Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
20: Minta Pendapat


__ADS_3

"Gue pengen tanya sesuatu sama lo deh." Kata Adera, dia duduk mendekati Regan yang tengah menonton televisi dengan satu kakinya diangkat ke atas sofa.


Regan yang tengah mencari-cari chanel tv yang menarik langsung menatap Adera sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" Tanya Regan.


Adera memilin bibirnya sambil meremas jamarinya. "Ciri-ciri cowok suka sama gue apa aja?" Tanya Adera dengan malu-malu.


Kenapa Adera menanyakan itu? Apa ada seorang laki-laki yang ia sukai? Atau dia sedang tergila-gila dengan laki-laki lain? S*al, Regan jadi emosi jika itu memang benar kalau istrinya sedang menyukai orang lain bukan dirinya.


Bukannya menjawab, Regan malah mencubit pipi Adera hingga membuat Adera mengaduh kesakitan lalu Regan melepaskan cubitan itu, dia kembali menonton tv seakan-akan dia tidak mendengar pertanyaan Adera barusan.


Adera yang dicubit begitu tidak terima. Padahal dia hanya bertanya kenapa dia harus dicubit begini, dan lagi bukannya menjawab pertanyaannya dia malah mencubitnya. "Kok lo malah nyubit gue? Gue kan nanya sama lo." Protes Adera.


Regan kembali menatap Adera. Dia memasang wajah tidak bersalah sama kali. "Pertanyaan yang mana yang harus gue jawab? Pertanyaan lo barusan gak penting sama sekali." Ucap Regan dengan menyebalkannya.


"Itu penting. Pake banget."


Sebelah alis Regan terangkat. Darimananya yang penting? Bagi Regan itu tidak penting sama sekali. "Kenapa?" Tanya Regan.


"Lo kok jadi nanya balik? Gue yang nanya woi." Protes Adera.


"Gue gak mau jawab." Jawab Regan dengan sengit.


Adera hanya mengangkat sudut bibirnya. "Yaudah kalo gak mau jawab, gue juga gak maksa." Kesal Adera, dia menjauh dari Regan, menjaga jarak darinya.


Kenapa sih lelaki itu sangat angkuh dan lagi sangat menyebalkan. Gerutu Adera dalam hati.


Regan masih menatap Adera yang terlihat kesal dengannya. Dia terkekeh pelan, kenapa apa yang dilakukan Adera terlihat menggemaskan dimata Regan? Dia pun sekarang sedang merasa gemas dengan istrinya itu.


"Emang siapa yang lo suka?" Regan membuka suara lagi membuat Adera dengan malas menatapnya lagi.


"Gak ada orang yang gue suka." Jawab Adera jutek.


"Terus kenapa lo nanyain itu?" Kening Regan mengkerut.


Adera berdecak. "Gue cuma mau tau." Jawab Adera ogah-ogahan.


Regan menghebus nafasnya. Untunglah tidak ada yang disukai Adera. Mengingat dia sangat tidak suka sama sekali dengannya, Regan jadi takut jika Adera memiliki perasaan pada laki-laki lain.


"Oke gue jawab. Ciri-ciri cowok suka sama cewek." Kata Regan akhirnya.

__ADS_1


Adera mengembang senyumnya. Sebenarnya dia sudah mencari ciri-ciri itu di media sosial namun Adera tidak percaya jika tidak dari seorang laki-laki langsung.


Adera kembali mendekati Regan. Dia mendekatkan wajahnya dengan semangat karna akan mendengar jawaban dari Regan. "Apa?" Wajahnya sangat bersemangat.


Regan menjauhkan wajah Adera, semakin Adera mendekatkan wajahnya, semakin ingin Regan menciumnya.


"Ciri-cirinya, cowok itu suka cari perhatian lo." Jawab Regan.


"Terus-terus, apa lagi?" Tanya Adera lagi.


"Lo kayaknya semangat banget ya?" Sindir Regan.


Adera memutar bola matanya. "Iyalah, karna ada seseorang yang bilang kalo ada cowok dikampus yang suka sama teman gue. Gue jadi penasaran, yaudah gue tanya aja sama lo langsung. Berhubung lo itu cowok juga kan?"


Padahal dia bertanya itu karna penasaran apa yang dibilang Friska padanya kalau memang Toni menyukainya. Dia hanya tidak yakin saja jadi dia memastikannya lewat jawaban dari Regan.


Regan mendekatkan wajahnya tiba-tiba membuat Adera terkejut dan menjauhkan wajahnya darinya. "Mau ngapain?"


"Kalo cowok punya perasaan yang spesial sama seseorang, dia bakal ngelakuin lo beda dari yang lainnya. Cara natap, cara bicara, cara dia senyum sama lo. Itu bukti kalo dia emang suka sama lo." Ucap Regan dengan serius.


Dan semoga Adera menyadarinya jika Regan hanya memperlakukan seperti yang dia katakan demikian hanya padanya. Semoga Adera menyadarinya secepatnya.


Adera berpikir sebentar. Memang sih, Toni selalu memperlakukannya berbeda, cara dia menatapnya, cara dia berbicara dengannya dan cara dia tersenyum padanya, semua itu hanya dia lakukan padanya. Tapi apakah benar kalau Toni memang menyukainya?


"Siapa yang lo maksud?" Tanya Regan membuat Adera terkejut karna Regan mendengar gumamannya barusan.


"Eumm, ada temen gue. Temen-temen gue bilang dia suka sama gue, tapi gue gak percaya." Jawab Adera, lebih baik dia jujur dengan Regan.


Sebelah alis Regan terangkat. "Maksud lo, temen lo yang namanya Tino itu?"


Adera terkejut Regan mengetahuinya walaupun Regan salah menyebutkan namanya. "Kok lo tau? Btw, Toni namanya bukan Tino." Kaget Adera dibarengi dengan membenarkan nama Toni.


Tentu saja Regan tahu. Dia mengetahuinya hanya melihat cara laki-laki bernama Toni itu menatap Adera dengan berbeda. Dia mengetahuinya sejak pertama kali dia bertemu dengan laki-laki itu di kampus Adera waktu itu bahwa laki-laki bernama Toni itu menyukai Adera.


"Jadi lo nanyain itu buat lo mastiin kalo dia emang suka sama lo?"


Adera ingin protes namun dia menahannya, dia menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Dia menganggukan kepalanya pelan.


Regan mendengus. "Lo bohong sama gue?"

__ADS_1


"Gak bohong kok." Adera membela diri.


Regan mendengus. "Sekarang lo udah tau dia suka sama lo, dan lo mau apa?" Tanya Regan, dia menatap Adera lekat-lekat.


Adera menggarukkan kepalanya sambil berpikir. Jika dibayangkan dia tidak punya perasaan apa-apa dengan Toni, apalagi saat mengetahui bahwa Toni menyukainya. Dia tidak merasakan apa-apa. Namun mendengar pertanyaan Regan barusan membuat Adera berpikir keras. Apa yang akan harus dia lakukan saat tahu Toni menyukainya?


Adera menatap Regan lagi dan seketika mereka saling tatap-tatapan dalam jarak dekat. "Gue--- gak tau." Jawab Adera.


"Lo mau nerima dia?" Tanya Regan seperti tengah mengintrogasi Adera.


Adera menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia menerima orang begitu saja kalau dia saja tidak menyukainya.


Jawaban Adera membuat Regan tersenyum, dia puas dengan jawaban Adera. Seperti harapannya, Adera sepertinya tidak menyukai laki-laki itu. Dan itu membuatnya tenang. "Good girl." Tangan Regan tergerak mengelus atas kepala Adera.


Pipi Adera memanas ketika Regan mengelus kepalanya dengan lembut. Dia terdiam seperti orang kaku.


Regan menjauhkan tangannya. "Besok malam klien gue ngadain pesta dan gue diundang, lo harus ikut." Kata Regan sekaligus tekanan untuk Adera.


"Pesta? Gue gak ada tuh baju pesta. Biasanya kan pesta-pesta harus pake baju formal gitu, gue gak ada bajunya."


"Gue suruh sekretaris gue ngebeli semua baju dimall buat lo." Ucap Regan.


Adera memilin bibirnya yang tidak bisa menahan senyumannya. "Terus-terus gue juga gak bisa dandan tuh. Gimana dong?"


Regan berdecak. "Gue panggil orang buat dandanin lo."


"Terus--" baru ingin bicara lagi Regan memotong ucapannya dengan satu jari yang menutup bibir Adera.


"Gue yang ngurus semuanya." Regan menjauhkan jarinya dari bibir Adera.


Adera tersenyum-senyum. Dia menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya. "Kalo gue bikin malu lo gimana?"


Regan terkekeh melihat istrinya itu. Kenapa gadis itu bawel sekali dan lagi kenapa dia terlihat menggemaskan dimata Regan?


"Bawel lo. Ngomong sekali lagi gue cium lo." Ancam Regan.


Bukannya takut dengan ancaman Regan, Adera malah menantang Regan. "Coba nih cium." Dengan beraninya dia mendekatkan wajahnya.


Regan menyeringai melihat istrinya sudah berani menantangnya. Rupanya dia belum mengenal Regan dengan baik. "Lo nantang gue, hah?!"

__ADS_1


Namun buru-buru Adera bangun dari sofa dan buru-buru berlari menjauh dari Regan dengan tertawa kencang.


Regan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


__ADS_2