
"Bukan aku yang hamilin dia, Dera." Ungkap Regan.
Seketika Adera menjatuhkan spatula ditangannya, dia terkejut dengan ungkapan Regan barusan. Dia bahkan hampir tidak bisa bernafas mendengar ungkapan Regan barusan. Dengan wajah terkejut Widia menatap wajah Regan.
"K-kamu bercanda kan? G-gak mungkin..." Adera benar-benar terkejut bukan main.
Regan menatap Adera juga, dia menggelengkan kepalanya. "Aku serius, Dera. Bukan aku yang ngehamilin dia. Semuanya terukap saat dia ngelahirin anaknya, dan itu emang bukan anak aku." jelas Regan.
Kepala Adera terasa pening, tubuhnya terasa lemas sekarang dan dia hampir saja terjatuh tapi buru-buru Regan memegangi tubuhnya dengan cemas.
Jadi benar selama ini Adera hanya salah paham? Dia memutuskan meninggalkan Regan dan tinggal sendirian seperti ini dan juga membesarkan anaknya sendirian. Tapi semua itu karna Adera salah paham? Dia sudah merasakan penderitaan, rasa sakit selama ini tapi ternyata dia hanya salah paham saja?
Adera merasa tidak percaya. Dia sulit memahaminya. Jadi ini semua salah dirinya karna dia meninggalkan Regan begitu saja tanpa mempercayai perkataan Regan waktu itu. Dia bahkan menentang Regan agar bertanggung jawab dengan dosa yang tidak pernah ia lakukan.
Jadi ini semua salahnya? Karna kesalahannya banyak orang yang tersakiti bahkan dia juga menyakiti Raka, anaknya sendiri. Adera merasa seperti orang bodoh sekarang. Dia sangat bodoh sampai ingin meneriaki dirinya sendiri yang bodoh ini.
Melihat Adera menangis membuat Regan cemas bukan main. Adera menangis terisak tiba-tiba, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dan yang dilakukan Regan adalah langsung membawa Adera ke dalam dekapannya. Membiarkan Adera menangis di dadanya.
......................
Di kantor, Adera melamun dimeja kerjanya sambil mengigit kuku tangannya. Perkataan Regan tadi pagi menghantui pikiran Adera.
Apakah benar Regan dan Saskia tidak jadi menikah dan anak yang ada dikandungan Saskia saat itu bukan anaknya? Kalau begitu, kenapa dia tidak bilang sejak awal? Seharusnya dia bilang ke Adera sejak awal, jadi tidak begini jadinya. Adera memang tidak seluruhnya menyalahkan Regan, tapi apakah itu semuanya benar?
Adera merengek sendiri sambil menutupi wajahnya. Jadi selama ini dia hanya salah paham begitu? Jadi selama ini, rasa sakit itu adalah karna dirinya sendiri begitu? Adera bingung.
Kalau begitu, benar kata bapaknya, almarhum bapak Iqbal. Sebelum meninggal, bapak Iqbal selalu mengatakan kalau bapaknya yakin jika Regan tidak akan melakukan hal sebejat itu walaupun saat sedang tidak sadarkan diri sekalipun. Tapi saat itu Adera yang masih marah pada Regan dan menolak keras apa yang dikatakan bapaknya dan selalu menyalahkan Regan atas segalanya.
Jadi selama ini Adera salah. Seharusnya dia lah penyebab semuanya, jika saja saat itu Adera tidak mempercayai ucapan Saskia mungkin Adera dan Raka tidak berakhir begini dan seketika Adera menyesal sekarang.
Rekan-rekan kerja Adera menatap kearah Adera yang menjadi aneh hari ini. Bahkan Adera melakukan hal aneh hari ini, seperti membuang kopi yang ia buat ke toilet, dan hal aneh lainnya. Dan mereka bingung melihat Adera seperti itu pertama kalinya.
__ADS_1
"Adera, laporan yang disuruh pak Zayn udah selesai?" Tanya rekan kerja lelakinya yang langsung menyadarkan Adera dari lamunannya.
Adera menganggukan kepalanya pada senior lelakinya itu. "Udah kok, kak. Udah selesai." Jawab Adera, menunjukkan berkas berisi laporan yang akan diserahkan pada Zayn.
"Langsung antar ke pak Zayn, dia minta laporannya sekarang. Gak papa kan, Ra?" Kata senior Adera.
Walaupun sebenarnya ingin menolak bertemu dengan CEO itu tapi sepertinya Adera tidak punya pilihan selain menyerahkan laporan itu kepada Zayn. "Iya, kak. Kan ini emang tugas saya, haha." Adera tertawa garing, dia bangun dari kursinya dan berjalan keluar ruangan sambil membawa berkas laporan itu.
Dalam perjalanan ke ruangan Zayn pun Adera masih memikirkan tentang perkataan Regan. Sial, kenapa sih pria itu selalu saja ada dipikiran Adera, buat kesal saja.
Adera masuk ke dalam ruangan Zayn, yang langsug menampakan seorang Zayn yang berdiri di depan jendela ruangannya sambil menatap langit yang cerah.
"Permisi, pak Zayn." Kata Adera sambil mengetuk pintu yang memang sudah ia buka beberapa kali.
Zayn langsung menoleh ke Adera dan seketika senyumnya terbit melihat Adera. Zayn duduk di kursinya kembali dan Adera pun mendekati Zayn sambil memberikan laporan yang ia minta.
"Ini laporan yang pak Zayn pinta. Saya sudah menyelesaikannya." Kata Adera sembari memberikan berkas berisi laporan itu pada Zayn.
Zayn menerimanya, melihat isi laporan itu dan setelah itu Zayn menaruhnya diatas meja kerjanya. Dia menatap Adera yang sekarang duduk di depannya. "Baik, terimakasih atas laporannya, nona Adera." Ucap Zayn membuat Adera menganga tidak percaya.
"Kenapa Adera?" Tegur Zayn melihat Adera menatapnya sampai segitunya.
Adera menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa." Jawab Adera, masih merasa aneh pada atasannya.
"Adera karna kamu ada disini saya ingin bertanya pada kamu." Kata Zayn yang malah membuat Adera tambah merasa aneh padanya.
Kedua alis Adera terangkat. "Ada apa, pak?" Sahut Adera.
"Bagaimana tipe pria idaman kamu?" Tanya Zayn dengan wajah serius walau setiap harinya wajahnya serius sih tapi kali ini benar-benar serius.
"Hah? Tipe pria idaman saya?" Adera tidak percaya Zayn bisa menanyakan hal itu pada Adera.
__ADS_1
Zayn mengganggukan kepalanya. "Kamu tidak mau menjawabnya lagi? It's ok, saya mengerti. Tidak usah dijawab."
Adera menjadi tidak enak seketika. Dia mengingat perkataannya pada Zayn tempo hari, apa itu menyakiti hatinya?
"Saya jawab pertanyaan bapak." Potong Adera dengan cepat.
Kedua sudut bibir Zayn mengendut menahan senyumnya. "Apa?"
Adera berpikir dahulu, jika dibilang tipe idamannya tidak ada sih. Tapi kalau dibilang pria idamannya yaitu tidak jauh adalah suaminya. Regan mempunyai kesempuranaan yang membuatnya terpesona walaupun Zayn juga mempunyai pesona yang sama sih. Tapi tetap saja hati Adera akan memilih Regan sebagai tipe idamannya.
"Eumm, itu... Tipe idaman saya, pria botak." Jawab Adera asal dimana membuat Zayn tidak percaya mendengarnya. "Pria botak yang punya tubuh kayak apa ya namanya... ah pokoknya kayak apa ya.. gak tau lah, pokoknya botak." Sambung Adera.
Zayn tidak percaya, tipe idaman seorang Adera Danialova hanya pria botak? Yang benar saja. Apa setelah ini Zayn harus membotakan kepalanya supaya menjadi tipe idaman seorang Adera?
"Emang bapak punya tipe idaman juga? Kayak apa? Kayak lucinta luna atau kayak nicki minaj yang balonnya segede semangka?" Tanya Adera balik pada Zayn.
Zayn seketika gugup. Tentu saja tipe wanita idamannya ada di hadapannya sekarang ini, itulah jawaban Zayn. "Mungkin wanita yang penyayang, berani, berkerja keras untuk keluarganya. Tidak masalah juga jika wanita anak satu, itulah idaman saya." Jawab Zayn dia berusaha sesantai mungkin walau dia sangat gugup dalam hatinya.
Kening Adera mengkerut lalu manggut-manggutkan kepalanya. "Berarti bapak suka janda anak satu ya? Hemm, menarik juga." Kata Adera.
"Berarti tipe bapak bukan saya ya? Anak-anak pada ngerumorin bapak suka sama saya, tapi gak mungkin lah. Tipe bapak kan bukan saya. Ada-ada aja itu semua orang." Lanjut Adera dimana makin membuat Zayn tidak percaya.
Ini Zayn yang kurang memberikan clue padanya atau Adera yang keterlaluan tidak peka sih? Tidak mengerti Zayn tuh pada Adera.
"Kalo begitu saya permisi dulu, pak. Saya ingin langsung ke toilet, ada masalah darurat, pak." Adera meminta izin pergi kepada Zayn
Zayn mendengus. "Iya, silahkan." Zayn mempersilahkan Adera.
Adera langsung bangun dari kursi dan berlari beranjak keluar dari sana tanpa menoleh lagi. Dia sudah tidak bisa menahan lagi panggilan alam, dia harus segera ke toilet.
Dan seperginya Adera, lagi-lagi Zayn menyenderkan kepalanya disenderan kursinya. Dia tidak mengerti lagi bagaimana menunjukkan rasa ketertarikannya pada wanita kalau saja wanita itu tidak peka dengan sekitarnya.
__ADS_1
Bagaimana memberi clue pada Adera jika Zayn naksir dia? Kenapa sih wanita itu sangat tidak peka? Kalau begini Zayn jadi kesal sendiri rasanya.
"Dasar.." Zayn tersenyum mengingat Adera. Walau tidak pekaan terhadap sekitarnya, wanita itu sangat menggemaskan bagi Zayn atau memang ini faktor kebucinan Zayn saja terhadap wanita itu?