Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
68: Canggung


__ADS_3

"Ra, gue pengen tanya sesuatu deh." Kata Friska kepada Adera. Mereka berdua tengah menunggu jemputan dari seseorang dan tentunya Adera menunggu jemputan dari Regan, suaminya.


Mereka berdua sekarang berada dihalte dekat rumah Rina. Kemana Rina sekarang? Ya tentu saja dia sedang pergi dengan kekasihnya karna malam ini adalah malam minggu.


Bahkan dengan laknatnya, Rina langsung mengusir Adera dan Friska begitu Rivaldo ingin menjemputnya. Menyebalkan memang, tapi itulah Rina.


Adera menatap Friska dengan kedua alis terangkat. "Apa tuh?" Sahut Adera.


Friska juga menatap Adera. "Lo beneran awalnya gak punya perasaan sama Toni?" Tanya Friska.


Adera diam sebentar lalu menggelengkan kepalanya. "Gak. Gue gak punya perasaan sama dia. Emang kedengerannya jahat sih, karna gue gak pernah bales perasaan dia. Tapi gak ada sedikitpun gue punya perasaan sama dia." Jawab Adera.


"Tapi dia masih suka sama lo, ege. Dia sering nangisin lo, lho. Dan gue yang jadi saksi bisu, kegalauan dia setiap malam." Kata Friska.


Adera mengehebus nafasnya, menundukkan kepalanya. "Gue jadi ngerasa bersalah sama dia."


Friska menggelengkan kepalanya, dia memukul bahu Adera pelan. "Bukan salah lo, ege. Ya, kalo emang lo gak bisa ngebales perasaan dia, itu bukan salah lo juga. Karna perasaan kan gak bisa dipaksa." Ucap Friska membuat Adera kembali menatapnya.


Adera menaruh kepalanya dibahu Friska sebentar lalu menatap Friska lagi. Memang Friska adalah sahabat yang selalu mengerti perasaannya walaupun Rina juga, tapi Friska yang lebih peka kepadanya. "Jujur ya, Fris. Lo punya perasaan sama Toni?" Tanya Adera dengan serius.


Friska gelagapan dengan pertanyaan Adera barusan. "K-keliatan banget emang ya?"


Adera menggelengkan kepalanya. "Emang gak. Tapi entah kenapa gue punya pirasat."


Friska terdiam sebentar lalu menganggukan kepalanya. Friska tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada Adera. "Iya, tiba-tiba aja perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Gue suka dia. Bukan karna kegantengan dia kayak semua cewek. Ngeliat dia sayang sama lo sampe begitu, entah kenapa hati gue luluh."


"Sumpah ya, gue heran deh. Kenapa semua cogan tergila-gila banget sama lo. Muka lo pas-pasan walau agak cantik. Tapi aneh gue tuh." Lanjut Friska.


"Jadi sekarang lo iri nih?"


Friska mengangkat sebelah sudut bibirnya, mencibir. "Idih, najong." Cibirnya sehingga membuat Adera tertawa.


"Terus lo sekarang jadi sad girl yang mau nyimpen perasaan lo dalam-dalam?" Tanya Adera setelah memberhentikan tawanya.


Friska menganggukkan kepalanya. "Mungkin. Heh, tapi gue emang udah sad girl kali. Ya lo tau kan gue pernah diselingkuhin."


Adera tertawa kecil. "Ciee yang sad girl." Ledek Adera.


"Nyebelin lo."


Tak lama kemudian sebuah motor terhenti didepan halte dimana Friska dan Adera menunggu jemputan. Adera dan Friska hanya terdiam memperhatikan orang itu sampai orang itu membuka helmnya.

__ADS_1


Melihat yang menjemput Friska adalah Toni, membuat Adera langsung merasa malu berhadapan dengannya lagi. Dia merasa tidak pantas bertemu dengan Toni karna tempo hari membuat Toni patah hati.


"Akhirnya lo dateng juga, nyet." Friska bangun dari bangku halte dan mendekati Toni yang baru saja turun dari motor sportnya.


Seketika Toni menatap Adera yang masih terduduk diam dengan menundukkan kepalanya dibangku halte. Sampai Friska memukul bahunya, Toni langsung beralih menatap Friska yang sudah berdiri disebelahnya.


"Begong lo. Bini orang itu, dosa lo diliatin mulu." Celetuk Friska.


Toni berdecak sebal mendengarnya.


Adera akhirnya mendonggakan kepalanya. Sebenarnya dia malu menunjukkan wajahnya lagi di depan Toni yang sudah ia sakiti hatinya namun sepertinya sikapnya yang seperti itu akan membuat Toni semakin sakit hati padanya. "Hay Ton," sapa Adera dengan kaku.


"Hay, Ra. Udah lama ya gak ketemu." Balas Toni dengan senyuman terpaksa dibibirnya.


Adera pun tersenyum paksa. Dia tidak tahu lagi apa yang dilakukan sekarang. Melihat wajah Toni lagi membuatnya jadi merasa bersalah padanya.


Melihat kecanggungan Toni dan Adera membuat Friska yang melihatnya berdecak sebal. Dia tidak suka mereka seperti itu, dia benci kecanggungan. "Stop lah. Kalian bukan mantan pacar yang sampe canggung begini lah!" Kesal Friska.


Dan perkataan Friska membuat Toni dan Adera saling menundukkan kepalanya. Mereka memang bukan mantan kekasih yang menjadi canggung, tapi entah kenapa mereka seperti canggung. Mungkin karna kejadian tempo hari yang membuat mereka begini.


"Ra," Toni akhirnya memberanikan dirinya untuk menuntaskan semuanya pada Adera.


Adera kembali mendonggakan kepalanya. "Iya Ton?" Sahutnya, dia masih saja canggung.


Adera diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Rupanya sikapnya yang seperti ini membuat Toni merasa tidak nyaman. Tapi apakah dia bisa bersikap seperti biasanya setelah apa yang dia lakukan pada Toni tempo hari. "Maaf ya, Ton." Adera malah meminta maaf.


Toni tersenyum. "Jangan gunain kosakata itu lagi."


Adera ikut tersenyum.


Friska menatapi wajah Toni sejak tadi. Dia tahu lelaki itu tengah menyembunyikan perasaannya. Berpura-pura kuat di depan Adera padahal kenyataannya dia rapuh. Tapi tatapan yang Toni berikan pada Adera membuatnya iri. Bukan iri pada Adera karna bisa ditatap begitu, melainkan dia iri dengan tatapan yang diberikan Toni pada Adera. Hanya itu.


"Udah lah. Gue capek berdiri mulu kayak gini woi." Friska membuka suara.


Toni sontak langsung menatap Friska yang cemberut, tangannya sontak terangkat keatas kepalanya, mengusapnya. "Sabar, nanti gue traktir makanan kesukaan lo, oke?"


Friska yang diperlakukan seperti itu luluh. Bahkan pipinya mulai memanas karna perlakuan Toni padanya sekarang.


Adera yang juga melihat Toni melakukan itu pada Friska, tersenyum. Mulai sekarang dia akan mendukung Friska mendapatkan hati Toni. Friska, semangat!


Ting!

__ADS_1


Suara pesan dari ponselnya membuat Adera langsung membuka ponselnya dan melihat pesan tersebut.


Regan, suami.


Aku gak bisa jemput kamu. Ada meeting dadakan. Gak papa kan dijemput bodyguard aku?


Begitulah pesan dari Regan yang dimana membuat Adera mengebus nafasnya. Jari Adera bergerak diatas layar ponselnya, dia membalas pesan dari Regan tersebut.


^^^Aku ngerti. Yaudah gak papa kalo gak bisa jemput.^^^


Balasan dari Regan lagi.


Maaf ya, sayang.


^^^Iya gak papa kali. Kamu kan ada meeting penting pastinya.^^^


Tunggu aku dirumah ya. jangan ganjen sama cowok lain. Awas aja.


Adera terkekeh melihat pesan itu. Selalu saja suaminya suka sekali mengancamnya seperti itu. Padahal harusnya Adera yang bilang begitu.


^^^Iya, ya ampun. Semangat kerjanya tuan Regan. Aku tunggu kamu nanti malam, oke (Emoji cium)^^^


Adera cekikikan setelah mengirim pesan itu pada Regan. Pasti Regan jadi gelisah karna pesannya itu. Adera sudah menduganya.


Setelah itu dia mematikan ponselnya lagi dan memasukkan ke tas selingnya. Dia melihat mobil sedan yang terhenti di depan halte. Dia sudah menduga kalau itu adalah bodyguard Regan yang ditugaskan menjeputnya.


Segera Adera berdiri dari bangku halte. Dia menatap Friska dan Toni yang sedang asik bertengkar. "Fris, Ton, gue duluan ya. Udah ada jemputan." Kata Adera, menyela acara pertengkaran mereka.


Friska dan Toni menatap Adera bersamaan.


"Jemputan? Mas Regan ya yang jemput lo? Gue mau ikut dong." Friska bersemangat.


Adera menggelengkan kepalanya. "Bukan Regan, tapi bodyguardnya." Koreksi Adera membuat Friska kecewa.


"Yahh, gue kira mas Regan. Baru aja mau pdkt sama dia." Kecewa Friska.


"Yeh, suami sahabat sendiri mau diembat lo!" Toni menoyor kepala Friska.


"Biarin. Lagian salah sendiri mas Regan sangat menggoda."


Adera tertawa kecil. "Gue duluan deh ya. Gak enak sama bodyguardnya yang nungguin." Pamit Adera.

__ADS_1


Friska dan Toni menganggukan kepalanya. "Hati-hati," ucap Friska.


Adera menganggukan kepalanya. "Iya, duluan ya!" Adera beranjak pergi, dia langsung mendekati bodyguard Regan yang baru saja turun dari mobil dan sepertinya dia ingin menghampiri Adera namun Adera terlebih dahulu menghampirinya.


__ADS_2