Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
83: Menunggu


__ADS_3

"Ratih, liat nih. Siapa yang datang." Kata Dito kepada sang istri yang berbaring lemah di ranjangnya.


"Siapa?" Tanya Ratih dengan suara lemah.


Setelah itu Adera melangkah mendekat ke ranjang dimana Ratih berbaring dengan lemahnya disana. Dia berdiri tepat disebelah Dito. "Mbak," sapa Adera.


Ratih tersenyum pada Adera. "Ya ampun Ra, kamu tambah cantik aja." Kata Ratih pada Adera.


Adera ikut tersenyum dengan pujian Ratih, dia merasa senang akan hal itu.


"Dibilang ngeyel sih, udah berapa kali jangan kecapekan. Bandel banget kamu ini!" Omel Dito pada istrinya. Mungkin dia merasa cemas sekali pada istrinya yang ceroboh itu.


Ya, bagaimana tidak cemas, sudah dua kali Ratih ke rumah sakit karna kecapekan dan itu dikarenakan kandungannya lemah. Sekalinya kecapekan, dia akan drop seperti sekarang.


"Tau nih mbak, ngeyel sih." Adera menimpali.


"Iya-iya aku tau aku salah. Maaf," cicit Ratih, dia menggenggam tangan Dito.


Wajah Dito berubah menjadi hangat. Dia tersenyum hangat pada Ratih, tangannya mengusap-usap pipinya dengan lembut. "Jangan buat aku khawatir dong, lebih baik buat aku nikmat diranjang." ucapan ngawur yang diucapkan Dito.


Adera yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya. Kenapa bisa Dito berbicara begitu, kan ada dia disini. Ya walaupun tidak heran juga sih, karna sekretaris bin sahabat Regan itu memang sedikit rada-rada.


"Ya sama aja dong, sama-sama kecapekan." Ujar Ratih.


"Ya gak bakal aku biarin kamu kecapekan."


"Apaan, mending kamu mau lembut-lembut gitu, gak bakal kamu mah lembut, kasar mulu yang ada."


"Aku pernah lembut loh, pas malam pertama kita. Itu bisa dibilang lembut menurutku."


"Gak tuh, kamu bergerak liar."


Dito tertawa. "Ya itu karna kamu nikmat beb. Apa lagi?"


Duh, kenapa mereka berdua membicarakan itu sih? Pipi Adera seketika menjadi memerah mendengarnya karna dia tiba-tiba mengingat Regan saat berhubungan dengannya.


"Oh iya ada Adera ya." Ledek Dito.

__ADS_1


Adera membalik badannya lagi menghadap ranjang Ratih lagi. Dia memasang wajah cemberut karna kedua orang itu membicarakan hal yang membuatnya merindukan kehangatan Regan.


"Nah lho, jadi cemberut kan Aderanya. Kamu sih, ngomong ituan didepan Adera." Ratih memukul lengan Dito pelan.


Dito tertawa. "Ya gak papa. Adera kan udah gak polos lagi. Iya kan, Ra?" Goda Dito.


Pipi Adera kembali memerah mendengar godaan Dito. Entah kenapa Adera punya pirasat kalau Regan menceritakan tentang pelayanannya malam itu dengan Dito. Astaga, Adera malu sekali.


"Adera masih polos tau. Dia masih suka nanya-nanya soal hal ranjang sama aku tuh." Ratih malah bergabung menggoda Adera dimana membuat Adera semakin malu.


"Nah, kamu kan emang ahlinya soal ranjang, sayang."


Demi apapun, Adera serasa ingin lari saja dari sana saking malu-malu-malunya mendengar itu semua.


"Bang, jangan bilang Regan cerita ke bang Dito?" Tanya Adera kepada Dito.


Dito menganggukinya.


Wajah Adera sekarang makin memerah karnanya. Dia benar-benar sangat malu sekarang. Dia kan melakukan itu malam itu dengan alasan tertentu tapi kenapa dengan gampangnya Regan menceritakan hal memalukan itu pada Dito.


Ratih dan Dito yang melihat wajah Adera semerah tomat tertawa. Bagi mereka Adera sangat-sangat menggemaskan bahkan dari sudut pandang mereka berdua bukan cuman dari sudut pandang Regan saja.


"Aku kan juga mau ikutan ngegosip, siapa tau ada yang pengen tutor dari kita kan." Goda Dito lagi.


"Gak boleh, bang Dito keluar aja sana." Usir Adera akhirnya dimana membuat Dito tertawa lebih kencang dari sebelumnya.


"Oke-oke kalo gitu aku keluar. Tapi sebelum itu." Dito menutup mata Adera dengan tangannya lalu dia menundukkan kepalanya ke Ratih yang masih berbaring diranjang. Dia mencium bibir Ratih dengan lembut.


Setelah sudah, Dito masih menutup mata Adera yang diam saja. Dengan jahilnya dia malah membawa Adera ikut bersamanya dimana membuat Adera berteriak.


Untung saja Adera bisa melepaskan diri dari kejahilan Dito. Dia memanyunkan bibirnya merasa kesal dengan Dito. "Liat aja ya, aku bilangin ke Regan. Bang Dito ngejailin aku!" Ancam Adera bak seperti anak kecil.


Dito tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Yaudah sana. Aduin aja."


Ratih yang melihat itu ikut tertawa. Bukannya merasa cemburu akan hal itu, Ratih malah senang. Karna beberapa kali Dito selalu cerita dengannya kalau dia menganggap Adera seperti adik kandungnya sendiri dan itu membuatnya senang karna dia mengganggap Adera begitu juga.


Setelah Dito pergi dari kamar, Adera kembali mendekati Ratih. Dia naik ke atas ranjangnya, duduk ditepi ranjang. "Suami mbak nyebelin banget. Walau masib nyebelin Regan sih." Keluhan yang dikeluarkan Adera pada ratih.

__ADS_1


Ratih kembali tertawa. "Ya gitulah Dito. Agak miring."


......................


Sepulang dari rumah Dito plus dihantar pulang oleh Dito. Adera sudah sampai di apartemen. Dia menyalahkan semua lampu ruangan. Ternyata Regan belum pulang, itulah yang ada dibenaknya sekarang.


Adera akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya dahulu sebelum Regan pulang, setidaknya Regan tidak mencium bau badan dari tubuhnya.


Setelah sudah membersihkan diri dan berpakaian, Adera melihat jam dinding, ternyata sudah pukul sepuluh malam dan kenapa Regan belum pulang juga? Tidak biasa Regan pulang terlambat begini paling-paling dia akan pulang sebelum jam sepuluh malam tapi ini?


Adera jadi khawatir seketika, takut-takut ada sesuatu yang terjadi pada Regan. Hatinya jadi tidak menentu sekarang. Segera, Adera mengambil ponsel yang ia tinggalkan diatas ranjang lalu dengan cepat dia menghubungi Regan sambil mendudukan tubuhnya ditepi ranjang, menunggu Regan mengangkat telfon darinya.


"Hallo sayang," dan akhirnya Regan menjawab panggilan darinya setelah beberapa kali Adera menghubunginya.


Dan Adera menghebus nafasnya lega. "Kamu dimana? Kenapa belum pulang?" Tanya Adera.


"Aku lagi di jalan. Jalanan macet jadi aku terlambat pulangnya." Jawab Regan.


Adera kembali menghebus nafasnya lega. Padahal tadi dia berpikir macam-macam tentang Regan namun ternyata dia salah.


"Sebentar lagi aku sampai, tunggu ya." Kata Regan dengan suara yang lembut.


Adera menganggukan kepalanya walau Regan tidak melihat itu. "Iya, aku tunggu kamu."


"Mau beli atau makan sesuatu? Nanti sekalian aku beliin."


"Gak usah, kamu langsung pulang aja."


"Yaudah, aku langsung pulang. Kalo kamu kecapekan langsung tidur aja, gak usah nunggu aku, ngerti?"


"Iya," sahut Adera.


"Kalo gitu aku matiin ya."


"Hemm, iya."


Setelah mengatakan itu Adera menutup panggilan. Dia lega ternyata dugaannya salah. Dia hampir saja menangis tadi karna Regan tidak menjawab telfon darinya beberapa kali, dia merasa khawatir dan juga perasaannya menjadi tidak enak. Dan ternyata itu hanya pirasatnya semata, dan itu semua tidak benar.

__ADS_1


Sambil menunggu Regan pulang, Adera membaringkan tubuhnya diranjang. Dia mengambil remote tv, dia akan maraton drakor yang direkomendasikan kedua sahabatnya. Sambil menunggu Regan pulang lumayan kan melihat oppa-oppa tampan yang menyegarkan.


Walau Regan lebih menyegarkan matanya sih hahahaha.


__ADS_2