Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Pertengkaran


__ADS_3

"Dera tadi ada yang datang?" Tanya Regan pada Adera yang tengah mencuci piring di wastafel dapur.


Adera menoleh sebentar ke Regan yang sedang mengambil minuman di kulkas lalu meneguknya. Dia mengangkat kedua alisnya. "Kok kamu tau? Kan aku belum kasih tau." Curiga Adera karna dia kan belum cerita kalau dia membawa seseorang kesini tadi.


Regan menatap Adera dengan air dingin ditangannya. "Ya aku tau dari staf apartemen." Jawab Regan santai.


Adera memicing ke Regan. Bohong sekali kalau dia bertanya pada staf apartemen, kemarin-marin saat dia membawa Rina dan Friska kesini dia tidak menanyakannya tuh malah terbilang tidak peduli.


Melihat Adera memicingkan matanya kearahnya membuat Regan terkekeh. "Kenapa?" Tanyanya.


"Gak papa. Tumben banget kamu peduli sama siapa yang aku bawa kemari." Ucap Adera lalu memfokuskan diri pada piring yang kotor.


"Ya siapa tau aja kamu bawa lelaki kesini kan. Mangkanya aku tanya." Kata Regan.


Adera menaruh piring yang baru saja dia cuci lagi, dia menatap Regan dengan tidak percaya. Mendengar Regan mengatakan itu kenapa Adera merasa kalau Regan sama sekali tidak mempercayainya. Kenapa dia seolah menunduh Adera suka membawa lelaki lain?


"Kenapa kamu ngomong seolah-olah aku suka bawa lelaki lain kesini?" Kedua alis Adera menyatu.


Regan menaruh botol air dingin itu lagi ke dalam kulkas setelah itu menutup kembali pintunya. Dia kembali menatap Adera yang juga menatapnya dengan kedua alis menyatu. "Aku gak ngomong begitu." Tukas Regan.


"Kamu emang gak ngomong begitu, tapi kamu seakan curiga sama aku kalo aku bawa lelaki lain kesini." Balas Adera.


"Bukannya aku curiga sama kamu, Dera. Aku cuma mastiin aja." Regan membela diri.


"Mastiin? Bukannya itu juga terbilang curiga?"


Regan berdecak. "Bukan gitu, Dera."


Adera menatap Regan dengan senduh. Regan memang tidak pernah percaya dengannya. "Kamu emang gak pernah percaya sama aku." Ucap Adera.


"Aku percaya sama kamu, sayang. Cuma aku mau mastiin aja." Regan berkata dengan lembut.


Adera menggelengkan kepalanya. "Kalo kamu percaya sama aku, gak mungkin kamu curiga sama istri kamu sendiri. Apalagi curiga kalo aku bawa laki-laki lain." Ketus Adera.


Setelah mengatakan itu, Adera melanjutkan mencuci piring yang tinggal sedikit lagi selesai. Regan tidak bisa mempercayainya itu membuat Adera sedih padahal dia sudah berusaha mempercayai Regan walau hatinya merasa bimbang tapi dia tetap mempercayainya bagaimana pun.

__ADS_1


Walaupun hatinya tengah bimbang dan tidak menentu, Adera tetap berpikir positif dan mempercayai suaminya dengan percaya kalau Regan hanya mencintainya namun mendengar Regan menanyakan pertanyaan itu seolah curiga kepadanya membuat Adera sedih.


Selesai mencuci semua piringnya dan menaruhnya ke tempat seharusnya, Adera langsung beranjak pergi meninggalkan Regan yang masih disana. Dia melewati Regan begitu saja, mengabaikannya.


Merasa terabaikan oleh Adera membuat Regan kesal. Dia langsung mengikuti Adera ke dalam kamar. "Sayang," panggil Regan.


Namun lagi-lagi Adera mengabaikannya. Adera membenahi ranjang tanpa mempedulikan Regan. Dia masih marah tentang kecurigaan Regan padanya.


Geram diabaikan oleh Adera akhirnya Regan mulai emosi. "Kenapa jadi kamu yang marah?" Kata Regan.


Dan akhirnya Adera menoleh ke Regan, dia mengangkat kedua alisnya tidak mengerti. Dia memang pantas marah karna kecurigaan Regan padanya tapi kenapa dia malah seakan marah juga padanya?


"Aku gak marah. Aku cuma mau bikin kamu sadar dengan apa yang kamu tuduh ke aku." Balas Adera.


"Terus kenapa kamu marah? Apa kamu ngerasa bersalah mangkanya kamu marah?" Ketus Regan.


Adera tidak percaya dengan apa yang dikatakan Regan. Maksudnya dia menutupi kesalahannya dengan marah gitu? Dan secara tidak sadar dia memang mencurigai Adera. "Merasa bersalah? Kenapa aku harus merasa bersalah kalo emang tuduhan kamu itu gak benar."


"Tuduhan? Aku gak nuduh kamu. Aku cuma tanya apa itu termasuk nuduh?" Sebelah alis Regan terangkat.


"Pertanyaan kamu itu seolah monjokin aku! Secara gak langsung kamu nuduh aku kalo aku bawa lelaki lain kesini kan?"


"Kamu emang gak pernah percaya sama aku!" Ketus Adera, dia mengusap dengan cepat airmata yang menetes tanpa izin. Dia masih tidak percaya kalau Regan masih belum mempercayainya.


Melihat Adera menetes airmata, Regan jadi merasa bersalah. Dengan cepat dia membawa Adera ke dalam pelukannya. Dia sadar dia melakukan kesalahan karna mencurigai Adera namun jujur itu diluar kemauannya, dia tanpa sadar mencurigai istrinya.


"Maaf," sesal Regan akhirnya. Padahal yang harus dicurigai adalah dirinya sendiri mengetahui kalau dia suka bertemu dengan wanita lain diluar sana tapi dia malah menunduh Adera.


"Aku cuma lagi banyak pikiran aja hari ini, maaf udah nuduh kamu yang enggak-enggak." Ucap Regan dengan lembut.


"Tapi gak seharusnya kamu nuduh aku begitu!"


"Iya-iya aku minta maaf. Maafin aku, ya?"


Adera menganggukkan kepalanya. "Jangan diulang lagi."

__ADS_1


......................


Disecara bersamaan sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hubungan mereka tengah menonton film bersama ditelevisi. Friska dan Toni duduk bersila bersebelahan diatas ranjang sambil memakan cemilan.


Mereka memang sudah resmi berpacaran tapi tetap saja mereka masih canggung karna memang kan awalnya mereka berdua adalah seorang teman. Seperti sekarang, mereka menonton film horor dengan fokus sambil memakan cemilan.


"Ton," panggil Friska, baginya film itu membosankan jadi dia sudah malas duluan menontonnya.


Toni menoleh sambil mengangkat kedua alisnya. "Apa?" Sahutnya.


Friska mengubah posisi duduk menyamping ke arah Toni. Dia menatap Toni dengan wajah yang malu-malu. "Kita udah resmi kan ya?" Tanya Friska dengan malu.


Toni terkekeh mendengar pertanyaan Friska. Bukan kah sudah jelas kalau mereka sudah resmi sekarang? Kenapa dia masih menanyakannya. "Ya menurut lo?" Toni mendorong wajahnya lebih dekat dengan Friska seakan ingin menciumnya.


Pipi Friska memerah karna malu. Dia gugup sekali. "T-tapi kan kita belum ngelakuin hal yang sering orang pacaran lakuin." Kata Friska.


Sebelas alis Toni terangkat. "Maksud lo? Wah, Friska lo mikir jorok?" Ledek Toni dan Friska langsung memukulnya dengan kepalan tangannya.


Walau terasa sakit tapi Toni tertawa. Tenaga Friska memang berbeda dengan gadis lainnya, pukulannya saja sampai membuatnya sakit begini.


Menyadari dia telah memukul Toni dengan kencang, Friska membuka mulutnya lalu dia langsung memeriksa keadaan pacarnya itu. "Lo gak papa kan? Sori ya, gak sengaja." Ucap Friska.


Melihat wajah Friska sedekat ini entah kenapa Toni malah ingin sekali menciumnya. Dan dia pun memiringkan kepalanya, mendorong wajahnya lebih mendekat dan itu membuat Friska terdiam membeku.


Saat bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir Friska, dengan menutup matanya sendiri, Toni ******* bibir Friska dengan lembut. Menikmati bibir Friska pertama kalinya tanpa adanya balasan dari Friska.


Dan Friska hanya diam membeku, sudah semerah apa wajahnya sekarang karna dicium Toni. Dia tidak percaya kalau saat ini Toni menciumnya, mencium bibirnya dengan lembut seperti ini. Jantungnya seakan ingin meledak saking kencangnya detak jantungnya.


Tangan Friska terangkat meremas baju yang dikenakan Toni. Dia mencoba membalas ciuman Toni walau agak kaku karna itu adalah ciuman pertamanya dan Toni yang mengambil itu.


Tak berselang lama kemudian Toni melepaskan pangutannya, wajahnya juga memerah sekarang. Dia menatap wajah Friska yang tersegal-segal. "M-maaf," sesalnya.


Friska menggelengkan kepalanya, dia memegang pipi Regan dengan senyuman dibibirnya. Dia bahagia Toni yang mengambil ciuman pertamanya. "Gak papa kok, gue suka." Ucap Friska dengan senyuman dibibirnya.


Ucapan Friska membuat Toni tersenyum.

__ADS_1


"Tapi lain kali harus izin dulu!" Jutek Friska.


Toni menganggukkan kepalanya mengerti. "Iya." Jawabnya.


__ADS_2