
Waktunya memandikan bayi besar. Adera dan Regan secara bersamaan masuk ke dalam kamar mandi kamar mereka.
Akhirnya Regan akan mandi pertama kalinya di kamar mandi kamar itu, karna sejak awal dia berjanji kalau kamar mandi itu hanya boleh dipakai jika dia mandi bersama istrinya.
Dan akhirnya itu terjadi juga. Tapi bukannya mandi bersama, lebih tepatnya dia akan dimandikan istrinya disana.
Setelah mereka berdua masuk kedalam kamar mandi, Regan langsung ingin membuka kaos yang melekat ditubuhnya.
Melihat itu dengan cepat Adera menahannya. Dia tidak sanggup harus melihat tubuh telanjang Regan lagi walaupun itu bagian atasnya.
"Jangan asal buka baju dulu dong. Gue madep tembok dulu." Tahan Adera dengan wajah memelas.
Regan mengangkat sebelah alisnya. Begitu Adera mengatakannya, Adera langsung menghadap ke tembok. Menunggu Regan membuka bajunya.
Regan yang melihat kelakuan lucu Adera, terkekeh pelan. Dia tidak tahu mengapa istrinya menggemaskan begitu.
Tanpa memakan banyak waktu, Regan sudah membuka semua bajunya termasuk celananya. Kini Regan sudah seratus persen telan--jang bulat tanpa ada kain yang menutupi tubuhnya lagi.
Regan langsung naik ke bak mandi yang sudah disiapkan Adera. "Gue udah masuk ke bak nih." Kata Regan membuat Adera membalikkan badannya lagi.
Walau dia agak malu karna sebentar lagi menyentuh tubuh Regan, tapi dia harus berpura-pura seolah tidak merasakan apa-apa.
Untung saja setengah tubuh Regan ditutupi busa di bak mandi, jadi dia tidak melihat auratnya yang mungkin kali ini akan membuatnya pingsan.
"Cepet!"
Adera menghampiri Regan di bak mandi, dan dia duduk ditepi bak mandi.
Dalam sedekat itu Adera bisa melihat tubuh atletis Regan dari dekat. Bahunya yang lebar membuatnya ingin merasakan mengigit bahu itu
Adera menepis pikiran itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk pipinya berulang kali.
"Cepet sabunin gue, Dera." Perintah Regan.
"Iya-iya."
Adera mengambil sabun yang sudah ia siapkan tadi di tepi bak mandi. Lalu dia segera menyabuni tubuh Regan dengan sabun itu dimulai dari bahu lebarnya dahulu.
"Gue pengen gigit bahu lo." Kata Adera dengan frontal.
Regan yang menikmati tangan Adera yang menyabuni bahunya seperti memijatnya langsung menoleh ke Ader. "Lo psikopat?"
"Mungkin. Tapi gue gak tahan mau gigit bahu lo." Tatapan Adera tidak teralih dari bahu lebar Regan.
__ADS_1
Karna tidak tahan lagi ingin mengigitnya akhirnya Adera mengigit bahu Regan secara tiba-tiba. Dan detik itu juga, Regan meringis kesakitan karna gigitan Adera dibahunya. Gigitan Adera lumayan menyakitkan namun Regan berusaha menahannya.
Setelah sudah puas mengigit bahu Regan sampai berbekas, Adera melepaskan gigitannya. Dia merasa puas sekali seperti vampire yang baru saja menghisap darah manusia.
Namun matanya seketika membulat melihat bekasan gigitannya membekas dibahu Regan bahkan sampai membiru. Segitu kencangnya kah dia mengigit bahu Regan sampai membekas begitu?
Regan memberi tatapan tajam pada Adera. Dia masih merasa nyeri di bahunya padahal Adera sudah tidak mengigitnya lagi. "Udah puas lo, hah?"
Adera merasa bersalah melihat bahu Regan yang membiru karna ulahnya. Seharusnya dia bisa menahan rasa ingin mengigit Regan.
"Liat aja nanti gue bales! Gigitan harus dibayar dengan gigitan!" Kata Regan.
"Kok lo mainnya bales dendaman?" Suara Adera mencicit seperti tikus terjepit pintu.
"Yaiyalah, lo pikir gigitan lo gak sakit? Gue yakin bahu gue sekarang biru gara-gara lo."
Adera memang mengakui sih kalau dia memang salah karna mengigit Regan berlebihan. Jadi dia akan menerima jika Regan mau membalasnya.
"Udah lah, lo keluar sekarang." Usir Regan.
Adera menurut. Dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan perasaan bersalah pada Regan. Pasti Regan kesakitan karna ulahnya. Begitulah pikirnya.
Sekeluarnya Adera, Regan buru-buru keluar dari bak mandi dan berlari ke cermin di wastafel. Dia melihat bahunya disana.
Sedangkan disisi lain. Adera menunggu Regan keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengambil salep perenda nyeri untuk dibaurkan ke bahu Regan.
Adera sangat merasa bersalah pada Regan. Dia berjanji lain kali dia tidak akan melakukan itu dan dia pun sudah siap menerima balasan dari Regan. Dia tidak akan menolak jika Regan membalas mengigit bahunya seperti yangq dia lakukan pada Regan.
Tak lama menunggu, Regan akhirnya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Wajahnya terlihat marah pada Adera dan itu semakin membuat Adera merasa bersalah.
"Mau ngapain lo?" Sengit Regan ketika Adera berdiri dihadapannya.
Adera menunjukkan salep yang ia pegang pada Regan. "Gue mau balurin ini di bahu lo." Kata Adera.
"Lo pikir dengan balurin salep itu di bahu gue bikin gue ngebiarin lo gitu aja?" Regan berkacak pinggang dihadapan Adera.
"Iya gue tau, lo mau bales gue kan? Gue siap kok tapi tolong biarin gue nyelepin bahu lo ya?" Adera memohon dengan menggunakan jurus andalannya yaitu bertampang melas.
Regan akhirnya mengiyakannya, Regan langsung duduk di tepi ranjang dengan masih memakai jubah mandi.
Setelah Regan duduk ditepi ranjang, Adera langsung membuka bahu Regan dimana dia mengigitnya tadi. Melihat bahu lebar Regan lagi, Adera serasa ingin mengigitnya lagi namun dia menahannya dengan sekuat tenaga.
"Cepet balurin. Gue pengen cepet-cepet ke kantor ini."
__ADS_1
"Iya." Jawab Adera.
Adera perlahan-lahan membaluri bahu Regan dengan salep itu. Dia membaluri sambil menahan gelora yang ingin mengigitnya lagi.
Merasakan jari lentik Adera membaluri bahunya dengan lembut. Regan hanya menikmatinya saja.
Selesai membaluri bahu Regan dengan salep pereda nyeri, Adera duduk disebelah Regan. Dia menatap Regan. "Lo mau bales gue kan?"
"Ya iyalah." Jawab Regan.
"Tapi jangan kenceng-kenceng ya gigitnya."
"Terserah gue lah. Lo gigit gue aja semau lo."
"Yaudah gigit gue semau lo, sesuka lo. Gue izinin."
"Iyaudah, mana sini bahu lo."
Adera duduk membelakangi Regan. Dia membuka bahunya sebelah kiri sambil mengangkat rambutnya yang tergerai ke atas. "Cepet ya." Kata Adera.
Melihat bahu mulus Adera, Regan meneguk slivanya susah payah. Padahal hanya bahu gadis itu saja yang terpampang didepan matanya tapi dengan gampangnya membuatnya menjadi panas seketika.
Tapi tenang saja Regan tidak akan membalas seperti yang dia katakan pada Adera. Mana mungkin dia tega melakukan itu pada gadisnya?
"Cepet kek." Adera tidak sabaran.
Regan mendekatkan bibirnya ke bahu kiri Adera. Dia menghebus nafasnya disana.
Hebusan nafas Regan malah membuat Adera geli bahkan dia menahan tawanya.
"Jangan ketawa!" Tegur Regan dan Adera terdiam lagi.
Tangan Regan menahan bahu Adera satunya lagi. Agar gadis itu bisa diam. Dan kemudian dia semakin mendekatkan bibirnya secara perlahan sampai akhirnya bibirnya mendarat di bahu mulus Adera.
Cup!
Bukannya mengigitnya, Regan malah mengecup bahu Adera cukup lama membuat Adera memantung seketika. Regan bukan hanya mengecup bahu Adera, dia bahkan meninggalkan tanda kemerah di bahu Adera.
Bukan tanda bekas gigitan. Ya pasti tahu lah, tanda apa yang Regan buat di bahu Adera.
Setelah meninggalkan bekas dibahu Adera, Regan berbisik pada Adera. "Impas,"
Setelah itu Regan berdiri dan berjalan ke lemari mengambil pakaian kerjanua disana. Sedangkan Adera masih mematung, dia menyentuh bahunya sendiri.
__ADS_1
Katanya dia akan membalasnya seperti Adera melakukannya dan apa-apaan tadi itu?