Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
66: Angkuh and Hot?


__ADS_3

Di kantor.


Adera merentangkan kedua tangannya ketika kerjaannya sudah selesai. Memang Adera hanya karyawan magang tapi tugas-tugasnya sudah seperti karyawan sebenarnya dan itu semua karna Olivia yang terus memerintahnya.


Dan untung saja setiap apa yang diperintahnya, Adera cepat menyelesaikannya. Dengan bantuan seniornya dan juga mbak Alisia juga tentunya.


"Gimana udah selesai?" Tanya Olivia, dia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya terlihat julit sekali setiap berhadapan dengan Adera.


Adera menganggukinya. "Udah, saya juga udah kirim ke bu Olivia." Jawab Adera santai.


"Oke," ucap Olivia lalu dia kembali ke mejanya. Dia sepertinya sangat kesal setiap Adera bisa menyelesaikan apa yang diperintahkannya. Padahal dia hanya karyawan magang tapi kenapa dia selalu menyelesaikannya dengan cepat.


Adera tersenyum puas melihat Olivia terlihat kesal dengannya. Biarlah, Adera pun mulai kesal dengannya yang sok memerintah sebarangan.


Adera mengambil ponsel di sebelah komputernya. Seketika dia tersenyum melihat pesan yang ditinggalkan Regan diponselnya.


"Ciee dapet pesan dari suami nih ya. Apa tuh pesannya." Alisia mengejutkan Adera.


Adera terkejut, dia menaruh kembali ponselnya setelah mematikan ponselnya. Lalu dia menoleh ke Alisia yang tersenyum jahil padanya. "Mbak, kaget aku tuh."


Alisia tertawa kecil. "Lagi kamu senyum-senyum sendiri. Siapa sih yang kirim pesan?" Alisia kepo.


"Mbak kepo nih."


Alisia tertawa lagi.


"Adera Danialova," panggil seseorang dimana membuat para karyawan ketar-ketir karna yang memanggil Adera adalah Regan, sang presdir.


Adera yang mendengar Regan memanggilnya langsung terkejut. Dia menatap Regan yang berdiri disana yang menatap kearahnya dengan wajah datar juga dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia seakan tidak peduli dengan dimana mereka berada.


Semua karyawan langsung menatap ke arah Adera dengan penuh tanda tanya. Sejauh ini, Regan tidak pernah memanggil seorang karyawan. Apalagi sampai mendatanginya begini. Dan itu membuat semua karyawan bingung.


"H-hah? Iya pak?" Sahut Adera, bersikap seperti karyawan biasa.


"Ikut saya." Titah Regan, dengan mata yang mengisyatkan sesuatu pada Adera.


Adera melirik para karyawan yang masih menatapinya, bahkan Olivia melempar tatapan tajam padanya. Adera pun berdiri dari kursinya, dia berjalan dengan wajah menunduk. Takut dengan tatapan mereka yang mengarah padanya.


Regan membalik badannya dan beranjak pergi duluan dengan Adera yang berjalan dibelakangnya. Diam-diam dia tersenyum. Padahal Adera sudah berulang kali mengancamnya untuk tidak menemui Adera saat berada di kantor, tapi saking rindunya Regan dengan Adera membuatnya tidak peduli lagi dengan itu. He just miss her.

__ADS_1


Saat sudah berada di dalam ruangannya, Regan langsung menutup pintu ruangannya dengan rapat dan Regan menarik lengan Adera, mendorongnya ke tembok dan mengurungnya disana dengan kedua tangannya.


Mata Regan menatap Adera dalam-dalam. Padahal tadi pagi mereka bertemu tapi entah kenapa saat Adera tidak ada disisinya walaupun hanya semenit saja, Regan sudah merindukannya. Memang Regan itu benar-benar budak cinta.


Adera memukul dada Regan kencang dimana membuat Regan meringis pelan. "Kamu itu, kan aku bilang kalo lagi dikantor jangan temuin aku! Kenapa sih, ngeyel banget!" Omel Adera.


Regan memegangi dadanya. Pukulan Adera lumayan kencang dan pukulan itu juga berasa sampai membuat Regan meringis karnanya. "Aku kangen kamu, sayang." Kata Regan.


"Tapi tetep aja. Kamu jadi bikin mereka natap aku begitu tau!" Sekali lagi Adera memukul dada Regan walau tidak sekencang tadi.


"I always thingking about you, honey." Ucap Regan.


Adera menatap Regan. Tidak bisa dipungkiri kalau ucapan Regan itu membuat Adera tersipu. "Gak usah gombal ya!"


"Aku gak gombal tuh. Kalo kamu mikir begitu ya gak papa."


Adera memilin bibirnya, memukul dada Regan sekali lagi dengan manja. "Dasar,"


Adera mendorong dada Regan agar bisa terlepas dari kurungan Regan lalu dia berjalan-jalan melihat-lihat isi ruangan suaminya itu. Pertama kali dia kesana, Adera malah meregoki Regan berciuman dengan wanita lain dan itu membuat Adera merasa deja vu pada kejadian itu.


Adera mendudukan bokongnya diatas kursi milik Regan, dia menyenderkan kepalanya dan menaikkan kedua kakinya diatas meja bak bersikap seperti boss yang angkuh seperti Regan. "Jadi gini rasanya jadi bos?" Ujar Adera.


Adera menyengir kuda. Dia menurunkan kedua kakinya yang berada diatas meja. "Ya gitulah, apalagi jadi boss yang angkuh kayak kamu."


Regan mendengus. "Aku angkuh?" Beo Regan, menunjuk dirinya sendiri.


Adera menganggukan kepalanya. Dia bangun dari kursi Regan dan berdiri tepat dihadapan Regan. "Kamu itu sangat-sangat angkuh, tuan Regan." Goda Adera sambil menarik dasi Regan agar wajahnya lebih mendekat dengan wajahnya.


Regan tersenyum, dia denganĀ  sengajanya mendorong wajahnya sampai hampir mencium bibir Adera. Tapi buru-buru Adera menghidarinya.


"And hot, right?" Balas Regan menggoda Adera sambil melepaskan dasinya dan membuangnya ke sembarang arah.


Adera segera menghindar, dia tahu apa yang akan Regan lakukan padanya sekarang. Apa lagi kalau bukan menyerangnya.


Namun Regan lebih dahulu menggendong tubuh Adera jadi Adera tidak bisa menghindar lagi. Regan menggendong tubuh mungilnya dengan mudah dan dia membawanya ke sofa panjang yang ada diruangannya.


Sampai disofa panjang, Regan membaringkannya disana dan Regan pun menibani tubuh mungilnya disana.


"Jangan sekarang, Regan." Tahan Adera sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa, hng?" Ibu jari Regan memainkan bibir Adera.


"Aku takut mereka nuduh aku yang bukan-bukan. Karna aku lama diruangan kamu." Jawab Adera.


"Gak usah takut, sayang. Dan sekarang yang perlu kamu lakukan cuma layani aku." Ucap Regan.


Adera berdecak. "Kamu mau disini? Gimana kalo ada yang denger kita dari luar atau tiba-tiba ada yang masuk keruangan kamu?"


"Aku suruh bodyguard aku buat jagain pintu." Jawab Regan santai.


"Ya terus bodyguard kamu ngedenger suara kita gitu? Gak mau ya!" Tolak Adera.


Regan mendengus. "Ya terus kamu maunya dimana?"


"Dirumah aja. Oke?" Adera tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.


"Gak mau. Aku maunya sekarang, detik ini juga." Kekeh Regan.


Adera mendesah pasrah. Percuma saja mengelak atau membuat alasan lain, Regan tidak akan mendengarkannya.


Kemudian detik itu juga Regan langsung menyerang bibir Adera dengan bruntal dan Adera hanya pasrah saja sambil membalas ciuman Regan.


Tangan Regan bergerak membuka kancing blouse Adera dan kemudian Regan juga menarik bra Adera sampai ke atas dadanya. Dia langsung meremas dada Adera, memainkannya dengan sepenuh hati.


Regan melepaskan ciumanya, dia menatap Adera yang sudah tidak berdaya dibawah kungkuhannya. Dia tersenyum menggoda, padahal Adera menolaknya tadi dengan alasan-alasan yang dibuatnya namun ternyata istrinya itu juga menikmati permainannya.


"Tunggu," Adera menahan Regan yang ingin menyerang dadanya. "Kunci dulu pintunya." Suruh Adera. Karna dia tidak ingin ada yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Regan.


Regan menurutinya, dia berjalan ke arah pintu dan menguncinya dengan benar lalu dia kembali ke sofa dimana Adera sedang membuka blousenya, menaruhnya disofa satunya dan juga membuka branya sendiri tanpa disuruh Regan.


Regan yang melihatnya tersenyum. Ternyata istrinya itu, gadis yang pengertian. Dia tahu kalau suaminya akan kesusahan menikmati dadanya, jadi dia membuka branya sendiri.


Adera menatap Regan yang hanya diam saja memperhatikannya. "Gak jadi nih?" Kata Adera.


Buru-buru Regan duduk diatas sofa dan dia menggendong tubuh Adera ke pangkuannya. Sepertinya agak sulit jika posisi mereka seperti tadi, jadi dia akan mencoba posisi seperti ini.


"Satu kali aja ya." Ingat Adera.


"Aku gak janji sayang."

__ADS_1


__ADS_2