
Sesampai di perpustakaan, Toni mulai mencari apa yang dicarinya. Dan Adera hanya mengekorinya saja dari belakang, matanya pun menatap sekeliling rak buku-buku. Tidak ada buku yang diminati Adera.
"Lo nyari buku apa sih, Ton?" Tanya Adera karna sedari mereka sampai diperpustakaan, Toni hanya mencari-cari saja seperti orang yang bingung.
Toni menoleh sebentar ke belakang dimana Adera berjalan dibelakangnya. "Gus nyari novel karya xxxx, Ra." Jawab Toni.
"Bukannya penulisnya yang terkenal bikin karya buku romantis ya? Lo ternyata suka novel genre romantis ya, Ton?" Adera merasa kurang percaya seorang Toni membeli novel bergenre romantis.
Toni terkekeh. "Bukan buat gue, Ra." Jawab Toni, matanya masih mencari-cari novel yang ingin ia beli.
"Terus buat siapa?" Tanya Adera.
Toni menatap Adera sebentar sambil tersenyum pada Adera. "Buat nyokap gue. Dia minta gue beliin novel genre romantis." Kata Toni.
Adera ber oh ria. Ia kira Toni yang menyukai novel genre romantis. Karna kan Toni digosipkan tidak tertarik dengan cinta jadi dia merasa aneh saat Toni mencari novel genre romantis.
"Kalo soal novel romantis mah, Rina ahlinya. Seharusnya lo minta anterin dia, dia kan lebih tau tuh rekomendasi novel romantis yang seru."
"Tapi gue mau perginya sama lo, Ra. Sekalian kita jalan lah."
Jalan? Kenapa tiba-tiba dia mengingat Regan yang tidak membiarkannya pergi dengan Toni tadi.
"Nah akhirnya ketemu juga." Kata Toni, dia berhenti dan mengambil salah satu novel dari rak. Dia melihat-lihat cover sampul dari novel itu. "Kayaknya ini nih yang di pengen sama nyokap." Lanjutnya.
"Coba gue liat." Adera mengintip buku itu dari tangan Toni.
Judul buku itu adalah Be Mine kalau di bahasa indonesiakan artinya adalah milikku. Tak hanya judulnya, Adera juga membaca sinopsis dibelakang buku itu.
Memang sih kelihatannya menarik. Percintaan orang dewasa. Tapi Adera sama sekali tidak tertarik dengan novel itu, dia malah lebih tertarik dengan komik aksi dibanding novel percintaan.
"Udah ketemu kan ya? Sekarang gantian, gue mau nyari komik kesukaan gue." Kata Adera, dia berjalan duluan namun tiba-tiba tangan Adera ditarik dari belakang membuat Adera sontak memberhentikan langkahnya.
Adera menatap Toni lagi yang tidak bergeming ditempatnya. Toni hanya menatapnya dengan tatapan yang Adera tidak mengerti.
"Ra, kalo misalnya ada seseorang yang suka sama lo dari lama gimana?" Ungkap Toni yang malah membuat Adera bingung.
"Maksudnya?" Tanya Adera kurang mengerti.
"Gue..." Toni memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya namun dia takut Adera malah menjauh darinya. Dia bingung disituasi ini. Dia ingin memiliki Adera namun disatu sisi dia takut Adera menjauhinya.
"Kenapa sih, Ton?" Kening Adera mengkerut.
Toni mengigit bibirnya lalu dia menggelengkan kepalanya. "Gak, gak papa." Sama seperti dulu, Toni orang yang penakut. Dia bahkan takut untuk mengungkapkan perasaannya pada Adera sekarang.
Adera menghebus nafasnya. "Gue kira kenapa. Udah ah, yuk cari komik." Adera menarik tangan Toni.
......................
__ADS_1
Sehabis dari perpustakaan, Adera dan Toni mampir di restoran cepat saji ditengah jalan. Dan Toni yang mengusulkan sebelum mereka pulang, mereka makan dahulu. Ya, mungkin karna Toni masih ingin bersama dengan Adera lebih lama.
Adera menatap sekeliling restoran, dari kabanyakan konsumer disana adalah sepasang kekasih. Jadi Adera sempat berpikir apakah memang restoran itu hanya dibuka untuk orang yang berpasangan saja?
Memperhatikan Adera yang menatap sekeliling membuatnya leluasa menikmati menatap wajah cantik Adera hingga Adera menoleh lagi kearahnya, Toni langsung membuang pandangannya kesembarang arah.
"Ton, emang bener ya kalo lo itu gak tertarik sama perempuan?" Tanya Adera dengan wajah seriusnya.
Toni mengangkat kedua alisnya. Pasti itu gosip yang beredar dikampus tentang dirinya dan gosip itu sudah sampai ke telinga Adera? Luarbiasa komunikasi pergosipan, cepat sekali menyebarnya.
"Astaga, rumor apa lagi itu?" Toni terkekeh sendiri. Banyak sekali rumor tentangnya dikampus sampai-sampai ada rumor kalau dia berpacaran dengan sesama jenis. Ada-ada saja.
Adera tertawa kecil. "Lagian lo sih gak pernah gitu deket sama perempuan. Coba deh sekali-kali biar rumornya hilang." Kata Adera.
Toni terdiam. Adera memang dilahirkan tidak peka atau Toni yang kurang memberi clue padanya sih?
"Gara-gara rumor itu, si Rina jadi gak suka lagi tau sama lo." Adera masih tertawa kecil.
"Ya bagus lah. Jadi gak ada cewek yang tebar pesona sama gue mulu, capek gue ngeladenin mereka."
Adera malah mengingat betapa lucunya Rina saat tebar pesona pada Toni. Sangat kocak sampai membuat Adera tertawa kencang tiba-tiba.
Toni yang melihat Adera tertawa lepas seperti hanya memperhatikannya sambil tersenyum.
Adera memberhentikan tawanya ketika pelayan sudah datang membawakan pesanan mereka.
Pelayan wanita itu menaruh semua pesanan di meja. "Selamat menikmati." Ucap pelayan wanita itu ketika sudah menaruh semua pesanan Adera dan Toni.
"Gila enak sih kentang disini." Kata Adera.
"Kan apa gue bilang tadi." Sama halnya dengan Adera, Toni juga langsung memakan ayam gorengnya sambil menatapi Adera di depannya.
Ting!
Suara pesan masuk dari ponsel Adera.
Adera yang sedang memakan ayam goreng langsung mengambil ponselnya yang ia letakan dimeja. Dia menyengitkan dahinya dan membuka pesan tersebut.
Orang gila.
Ngapain aja lo?
Inget pulang lo.
Gue sendirian dirumah, pulang cepet.
Adera membaca pesan dari Regan tersebut sambil meminum cola.
__ADS_1
Kedua alis Adera menyatu melihat Regan baru saja mengirimnya pesan suara dengan penasaran dia membuka pesan suara tersebut.
"Sayang, cepet pulang aku sendirian nih dirumah." Pesan suara yang manjah dan membahana dari Regan.
Adera tersedak. Dia lupa dihadapannya ada Toni, dia malah membuka pesan suara Regan itu di depan Toni dan lagi dia tidak mengecilkan volume ponselnya.
Kening Toni mengkerut mendengar pesan suara dari ponsel Adera barusan. Dia menatap Adera seakan dia meminta penjelasan darinya.
"Siapa?" Tanya Toni.
Adera menatap Toni, dia gelagapan. Apa yang harus dia jawab? Apakah dia harus jujur saja pada Toni bahwa yang mengirimnya pesan suara itu adalah suaminya? Tapi bagaimana nanti Toni mikir yang macam-macam tentangnya?
"Emm itu, tau nih, kayaknya salah ngirim kali ya." Jawab Adera berbohong.
Ting!
Regan kembali mengirimnya pesan
Orang gila.
Cepet pulang!
Gue hitung sampai tiga kalo gak pulang juga, gue samperin lo.
Cepet!
Pulang Deraa, gue sendirian.
Gue takut.
Cepetan!
Mau disumpahin suami ya?!
Pulang buruan.
Spam pesan dari Regan membuatnya linglung. Apakah dia harus pulang sekarang?
"Ton, sebelumnya sori ya." Ucap Adera pada Toni.
"Kenapa?" Tanya Toni dengan kedua alis terangkat.
"Gue harus balik cepet. Kalo gak nanti gue disumpahin seseorang." Adera merasa tidak enak pada Toni padahal makanan yang dipesan Toni belum ada yang habis tapi dia malah meminta pulang.
"Yaudah, kita pulang aja. Kayaknya orang yang nyuruh lo pulang itu spesial ya?"
Adera makin tidak enak pada Toni.
__ADS_1
Melihat ekspresi Adera, Toni sudah mengetahui faktanya. Bahwa orang yang mengirimnya pesan dari tadi dan orang yang mengirim pesan suara tadi adalah orang yang spesial bagi Adera atau mungkin orang itu adalah kekasih dari Adera.
Toni bangun dari kursi. "Tunggu ya, gue bayar dulu." Toni berjalan ke kasir dengan hati yang terasa sakit.