Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
05: Milk


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Regan. Adera langsung berlari menggelilingi apartemennya yang terbilang sangat luas dan besar.


Dia melihat-melihat barang-barang mewah yang berada di apartemen Regan. Mulai dari vas bunga yang Adera yakin harganya sangat mahal lalu barang-barang lainnya yang tak kalah mahal.


"Huaaa, ternyata apartemen lo gede juga ya. Kamarnya juga ada banyak. Kenapa bapak gak tinggal disini aja ya?" Celoteh Adera, sekarang dia terduduk disofa dengan mengoyang-goyangkan kedua kakinya sambil menatap sekeliling apartemen.


Regan membuka jas dan dasi yang ia kenakan lalu mengantungkannya dilengannya. Dia menatap Adera yang terbilang sangat norak namun terlihat lucu.


"Karna bapak gak mau ganggu." Sahut Regan membuat Adera menoleh kebelakang sofa dimana Regan sedang berdiri disana.


Mata Adera memicing kearahnya. "Kenapa bapak ganggu?" Bingungnya.


Regan menaruh kemeja dan dasinya ke sembarang arah seakan tidak berdosa lalu dia menghampiri Adera, duduk disebelah gadis itu.


"Karna bapak gak mau ganggu malam pertama kita." Jawab Regan, dia mengedipkan sebelah matanya menggoda Adera.


Wajah Adera memerah, dia menjauh dari Regan. "S-siapa yang mau malam pertama?"


Regan menyender disenderan sofa sambil menatap Adera. "Siapa lagi kalau bukan pasangan yang baru aja nyelenggarain pernikahan barusan."


"Gue gak mau." Tolak Adera.


"Kayaknya lo lupa sama apa yang ditulis di surat perjanjian kita." Regan mendekati Adera lagi.


"Y-yang mana?" Adera berpura-pura amnesia sekarang.


"Besok kayaknya gue harus tempel dimana-mana biar lo gak lupa surat perjanjian itu."


"Gak usah." Tolak Adera.


"Ya lagian lo lupa."


"Gue inget kok, inget."


Senyum smirk tercetak dibibir Regan. "Kalo gitu lo gak lupa kan apa yang lo lakuin di suasana begini?"


Kedua alis Adera menyatu. "Ngapain?" Tanyanya dengan polos.


Regan berdecak. Dia makin mendekatkan tubuhnya dan membisikkan Adera. "Layani suami." Bisiknya.


"Maksud layani itu apa?" Tanya Adera dengan polos. Dia cuma pura-pura polos ya, bestie. Kenyataannya Adera tidak sepolos itu.


Lagi-lagi Regan berdecak sebal. "Udah lah. Jadi gak mood gue. Lo ngeselin." Decak Regan.


"Ih apaan. Lo tuh yang nyebeliin." Adera tidak terima.


"Lo gak sopan ya ngomong ke suami pake lo-gue. Mulai sekarang, detik ini juga ganti pake aku-kamu!" Perintah Regan.

__ADS_1


"Idih apaan." Bantah Adera.


"Lo mau ngebantah kata suami? Lagipun gue lebih tua dari lo, harusnya lo lebih sopan ke gue." Regan menyentil dahi Adera membuat Adera tersentak.


"Yaelah cuma beda tujuh tahun doang."


"Tujuh tahun doang kata lo? Heh, kayaknya lo perlu dihukum nih." Tangan Regan menggerayang ke paha Adera yang terekspos karna Adera sudah mengganti baju dengan dress selutut saat acara pernikahan usai tadi.


Mata Adera melotot. Dia memukul tangan Regan yang menggerayang nakal di pahanya. "Mau gue laporin atas pelecehan seksual?" Ancam Adera.


"Silahkan. Nanti tersebar berita yang absur karna 'seorang istri melaporkan suami karna merasa dilecehkan saat suaminya menyentuhnya'."


Adera berpikir. Benar juga, malah mungkin dia diketawai polisi jika dia melaporkannya. "Ya bodo, pokoknya gak boleh asal nyentuh tubuh gue. Kalo gak..."


"Kalo gak apa?" Sebelah alis Regan terangkat.


Adera menyeringai jahat. "Gue potong itu lo pas lagi tidur."


Tatapan Regan teralih ke juniornya. Dia meremehkan Adera kalau Adera bisa melakukannya. "Emang lo berani?"


Adera diam-diam mengambil sesuatu dari balakang tubuhnya. Dia menunjukkan sebuah gunting besar yang menakutkan.


Regan menelan ludahnya susah payah. Melihat gunting tajam yang bisa memutuskan juniornya dalam sekali jepit. Dia jadi merinding seketika jika Adera benar-benar berani melakukannya.


Adera menaik-turunkan alisnya menantang Regan dengan senyuman devil tercetak di bibirnya. "Gimana? Hem?"


Kalau Regan mandi, berarti Adera sendirian dong disana. Tidak bisa, Adera takut sendirian apalagi ini tempat asing. Dengan cepat Adera berjalan mengintili Regan dari belakang ke kamar mandi utama.


Merasa diikuti dari belakang Regan memberhentikan langkahnya dan seketika dahi dan hidung Adera bertabrakan dengan punggung Regan.


"Awwss!" Ringis Adera. Hidungnya merasa sakit dan itu membuatnya mengeluarkan airmata.


Regan berbalik badan, dan menatap Adera dengan sengit. "Ngapain ngikutin gue? Lo mau mandi bareng sama gue?"


Adera menggeleng sambil memegangi hidungnya. "Gak ya!"


"Terus lo ngapain ngikutin gue? Tugas lo dimulai dari besok, tapi kalo lo ngebet mau mandiin gue. Yaudah gue persilahkan mulai dari sekarang."


Adera menggelengkan kepalanya. Dia menyatukan kedua telunjuknya dengan memasang wajah sok imut. "Adela takut sendirian, kakak." Ucapnya dengan nada sok imut.


"Pfftt, hahahahaha." Regan tidak bisa menahan tawanya melihat wajah dan nada bicara Adera yang sok imut.


Ditertawakan seperti itu oleh Regan membuat Adera kesal. Padahal dia sudah menghilangkan harga dirinya, eh dia malah tertawa seperti itu?


"Hahaha, apaan dah muka lo." Regan masih tertawa.


"Ihh, gue beneran takut. Sumpah. Gue takut sendirian." Adera menarik ujung kemeja yang dikenakan Regan membuat Regan terdiam seketika.

__ADS_1


"Lo gak mau mandiin gue. Dan sekarang lo bilang takut sendirian. Mau lo itu apa? Sekarang gue mau mandi!" Omel Regan, dia melipat kedua tangannya didada.


"Ya lo mandi-mandi aja, silahkan. Tapi jangan ditutup pintunya ya?" Adera menampilkan pupil matanya.


Regan mendengkus. "Otak lo mesum ya? Pake embel-embel ketakutan segala, kalo emang mau ngintipin gue mandi, bilang!"


"Ih apaan, siapa yang mau ngintipin lo mandi? Gue cuma mau nemenin lo mandi, bukan berarti gue mau ngintipin lo."


"Udah ketebak banget, otak mesum lo. Pas gue lengah lo ngintipin badan gue kan?"


"Idih, ngapain juga gue ngintipin lo? Gak ada yang mau ngintipin lo."


"Ckk, gak mau ngaku juga lo ya. Yaudah gue ijinin lo nemenin gue mandi, plus ngintipin gue mandi sesuka hati lo." Regan kembali berjalan menuju kamar mandi utama.


"Siapa juga yang mau ngintipin dia?" Gumam Adera, dia mengikuti Regan dari belakang.


......................


Suara shower yang jatuh ke lantai kamar mandi terdengar jelas ditelinga Adera. Dia saat ini sedang duduk disebelah pintu kamar mandi dengan pintunya yang terbuka lebar yang didalamnya ada Regan yang sedang membersihkan diri disana.


Adera bengong sambil menatap sekeliling. Sebenarnya dia malas harus menunggu Regan mandi apalagi lelaki itu lama sekali membersihkan diri.


Jadi Adera hanya terbengong menatap langit-langit apartemen Regan. Apakah malam ini dia bisa tidur nyenyak mengingat di surat perjanjian dia diharuskan tidur satu ranjang dengan Regan? Hahh, pokoknya dia harus berjaga-jaga nantinya, dia harus menyiapkan gunting keramatnya. Berjaga-jaga kalau Regan menyentuhnya nantinya.


"Meong!" Suara kucing mengeong itu menarik perhatian Adera.


Kucing berwarna putih itu mendekati Adera yang duduk di lantai. Dengan wajah gemas kucing itu meminta belaian Adera. Tentu Adera tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangannya dengan cepat membelai bulu kucing itu.


"Hei, kamu penghuni sini juga ya? Aduh pasti tersiksa harus tinggal sama orang gila itu. Nama kamu siapa?" Ocehnya pada kucing itu.


"Gimana kalo aku kasih nama Milk, bulu kamu kan putih kaya susu. Kita temenan ya mulai sekarang, kita sekutu buat ngalahin algojo yang lagi mandi itu, oke?"


"Ouhhhh, imut banget.." Adera membawa kucing yang baru saja ia namakan Milk itu ke pangkuannya. Dia tidak bisa mengabaikan hal yang imut-imut.


Saat Adera memeluknya, Milk malah melarikan diri.


"Heh, Milk sini balik lagi." Panggil Adera.


Dan ternyata Milk terdiam didepan ambang pintu, melihat sang majikan tengah mandi. Dengan secepat kilat Adera merangkak menuju Milk.


"Nah ketangkap!" Serunya.


Ketika Milk sudah berada ditangannya, Adera secara tidak sengaja menoleh kearah kamar mandi dengan pintu yang dibuka lebar. Matanya membulat melihat,, tubuh-aurat Regan didepan matanya.


Regan pun secara tidak sadar menatap kearah Adera yang menungging didepan ambang pintu. Posisinya sedang berdiri diatas shower dengan sambil menyabuni tubuhnya.


Adera mengangkat Milk dan langsung berlari menjauh dari sana dengan berteriak kencang. "Aghhhhhh!" Teriaknya kencang.

__ADS_1


Oh tidak, mata Adera sudah tidak suci lagi. Bukan cuma tubuh Regan yang sudah ia lihat, sesuatu yang penting dari tubuh lelaki pun dia melihatnya. Tidak!!!!


__ADS_2