
Di kantor Adera mulai berkutik pada komputernya. Dia langsung berkerja menyelesaikan surat laporan yang disuruh Olivia kemarin. Dan akhirnya surat itu selesai juga hari ini. Adera menghela nafas lega sambil merentangkan kedua tangannya yang pegal-pegal karna terus mengetik.
Adera segera mengirimnya ke gmail Olivia begitu sudah terkirim, Adera menatap Olivia dimejanya yang tidak percaya apa yang dikirim Adera di gmailnya. Surat laporan sebanyak itu selesai dalam satu hari? Luarbiasa, Olivia tidak percaya dan juga ada rasa kesal karna Adera berhasil menyelesaikannya.
Adera tersenyum puas melihat reaksi Olivia. Mangkanya jangan meremehkan orang karna baru pertama kali bertemu. Adera kembali berkutik pada komputernya namun tiba-tiba ponselnya berdering dimana ada pesan yang masuk.
Dengan cepat Adera mengambil ponsel dimejanya, dia melihat pesan tersebut dan ternyata itu dari group sahabatnya. Dimana pesan yang dikirimkan Rina di group itu. Dia mengirim foto bersama Rivaldo yang terlihat akur.
Adera tersenyum melihat pesan itu. Sepertinya Rina sangat menyukai Rivaldo karna memang Rivaldo sangat pandai membuat hati gadis jatuh padanya. Adera senang Rina menemukan kekasih yang sangat menyayanginya tidak seperti mantan-mantannya yang lalu.
Adera kembali menaruh ponselnya itu di mejanya, dan berkutik lagi pada komputernya.
"Heh, anak magang." Panggil Olivia.
Adera mendengus. Kenapa wanita itu tidak berhenti-hentinya sih cari gara-gara padanya?
Olivia menaruh berkas diatas meja Adera dengan wajah sok angkuhnya dan melipat kedua tangannya di dada. "Poto kopi tuh semua berkasnya." Perintahnya.
Adera menatap Olivia dengan kening mengkerut. "Kenapa?" Tanya Adera.
"Lo tanya kenapa? Karna itu tugas lo. Fotokopi berkas itu semuanya, cepetan! Itu berkas penting yang pengen dilaporin ke sekretaris Dito." Katanya dengan sok perintah.
"Emang gak bisa fotokopi disini? Bukannya ada mesin fotokopi disini ya?"
Ini kan perusahaan besar, tidak mungkin kan hanya mesin fotokopi tidak ada disini?
"Mesin fotokopinya rusak, kalo minjem ke tim lain nanti malu. Buruan, gak usah banyak cingcong deh lo. Tinggal jalaninnya aja ribet banget."
__ADS_1
Alisia yang mendengar dan melihat Olivia memberi perintah yang semena-mena pada Adera, mulai merasa kesal. "Oliv, perasaan mesin fotokopinya baik-baik aja tuh tadi. Kenapa tiba-tiba jadi rusak?"
Olivia memutar bola matanya malas. "Haduh, udahlah mbak. Gak usah ikut campur. Udah jelas-jelas mesinnya rusak. Mentang-mentang lo lebih tua lo seenaknya ikut campur masalah orang ya. Tapi perlu lo ingat lagi kalo gue ini ketua tim, jadi jangan ikut campur, ngerti."
Alisia ingin membalas ucapan Olivia lagi namun Adera keburu mengiyakan perintah Olivia. "Baik, saya akan fotokopi berkas ini."
"Nah gitu dong, kan enak."
Tanpa bicara lagi, Adera bangun dari kursi kerjanya dan berjalan keluar ruangan dengan tenang. Hanya menfotokopi Adera tidak masalah, karna dia masih mampu walaupun dia tahu tukang fotokopi di daerah sana lumayan jauh.
Saat sudah sampai di tempat fotokopi, Adera malah dibuat kelelahannya sia-sia. Karna semua berkas itu hanya lemaran kosong yang tidak ada isinya. Bagaimana lebaran kosong itu bisa di fotokopi kalau saja tidak ada isinya? Adera mendengus, jadi dia hanya dipermainkan saja dengan Olivia?
Jauh-jauh dia ke tempat fotokopi itu sampai turun hujan tiba-tiba dipertengahan jalan saat dia ingin kembali ke kantor, dan dia hanya dipermainkan saja?
Cepat-cepat Adera berlari dengan kencang kembali ke kantor walaupun bajunya basah kuyup karna diguyur hujan.
Sekembalinya ke kantor, Adera dengan nafas memburu kembali ke ruangan karyawan dengan baju yang basah kuyup dan itu membuatnya jadi pusat perhatian karyawan lainnya. Dia langsung berjalan ke meja Olivia dan berdiri disebelah meja wanita itu dengan nafas yang tersegal-segal.
Olivia tersenyum puas. Dia melempar berkas itu ke lantai dengan gaya soknya itu. "Terimakasih, tapi memang berkas itu gak ada apa-apanya." Kata Olivia yang membuat Adera emosi.
Ada masalah apa sih wanita itu dengan Adera sampai mempermainkan Adera seperti ini. Baru kali ini Adera bertemu dengan wanita angkuh yang menyebalkan seperti dirinya.
"Jadi begini cara anda membuli anak magang?" Adera tersenyum miring.
Sebelah alis Olivia terangkat dan tersenyum sinis pada Adera. "Kalau memang saya suka bully anak magang gimana?"
"Oke, saya akan ladeni anda dengan segenap hati." Adera tersenyum evil pada Olivia. Adera bukan gadis lemah yang gampang ditindas begini, lihat saja nanti bagaimana dia membalas perbuatan Olivia padanya. Dia tidak akan diam lagi sekarang.
__ADS_1
Adera kembali ke mejanya. Karna bajunya basah kuyup dan tidak menggantinya dahulu, Adera merasa mengigil apalagi dinginnya ruangan karna AC ruangan menyentuh kulitnya.
Tangan Adera terangkat ke kepalanya yang merasakan pusing yang luarbiasa. Mungkin itu karna diguyur hujan lebat tadi.
Melihat kondisi Adera dan melihat bibir Adera menjadi pucat, Alisia yang disebelahnya menjadi khawatir. "Ra, gak sebaiknya kamu ganti baju dulu atau langsung pulang aja? Mbak khawatir sama kamu." Kata Alisia pada Adera.
Adera menoleh sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum padq Olivia. "Gak papa kok, mbak. Tenang aja, gak usah khawatir. Aku udah terbiasa kok kayak gini." Sahut Adera.
"Tapi beneran gak papa? Kamu pucet banget lho, Ra."
"Gak papa mbak. Tenang aja." Adera tersenyum.
Alisia merasa sangat khawatir dengan kondisi Adera namun apa dayanya kalau Adera saja bilang dia tidak apa-apa. Jadi Alisia langsung kembali berkerja.
Adera merasakan kepalanya pusing yang luarbiasa. Seperti dunia ini berputar-putar itu lah yang dirasakan Adera.
Bruk!
Tiba-tiba Adera terjatuh dari kursinya dan jatuh pingsan di lantai. Alisia dan karyawan lainnya yang melihat itu langsung cemas bukan main.
Regan yang tadinya ingin menemui Adera diruangan karyawan langsung terkejut melihat Adera terjatuh pingsan di lantai dengan rasa cemas bukan main, tanpa berpikir panjang lagi, Regan langsung mendekati Adera yang ingin digendong karyawan laki-laki.
"Minggir!" Regan berteriak membuat karyawan lainnya memberinya jalan untuk mendekati Adera yang terkapar tidak berdaya di lantai.
Kehadiran Regan membuat karyawan lainnya membungkam. Apalagi melihat Regan langsung menggendong tubuh Adera, mereka tidak bisa berkata-kata lagi selain pikiran mereka yang bertanya.
Sebenarnya apa hubungan Adera dengan presiden direktur itu?
__ADS_1
Bahkan Olivia, sang pembuat Adera seperti itu hanya diam tidak bisa berkata apa-apa begitu Regan menggendong Adera dan berjalan keluar dari ruangan.
Sebenarnya siapa Adera? Kenapa dia bisa membuat Regan cemas begitu? Begitulah apa yang dipikirkan karyawan-karyawan itu termasuk Olivia.