Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Ceraikan Aku, ya?


__ADS_3

"Aku gak tau kenapa kamu bisa sepengecut ini, Regan."


Regan masih terdiam, dia menahan perihnya pipinya karna tamparan Adera. Dia tahu, dia telah menyakiti hati Adera, dan dia salah dengan itu. Jadi dia akan diam saja, membiarkan Adera melakukan apapun termasuk menamparnya berkali-kali pun ia tak apa.


Adera mengusap airmatanya dengan kasar, dia menatap Regan. Sungguh dalam hatinya dia menyesal melayangkan tamparan itu kepada Regan namun karna kekecewaan dan kemarahannya pada Regan mengalihkan semuanya.


"Bilang ke aku, Saskia. Apa yang kamu pengen sekarang? Aku bakal ngedenger apa yang kamu pengen." Ucap Adera pada Saskia.


Saskia mengusap airmata bohongannya, ingat hanya airmata palsunya. Dia menatap Adera dengan wajah tegas. "Aku mau kamu nyerahin ke Regan, biarin dia jadi ayah dari anak aku, Adera. Kamu juga perempuan jadi kamu pasti tau apa yang aku rasain." Kata Saskia sekaligus dengan permintaannya pada Adera.


Adera menghebus nafasnya. Walau menyakitkan dia harus melakukannya. Karna dia perempuan, dia pun membayangkan jika dia ada diposisi Saskia saat ini.


"Baik, Saskia. Sesuai permintaan kamu. Aku bakal serahin Regan ke kamu, karna nantinya anak kamu butuh dia kan?" Adera tersenyum pada Saskia lalu tatapannya beralih ke Regan yang menatapnya dengan tidak percaya.


"Tapi sebelum itu, bisa tinggalin kita sebentar? Aku butuh bicara sama Regan. Cuma berdua aja, bisa kan?" Lanjut Adera, menyuruh Saskia meninggalkan mereka berdua.


Saskia yang percaya hubungan mereka akan berakhir secepatnya akhirnya memutuskan untuk pergi keluar apartemen. Karna rencananya sudah berjalan dengan lancar, dia hanya harus menunggu hasilnya saja. Jadi dengan senang hati, Saskia meninggalkan mereka berdua, membiarkan mereka berbicara terakhir kalinya.


Seperginya Saskia, Adera menatap Regan. Dia pun kembali duduk disebelah Regan, menatap Regan lekat-lekat.


"Adera, bisa kamu dengerin dulu penjelasan aku? Aku gak bener-bener--" satu jari Adera membungkam mulut Regan yang ingin mencoba menjelaskan lagi kepada Adera namun Adera menolaknya.


"Kenapa dihari itu kamu ngelamar aku? Padahal ada wanita yang butuh pertanggung jawaban dari kamu, Regan. Kenapa Regan?" tanya Adera dengan mata memerah, dia menatap Regan.


"Adera, dengerin aku. Aku sama sekali gak ngelakuin itu dan lagi kenapa aku ngelamar kamu karna aku cinta kamu Adera. Aku tau kamu gak akan percaya kata-kata aku, tapi aku bener-bener gak ngelakuin itu apalagi anak dalam kandungan dia, itu bukan anak aku, Adera." seberusaha mungkin Regan menjelaskan pada Adera namun sepertinya Adera tidak akan mempercayai penjelasannya.


"Kamu pikir dia bohong? Dia bohong tentang kehamilannya? Kenapa bisa kamu mikir begitu, Regan?" Adera menunjuk dada Regan, dia masih tidak percaya jika Regan akan mengatakan kata-kata itu.


Seketika hening sejenak karna Adera membuang pandangannya, dia menangis tanpa suara sedangkan Regan, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia bingung bagaimana membuat Adera percaya padanya.


"Regan, aku mohon sama kamu, dengan sangat. Tanggung jawab apa yang udah kamu lakuin, jangan jadi pengecut kayak gini. Aku tau kamu belum rela nganggap dia anak kamu, tapi mau bagaimana pun dia darah daging kamu." Akhirnya Adera kembali menatap Regan.

__ADS_1


Regan menggelengkan kepalanya. Dia menolak jika memang itu adalah anaknya dan dia pun tidak percaya jika memang anak yang dikandung adalah anaknya.


"Dengerin aku, Regan. Aku bilang kamu bakal nurutin apa yang aku mintakan?" Tanya Adera.


"Iya, apapun yang kamu mau bakal aku turutin, sayang."


Tangan Adera terangkat memegang pipi Regan yang tadi ia tampar. Dia menampilkan senyuman menyakitkan pada Regan. "Kalo gitu aku minta untuk terakhir kalinya. Ceraikan aku, ya?"


Kedua mata Regan membulat mendengar permintaan Adera barusan. Setetes air mata jatuh dari matanya karna ucapan Adera barusan. Seberapa kuat pun Regan, dia tidak bisa berbohong kalau dia sangat lemah dihadapan Adera, begitupun sekarang, karna Adera adalah kelemahannya. Regan meneteskan airmatanya seakan tidak percaya apa yang diucapkan Adera padanya barusan.


"Adera, kamu bercanda kan? Aku gak pernah hamilin dia sayang, percaya sama aku, oke?" Regan menggenggam tangan Adera mencoba meyakinkannya.


Adera menggelengkan kepalanya. "Aku mau percaya sama kamu, beneran. Tapi aku gak bisa percaya sama apa yang terjadi sekarang, Regan."


Regan melemah, dia menangis di depan Adera. Mendengar permintaan Adera padanya membuat Regan benar-benar sedih dan juga menyakitkan. "Aku gak mau cerai sama kamu, Adera. Aku cinta kamu, cuma kamu yang aku cinta, jadi aku gak mau kita cerai." Kata Regan dengan parau.


Adera ikut menangis melihat Regan menangis membuatnya ikut menangis. "Kamu harus, Regan. Aku gak mau tersakiti lagi atau menyakiti siapapun. Dan jalan yang terbaik adalah kita bercerai."


Regan menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau! Sampai kapan pun, aku gak akan menceraikan kamu, Adera!" Tegas Regan.


Regan pun memeluk Adera, dia tidak ingin berpisah dengan Adera, sampai kapan pun dia tidak ingin berpisah. Adera adalah kehidupannya, masa depannya juga kebahagiaannya. Dia tidak ingin berpisah begitu saja dengan Adera.


"Jangan tinggalin aku," parau Regan. Dia memeluk Adera dengan erat seakan tidak membiarkan Adera pergi darinya.


Adera menangis, dia sendiri pun bingung. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak ingin terluka lagi, dan juga dia tidak ingin melukai siapapun termasuk Saskia. Jadi apa yang harus ia lakukan?


Jika memang itu benar-benar anak dari Regan, dia bisa apa? Anak kecil itu tidak berdosa, juga tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana nantinya anak itu tidak merasakan kasih sayang seorang ayah?


"Regan, aku minta dengan sangat sama kamu. Tolong kamu harus tanggung jawab, dia anak kamu, kamu harus memberi dia kasih sayang." Ucap Adera masih memeluk Regan.


Regan menggelengkan kepalanya. Dia masih menolak anak yang dikandung Saskia adalah anaknya walau dia tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian malam itu, tetap saja dia menolaknya.

__ADS_1


"Regan, aku juga perempuan. Aku tau gimana sakitnya hamil tanpa pertanggung jawaban kayak apa, apalagi saat anak itu lahir dan ayahnya gak ada. Aku tau, Regan, karna aku juga perempuan. Jadi bisa gak kamu nurutin apa yang aku mau? Tanggung jawab,"


"Aku gak mau nikahin dia, Dera. Aku gak butuh dia."


"Dia butuh kamu, Regan. Dia butuh kamu!"


Regan terdiam, dia sudah tidak tahu lagi, dia bingung. Bahkan saking bingungnya kepalanya seperti ingin meledak. Dia tidak ingin Adera meninggalkannya.


......................


Epilog.


Sinar matahari memantulkan cahayanya, menyinari apartemen Regan dengan cahayanya.


Adera yang ketiduran disofa living room baru saja terbangun, menatap Regan yang tidur disebelahnya yang memeluknya dengan erat. Tangan Adera menyentuh wajah Regan, dia tersenyum.


Adera harap Regan akan menemukan kebahagiaannya nantinya walau tidak bersama dengannya. Adera yakin Regan akan segera menerima anak yang dikandung Saskia, karna bagaimana pun Regan kan sudah tidak sabar ingin mempunyai anak walau bukan anak darinya.


Dengan gerakan pelan, Adera melepaskan tangan Regan yang memeluknya erat tanpa ingin membangunkannya. Walau sedikit pergerakan Regan yang membuatnya terkejut, akhirnya Adera bisa bebas dari pelukan Regan tanpa membangunkannya.


Setelah itu Adera berjalan ke kamar. Di kamar, dia mengambil koper kecil dan segera memasukkan baju-baju pentingnya saja ke dalamnya. Dia menangis dalam diam sambil membenahi pakaian yang ia butuhkan ke dalam koper.


Jika memang Regan tidak ingin menceraikannya, Adera yang akan meninggalkannya. Setidaknya, Adera butuh ketenangan dari apa yang terjadi sekarang ini.


Hatinya terluka, sangat. Jujur saja, Adera di dalam lubuk hatinya, dia tidak terima Regan bersama dengan wanita lain. Namun dia tidak bisa egois, karna dirinya lah yang datang sebagai perampas. Iya, dia lah yang merampas semuanya dari Saskia.


Setelah sudah membenahi pakaiannya, Adera mengambil serobek kertas dan dia menulis sesuatu disana. Sambil menangis, Adera menulis surat yang akan dia tinggalkan untuk Regan. Lalu Adera menaruhnya diatas nangkas, berharap nanti Regan membacanya.


Kemudian, Adera langsung keluar dari kamarnya dengan membawa kopernya dengan pelan-pelan. Takut jika nanti Regan terbangun, dia malah menahan kepergiaannya.


Sekali lagi, untuk terakhir kalinya Adera melihat wajah Regan. Ingin sekali dia menyentuh wajahnya namun dia menarik lagi tangannya, dia harus segera pergi secepatnya dari apartemen ini juga pergi secepatnya dari Regan.

__ADS_1


Regan semoga bahagia dan sehat selalu, aku mencintaimu. Aku harap kamu akan bahagia dengan Saskia juga anak kamu yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Maaf, aku pergi ninggalin kamu padahal janjiku pada alm mama tidak akan meninggalkan kamu.


Tapi aku tidak menempati janji itu, maaf. Karna aku butuh waktu, setidaknya aku butuh waktu untuk sendiri dan menerima semuanya dengan lapang dada. Maaf dan terimakasih karna sudah mencintai aku sedalam itu.


__ADS_2