
Karna kebiasaannya sepulang dari kampus, Adera membereskan apartemen. Dia menyampu, mengepel lantai dari kamar ke kamar sampai ke ruang tengah dan juga dia membereskan dan merapikan apa yang seharusnya dibereskan dan dirapihkan.
Setelah selesai mengerjakan perkerjaan rumah, Adera duduk disofa. Karna sudah sebulan kurang dia tinggal diapartemen ini, Adera jadi mulai terbiasa sendirian disana sebelum Regan pulang dari kantor.
Sebetulnya Regan tidak pernah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tapi Adera gabut saja sambil menunggu Regan pulang lebih baik dia mengerjakan perkerjaan yang ada kan? Yaitu perkerjaan rumah.
Adera beristirahat sebentar disofa, menghilang rasa penatnya sebentar sebelum dia lanjut memasak makan malam nanti. Entah kenapa Adera sangat semangat dan rajin memasak untuk Regan, dia sangat senang saat Regan menikmati makanan yang ia buat. Itu menjadi kesenangan sendiri untuk Adera.
Adera mengambil ponselnya diatas meja. Dia menyalahkan ponsel, inilah saat-saatnya melihat cerita warga whatsapp. Adera melihat-lihat cerita orang-orang yang ada dikontaknya. Mulai Rani yang hanya mengirim foto bunga yang diketahui itu pemberian dari Rivaldo yang sudah menjadi kekasihnya. Juga Friska yang mengirim lagu sedih berbahasa inggris di storynya dan banyak lagi.
Ting!
Notifikasi dari Regan yang mengirimnya pesan. Dan itu langsung membuat Adera membaca pesan itu dengan cepat.
Orang gila. Nama yang Adera tetapkan untuk Regan ditelponnya.
Udah pulang lo?
Begitulah pesan dari orang gila itu. Tidak berfaedah sekali. Adera jadi menyesal membaca pesan itu.
Dengan malas Adera membalas pesan dari Regan.
^^^Udah.^^^
Gue sebentar lagi pulang.
^^^Gak nanya tuh perasaan.^^^
Kualat lo jadi istri.
^^^Yeee sibuk.^^^
Gue bawa makanan, jadi lo jangan masak.
^^^Lah baru mau masak.^^^
Gak capek lo masak setiap hari?
^^^Gak tuh, malah seneng lagi.^^^
Gak usah masak hari ini. Gue udah beli makanan dari luar.
^^^Ya iya.^^^
__ADS_1
Dan pesan terakhir Adera hanya dilihat oleh Regan dan itu membuat Adera kesal. Setidaknya dia membalas apa kek, jangan dilihat doang kan Adera yang jadi emosi.
Adera menaruh ponselnya diatas meja lagi. Sambil menunggu Regan pulang, Adera memangku Milk yang kebetulan lewat kakinya. Dia sangat merindukan Milk akhir-akhir ini seperti seorang ibu merindukan anaknya itulah yang dirasakan Adera saat ini.
"Hay Milk. Aduh mama kangen banget tau sama kamu." Adera berbicara pada Milk yang hanya disahut dengan mengeong oleh Milk.
Adera mencium Milk berkali-kali. Milk itu sangat menggemaskan sampai membuat Adera tidak tahan untuk menciumnya. Perlu diketahui lagi, Adera sangat tidak tahan dengan hal-hal yang lucu dan menggemaskan seperti Milk contohnya.
"Gak kangen sama papanya juga?" Suara Regan tiba-tiba terdengar di telinga Adera membuat Adera terkejut sampai hampir melempar Milk dari tangannya.
Hampir saja jantung Adera copot porosnya saking terkejutnya. "Astagfirulloh," Adera beristigfar berulang kali karna terkejut.
"Lo kalo pulang bilang kek. Kayak setan lo datang tiba-tiba tanpa salam atau apa." Omel Adera.
Menyadari dia membuat kesalahan lagi dan melihat ekspresi Regan yang datar itu, Adera memukul bibirnya sendiri karna keceplosan. Hari ini entah sudah keberapa dia membuat kesalahan itu lagi.
"Sori-sori keceplosan, hehe." Adera menyengir pada Regan.
Regan menoyor kepala Adera karna Adera sudah lima kali mengulang kesalahan yang sama hari ini. Dan dia hanya bisa menyengir sambil meminta maaf. "Tinggal dua kali, siap-siap. Ranjang menantikan lo disana." Kata Regan dengan ketus.
"Ih kan gak sengaja." Protes Adera.
Regan duduk disebelah Adera, sesuai apa yang ia kirimkan dipesan kalau dia membeli makanan untuk mereka malam ini.
"Gu-- aku makan ya?" Untung saja Adera tidak melakukan kesalahan lagi karna dia menggeremnya agar tidak terjadi lagi.
Regan menganggukinya. Memang dia membawakan semua makanan itu untuk Adera makan kenapa dia harus izin dahulu?
Adera mengigit gigitan pertama burger itu. Burger itu sangat besar sampai-sampai dia harus membuka lebar mulutnya untuk mengigit burger itu. Adera manggut-manggutkan kepalanya menikmati burger itu.
"Enak banget gila." Heboh Adera.
"Semua makanan juga lo bilang enak." Sindir Regan.
Adera menatap Regan. "Sibuk deh." Balasnya sambil mengigit lagi burger itu.
Regan hanya memperhatikan Adera. Dia suka saat Adera makan lahap begitu. Pipinya jadi mengembung dan itu terlihat menggemaskan.
"Mau gak?" Adera menawarkan pada Regan.
Regan menganggukan kepalanya. Dia mengigit burger yang disodorkan Adera kemulutnya. Dia mengigit burger itu tepat dibekas gigitan Adera.
Adera tersenyum. Dia mengigit lagi burger itu hingga gigitan terakhir. Dia belum sadar, kalau Regan mengigit bekasannya. Yang berarti mereka berciuman secara tidak langsung.
__ADS_1
Setelah burger itu habis, Adera meminum minuman soda tanpa alkohol itu. Adera merasa sangat kenyang sekarang padahal dia hanya memakan burger saja namun dia sudah merasa kenyang. "Kenyang gila." Gumamnya.
"Kepala lo udah gak sakit lagi?" Tanya Regan.
Adera menatap Regan dengan kening mengkerut. "Udah enggak. Tadi pagi emang sih agak sakit gitu. Tapi kok aku gak inget ya kejadian tadi malam?" Jawab Adera, dia mulai perlahan-lahan terbiasa menggunakan kata aku-kamu pada Regan tanpa sadar.
"Siapa terakhir kali lo temuin ditoilet?" Tanya Regan dengan wajah serius.
Adera berpikir sebentar. Terakhir kali dia bertemu dengan Sandra, sekretaris pribadinya Dito, dia ingat agak cekcok dengannya di toilet namun selebihnya dia tidak mengingatnya. "Kayaknya Sandra deh. Cewek yang cantik itu tuh." Jawab Adera.
Regan sudah menduganya. Karna dialah yang paling mencurigaikan waktu itu. "Terus siapa yang ngasih lo alkohol?"
"Alkohol? Aku gak minum alkohol tuh perasaan. Najis tau gak, nyentuh minuman haram itu."
Regan menghebus nafasnya. "Terus siapa yang ngasih lo minuman? Atau apa gitu?"
Adera mengingat kejadian di toilet saat dia debat dengan Sandra. Dia mengingat saat Sandra pergi dari toilet, Adera menemukan minuman disebelah wastafel dan tanpa berpikir panjang dia meminum itu. "Kayaknya aku minum minuman yang tiba-tiba ada diwastefel gitu deh. Rasanya itu pait-pait gitu terus tiba-tiba pala aku sakit seterusnya udah gak ingat."
Jadi benar Sandra yang sengaja menaruh alkohol berkadar tinggi itu di wastafel. Tapi apa tujuan wanita itu pada Adera? Dia harus menuntaskannya segera. Dia tidak mau ada yang menyakiti Adera nantinya.
"Yang lo minum itu alkohol kadarnya tinggi. Yang belum pernah minum kayak lo itu langsung mabuk. Walaupun lo minum cuma seteguk." Kata Regan membuat Adera terkejut.
"Jadi malam itu, aku mabuk?" Tanya Adera terkejut.
Regan menganggukinya.
Adera tidak percaya kalau dirinya mabuk. Dia tidak percaya. "Apa yang aku lakuin pas mabuk tadi malam?" Tanya Adera dengan mata melotot.
"Emm, lo malu-maluin sih tadi malam. Juga--" Regan menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri untuk memberi tahu apa yang dilakukan Adera tadi malam.
Kedua alis Adera terangkat. "Apaan?" Tanyanya bingung.
Regan berdecak sambil memutar bola matanya. "Lo cium gue." Jawabnya enteng.
Mata Adera membulat. Tidak mungkin kan dia melakukan itu? Tidak mungkin kan?
"Boong!"
Regan berdecak. Dia mengangkat Adera kepangkuannya membuat Adera sontak terpekik karna kaget. Regan menatap Adera lekat-lekat. "Mau gue contohin apa yang lo lakuin tadi malam ke gue?" Ucap Regan.
Tangan Adera memengang kedua bahu Regan sambil menutup matanya.
Namun tiba-tiba saja suara tawa Regan terdengar jelas membuat Adera kembali membuka matanya. "Pfftt, pengen banget dicium lo ya." Ledek Regan.
__ADS_1
Adera yang merasa terus dipermainkan Regan, kesal. Dia turun dari pangkuan Regan dan meninggalkan Regan ke kamar. Dia memaki Regan sambil berjalan.