Regan tidak bisa diam lagi melihat rambut Adera yang menutupi wajahnya, dengan gemas Regan menyingkirkan rambut Adera namun pergerakan Regan rupanya malah membangunkan gadis itu.
Perlu diketahui, Adera sangat sensitif dengan pergerakan apapun yang membuatnya terbangun. Dan lihatlah sekarang gadis itu sudah membuka matanya.
Bukannya terkejut karna terciduk menatap dan menyentuh rambut Adera saat tertidur, Regan malah memasang wajah datar seperti tidak terjadi apapun.
"Haaa, lo, ngapain disini?" Adera membuka suaranya saat sudah semenit dia membuka matanya.
"Nungguin lo bangun." Jawab Regan santai.
Adera membangunkan tubuhnya dan terduduk ditepi ranjang, dia merentangkan otot-otot tangannya ke atas sambil menguap dengan lebar.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Adera.
"Jam sembilan." Jawab Regan.
"Lo kok belom mandi? Bukannya lo mau ke kantor?" Tanya Adera lagi.
Regan melipat tangannya di dada. "Gue nunggu istri buat mandiin gue." Ucap Regan.
"Oh iya lupa ya harus mandiin lo." Adera baru ingat kalau dia harus memandikan suaminya. Memang terdengar mengelikan, namun jika Adera membantah lagi. Dia pasti akan mendapat ganjarannya dari lelaki itu.
Regan mengangguk. "Dan sekarang bangun, cepet mandiin gue."
"Iya-iya."
__ADS_1