
Selesai melakukannya, Adera kembali mengenakan pakaiannya. Karna ulah Regan dia harus telan jang total begini.
Berbeda dengan Adera yang sibuk mengenakan pakaiannya kembali, Regan malah masih duduk menyender di sofa sambil menatap istrinya tanpa mengenakan pakaiannya lagi. Pelayanan istrinya barusan benar-benar membuatnya puas dan juga ketagihan.
Adera memakai blousenya kembali setelah mengenakan branya. Dia juga menatap Regan yang hanya menatapinya saja. Gara-gara Regan tubuhnya jadi tidak nyaman karna menjadi lengket dan dia merasa kesal karna itu.
Untung saja tubuh intinya sudah di lap pakai tisu, jadi dia tidak merasa tidak nyaman. Dan yang mengelapinya tadi adalah Regan sendiri.
Sebenarnya Adera ingin langsung mandi, tapi mengetahui kalau sekarang mereka dikantor dan Adera sudah masuk ke dalam ruangan Regan lebih dari dua jam yang lalu, Adera mengurungkan niatnya karna takut. Berharap dia tidak dosa jika tidak mandi wajib dahulu.
"Rapihin baju kamu Regan." Suruh Adera sambil mengancingi blousenya.
Regan memperlihatkan adik kecilnya yang menonggol dari resleting celana bahannya dan itu kembali berdiri karna melihat Adera memakai bajunya di depan matanya tadi. "Dia bangun lagi, sayang."
Mata Adera langsung tertuju pada adik kecil Regan yang kembali berdiri dan mengeras lagi. Dia memutar bola matanya, kenapa sih dia tidak ada capek-capeknya. Aneh Adera tuh dengan Regan. "Udah ya. Rapihin baju kamu buruan." Ujar Adera.
Bukannya langsung merapikan pakaiannya yang berantakan lagi, Regan justru malah mendekati Adera dan memeluk gadis itu dari belakang. "Satu kali lagi ya." Pintanya.
Adera melepaskan tangan Regan yang memeluknya dari belakang. Dia melempar tatapan tajam pada Regan. "Gak ya." Tolak Adera.
Regan mendesah kecewa atas tolakan Adera. Padahal mereka sudah melakukannya hingga dua kali, tapi tetap saja Regan ingin lagi-lagi dan lagi.
"Rapihin celana kamu, Regan! Kamu mau dia nonggol begitu terus?" omel Adera.
Regan berdecak, dia pun merapikan kembali pakaian dan celananya sesuai yang diperintahkan istrinya.
Setelah pakaiannya kembali rapi, Regan memandangi Adera yang sedang merapikan rambutnya dan menguncir rambutnya kembali.
"Nanti pulang dari kantor, aku mau main ke rumah Rina ya sama Friska." Kata Adera.
"Ngapain?" Tanya Regan dengan sebelah alis terangkat.
"Ya mau main sama mereka lah." Jawab Adera.
"Terus aku gimana? Kamu tega ninggalin aku sendirian diapartemen?"
Adera berdecak sambil menatap Regan dengan wajah datar. "Gak usah lebay ya." Cibir Adera.
Adera mendekati Regan, berdiri dihadapannya. "Jangan bergerak." Katanya, dia memegang wajah Regan agar dia bisa bercermin lewat matanya.
"Bibir aku gak berantakan kan?" Tanya Adera.
__ADS_1
Regan menggelengkan kepalanya. "Gak," jawabnya.
"Aku lupa lagi bawa lipstik." Ucap Adera.
"Gak usah pake lipstik-lipstik lah. Kamu mau ganjen depan laki-laki lain, iya?"
Adera menyerngitkan dahinya. "Dih apa sih. Gak ya! Emang kamu yang suka tebar pesona terus sama cewek-cewek lain." Balas Adera tidak terima.
"Aku gak pernah tebar pesona sayang. Aku cuma ngelakuinnya sama kamu doang." Goda Regan.
Adera memukul lengannya pelan. Memang benar sih, Regan tidak pernah tebar pesona pada wanita-wanita lain dan dengan sendirinya mereka terpesona dengan Regan.
"Udah ah, aku mau balik lagi. Gak enak sama karyawan lainnya. Pasti pada gosipin aku sekarang." Kata Adera.
"Ya lagian kamu gak mau publikasi hubungan kita. Kenapa sih emang, hng? Kamu malu punya suami kayak aku?" Tanya Regan.
Adera meringis pelan. Bukan begitu, dia hanya tidak ingin dirundung karyawan yang menyukai Regan apalagi sampai Olivia tahu. Adera tidak tahu apa yang mereka lakukan pada Adera nantinya. "Gak kok. Mana mungkin aku malu punya suami setampan dan sepanas kamu." Adera menggoda Regan sambil memeluk Regan dengan manja.
Dan Regan tentu saja luluh. Jarang-jarang Adera bermanja padanya begini. "Aku gak tahan harus beckstreet sama istri aku sendiri, Dera." Ucap Regan.
"Maaf ya," cicit Adera. Adera melepaskan pelukan dan menatap Regan. "Yaudah kalo gitu, aku pergi dulu ya." Kata Adera ingin beranjak pergi.
Regan yang melihat Adera pergi hanya bisa menghela nafas gusar. Padahal Regan ingin lebih lama bersama dengan Adera.
Regan yang melihat itu tersenyum. Dia sungguh tidak bisa jauh-jauh dari istrinya itu. Kalau dibilang Regan tergila-gila pada Adera, memang benar. Padahal disurat perjanjian pernikahannya tercatat kalau dia tidak akan tergila-gila pada Adera. Ternyata dia termakan ucapannya sendiri.
Adera melambaikan tangannya rendah lalu langsung beranjak pergi sambil menutup kembali pintu ruangan Regan.
Kepergian Adera langsung membuat Regan hampa. Akhir-akhir ini dia merasa takut akan sesuatu. Yaitu, Adera pergi darinya. Entah, tapi itu selalu membuat Regan merasa takut. Takut kehilangan Adera nantinya. Dan rasa takut itu membuatnya selalu ingin berada disebelah Adera.
......................
"Lo udah ngomong ke suami lo kan kita mau main?" Kata Rina pada Adera.
Sepulang dari kantor, Adera ada janji bertemu dengan kedua sahabatnya yaitu Rina dan Friska dirumah Rina. Karna rumah Rina lah menjadi tempat mereka bergosip, bercanda juga saling bercerita.
Adera kangen juga bermain bersama mereka. Semejak dia magang, mereka jarang sekali bermain. Dan tentu saja sebelum kesana Adera izin dahulu dari suaminya. Ya walaupun tadi ada masalah kecil karna perdebatannya dengan Regan karna Regan tidak mengijinkannya pergi.
Adera menganggukan kepalanya. "Udah dong. Walaupun tadi dia gak ngijinin sih." Sahut Adera.
"Enak lo ya punya suami bucin kayak mas Regan." Kata Friska.
__ADS_1
"Iya, enak banget lo. Iri gue jadinya." Rina menipali.
Adera tersenyum malu-malu sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Masa sih?"
Melihat Adera begitu membuat Rina dan Friska mendorongnya ke kanan-kiri dan itu malah membuat Adera tertawa.
"Eh btw, gimana malem pertamanya?" Tanya Friska tiba-tiba sambil duduk lebih mendekat dengan Adera.
Begitupun dengan Rina, dia langsung mendekati Adera karna ingin tahu cerita malam pertamanya dengan Regan. Mereka penasaran.
"Kepo lo berdua." Cibir Adera.
Rina dan Friska berdecak sebal karna bukannya menjawab pertanyaan mereka, Adera malah mencibir mereka.
"Ya kan sebagai sahabat pengen tau." Ucap Rina.
"Iya, ege." Friska menambahkan
"Nanti juga lo tau kalo udah nikah." Jawab Adera sambil memakan cemilan yang tadi ia beli bersama kedua sahabatnya itu dimini market.
"Ya karna itu, kita mau tau, Dera!" Kesal Rina.
Friska menganggukinya. Dia juga ingin tahu bagaimana tentang malam pertama. Walaupun mereka tidak sepolos itu, tetap saja dia penasaran apalagi Regan yang terbilang pria panas itu yang mengambil keperawanan Adera.
Adera menatap Friska dan Rina secara bergantian. Dia tidak mengerti kenapa mereka berdua ingin tahu sekali tentang malam pertamanya dengan Regan. Huft, mau tak mau Adera menceritakannya, lagipun kedua sahabatnya itu selalu mendukung pernikahannya. Jadi sepertinya tidak apa jika dia menceritakannya.
"Itu, ternyata enak juga." Pipi Adera memerah mengatakannya.
"Apanya yang enak?" Tanya Friska, matanya berbinar seperti ingin tahu sekali.
"Itu lho. Emang awalnya sakit, tapi not bad lah." Jawab Adera dengan kedua bahu terangkat lalu dia kembali menikmati cemilannya tanpa peduli dengan reaksi kedua sahabatnya itu.
"Gue juga sering tuh baca itu dinovel-novel. Yang pengen kita tau itu, seberapa kuatnya mas Regan diranjang Dera." Ucap Rina, menekan Adera.
Adera berhenti memakan cemilannya, dia menatap Rina dan Friska yang seakan tidak puas dengan jawabannya. Kedua alisnya terangkat. "Seberapa kuatnya?" Beo Adera.
Friska dan Rina mengangguk secara bersamaan. Itulah yang mereka ingin tahu. Seberapa hebatnya dan panasnya Regan diranjang. Walau mereka belum berpengalaman, tapi mereka kan sudah dewasa jadi sudah mengerti dengan itu semua.
"Dia kuat. Lo bisa liat dari keliatannya aja." Jawab Adera santai dimana membuat Friska dan Rina mengangakan mulutnya.
"Gue jadi pengen dianuin sama mas Regan juga." Gumam Friska.
__ADS_1
"Heh, astagfirulloh Fris, nyebut. Suami orang itu!" Tegur Adera dengan mata melotot sempurna.
Friska hanya tertawa kencang.