
Malam ini, Toni dan Friska berada di pasar malam. Sebenarnya Friska yang mengajak Toni kesana, dan untungnya Toni mau diajak walau sedikit berdebat saat diperjalanan.
"Fris, lo suka rame-rame begini, ya?" Kata Toni, ya bisa dibilang dia adalah orang yang benci keramaian.
Friska yang tengah makan beberapa sosis bakar yang tadi ia beli, menatap Toni dengan kedua alis terangkat. "Kenapa emang? Seru kali rame-rame begini biar otak lo gak mumet tuh karna mikirin bini orang mulu." Sahut Friska.
Toni berdecak. Dia dengan sengaja memakan sosis bakar yang ada ditangan Friska, dia mengigitnya hingga tersisa sedikit.
Dan itu membuat Friska tidak percaya. Sosis bakarnya langsung dimakan begitu saja oleh Toni padahal kan dia tidak menawarinya. "Beg*! Kenapa sosis bakar gue lo caplok aja!" Kesal Friska sambil memukul bahu Toni.
Toni tertawa puas sambil mengunyah sosis itu di dalam mulutnya. "Ya lagi dari tadi cuma lo liatin. Sayangkan kalo gak dimakan." Ucap Toni dimana membuat Friska tambah kesal dengannya.
"Gantiin lo! Gak mau tau gue!"
"Gak mau." Ledek Toni.
Friska mendengus kesal. Saking kesalnya dia akhirnya melahap sisa sosis bakarnya.
Melihat Friska merajuk entah kenapa malah membuat Toni gemas sendiri. Tanpa sadar bahkan dia tersenyum melihat Friska kesal dengannya. "Lo ngambek, Fris?" Tanya Toni.
"Gak tuh. Buat apa gue ngambek sama lo. Gue bukan pacar lo." Jawab Friska. Baginya dia tidak punya hak untuk merajuk pada Toni, toh mereka hanya sebatas teman tidak lebih.
Toni terdiam sejenak lalu tangannya terangkat keatas kepala Friska. "Nanti gue ganti, oke?" Kata Toni.
Friska menatap Toni. "Ya harus lah. Lo kan maling sosis gue."
Toni terkekeh. "Iya, gue ganti nanti. Jangan ngambek begitu, lo jelek soalnya." Ejek Toni.
Friska mengangkat sebelah sudut bibirnya. Dia aneh, kenapa bisa dia berakhir menjadi teman dekat Toni padahal awalnya mereka hanya sekedar saling menyapa saja? Dan lagi dia aneh pada perasaannya jika bersama dengan Toni.
"Wah, liat nih siapa yang disini." Ucap seseorang membuat Friska dan Toni secara bersamaan menoleh kearah orang itu.
Dan ternyata oh ternyata. Dia adalah mantan kekasih Friska bersama kekasihnya yang merupakan teman dekat Friska.
Friska berdecak. Dia tidak punya perasaan apapun pada mantannya itu, namun entah kenapa melihatnya lagi membuat Friska muak.
"Hai, Friska." Dan tidak tahu malunya teman dekat Friska yang menusuknya dari belakang itu malah menyapa seakan tidak terjadi apapun.
__ADS_1
Friska membalasnya dengan senyuman. "Hai," balasnya.
"Kayaknya lo udah nemuin cowok aja ya. Padahal gue kira lo masih terpuruk tuh karna putus dari Aska."
Friska malah tertawa kecil mendengar ucapan teman dekatnya itu ralat mantan teman dekatnya maksudnya. "Ya gimana ya. Gue ngerasa baik-baik aja sih. Gue malah seneng, gak nyium bau ketek dia lagi yang sangat amat membau itu." Jawab Friska.
Mantan Friska itu tidak terima dikatai bau ketiak oleh Friska. "Bau ketek? Bukannya lo yang bau ketek? Gue suka nyium bau lo tuh, mangkanya gue gak betah sama lo." Sahut mantan Friska tersebut.
Friska menatap Toni yang juga menatapnya. "Gue bau emang, Ton?" Tanyanya pada Toni.
Dan Toni menggelenginya.
"Gue gak bau tuh. Lo mau nyium ketek gue? Nih," Friksa mengangkat ketiaknya di depan mantan dan mantan temannya itu.
Mantan teman Friska itu beralih menatap Toni yang berdiri disebelah Friska. Dia langsung kesem-sem olehnya melihat ketampanan dari Toni tersebut.
"Jangan bilang lo itu cowok barunya Friska?" Tanya mantan teman Frika pada Toni.
Toni mengangkat sebelah alisnya lalu dia menatap Friska yang diam saja. Dengan sengaja Toni merangkul Friska di depan mereka berdua. "Iya, gue cowok barunya. Kenapa?" Jawab Toni.
Mantan teman Friska itu terkejut bukan main. Mungkin dia tidak percaya jika Friska bisa mendapatkan pacar yang lebih tampan dari pacarnya sekarang.
"Oh, jadi lo berdua udah jadian? Pantes sih, Friska ngasih apa kek lo buat jadi pacar lo?" Kata mantan kekasih Friska.
Mendengar itu, rahang Toni langsung mengeras. Dia mengerti apa yang dikatakan orang itu. "Maksud lo apa, nj**ng?"
"Yah, waktu sama gue aja dia rela ngasih apa aja ke gue. Termasuk tubuhnya. Tapi gue gak mau sih, soalnya gue gak nafs* sama dia."
Friska yang mendengar itu langsung menggangkat kepalanya. Dia membalikkan fakta yang ada. Karna saat Friska berpacaran dengannya, dia selalu meminta hak yang memang tidak seharusnya dia tidak berikan tapi kenapa dia membalikkan fakta?
Toni menggepalkan tangannya, bersiap melayangkan kepalan tangannya ke wajah bhajingan itu namun Friska terlebih dahulu menahannya.
"Biar gue aja yang ngasih pelajaran ke cowok bhajinghan ini." Kata Friska. Dia mendekati cowok brengsek itu lalu melayangkan pukulan yang kencang tepat diwajahnya hingga mantannya tersungkur.
Friska bukan tidak berani memukulnya kemarin-marin. Hanya saja Toni selalu keduluan memukulnya. Tapi hari ini, keinginannya untuk memukulnya akhirnya tersampaikan juga.
Melihat sang kekasih tersungkur, mantan teman Friska itu langsung berjongkok dihadapan kekasihnya.
__ADS_1
Melihat aksi Friska barusan membuat Toni berdecak kagum pada gadis itu. Sepertinya sahabat dari Adera tersebut sedikit mirip dengan Adera karna keberaniannya. Dia kagum seketika.
"Akhirnya keinginan gue mukul muka lo yang sok ganteng itu bisa juga." Kata Friska, dia sangat puas sekali.
"B*ngsat! Cewek jal*ng!" Umpat mantannya itu.
Friska tidak peduli, dia mengibas rambutnya dengan wajah songongnya lalu menarik tangan Toni pergi dari sana.
Tidak peduli mantan kekasihnya itu sekarang menjadi pusat perhatian dipasar malam. Karna memang dia ingin mantannya itu merasa malu walau Friska tahu sih dia tidak punya urat malu.
Setelah jauh dari sana, dan berada ditempat yang agak sepi, Friska melepaskan tangan Toni. Dia tertawa dengan puas karna membuat mantan kekasihnya seperti tadi.
"Lo liat gak Ton? Muka melasnya dia tadi? Hahaha, anjir lucu banget." Kata Friska sambil tertawa kencang.
Toni ikut tertawa kecil, namun matanya tidak bisa teralih dari wajah Friska yang tertawa lebar.
Setelah Friska memberhentikan tawanya, dia langsung menjadi salah tingkah ketika Toni masih saja menatapnya begitu. "Dimuka gue ada apaan sih, Ton?" Tanyanya, salah tingkah.
Bukannya menjawab, Toni malah mendekatkan wajahnya ke wajah Friska dimana membuat Friska salah tingkah total.
"Muka lo kedeketan, beg*!" Tangan Friska menjauhkan wajah Toni.
Dan Toni malah memegang tangan Friska yang berusaha menjauhkan wajahnya. Dia menatap Friska dengan lekat-lekat. "Fris, lo mau nunggu gak?" Ucap Toni dimana membuat Friska bingung.
"Hah? Nunggu? Nunggu ngapain? Lo mau ke toilet?"
Toni menggelengkan kepalanya. "Nunggu sampe gue yakinin perasaan gue ke lo."
Friska terkejut.
"Tunggu sampe gue yakin kalo gue emang suka sama lo."
Friska bahagia bukan main. Mau disuruh menunggu beberapa lama pun, Friska akan menunggu Toni. Karna dia menyukai Toni.
Friska menghela nafasnya lalu tersenyum pada Toni. "Disuruh nunggu mah gue bisa. Gue siap nunggu lo."
Toni ikut tersenyum. Dia mengacak-ngacak rambut Friska dimana membuat Friska kesal.
__ADS_1