
"Ra, lo udah nentuin mana perusahaan buat magang nanti?" Tanya Friska, teman sejurusan Adera.
Adera menggelengkan kepalanya sambil memanyunkan bibirnya. Dia belum menemukan perusahaan yang pas untuk magang dan dia pun tidak yakin dia akan diterima.
"Belom, Fris. Gue bingung terus juga takut gak keterima." Jawab Adera dengan suara melasnya.
"Santai aja, Ra. Pasti keterima kok, tentuin dulu aja perusahaannya." Ucap Friska menenangkan Adera. Friska juga teman dekat Adera namun tidak sedekat Adera dengan Rina.
Adera menganggukkan kepalanya. "Makasih, ya. Btw lo gimana?"
"Gue diperusahaan paman gue dong." Jawab Friska sambil tersenyum.
"Wah enak banget. Punya om pengusaha, jadi gak usah pusing-pusing nyari kerja deh lo pas lulus nanti."
"Gak lah, Ra. Kalo kita terus-terusan bergantung sama keluarga gak bikin kita jadi mandiri dong."
"Iya juga sih. Wah, Friska udah besar ya, gak nyangka gue tuh."
Friska tertawa.
Perhatian Adera dan Friska teralihkan kepada Toni yang baru saja melewati meja mereka. Tidak seperti biasanya, pemuda itu tidak menyapa dan tersenyum pada Adera.
Friska menyolek lengan Adera. "Kenapa tuh dia? Tumben banget gak nyapa lo. Biasanya setiap ngeliat lo, dia nyapa atau gak senyum. Tapi kenapa hari ini gak? Lo ada masalah sama dia?" Kata Friska.
Memang benar kata Friska. Kenapa hari ini Toni berbeda? Dia jadi begini semejak dia menghantar Adera pulang malam itu. Dan tiba-tiba saja dia berubah seperti itu. Ada apa dengannya sebenarnya?
"Udah punya pacar kali dia. Kan gue suruh dia sekali-kali pacaran sama cewek mangkanya jadi cuek begitu sama gue." Adera berpikir positif.
Friska mengangkat sebelah alisnya. "Gak mungkin karna itu, Ra. Dia itu sukanya cuma sama lo." Ucap Friska.
Adera mengerutkan keningnya. "Apaan sih, Fris. Mana mungkin dia suka sama gue. Gak mungkin." Sifat tidak peka Adera keluar lagi.
"Serius, ege. Dia suka sama lo, semua temen-temennya juga tau. Dan tentunya gue juga tau."
"Tau darimana emang lo kalo dia suka sama gue?"
"Cara dia natap lo, cara dia ngomong ke lo. Dia itu beda kalo sama lo, Ra."
Adera menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin, Fris. Gak usah ngaco lo."
"Serius ege."
"Gak ege."
"Tau ah, gak peka lo jadi cewek mangkanya jomblo mulu." Kata Friska kesal dengan sifat ketidak pekaan Adera.
"Kok lo malah ngatain gue sih? Lo juga jomblo." Balas Adera tidak terima.
"Sok tau lo. Gue udah punya cowok tuh."
__ADS_1
"Siapa ege?"
"Kepo lo ege."
Adera menghebus nafasnya. Untunglah Friska tidak menyadari cincin yang melekat dijari manis Adera. Friska tidak tahu, kalau Adera sudah menikah dan Adera bersyukur untuk itu.
"Oh iya, Ra. Kemarin gue liat si Rina ditembak sama Rivaldo, lho." Friska membuka gosip.
"Seriusan lo? Dimana? Kapan?" Tanya Adera terkejut.
"Serius gue. Dia ditembak pas diparkiran. Si Rivaldo gila deh masa dia teriak kalo dia suka sana Rina udah gitu Rinanya malah nangis lagi."
"Rivaldo emang bar-bar ya. Tapi kenapa Rina nangis?"
"Gak tau gue. Orang pas itu dia langsung kabur jadi gue gak sempet nanya ke dia kenapa nangis."
"Kenapa gak, ege?"
"Orang dia kabur duluan ege."
Adera tertawa memang kalau berbicara dengan Friska membuat moodnya naik. Mangkanya dia jadi nyambung berbicara dengan Friska.
......................
Di rumah sakit Xxxx.
Regan membuka pintu ruangan rehabilitasi yang dimana ada seorang wanita paruh baya tengah duduk dikursi kayu single, wanita paruh baya itu tengah menatap keluar jendela dengan suster yang menjaganya disebelahnya.
Suster yang merawat wanita paruh baya itu menoleh ke Regan. Dia baru ingin membuka suaranya namun Regan mengisyaratkan untuk menutup mulutnya karna dia ingin mengejutkan wanita paruh baya itu.
Ketika sudah dekat dengan wanita paruh baya itu, Regan langsung memeluknya dari belakang. Dia sangat merindukan wanita itu.
Wanita paruh baya itu terkejut dan langsung tersenyum lebar ketika dia menyadari bahwa putranya lah yang memeluknya sekarang ini. "Regan? Putra mama?" Wanita paruh baya itu membuka suara dengan gembira.
"Iya, mah, ini Regan." Sahut Regan.
Regan melepaskan pelukannya, dia berjalan ke hadapan wanita itu lalu dia berjongkok di hadapannya sambil memberikan sekuntum bunga mawar pada mamanya.
Wanita paruh baya itu Regan tersenyum senang. Dia menerima bunga mawar itu dan mencium baunya lalu dia menatap Regan. "Kamu tau aja mama lagi kepengen bunga mawar." Ucap Rose, mama kandung Regan yang mengidap penyakit langkah.
Regan tersenyum. "Regan juga kepikiran mama karna ngeliat bunga mawar itu." Kata Regan membuat Rose tertawa.
"Bisa aja sih kamu, nak."
Suster yang melihat Rose tertawa bersama putranya ikut tersenyum.
"Kamu baik-baik aja kan, nak? Wajah kamu lebih cerah dan bercahaya sekarang." Kata Rose sambil menyentuh pipi Regan.
Regan tersenyum lebar pada sang mama. "Kok mama tau?"
__ADS_1
"Yah, tau dong. Kan Regan anak mama."
Regan tertawa kecil. Dia mengambil ponsel dari celananya. "Regan kayak gini karna dia mah."
Regan menunjukkan foto Adera kepada Rose dimana Adera sedang tersenyum didalam foto itu.
Reaksi Rose terkejut, dia menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Dia mengambil ponsel dari tangan Regan, memperhatikan wajah gadis di dalam foto itu. "Dia siapa Regan? Cantik sekali." Rose tidak bisa mengalihkan pandangannya dari foto diponsel Regan.
Regan tersenyum bahagia melihat reaksi mamanya. "Dia istri Regan, mah." Jawab Regan yang makin membuat Rose terkejut.
"Hah? Kamu udah nikah sama gadis ini?" Kaget Rose
Regan menganggukan kepalanya. "Iya, cantikan mah?"
Tiba-tiba wajah Rose berubah menjadi sedih dan itu membuat Regan cemas. Dengan cemasnya Regan mengenggam kedua tangan mamanya memberi ketenangan pada sang mama.
"Mama sedih, dihari pernikahan kamu, mama gak datang. Mama gak bisa ngeliat putra mama dihari bahagianya." Ungkap Rose.
Regan menggelengi perkataan Rose. "Mah," panggil Regan lembut membuat Rose kambali menatapnya.
"Jangan sedih dong." Regan mengusap pipi Rose dengan lembut.
"Mama gak bisa datang kepernikahan kamu. Mama gak bisa ngeliat menantu mama pakai kebaya." Rose meneteskan air mata.
Dengan cepat Regan mengusap airmata Rose. "Gak mah, kata siapa mama gak bisa ngeliat menantu mama? Mama bisa nemuin dia kalo mama mau."
"Beneran? Mama bisa ketemu istri kamu yang cantik itu?" Rose kembali tersenyum setelah Regan mengatakan itu.
Regan menganggukan kepalanya.
"Kalo gitu lain kali kamu bawa ya istri cantik kamu itu. Mama mau ketemu dia."
"Iya, aku bakal bawa dia kesini."
"Mah, kalo gitu Regan pergi dulu. Regan ada meeting sebentar lagi. Regan boleh pergi kan, mah?" Kata Regan, izin pulang pada sang mama karna sudah sepuluh kali lebih Dito menelfonnya.
Rose menganggukan kepalanya. "Iya dong boleh. Sana pergi, hati-hati dijalan jangan ngebut-ngebut ya bawa mobilnya kalo Regan kenapa-napa mama sedih nantinya."
Regan menganggukan kepalanya. Walaupun mamanya punya penyakit langkah juga mengidap depresi, tapi dia masih mengingat atas putranya dan tentunya suaminya. Hanya karna kecelakaan Rose menjadi gila sampai pernah tidak mengingat apapun termasuk Regan.
"Kalo gitu Regan pergi dulu ya. Mama baik-baik disini. Jaga kesehatan. Lain kali Regan bawa istri Regan kesini."
Rose menganggukkan kepalanya. "Bilang ke dia ya. Mama ngebet mau ketemu dia." Rose cekikikan.
Regan menganggukan kepalanya sebelum dia pergi dia mencium kening Rose dahulu lalu dia mengucapkan salam pada sang mama sambil mencium lengan sang mama.
"Tolong jaga mama saya, sus." Kata Regan pada suster dan suster menganggukinya.
Setelah itu Regan keluar dari ruangan pribadi mamanya. Dia menutup pintu ruangan itu sambil mengangkat telfon dari Dito yang sebelumnya dia tidak angkat.
__ADS_1
"..."
"Iya, gue kesana." Jawabnya lalu mematikan telfon.