
Regan terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya dengan perlahan. Dia terbangun karna tidak merasakan adanya Adera disebelahnya. Lalu dia membangunkan tubuhnya, mengubah posisinya menjadi duduk disofa.
Saat dia membangunkan tubuhnya, hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang pening bukan main. Regan menggerang kesakitan, penyakit yang sudah dia tidak rasakan, kembali juga.
Regan memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah, dia berusaha mencari keberadaan istrinya. "Adera?" Regan memanggil Adera namun tidak adanya jawaban dari siapapun.
Dan itu membuat Regan over thingking, dia segera berdiri dari sofa dan berjalan mencari keberadaan istrinya. Walaupun rasa sakit dikepalanya belum reda, Regan memaksakan untuk mencari Adera.
"Adera? Kamu dimana sayang?" Teriak Regan, dia mencari Adera di dapur, kamar mandi, dimana pun. Tapi dia tidak menemukan Adera disana dan terakhir Regan berjalan ke kamarnya, berharap Adera ada disana.
Namun nihil, Adera tidak akan disana. Bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Seketika perasaan Regan menjadi tidak enak, dengan cepat dia berjalan ke nangkas, ingin mengambil ponselnya disana namun yang dia lihat malah sepuncuk surat yang ditinggalkan diatasnya.
Dengan penasaran, Regan langsung mengambil surat itu dan segera membacanya. Dia membulatkan matanya seketika ketika melihat isi surat yang ditinggalkan Adera, istrinya.
Untuk Regan.
Aku tau saat nanti kamu kebangun kamu bakal nyariin aku. Ya mungkin juga kebingungan dan cemas nyariin aku kan? Tenang aku bukan diculik kok :)
Aku cuma lagi butuh ketenangan buat beberapa waktu dan juga butuh waktu buat nerima semua yang telah terjadi pada kita. Maaf gak bilang ke kamu dulu karna aku pergi, ya abis aku takut kamu malah nahan aku buat pergi.
Aku gak punya pilihan lagi, Regan. Mungkin aku bakal jadi istri yang durhaka karna pergi begini tanpa izin dari kamu, tapi aku gak punya pilihan lagi selain pergi dari kamu. Aku bingung, saat kamu bilang kamu gak mau pisah dari aku, aku bingung. Apa yang harus aku lakukan kedepannya gimana, dan apa yang harus aku lakuin sekarang. Aku bingung dengan itu semua.
Tapi cuma karna kepergiaan aku kamu gak ngelaksanain apa yang harus kamu lakuin. Kamu harus tanggung jawab ke Saskia dan juga anak kamu dikandungannya. Jangan jadi pengecut yang cuma bisa ngelariin diri dari pertanggung jawaban. Aku gak suka.
__ADS_1
Dan ada yang pengen aku bilang ke kamu, jangan cari aku untuk waktu yang lama. Karna aku masih butuh ketenangan tanpa kamu. Mungkin juga aku butuh waktu buat nerima semuanya dan juga mungkin aku butuh waktu agar kamu bisa bener-bener ngelupain aku.
Aku tau, aku egois. Tapi apa yang bisa aku lakuin sekarang? Kebahagiaan Saskia dan anaknya adalah prioritas kamu, kamu harus ngelakuinnya. Janji ya, jangan kecewain aku lagi, bahagiain Saskia dan anaknya. Jangan sampe aku denger kalo kamu nyakitin mereka, karna aku bakal bener-bener berusaha ngelupain kamu dan mungkin juga bakal nikah lagi, maybee...
Aku cinta kamu, selalu. Jaga diri kamu, kebahagiaan kamu, semuanya. Aku disini selalu berdoa untuk kamu, selalu. Jadi sampai jumpa lagi nanti kalo kita memang bisa dipertemukan lagi. Aku mencintaimu, Regan Geraldo Mahardika. Sampai jumpa....
Begitu surat yang dituliskan Adera untuk Regan, Regan langsung lemas. Dia tidak percaya semuanya akan jadi seperti ini. Adera, Aderanya pergi meninggalkannya?
Secepat ini?
Ketakukan yang sebenarnya akhirnya menjadi kenyataan, Adera meninggalkannya dengan rasa kecewa dan sakit hati karnanya. Semua ketakutan itu menjadi kenyataan sekarang dan Regan membenci itu.
Namun ini belum terlambat. Iya, dia belum terlambat. Mungkin saja Adera belum pergi jauh jadi dia akan menahan Adera pergi. Semoga dia bisa tepat waktu untuk menahan kepergiaan Adera.
Buru-buru Regan mengambil jaketnya dari lemarinya, lalu dia dengan segera pergi dari apartemen untuk mengejar Adera. Semoga dia bisa, dan semoga dia bisa menahan kepergiaannya.
......................
"Pah! Papa!" Teriak Regan ketika sampai dirumah papanya. Wajahnya sangat pucat sekarang, tujuan terakhirnya mencari Adera hanya rumah papanya. Dia sudah mencarinya dimana pun, bahkan dia sudah mencari disemua tempat juga rumah-rumah sahabat Adera namun tetap saja tidak menemukannya.
Dan harapan terakhirnya adalah rumah papanya, dia berharap Adera ada disana dengan penuh harap. Dan itu membuatnya menjadi pucat, dia takut bukan main.
Papa Jay turun dari tangga dengan wajah yang bingung. Dia menatap Regan yang seperti orang ling-lung dan itu membuatnya bingung. "Regan, kenapa teriak-teriak?" Sahut papa Jay.
__ADS_1
Regan menatap papa Jay yang mendudukan bokongnya disofa, dia menghampiri papanya dengan wajah pucat pasih. "Pah, dimana Adera?" Tanya Regan dengan tegas.
Papa Jay menatap anaknya itu dengan senduh. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, dia sudah mendengarnya. Juga, dia tahu bahwa Adera pergi meninggalkan Regan tanpa sepengetahuannya. Dia mengetahui semuanya namun bukannya marah karna Regan melakukan kesalahan fatal itu, justru papa Jay malah menatap putranya dengan senduh. "Regan, tenangkan diri kamu dulu, nak." Kata papa Jay dengan lembut.
Regan menggelengkan kepalanya. "Gak bisa pah. Aku gak bisa tenang. Kemana Adera, pah? Papa tau dimana Adera sekarang?" Tanya Regan dengan nafas yang tersegal-segal.
Regan sekarang sudah kehabisan tenaga, sakit dikepalanya belum reda bahkan tambah menjadi-jadi, dia pun belum memakan apapun dari pagi hingga sekarang. Tubuhnya sudah lemah namun dia tetap memaksakan diri untuk mencari Adera.
Papa Jay berdiri, dia turut sedih melihat kondisi Regan saat ini dan juga dia sangat mengkhawatirkan kondisi Regan sekarang. "Regan, tolong tenangkan diri kamu dulu, nak. Kamu gak sehat," ucap papa Jay.
Regan tetap menggelengkan kepalanya. "Aku gak peduli tentang kondisi tubuh aku, pah. Yang aku butuhin cuma Adera, pah. Papa tau Adera ada dimana? Kasih tau aku, pah. Aku mohon." Regan berlutut dihadapan papa Jay. "Ini emang salah Regan, pah. Regan tau ini salah Regan, jadi tolong kasih tau Regan dimana Adera sekarang pah. Regan butuh dia." Regan memohon pada papa Jay.
Papa Jay yang melihat anaknya berlutut dihadapannya, sudah tidak tahan lagi. "Regan, papa tau kamu udah ngelakuin hal yang fatal dan papa pun kecewa dan marah karna itu. Tapi bukan berarti papa nyembunyiin Adera dari kamu, nak. Adera memilih pilihannya sendiri, nak.
Dia sudah pergi bersama bapak Iqbal, tanpa sepengetahuan papa. Jadi papa minta maaf karna tidak bisa menahan kepergiaan Adera nak. Maafkan papa." Papa Jay memegang kedua bahu Regan.
Tubuh Regan melemas seketika, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terlambat, dia terlambat menahan kepergiaan istrinya. Dia sudah terlambat sekarang.
Kedua bahu Regan bergetar, dia sudah tidak tahan lagi menahan airmatanya. Dia mengeluarkannya sekarang juga dihadapan papanya. Dia sudah tidak berdaya karna kepergiaan Adera.
Aderanya, gadis yang sangat ia cintai sudah pergi tanpa jejak dan Regan terlambat menahannya. Ini semua salahnya, benar, ini semua salahnya. Tapi pantaskah Regan menerima ganjaran yang setimpal seperti ini? Kalau benar, akan kah Regan bertahan dengan hukumannya yang menyakitkan ini?
Tubuh Regan sudah tidak bisa lagi menahan beban, tubuhnya lemas bukan main. Darah mengalir dari hidungnya, kesadarannya menghilang, seketika dia ambruk dilantai.
__ADS_1
Bruk!
Papa Jay yang melihat Regan kehilangan kesadaran langsung cemas bukan main, dengan segera dia memanggil semua bodyguardnya. Dia harus segera membawa Regan ke rumah sakit. Kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada putra sulungnya itu.