
"Zayn Anggara, menurut lo dia orangnya gimana?" Tanya Regan pada Dito yang tengah menyetir di kursi pengemudi sedangkan dia ada di kursi belakang, duduk sambil berkutik pada iPadnya.
Pertanyaan Regan itu benar-benar tidak terduga, Dito mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Regan dari kaca diatas kepalanya. "Kenapa? Lo tertarik sama dia? Naksir lo sama dia?" Tanya Dito balik.
Regan berdecak, dia menatap Dito yang menatapnya lewat kaca diatas kepalanya. "Gak gitu, gue cuma tanya pendapat lo tentang dia."
Dito manggut-manggutkan kepalanya sambil ber 'oh' ria. "Ohhh, gue kira apa tiba-tiba nanya tentang itu orang." Kata Dito. "Ya kalo dari pendapat gue, gimana ya. Susah lah dijelasin, tapi kalo nyuruh milih antara dia atau lo, gue lebih milih dia sih."
Regan merasa tidak puas dengan jawaban Dito. Jika harus memilih, dia lebih memilih Zayn daripada dirinya? Regan merasa kesal rasanya. "Apa lo bilang? Lo milih dia? Sip, mulai hari ini lo gue pecat." Ucap Regan dengan cuek lalu kembali berkutik pada iPadnya.
Mendengar itu, Dito tidak percaya. Bisa-bisanya Regan mengatakan hal keji begitu dengan cueknya padahalkan Dito dan Regan itu satu paket bagaimana bisa dia memecatnya dengan gampangnya? Dito tidak percaya. "Yeee mainnya pecat-pecatan, gak seru ah. Gue bercanda kale jangan dimasukin ke hati."
Regan tidak memperdulikan ucapan Dito lagi, dia menaruh iPadnya disebelahnya lalu menatap keluar jendela. Regan merasa cuacana hari ini sangat baik, apakah cuacana mendukung Zayn karna hari ini secara kan tadi Regan bertemu Zayn? Kalau benar Regan menjadi kesal sekali.
"Berhenti, To." Kata Regan menyuruh Dito memberhentikan mobilnya.
Dan Dito langsung memberhentikan mobilnya ketika Regan menyuruhnya secara tiba-tiba. Dengan penuh tanda tanya Dito menatap Regan yang ingin keluar dari mobil. "Mau kemana lo?" Tanya Dito ketika dia melihat Regan membuka pintu mobil.
"Sebentar," Regan keluar dari mobil begitu saja.
Entah apa yang membuatnya tertarik sampai turun dari mobil begini padahal biasanya jangan kan turun dari mobil, membeli apapun saja kudu Dito yang melaksanakannya namun kali ini kenapa Regan tiba-tiba menyuruhnya memberhentikan mobil bahkan turun di tepi jalan.
Apakah ada bidadari yang turun dari kayangan jatuh ke bumi yang hingga membuat Regan terpana sampai turun dari mobil? Jika benar, Dito akan jungkir balik.
Itu membuat sang sekretaris, tangan kanan sekaligus sahabat Regan penasaran. Saking penasarannya, akhirnya Dito ikut turun dari mobil setelah melepaskan sabuk pengamannya.
Mata Regan menatap seorang anak kecil yang duduk ditepi jalan dengan wajah yang murung. Dia mendekati anak kecil itu secara perlahan dan berjongkok dihadapan anak laki-laki itu yang tengah duduk dengan murung ditepi jalan.
Ketika merasa ada seseorang yang mendekatinya, anak kecil itu mengangkat kepalanya dan menatap Regan yang berjongkok dihadapannya.
__ADS_1
Seketika darah Regan berdesir begitu tatapannya dengan anak kecil itu bertemu. Dia merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya ketika melihat anak kecil berusia lima tahun itu. Anak kecil dengan mata yang mirip dengannya itu membuat Regan seperti,,, entahlah hanya Regan yang tahu apa yang ia rasakan ketika melihat anak kecil itu.
"Om siapa?" Tanya anak kecil itu menatap Regan dengan bingung.
Dito yang juga melihat anak itu terkejut. Bukan apa-apa entah kenapa dia merasa anak itu mempunyai wajah dan mata yang sangat mirip dengan Regan. Bahkan Dito bisa melihat Regan kecil dalam diri anak kecil itu. Itu yang membuatnya terkejut.
"Om mau culik aku ya?" Bukannya takut atau apa, anak kecil itu malah menebak dengan wajah polosnya.
"Emang kamu mau om culik?" Tanya Regan dengan senyuman dibibirnya. Dia merasa tidak asing dengan wajah anak itu atau mungkin karna wajah anak itu sangat mirip dengan wajahnya waktu kecil?
Anak itu berpikir sebentar, lalu menganggukan kepala. "Kalo om mau culik aku gak papa, soalnya aku takut pulang kerumah." Katanya.
Kedua alis Regan terangkat. "Kenapa?" Tanya Regan.
"Soalnya aku udah ingkar janji ke mama, aku gak mau mama sedih lagi karna aku." Jawab anak itu dengan wajah sedih.
Dito berdecak kagum, wajah anak laki-laki itu benar-benar mirip dengan Regan semasa kecilnya. Walaupun dia juga merasa ada sedikit paduan Adera juga pada wajah anak itu. "Gan, dia mirip banget sama lo. Jangan-jangan lo, lo buntingin anak orang lagi, Gan?" Heboh Dito.
"Emang kamu ingkar apa ke mama kamu?" Tanya Regan lagi.
Anak kecil itu memainkan jari-jarinya. "Aku mukul temen aku, lagi. Aku gak suka mereka selalu ngatain aku anak haram, aku juga gak suka mereka ngejelek-jelekin mama. Jadi aku pukul mereka semua, tapi aku udah ngelanggar janji sama mama. Aku takut mama marah," cerita anak itu dengan wajah murung dan cicitan dikata akhirnya.
Regan dan Dito saling tatap beberapa detik lalu Regan kembali menatap anak dihadapannya itu. "Mau om antar ke mama kamu? Dan bantu kamu ngejelasin ke mama kamu?" Ucap Regan, dia penasaran siapa orangtua anak ini.
Mata anak itu membulat dengan lucu. "Beneran? Om bakal bantu aku bilang ke mama?" Senyumnya mengembang.
Regan menganggukkan kepalanya. "Iya, om bakal bantu kamu biar gak dimarahin mama kamu lagi."
Anak itu menganggukan kepalanya dengan senang.
__ADS_1
"Kalo gitu, om antar ke mama kamu. Let's go." Regan berdiri, dia mengandeng tangan mungil anak kecil itu masuk ke dalam mobil dan anak kecil itu menurut saja.
Dan Dito pun ikut masuk ke dalam mobil, dalam hati dia sangat penasaran siapa kah anak itu sebenarnya, kenapa wajahnya begitu mirip dengan Regan? Pokoknya Dito harus menemukan jawabannya karna dia sangat penasaran.
Bisa jadi anak itu ada hubungannya dengan Adera. Entah kenapa firasat seorang Dito yang tampan dan gagah berani itu mengatakan itu.
"Wah, mobil om bagus ya," anak itu terkagum-kagum dengan mobil Regan.
"Anak kecil, kamu emang gak takut kalo om ini penculik? Dia bisa ngejual kamu lho!" Tanya Dito di kursi pengemudinya.
Anak kecil itu menatap Dito lalu menggelengkan kepalanya. "Gak kok, aku gak takut. Aku malah pengen kenalin om ke mama aku." Jawabnya dengan senyuman lebar.
Regan ikut tersenyum melihat anak itu tersenyum. Hatinya menghangat, dia merasa kalau dia sudah sangat dekat dengan anak itu padahal mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu. "Emang gimana mama kamu? Kenapa mau kenalin ke om?" Sekarang Regan yang bertanya.
Anak itu kembali menatap Regan. "Karna mama aku cantik banget, om nanti kalo ngeliat suka deh."
"Oh iya? Secantik apa emang mama kamu?"
"Eumm, cantik banget kok. Guru Tk aku aja suka sama mama aku, dia mau jadi papa baru aku tapi aku gak suka dia. Aku sukanya sama om," anak itu cengengesan.
"Jadi kamu mau om jadi papa baru kamu gitu?" Sebelah alis Regan terangkat, dia merasa sangat senang berbicara dengan anak itu.
Anak itu menganggukan kepalanya. "Iya, om mau kan jadi papa baru aku? Soalnya aku gak punya papa, kata mama, papa aku gak akan balik lagi karna lagi kerja diluar angkasa jadi aku mau om jadi papa baruku, mau kan?"
Regan menganggukan kepalanya dengan senyuman dibibirnya dan itu membuat anak itu tersenyum dengan lebar. "Kalo gitu panggil om dengan sebutan papa. Kan om bakal jadi papa baru kamu." kata Regan.
Anak kecil itu berpikir sebentar lalu tersenyum malu-malu. "Papa," panggilnya.
"Pintar!" Regan mengelus kepala anak itu dengan lembut. "Oh iya om belum tau nama kamu, siapa nama kamu?" tanya Regan.
__ADS_1
"Nama aku Raka Ananta Mahardika,"