
Pagi harinya, Adera sudah bersiap ke kantor, dia sudah rapi dengan blouse berwarna biru tua. Karna tidak ingin terlambat ke kantor, Adera langsung berangkat. Dia keluar dari kamar.
Semalam Regan tidak tidur dikamar bersamanya, sepetinya ucapan Regan tidak main-main untuk berpisah dengannya. Dan semalaman, Adera menangisi Regan sampai dia tidak pulas tertidur dan membuat matanya menjadi membengkak sekarang.
Adera menutup kembali pintu kamar, dia berjalan ke arah pintu apartemen namun langkahnya terhenti melihat Regan tertidur diatas sofa panjang. Tanpa sadar, Adera malah mendekati Regan yang tertidur di sofa panjang.
Semalaman dia gelisah saat Regan tidak masuk ke dalam kamar, tidak tidur bersamanya ternyata dia tidur disini. Apakah Regan sudah mulai menjaga jaraknya dengannya? Tapi Adera tidak menyukai itu. Dia berharap Regan masuk ke dalam kamar dan tidur bersamanya seperti biasa namun mungkin itu mustahil sekarang.
Adera mencium bau alkohol yang menyengat ketika dia mendekati Regan. Dia yakin Regan tadi malam minum alkohol sampai mabuk dan dia menjadi sedih.
Namun mata Adera menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. Ada bekas lipstik yang belum menghilang dipipi Regan dan itu membuatnya berpikir macam-macam. Apakah Regan tidur bersama wanita lain tadi malam? Kenapa pikiran itu membuat hati Adera sakit?
Tanpa sadar setetes airmata turun ke pipinya, membayangkan jika benar Regan meminum alkohol dan tidur bersama wanita lain diluar sana. Tapi sepertinya dia sudah tidak pantas jika dia cemburu karna itu, karna sebulan lagi mereka akan bercerai jadi tidak pantas untuknya berpikir seperti itu.
Adera menghapus airmatanya, dia berjalan ke dapur. Dia akan membuatkan air jeruk untuk Regan. Katanya air jeruk bisa menghilangkan mabuk seseorang, itu yang pernah didengar Adera.
Setelah sudah membuatkan air jeruknya, Adera kembali mendekati Regan yang masih belum terbangun dari tidurnya, dia menaruh air jeruk itu diatas meja. Dia berharap Regan meminumnya.
Lalu Adera kembali ke tujuan awalnya. Dia beranjak pergi keluar apartemen dan pergi ke kantor agar tidak terlambat nantinya.
Seperginya Adera, akhirnya Regan terbangun dan langsung terduduk disofa sambil memegangi kepalanya terasa pening. Dia meringis menahan rasa sakit di kepalanya. Mungkin itu efek jika minum alkohol kebanyakan.
Mata Regan menemukan segelas air jeruk diatas meja dengan cepat dia mengambilnya dan meneguknya hingga habis. Rasa air jeruk itu membuatnya terasa segar, tapi dia bingung siapa yang membuatkannya air jeruk ini? Tidak mungkin kan Dito? Atau mungkin-- ah sudahlah, dia harus berusaha melupakannya.
Regan menyenderkan kepalanya disenderan sofa. Dia memejamkan matanya dan membukanya lagi, berharap rasa sakit kepalanya berkurang.
......................
"Adera, kamu gak papa?" Tanya Alisia.
Mereka berdua tengah menghabiskan siomay bersama dikantin di jam makan siang. Sedari tadi Adera hanya menatap siomay di depannya tidak menyentuhnya sama sekali, dia hanya terdiam dengan tatapan kosong.
Melihat Adera masih diam saja, Alisia menyentuh lengan Adera membuat Adera tersadar dan mengangkat kedua alisnya.
"Ada apa, mbak?" Tanya Adera.
Alisia menghela nafas. "Kamu kenapa? Dari datang ke kantor, kamu diam aja, lho. Terus mata kamu juga bengkak. Kamu ada masalah?" Tanya Alisia.
Adera terdiam sejenak lalu menatap Alisia sambil tersenyum. "Gak papa kok, mbak. Aku tadi malem abis maraton film drakor yang super sedih abis, mbak mangkanya jadi bengkak begini." Jawab Adera berbohong.
"Hemm, lagian nonton drakor yang sedih, mbak aja gak kuat."
Adera tertawa paksa. "Tonton coba mbak. Seru tau."
__ADS_1
"Gak lah. Mbak gak pengen Ale jadi ikut nangis pas ngeliat mbak nangis." Kata Alisia. Ale adalah nama anaknya yang baru saja berusia tujuh tahun, mungkin Ale tidak suka melihat ibunya selalu menangis karna ayahnya mangkanya dia ikut menangis jika Alisia menangis.
"Oh iya, Adera. Ratih tadi nanyain kamu tuh sama mbak. Katanya kamu baik-baik aja?" Kata Alisia.
"Mbak Ratih nanyain kabar aku, mbak? Wah, aku jadi kangen sama mbak Ratih."
"Adera,"
"Iya mbak?"
Alisia menatap Adera dengan serius. "Kamu bohong. Kamu lagi gak baik-baik aja. Mbak gak bisa kamu bohongin." Ucap Alisia membuat Adera terdiam. "Ada masalah apa, Adera?"
Adera menghela nafasnya sebelum menjawab Alisia. "Emang keliatan banget ya?"
Alisia menganggukan kepalanya.
Adera tertawa hampa. Ternyata dia semenyedihkan itu. "Cuma ada masalah kecil kok, mbak. Jangan khawatir."
"Jangan disimpan sendiri, Adera. Kalo kamu gak percaya sama mbak buat kamu numpahin kesedihan kamu, seenggaknya tumpahin kesedihan ke orang kamu percaya. Jangan mendam sendirian, itu lebih menyakitkan dari apapun." Perkataan Alisia membuat Adera ingin menangis lagi namun dia tetap menahannya dengan senyuman terpaksa dibibirnya.
"Iya mbak, makasih."
Tangan Alisia mengusap rambut Adera yang dikuncir kuda sambil tersenyum hangat pada Adera.
"Mbak kirimin foto Ale ya?" Pinta Adera.
"Mau buat apa?" Tanya Alisia.
"Ih, mau buat aku pajang diwalpaper, mbak. Abis mukanya Ale ganteng banget sih padahal masih kecil."
Alisia terkekeh. "Nanti mbak kirimin ya. Oh iya, Ale pengen ketemu banget sama kamu tuh."
"Masa?"
"Iya, dia selalu nanyain kamu, katanya kak Adera cantik, Ale mau jadi calon pacar kamu katanya."
"Siap mbak. Pulang dari kantor nanti, aku main ke rumah mbak ya? Mau main sama Ale, calon pacar aku."
Alisia tertawa mendengarnya.
......................
Diruangannya, Regan menatap keluar jendela, dengan memutar kursinya kearah jendela. Dia menatap langit diluar sana yang mendung, seakan tahu apa yang dirasakan Regan saat ini.
__ADS_1
Regan membenci pikirannya sendiri yang selalu saja terbayang wajah Adera seakan menjadi kaset yang terus diulang diotaknya. Tapi tidak bisa dibohongi, kalau Regan merindukan Adera padahal baru semalaman dia tidak melihat wajah Adera tapi malah membuatnya rindu begini.
"Cih!" Decih Regan, dia memijit pelipisnya sendiri. Membayangkan wajah Adera semakin membuatnya merindukannya dan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan melupakan Adera agar saat dihari perceraian mereka, Regan sudah melupakan Adera sepenuhnya.
Tapi apakah dia bisa? Ini saja mati-matian menahan ingin melihat wajah Adera secara langsung bagaimana dia bisa melupakannya secepat itu? Astaga, Regan frustasi.
Tok tok tok!
Suara ketuka pintu ruangan Regan terdengar dan itu membuat Regan kesal. Dia padahal lagi sedang tidak ingin diganggu, tapi kenapa ada saja yang mengganggu ketenangannya.
"Masuk!" Teriak Regan.
Begitu Regan teriak, seseorang masuk ke dalam ruangannya. Dan itu adalah seorang karyawan wanitanya. Wanita itu mendekati meja Regan dengan membawa tentengan ditangannya.
"Permisi, pak Regan," kata Olivia.
Regan memutar kursinya menghadap meja kerjanya, dia menatap tajam orang yang berani mengganggu ketenangannya. Dan betapa malasnya dia melihat wanita penggoda itu yang datang.
"Pak, saya lihat wajah anda pucat hari ini. Jadi saya membawakan makan siang untuk anda." Ucapnya, sok manis sambil membelakangi rambutnya.
"Oke." Jawab Regan malas.
Olivia menaruh makanan yang ia bawa diatas meja kerja Regan. Dia tersenyum-senyum menggoda Regan.
"Pak Regan makin hari semakin tampan saja." Pujinya.
"Oh begitu? Apa saya terlihat setampan itu?" Tanya Regan.
Olivia mengganggukan kepalanya. "Tentu saja, siapa yang tidak jatuh cinta dengan anda." Katanya.
Regan tersenyum miris. Tentu ada yang tidak jatuh cinta dengannya, dan orang itu adalah Adera, istrinya sendiri. Terpesona dengannya pun tidak seperti wanita lainnya kabanyakan ketika melihat dirinya.
Melihat Regan tersenyum, Olivia menganga tidak percaya. Dia bahkan semakin terpesona dengan Regan ketika melihat senyumnya yang limited edision itu.
"Siapa namamu?" Tanya Regan.
"Olivia," jawab Olivia dengan senyuman dibibirnya.
Sepertinya dia bisa dibuat menjadi kekasih palsu untuknya, mengetahui dia setim dengan Adera dengan begitu dia bisa melihat Adera setiap harinya.
Regan tersenyum miring. Ide yang bagus. Jadi dia punya alasan untuk melihat wajah Adera secara langsung.
"Olivia? Mau berkencan dengan saya?"
__ADS_1