
Karna bahan-bahan makanan sudah habis Adera pergi ke minimarket yang dekat dengan apartemen untuk membeli keperluan masakannya. Dia pergi sendirian ke minimarket karna sepertinya Regan masih marah padanya karna masalah tadi jadi dia enggan meminta Regan menemaninya.
Adera memasukkan beberapa sayur-sayuran yang tersedia diminimarket itu. Dia memasukkan beberapa bahan-bahan masakannya lainnya dan dia pun juga memasukkan sosis-sosis beberapa bungkus dan juga naget kedalam keranjangnya. Karna dia suka lapar jika malam-malam jadi dia sering memasak itu jika dia lapar.
Kemudian, Adera mencari-cari make up di semua rak minimarket dan akhirnya ketemu juga. Dia berniat akan berdandan mulai besok, karna dia malu jika ke kantor dengan keadaan kucel seperti biasanya. Jadi dia mengambil bedak, bb cream, juga lipstik berwarna pink.
Sejujurnya dalam hatinya dia ingin tampil cantik di depan Regan meskipun tidak berdandan menor-menor, setidaknya dia ingin membuat Regan memujinya cantik setiap hari. Tidak sadar, kedua sudut bibir Adera terangkat sambil menyentuh kedua pipinya yang memanas.
Setelah sudah mengambil beberapa alat make up ke dalam keranjang, Adera berjalan ke kasir dengan hati senang. Ternyata benar ya, berbelanja itu membuat hati tenang walaupun dia tidak berbelanja barang-barang mahal. Namun tetap saja, Adera merasa gembira.
Dan ketika dia ingin sampai di kasir, Adera tersenyum melihat Toni juga sedang berbelanja disana. Terlihat sekali jika Toni sedang memilih beberapa mie instan. Sudah lama Adera tidak berbicara dengan Toni, jadi kali ini dia akan mendekati Toni karna ada banyak yang ingin dia bicarakan dengan Toni.
"Toni!" Panggil Adera ketika sudah dekat dengan Toni.
Toni yang memilih mie instan langsung menoleh, dia sangat mengenali suara Adera, suara pujaan hatinya. Seketika Toni tersenyum melihat Adera mendekat sambil melambaikan tangannya rendah.
"Hay," sapa Toni dengan senyum dibibirnya.
Adera tersenyum lebar. "Lo belanja disini?" Tanya Adera.
"Iya, gak sengaja lewat sini yaudah gue belanja disini." Jawab Toni.
Mata Adera menatap banyak mie instan dikeranjang Toni dan juga beberapa makanan ringan lainnya. Dia menatap Toni dengan mata memicing. "Beli banyak mie instan buat siapa lo?" Tanya Adera karna Adera tahu kalau Toni adalah anak orang kaya, tidak mungkin dia menyetok mie instan begitu banyaknya.
"Ternyata lo suka nyetok mie segitu banyaknya ya." Kata Adera.
Toni terkekeh. "Gue gak sendiri yang ngabisinnya, anak-anak kosan juga." Kata Toni.
Toni memang mengekos bersama Rivaldo, kekasih Rina. Katanya dia ingin mandiri dari keluarganya dan ingin hidup sendiri.
Adera manggut-manggutkan kepalanya. "Gue pengen ngobrol deh sama lo. Tapi gak enak ngobrolnya disini." Ucap Adera.
Toni sumringah. Ajakan Adera sangat membuat hati Toni senang. Tentu saja dia bersedia mengobrol dengan Adera, berlama-lama juga tidak apa-apa. Karna dia suka mendengar gadis itu berbicara.
"Kalo gitu kita bayar dulu, ke kasir."
Adera menganggukan kepalanya.
......................
"Udah lama ya, kita gak ngobrol begini." Kata Adera sambil menikmati es cream ditangannya.
Toni dan Adera sekarang berada ditaman dekat minimarket. Kebetulan ada taman disana jadi Adera akan mengobrol dengan Toni disana karna ada banyak yang ingin Adera tanya dan bicara dengan Toni.
__ADS_1
Toni yang duduk diayunan disebelah Adera sambil menikmati coffe dingin dibotol menatap Adera disebelahnya. Benar, sudah lama mereka tidak bertemu dan berbicara seperti ini dan Toni merindukan saat-saat ini.
"Emang apa yang pengen lo omongin?" Tanya Toni.
Adera menoleh ke Toni. "Lo beneran jagain Friska kan?" Tanya Adera dengan sungguh-sungguh.
Toni terkekeh pelan. "Dia bukan cewek gue kenapa gue harus jaga dia?"
"Maka dari itu. Kenapa gak lo jadiin Friska pacar aja? Gue denger tuh dari Friska kalo kalian temenan." Ucap Adera sambil menjilat es creamnya.
Toni terdiam. Mana mungkin dia menjadikan gadis lain sebagai kekasihnya kalau hatinya saja sudah dimiliki oleh Adera. Dia tidak sebajingan itu sampai menjadikan gadis lain untuk menjadikan gadis sebagai pelariannya semata apalagi Friska, gadis itu bahkan tidak pernah terpikir olehnya untuk dijadikan sebagai pelarian.
"Lo pikir, gampang buat gue suka sama cewek lain termasuk Friska?" Toni menatap Adera, mengisyatkan kalau perasaannya hanya untuk Adera seorang.
Adera menghebus nafasnya. "Ya, lo gak tau. Perasaan mungkin aja tumbuh kalo lo ngejalaninnya. Mangkanya dicoba aja dulu."
Toni terkekeh pilu. "Gue gak mau jadiin Friska sebagai pelarian." Ucap Toni.
"Pelarian?" Beo Adera. "Maksud lo?"
"Gue suka cewek lain, Ra. Tapi kayaknya cewek itu gak punya perasaan apa-apa ke gue. Dia cuma anggap gue sebagai teman gak lebih."
Kening Adera mengkerut. "Siapa kalo gitu? Kenapa gak lo tembak aja dia?"
"Gak tau. Belum kepikiran buat nyatain perasaan gue." Ujar Toni.
Adera menyenggol Toni dengan sikunya dan kembali menjilat es cream ditangannya. "Gue dukung lo sampe jadi sama itu cewek."
Tonu tertawa paksa. "Oh iya, gue denger lo udah mulai magang ya?" Tanya Toni.
Adera menganggukan kepalanya. "Iya udah, baru tadi gue debut jadi karyawan magang."
"Dimana?"
"Emm, di perusahaan Mahardika Groups."
"Wah, keren lo. Bisa-bisanya diterima magang disana." Toni tersenyum.
Tidak tahu saja Toni kalau Adera bisa magang diperusahaan besar itu karna siapa.
"Kalo lo?" Tanya Adera balik.
"Mungkin seminggu lagi."
__ADS_1
"Tapi udah diterima? Dimana?"
"Perusahaan omnya Friska."
"Lah, bukannya orangtua lo punya perusahaan sendiri?" Heran Adera.
"Ya emang. Cuma gue pengen suasana yang baru aja sebelum jadi pewaris."
Adera menepuk-nepuk bahu Toni sambil tertawa pelan. "Emang ya, pewaris perusahaan itu pemikirannya beda." Goda Adera.
Toni tersenyum sambil memegangi bahunya yang habis ditepuk-tepuk oleh Adera.
Adera mengambil ponselnya dari saku switternya, sepertinya ada notifikasi dari ponselnya. Dia membaca pesan dari Regan yang baru saja dikirim itu. Regan menyuruhnya cepat pulang dengan alasan kalau dia kesepian dirumah. Adera membalas pesan Regan tersebut.
Setelah sudah membalas pesan dari Regan, Adera kembali menatap Toni yang masih memperhatikannya. "Ton, kayaknya gue mau langsung pulang deh." Kata Adera sambil bangun dari ayunan. Dia mengangkat kantung plastik berisi bahan makanannya yang tadi ia beli.
Namun kedua kantung plastik itu langsung diambil alih oleh Toni. "Gue antar lo." Ucap Toni.
Adera tersenyum. Lumayan kan tumpangan gratis. Karna jarak minimarket ke apartemennya lumayan jauh apalagi dia harus berjalan disepi jalan.
"Thanks lho ya."
"Btw lo makin tinggi aja ya. Makan apa sih lo, makan tongkat ya sampe tinggi begini." Kata Adera.
"Ya lo aja yang pendek."
"Enak aja, tinggi badan gue itu lumayan tinggi lho."
"Berapa?"
"162." Jawab Adera.
"Pendek." Cibir Toni.
Adera memukul bahu Toni. Dia tidak senang dikatai pendek begitu. "Gue tinggi."
"Iya tinggi, tinggi."
Adera tertawa pelan.
Tanpa diketahui Adera, Regan melihat itu semua dari balik pohon taman. Dia melihat semua hal yang dilakukan Adera pada Toni begitu pula Toni pada Adera. Dia melihat semuanya didepan matanya sendiri.
Tadinya dia berniat menjemput Adera, dia khawatir pada Adera jika ada orang asing yang berniat jahat padanya namun yang di dapatkan malah pemandangan sialan itu.
__ADS_1
Dada Regan memanas. Rahangnya mengeras juga tangannya mengepal. Dia cemburu, tentu saja. Adera tidak pernah melakukannya begitu padanya. Dengan dada yang panas juga emosi yang tidak terkontrol, kepalan tangan Regan meninju pohon itu hingga tangannya berdarah lalu dia meninggalkan tempat itu begitu Adera dan Toni pergi dari sana.