
Suara pintu apartemen terbuka membuat Adera yang kini sedang menonton televisi di living room menoleh kearah pintu. Terlihat disana Regan yang baru saja pulang dari kantor, wajahnya terlihat lelah. Mungkin pekerjaan di kantor memang melelahkan.
Seketika tatapan mereka bertemu untuk beberapa waktu. Saling menatap dengan isyarat kerinduan yang dalam dari mata mereka masing-masing. Tatapan yang hanya bisa diartikan diri mereka masing-masing.
Menyadari itu, buru-buru Regan mengalihkan pandangannya dari Adera. Dia tidak ingin terus-terusan nenatap wajah Adera yang semakin membuat rasa rindunya semakin membesar. Bahkan hanya menatap wajah polosnya itu semakin membuat Regan terluka.
Adera pun langsung menundukkan kepalanya begitu Regan mengalihkan pandangannya darinya. Dadanya benar-benar sesak sekarang.
Tak ingin terlalu lama disana, Regan langsung beranjak pergi dengan berusaha menahan diri agar tidak melangkahkan kakinya mendekati gadis itu. Namun tiba-tiba langkahnya berhenti begitu Adera memanggilnya, dia otomatis berhenti begitu saja sambil membelakangi Adera.
"Regan," panggil Adera dengan bibir bergetar dia memberanikan diri memanggil Regan.
Regan hanya diam saja, enggan menyahut atau menoleh kearah Adera. Dia hanya diam ditempat dengan membelakangi Adera.
"A-apa keadaan papa udah baik-baik aja?" Tanya Adera.
Pertanyaan Adera justru malah membuat Regan tersenyum miring. "Papa udah agak mendingan." Jawab Regan tanpa membalik badannya.
Adera menghebus nafasnya bersyukur. Dia sebenarnya bisa saja langsung menjenguk papa Jay di rumah sakit namun entah kenapa dia tidak bisa melihat wajah papa dan bapaknya untuk saat ini. Ada alasan lain Adera tidak menemui mereka.
"Syukur deh," Adera bersyukur.
"Papa sama bapak selalu nanyain kabar dari lo." Kata Regan dimana membuat Adera terdiam sejenak.
Pada akhirnya Regan memberanikan diri membalik badannya menghadap Adera dengan wajah dinginnya dia menatap Adera yang terdiam. "Lo takut buat kasih tau mereka tentang perceraian kita?"
Adera terkejut. Bagaimana Regan mengetahuinya bahwa dia sangat takut menemui papa Jay dan bapak Iqbal karna perceraian mereka? Kenapa Regan bisa mengetahui itu?
Mata Regan terus menatap Adera yang masih saja terdiam. Mata yang melembut begitu menatap Adera, mata yang terus merindu setiap kali menatap wajahnya. Apakah Adera menyadarinya?
Regan akhirnya menghebus nafasnya. "Lo gak usah khawatir. Gue yang akan bilang ke mereka. Lo gak perlu ngapa-ngapain. Cukup gue aja yang ngejelasin ke mereka." Ucap Regan.
__ADS_1
Adera menatap Regan. Matanya berkaca-kaca tapi mungkin Regan tidak dapat melihatnya karna jarak mereka saat ini.
"Biar gue yang aja yang jadi pelaku, dan yang perlu lo lakuin bersikap seperti layaknya korban. Gue yang akan tanggung jawab buat itu semua." Sambung Regan, dia menatap Adera dengan mata yang mengisyaratkan kerinduan yang dalam.
Lalu Regan kembali membalik badannya dia tidak tahan harus menatap wajah Adera terus-terusan. Sedangkan Adera begitu Regan kembali membalik badannya, dia meneteskan airmata yang tidak diketahui Regan.
Setelah itu Regan langsung kembali baranjak pergi dari sana tanpa mengetahui bahwa saat ini Adera tengah menangis dalam diam tanpa bisa berkata apa-apa.
Mereka berdua terluka. Luka yang tidak bisa tersampaikan kini melebar begitu saja. Dan apakah mereka akan menerima perpisahan yang menyakitkan ini? Tentu saja keduanya tidak menerimanya namun takdir lah nanti yang mengungkapkannya.
......................
"Bapak gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok." Kata Adera dengan bapak Iqbal lewat telpon.
Sudah lebih dari seminggu lebih Adera tidak mengabari bapaknya dan itu karna pertengkarannya dengan Regan. Dan itu tentu saja membuat bapak Iqbal khawatir dengannya.
Dengan berbohong seolah-olah hatinya tengah baik-baik saja dia mengatakan itu kepada bapaknya. Padahal nyatanya hati sedang tidak baik-baik saja semejak pertengkarannya dengan Regan tempo hari.
"Syukur deh kalo kamu gak papa. Papa mertua kamu itu cemas banget sama kamu, katanya dia sedih kamu gak jengukin dia dirumah sakit. Banyak drama emang papa mertuamu itu."
"Besok aku jenggukin kok. Bapak juga sekarang ada dirumah sakit?" Tanya Adera.
"Enggak dong. Masa bapak harus nemenin orang sakit terus. Pusing dong pala bapak. Bapak pulang ke rumah mertua kamu yang sekarang udah jadi rumah bapak juga." Ucap bapak Iqbal sembari tertawa diakhirnya.
Adera ikut tertawa, dia mengubah posisi berbaringnya menjadi memering dengan ponsel yang ditempelkan ditelinganya. "Dasar bapak, rumah orang dikuasain." Cibir Adera.
"Kemarin bapak ketemu suami kamu."
Tiba-tiba Adera terdiam.
"Dia keliatannya kayak berantakan. Keliatan kayak banyak masalah. Regan gak papa kan, Dera?"
__ADS_1
Adera terdiam sejenak. Dia pun menyadari akhir-akhir ini penampilan Regan menjadi lebih berantakan dari sebelumnya bahkan wajahnya seperti tidak bersemangat. Dan tiba-tiba saja Adera menjadi khawatir dengan Regan.
"Emm, aku gak tau pak." Jawab Adera.
"Dera, kamu ini seorang istri. Kamu harus tau apa yang tengah suami kamu alami, siapa tau dia emang punya masalah. Kasih senderan untuk suami kamu nak." Nasihat bapak Iqbal.
Seadainya saja bapak Iqbal tahu bahwa pernikahan Adera akan berakhir beberapa minggu lagi. Dia akan berpisah dengan Regan.
Tiba-tiba saja bibir Adera bergetar, dia menangis tanpa suara, menahan isaknya agar tidak diketahui bapak Iqbal. Mendengar nama Regan selalu saja membuat dadanya sesak dan itu yang membuat Adera menjadi secengeng ini .
"Dera, bapak tau kamu ada masalah sama Regan. Mungkin masalahnya besar atau mungkin masalah kecil. Tapi bapak tau kamu bisa ngatasinnya, jangan nutupin apa-apa dari bapak. Bapak tau kamu, nak."
Mendengar perkataan bapak Iqbal barusan sukses membuat isakan Adera pecah. Dia menangis dengan kencang dikamarnya. Dia memang tidak bisa menutupi apapun dari bapaknya, karna sekecil apapun masalah yang tengah Adera hadapi, bapak Iqbal pasti akan mengetahuinya.
"Bapak, Dera bingung..." isak Adera.
"Apa yang bikin Dera bingung? Kasih tau bapak." tanya bapak Iqbal.
"Dera gak mau kehilangan dia pak. Dera gak mau ini semua berakhir gitu aja. Dera gak mau. Tapi Dera bingung gimana ngembaliin semuanya?"
"Dera bisa. Dera bisa ngembaliin semuanya, Dera bisa membuat dia menetap. Karna Dera anak bapak, Dera tau kan. Dera itu kuat, Dera berani. Jadi jangan bingung. Kalo Dera pengen Regan, Dera pertahanin, jangan buat pernikahan kalian hancur gitu aja. Bapak percaya Dera bisa ngembaliinnya." Ucapan lembut dari bapak Iqbal sukses membuat Adera kembali bangun.
Benar, Adera hanya perlu mempertahankannya. Namun apakah dia bisa melakukannya.
Disisi lain. Regan baru saja selesai membersihkan diri dan dia langsung berbaring diatas ranjang.
Melelahkan. Hari-harinya yang terasa begitu melelahkan juga menyesakkan. Bagaimana dia menjalani hari tanpa melihat wajah Adera dan berbicara dengan gadis itu. Bahkan pikirannya hanya dipenuhi oleh gadis itu saja dan itu juga membuatnya lelah.
Rasa rindu yang kian meledak itu terus ia tahan dan pada akhirnya menahan rasa rindu itu sendiri membuat Regan hati sesak.
"Cih!" Decih Regan, dia menutupi wajahnya dengan lengannya.
__ADS_1
Malam ini dia tidak akan bisa tertidur dengan nyenyak lagi. Dia bisa pastikan itu. Karna hanya Adera lah yang membuatnya tertidur nyenyak namun gadis itu sekarang tidak ada disisinya.
Dan apakah itu akan terus berlanjut jika dia sudah benar-benar pisah dengan Adera?