
Selesai kelas, Adera langsung membereskan buku-buku juga laptopnya ke dalam tas ranselnya. Dia ada janji dengan Rani akan bermain ke rumahnya. Ya, lumayan lah daripada dia di apartemen sendirian lagipun Regan bilang akan pulang malam nanti.
"Adera," panggil Toni, dia berjalan mendekati meja Adera.
Adera yang sudah memasukkan peralatannya ke dalam tas langsung menoleh dan mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum pada Toni.
"Nih usb tugas yang dikasih pak dosen." Toni menyerahkan flash disk atau usb pada Adera. Biasalah, Toni memang paling perhatian pada Adera.
Adera mengambil flash disk dari tangan Toni dan memasukkannya ke dalam tas. "Thanks ya. Nanti gue balikin." Kata Adera.
"Santai aja. Btw lo pulang bareng siapa?" Tanya Toni.
"Emm, biasa, gue pulang bareng Rani sekalian mau maen ke rumahnya." Jawab Adera sambil memakai tas ranselnya di punggung.
"Emang kenapa, Ton?" Tanya Adera.
"Gue kira ada yang jemput lo."
Adera menyerngirkan dahinya. "Siapa yang jemput gue? Gak ada kok."
Toni manggut-manggut sambil ber oh ria. "Beneran pulang sama Rani kan?" Tanya Toni memastikan sekali lagi.
"Iya, gue pulang bareng dia kok. Kenapa? Mau ngajakin Rina pulang bareng ya?" Goda Adera sambil menunjuk-nunjuk Toni.
Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang bicara dengan orang yang tidak peka itu sulit. Kenapa dia tidak menyadari kalau Toni ingin mengajaknya pulang bersamanya bukan bersama Rani? Tapi sudahlah, Adera tidak akan pernah peka.
"Oh iya, Ton. Kemarin jaket lo sama gue kan?"
Toni menganggukinya.
"Gue lupa nyuncinya, pas kemarin hujan-hujanan gue jemur dulu jadi gue lupa nyuncinya. Besok ya, Ton." Kata Adera.
"Iya, santai aja."
"Oke. Kalo gitu, gue duluan ya, Ton. Rina kayaknya udah nungguin nih, nanti dia ngambek kalo gue kelamaan."
"Tunggu, Ra." Toni menahan Adera yang ingin pergi.
Adera membalikkan badannya lagi ke hadapan Toni. "Kenapa lagi Ton?" Tanyanya.
"Hari minggu lo gak ada acara kan?"
__ADS_1
"Iya, kenapa emang?"
"Temenin gue ke perpus yuk." Ajak Toni.
Adera tersenyum lebar. Dia menganggukan kepalanya dengan cepat. "Iya nanti kabarin gue aja, ok?"
Toni ikut tersenyum.
"Kalo gitu duluan ya, Ton." Ucap Adera setelah itu dia keluar dari kelas. Begitu dia keluar kelas dia langsung mendapati Rina yang menunggunya disana. Dengan berlari kecil Adera menghampiri Rina yang sepertinya merajuk karna Adera kelamaan.
Seperginya Adera, Toni memegangi jantungnya sendiri. Melihat senyuman Adera yang begitu manis baginya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Jantungnya serasa ingin putus dari porosnya.
......................
"Lama banget lo, ngapain aja sih di kelas?" Benar kan kata Adera, pasti Rina meranjuk padanya karna dia membuatnya menunggu lama.
Adera memeluk Rina dari samping dengan geleyotan. "Sori, tadi gue ngobrol dulu sama Toni." Kata Adera.
Kening Rina mengkerut mendengar nama Toni dari mulut Adera. Dia melepaskan tangan Adera yang bergeleyotan dengannya. Dia menatap Adera dengan serius.
"Ngobrol apa?" Tanya Rina, kepo.
"Itu, dia ngajak gue nemenin dia beli buku di perpus doang." Jawab Adera dengan santai.
"What? Lo seriusan? Dia ngajak lo jalan?" Heboh Rina. Padahal mereka masih berada di koridor kampus namun suaranya yang menggelegar itu seakan ada autone-autone nya saking cempreng suaranya itu.
Adera menutup kedua kupingnya sendiri. Suara cempreng Rina membuat kendang teling hampir pecah. "Na, sumpah ya gak bisa apa sehari aja jangan ngeluarin suara cempreng lo itu. Brisik sumpah." Kesal Adera.
Rina hanya menyengir tidak berdosa. "Ya abis gue terkejut banget gitu lho. Kok bisa sih seorang Antoni yang super duper jutek itu ngajak lo jalan? Sumpah ya, gue kurang percaya."
"Dia bukan ngajak gue jalan, Na. Dia ngajak gue buat nganterin dia ke perpus. Udah itu doang kok." Adera membenarkan fakta yang ada.
"Tetep aja ya, Adera Danialova. Itu sama aja jalan karna kan lo cuma berduaan sama dia." Rina tidak mau kalah.
"Idih apaan sih, ngaco lo."
"Lo yang ngaco. Masa gitu aja gak peka. Dia ngajak lo jalan, oon." Geram Rina. Dia geram dengan sahabatnya yang tidak peka.
Adera mengangkat sudut bibirnya. "Idih, kok lo yang ribet." Cibir Adera.
"Ya abis lo bikin gue gemes. Orang-orang juga tau kalo dia itu ngajak lo jalan!" Rina jadi geram sendiri karna Adera yang tidak peka-peka.
__ADS_1
"Seterah deh, capek gue debat sama lo." Adera memilih mengalah daripada terus berdebat dengan Rina yang tidak akan mau kalah.
"Gue bingung deh, lo itu pake pelet ya?!" Tuduh Rina membuat Adera terbatuk.
"Astagfirulloh nyebut, Na. Gila lo, mana mungkin gue pake begituan." Adera menjadi tersedak karna Rina padahal dia tidak meminum atau memakan apapun.
"Ya abis lo selalu ditaksirin sama cogan-cogan. Termasuk suami lo yang super doble perfeck itu, juga Toni plus kakak senior yang sering ngeliatin lo itu." Kata Rina.
"Apa? Jangan ngada-ngada lo. Dari mereka semua gak ada yang suka sama gue. Dan kakak senior yang lo bilang, dia itu naksir lo, Na."
"Naksir gue? Emang sih gue tau gue cantik, tapi gue tau betul ya kakak itu ngeliatnya ke lo." Mulai lagi memulai perdebatan.
"Aduh, lo hari ini nyebelin banget, Na." Kesal Adera.
"Lo yang nyebelin, dasar gak peka. Kesel gue tuh lama-lama sama lo."
"Lah seharusnya gue yang kesal sama lo, udah sok tau gak mau kalah lagi." Balas Adera.
"Enak aja. Malah lo tuh yang gak mau kalah." Balas Rina lagi.
"Percaya Na, debat sama lo tuh emang gak pernah berhenti kalo diladenin mulu." Adera pasrah.
"Ya lagi lo duluan."
Tuh kan siapa disini yang tidak mau kalah? Dasar Rina ini.
Adera memutar bola matanya malas. "Iya-iya, terus jadi gak nih kita mainnya?" Tanya Adera.
Rina seketika tersenyum lebar. Kini gilirannya yang bergeleyotan pada Adera. "Jadi dong. Yok lah."
Saat mereka berjalan bersama keluar dari gedung kampus, tiba-tiba dari belakang ada yang menoyor kepala Rina.
Rina dan Adera memberhentikan langkahnya dan melihat siapa yang menoyor kepala Rina.
Dan ternyata dia Rivaldo pemuda dari jurusan sastra. Dia adalah pemuda yang menyukai Rina dan juga teman dekat dari Toni.
Walaupun Rivaldo mempunyai wajah yang lumayan tampan, Rina malah tidak tertarik dengannya malah Rina selalu dibuat kesal olehnya.
Rivaldo melewati Rina dan Adera sambil mengangkat dua jari berbentuk piece kepada Rina dan tentunya Rina menjadi darah tinggi seketika karnanya.
Sedangkan Adera dikejutkan dengan colekan seseorang dari belakang dan orang itu juga melewati Adera dan ternyata dia Toni. Mungkin Toni dan Rivaldo akan pulang bersama berhubung mereka adalah sohib.
__ADS_1
Berbeda dengan Rivaldo yang membuat Rina darah tinggi, Toni justru tersenyum pada Adera sambil melewatinya. Dan Adera hanya memanyunkan bibirnya dan itu membuat Toni terkekeh.