
"Cara ngilanginnya gimana coba, aghh!" Frustasi Adera, sepulang dari kantor, dia masih mencoba menghapus tanda kemerahan itu dilehernya. Dan yang membuat Adera frustasi adalah tanda kemerahan itu tidak kunjung hilang juga.
Semua gara-gara Regan. Jika saja pria itu tidak memberinya tanda ini, dia tidak akan malu saat semua orang menatapnya di kantor. Tapi salahnya juga sih, kenapa dia tidak memperingatkan Regan sebelum... Ah, mengingat kejadian itu lagi membuat pipi Adera kembali memanas.
"Ngilangin apa lo?" Tanya Regan, dia baru saja datang dan duduk disofa sebelah Adera yang tengah berusaha menghilangkan tanda kemerahan itu dilehernya.
Adera berdecak sebal. Dia menatap Regan dengan kesal. Kenapa dia tidak merasa bersalah sama sekali padahal membuat Adera begini?
"Ngilangin apa? Ngilangin in nih!" Jawab Adera dengan sewot sambil menunjuk lehernya yang terdapat tiga tanda kemerahan karna ulah Regan.
"Norak lo. Ini karya, bodoh." Kata Regan, tidak merasa bersalah sama sekali. Malah dengan bangganya dia bilang kalau tanda itu sebuah karya.
"Karya apaan. Bikin malu iya!" Sewot Adera.
Regan terkekeh. Dia pun lupa kalau membuat stempel kepemilikannya di tempat yang bisa dilihat. Karna sakin tidak sadarnya dan saking menikmatinya, Regan jadi lupa. "Norak lo. Ini stempel kepemilikan, yang berarti lo udah ada yang punya." Kata Regan.
Adera mendengus kesal. "Apaan. Karna tanda merah inian, aku tadi dibilang cewek yang pura-pura polos ternyata katanya placur yang bersembunyi diwajah polos." Kata Adera dengan bibir manyun.
Sebelah alis Regan terangkat. "Siapa yang bilang?" Tanya Regan dengan serius. Berani sekali orang itu mengatai Adera begitu.
"Ada, orang kantor." Jawab Adera. "Karna tanda merah ini, aku sampe dicap anak nakal, tau!"
Regan tidak suka ada yang bilang dan mencap Adera dengan buruk. Aderanya tidak seperti itu. "Siapa yang bilang, Adera?"
Bukannya menjawab Adera malah hanya menatap Regan dengan bibir manyun. Tidak mungkin kan dia bilang siapa yang mengatakan itu semua pada Regan? Bagaimana jika Regan melakukan sesuatu pada Olivia jika dia tahu Olivia lah yang mengatakan itu semua. Adera tidak ingin mengatakannya pada Regan, biarlah dia yang melawan wanita itu sendiri.
"Cara ngilanginnya gimana?" Ucap Adera dengan suara imut dimana membuat Regan tidak tahan dengan keimutannya itu.
"Sini gue hilangin."
Regan mendekati wajahnya ke leher Adera. Adera yang tidak sempat menghindar langsung terjungkal tertidur disofa dengan Regan yang berada diatas tubuhnya sambil mendekatkan wajahnya ke leher Adera sambil menahan kedua tangan Adera agar tidak memberontak.
Begitu bibirnya mendarat dileher Adera, bukan ingin mencium lehernya atau mengecupnya, Regan malah menggelitiki leher Adera dengan hidung mancungnya dimana membuat Adera tidak bisa diam sambil tertawa karna geli dengan kelitikan hidung Regan dilehernya.
"Ahahaha, Regan lepasin, haahaha, geli hahahaha," tawa Adera begitu kencang.
Regan tidak melepaskannya dia masih menggelitiki Adera menggunakan hidungnya. Biarlah itu menjadi hukuman untuk Adera karna membuatnya gemas begitu.
__ADS_1
"Lepasin, udah udah, capek, ahahahaha," Adera kelelahan terus tertawa.
Suara dering dari ponsel Adera membuat Regan memberhentikan aksinya. Ada saja mengganggu jika Regan sedang bersama Adera. Dan Regan kesal akan hal itu.
Adera mendorong dada Regan agar menjauh darinya. "Minggir ih, mau angkat telpon dulu." Kata Adera.
"Cium dulu," pinta Regan.
Mau tau mau, Adera akhirnya mengecup bibir Regan singkat dan begitu sudah mendapatkan kecupan dari sang istri, Regan menjauh dari Adera. Dia kembali duduk disofa seperti semula.
Adera langsung mengambil ponselnya dari meja coffe. Dia melihat nama yang tertera yang menelponnya. Begitu dia melihat nama tertera disana, Adera menoleh ke Regan dan dia langsung menjawab panggilan dari Toni.
"Hallo?"
"Dera, lo bisa kesini gak?" Suara Toni terdengar parau dan itu membuat Adera khawatir.
"Ton, lo kenapa?" Tanya Adera kepada Toni disebrang sana.
Terdengar kekehan parau dari sana. "Bisa kesini gak, Ra? Gue butuh lo."
Adera melirik Regan yang diam saja dengan wajah datar. "Lo dimana?"
"Oke, gue kesana ya." Adera memutuskan panggilan. Dia bergegas ingin pergi kesana.
"Pergi kemana lo?" Tanya Regan begitu Adera memakai jaket bersiap ingin pergi.
Adera menatap Regan. "Pergi keluar sebentar." Jawab Adera.
Regan mendengus. "Gue gak ijinin."
Adera menatap Regan dengan kedua alis terangkat. Dia tidak mengerti jalan pikiran Regan yang selalu mengatur dirinya. "Lo itu kenapa sih?" Pada akhirnya Adera kembali menggunakan kata gue-lo lagi pada Regan karna saking muaknya terus diatur dengan Regan.
"Gue kenapa?" Beo Regan dengan tatapan tajam ke Adera. "Lo yang kenapa. Segitu pedulinya lo sama dia? Suka lo sama dia?"
"Perasaan gue itu hak gue. Suka enggaknya gue sama orang, gak ada hak lo ngaturnya." Ucap Adera, dia segera beranjak pergi.
"Jangan pergi." percuma, perkataan Regan tidak didengar Adera, Adera tidak peduli dan tetap pergi dari apartemen.
__ADS_1
......................
Ditaman dekat apartemen, Adera segera mendekati Toni yang duduk di ayunan dengan tatapan yang kosong. Dia yakin jika Toni tidak baik-baik saja.
"Ton?" Kata Adera begitu dia berdiri dihadapan Toni.
Toni mendonggakan kepalanya, dia tersenyum pada Adera. "Hay," sapanya.
Adera tahu kalau senyuman Toni sekarang ini bukan senyuman yang biasanya dia tunjukkan padanya. Kali ini senyuman yang menyimpan banyak luka di dalamnya.
"Papa mama gue, mereka cerai hari ini juga. Mereka gak peduli tentang anaknya, mereka ngelakuin apa yang mereka hendaki seenaknya, bahkan gak peduli tentang anaknya. Apa emang gue cuma benalu dikeluarga itu sampe gak pernah dipeduliin sama sekali?" Kata Toni dengan mata yang menunjukkan kesedihan yang menatap Adera.
Adera tidak bisa berkata apa-apa. Tentu saja itu menyakitkan bagi anak, perceraian orangtua membuat sang anak terluka, perpecahan mereka membuat sang anak merasa sedih. Adera mengerti apa yang dirasakan Toni, antara marah, sedih dan terluka secara bersamaan.
Toni kembali menundukkan kepalanya. "Gue bingung, Ra. Mereka yang cerai kenapa gue yang sedih begini." Kedua bahu Toni bergetar dan Adera yakin laki-laki itu sedang mengeluarkan kesedihannya.
"Gue sedih sama perpisahan mereka, padahal mereka aja gak peduli sama sekali sama gue." Toni mengeluarkan airmatanya.
Sontak Adera lebih mendekat denga Toni dan membawa kepala Toni di perutnya karna dia masih berdiri dihadapannya. Membiarkan Toni menangis sejadi-jadinya disana.
Adera tahu perpisahan itu menyakitkan. Dia sudah mengalaminya, namun hanya berbeda dengan cerita Toni. Orangtuanya meninggalkannya dengan hal lain bukan perceraian. Dan dia mengerti perasaan Toni sekarang, karna dia juga orang yang pernah ditinggalkan.
Bahu Toni semakin lama semakin bergetar bahkan Adera bisa mendengar suara tangisannya. Dia yakin Toni sedang mengeluarkan semua rasa sedihnya kepadanya, dihadapannya. Biarlah dia yang menjadi saksi kesedihan Toni hari ini.
Semakin lama Toni mulai memberhentikan tangisnya, dia sudah puas mengeluarkan airmata di depan Adera.
Dan begitu Toni berhenti menangis, Adera menjauhkan kepala Toni dari perutnya. Dia tersenyum lega melihat Toni mengeluarkan perasaann sedihnya.
"Gue tau perpisahan itu menyakitkan. Apa yang lo rasain juga gue ngerti. Tapi lo gak bisa sedih begini terus Ton. Siapa tau perpisahan mereka itu bikin lo tambah kuat kedepannya." Ucap Adera.
"Makasih Ra. Dengan gue nangis didepan lo gini, ternyata bikin gue sedikit lega. Seenggaknya lo ada disini, itu udah bikin gue seneng."
Ader tersenyum. "Tenang aja, kalo lo butuh teman curhat, gue selalu ada buat lo. Gue bakal dengerin apapun cerita lo." Kata Adera.
"Makasih Ra." Toni bangun dari ayunan. Dia berdiri berhadapan dengan Adera. Tangannya terangkat kepipi Adera. "Ini yang bikin gue suka sama lo. Lo beda dari yang lainnya."
Adera terkejut apa yang dikatakan Toni barusan.
__ADS_1
"Ra, gue suka lo." Ungkap Toni dan dia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Adera yang dimana membuat Adera terkejut dan membeku.