Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
84: Friska dan Toni (2)


__ADS_3

"Ton, beli makan yuk." Ajak Friska pada Toni yang tengah asik memainkan game lewat komputernya.


Toni menoleh sebentar ke Friska lalu memfokuskan matanya lagi pada monitor komputernya. "Bentar, Fris. Gue masih main." Jawab Toni. "Mending sini dulu, duduk disebelah gue." Lanjutnya.


Kening Friska mengkerut. "Ngapain?" Tanya Friska.


"Temenin gue main dulu bentar sini." Kata Toni.


Dengan hembusan nafas gusar, Friska mengambil kursi gaming yang kebetulan Toni mempunyai dua. Lalu dia duduk disebelahnya, dia hanya perlu diam dan memperhatikan lelaki itu bermain game sekarang.


"Lo main game mulu ya?" Tanya Friska, dia menatap wajah Toni yang serius bermain.


Toni menganggukan kepalanya tanpa menoleh kearah Friska. "Iya, udah lama gue gak main." Jawabnya.


"Pantes begadang mulu lo." Cibir Friska sambil mengambil ponsel dari saku celananya. Daripada menunggu dan memperhatikan Toni bermain game, lebih baik dia bermain sosialmedia.


Sambil bermain ponselnya, Friska melirik Toni yang masih saja fokus bermain game. Kenapa makin hari dia makin tampan? Itulah yang ada dipikiran Friska hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Kebetulan Friska jarang membuat story di sosial medianya, dia akan memotret Toni diam-diam untuk dijadikan story ignya.


Niatnya memotret Toni diam-diam eh malah flaslight ponselnya menyala tepat di wajah Toni. Seketika Friska malu ketahuan memotretnya secara diam-diam. Dengan gaya sok cool, Friska berpura-pura batuk dan kembali memainkan ponselnya seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukannya barusan.


"Ehem," batuk Friska alias dibatuk-batukkan.


Dan Toni malah tersenyum. Dia memberhentikan permainannya, dan menoleh ke Friska yang bermain ponselnya seakan tidak terjadi apa-apa.


Merasa ditatap oleh Toni, Friska menatapnya juga dengan wajah yang sengit. "Apa?"


Toni tersenyum gemas. "Lo foto gue?"


Friska gelagapan namun tetap betingkah sok cool. "Gak tuh. Geer lo, orang tadi gue mau coba senter hp gue." Elak Friska.


Toni terkekeh mendengar elakan Friska itu. "Gak pinter banget lo boong."


"Emng bener tuh."


"Yaudah sini," Toni mengambil ponsel dari tangan Friska. Dia menyalahkan kamera depan diponsel Friska. "Sini kita fotbar." Kata Toni.


Toni memeluk bahu Friska agar lebih mendekat dengannya, lalu dia mengambil potret dimana dia tersenyum tipis dengan Friska yang berekspresi terkejut. Setelah mengambil potret itu dan melihat hasilnya, Toni mengembalikan ponsel itu lagi pada Friska.


"Lo lucu. Kirim ke gue ya?" Ucap Toni dimana membuat Friska membeku.

__ADS_1


Apa katanya tadi? Friska lucu? Apa itu sebuah pujian untuknya? Ya ampun rasanya jantung Friska ingin meledak mendengarnya.


"Tunggu, gue mau ganti baju dulu." Toni bangun dari kursi gamingnya. Sepertinya dia sudah selesai bermain game, bukan, game itu belum selesai tapi Toni yang meninggalkan game yang masih berjalan itu untuk Friska.


"Tapi kan ini belum selesai." Ucap Friska.


"Siapa peduli, lo udah laper kan?"


Friska menganggukkan kepalanya.


"Yaudah, bagi gue lo prioritas gue."


Pipi Friska memerah mendengar itu. Apa-apaan dia kenapa bisa semanis ini?


"Yaudah cepet ya." Hanya itu yang bisa dikatakan Friska karna jantungnya seakan ingin putus dari porosnya.


"Iya,"


Tak lama kemudian Toni menunjukkan diri lagi dengan sudah mengganti pakaiannya. Dia melipat kedua tangannya diatas senderan kursi gaming yang diduduki Friska sambil mendorong wajahnya mendekat ke telinga Friska.


"Ayo," bisik Toni dimana membuat bulukuduk Friska meremang.


"Astagfirulloh," Friska mengusap dadanya sambil beristigfar.


Friska menatap Toni yang sudah berpakaian baju putih polos dan celana joger hitam, Friska menatapnya dengan mata menyipit. Padahal dia hanya menggunakan pakaian biasa saja tapi kenapa dia masih terlihat keren? Mengherankan.


Ditatap begitu oleh Friska membuat Toni terkekeh pelan. "Kenapa?" Tanyanya.


"Lo kenapa rapi banget deh? Kita kan cuma nyari makan."


Sebelah alis Toni terangkat. Padahal dia hanya menggunakan pakaian sehari-harinya. "Jadi gak sih?" Toni mulai kesal.


"Iya jadi bawel lo." Cibir Friska dia bangun dari kursi gaming dan berjalan dibelakang Toni keluar dari kostannya.


Ketika dia dan Toni keluar dari kostan, seperti biasanya para kawan-kawan Toni yang mengkost disana yang memang setiap malam nongkrong bersama langsung menatap dia dan Toni secara serentak. Seperti tetangga yang suka gosip itulah mereka. Dan Friska tidak menyukai ini.


"Wah tuan muda Antony udah dewasa ya." Ledek Rio, teman sekostan dan teman tongkrongan Toni.


"Tau nih, si Rivaldo lo kemanain, Ton? Kasihan dia dighosting doang." Jeje, teman Toni menambahkan.


"Tau lo, gue dighosting doang parah lo." Timbal Rivaldo yang kebetulan dan memang sering nongkrong bareng mereka.

__ADS_1


Friska memutar bola matanya malas. "Haduh, lo pada kayak tetangga tukang gosip tau gak!" Cibir Friska.


"Gosipin lo gak papa kali. Orang jelek kan emang pantes diomongin, ya gak?" Ejek Rio pada Friska.


Friska mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Dih, gue cantik kali. Tanya aja Toni, ya kan Ton?" Dengan sok cantiknya Friska mengibas rambut penjangnya.


Perkataan Friska barusan langsung ditertawai oleh mereka.


"Mata Toni emang buta ego. Jadi jangan baper kalo dia puji lo cantik." Kata Rivaldo disela tawanya.


Friska menjadi kesal dengan ketiga dari teman Toni itu. Memangnya dia sejelek itu ya? Tapi Toni pernah kok memujinya cantik walau Friska sendiri tidak yakin dengan pujian itu.


"Sirik lo pada!" Kini Toni membuka suaranya.


"Bukan sirik cuy, Rio cemburu sama lo. Katanya gebetannya diembat sama lo." Jeje dengan mulut lemesnya.


Rio yang mendengar itu langsung menendang Jeje sampai terjatuh. Dasar teman tidak bisa menyembunyikan rahasia.


Toni menatap Friska sebentar yang seakan kaget dengan ucapan Jeje barusan. Dengan posesifnya Toni menggandeng tangan Friska dimana membuat Friska tambah kaget. "She's mine." Ucapnya.


Mine? Friska miliknya? Seketika Friska terbang sampai ketujuh langit mendengar itu.


Rio menatap Toni yang menggandeng tangan Friska. "Ya tau-tau deh. Gue lawan tuan muda Antony bisa apa." Belum apa-apa dia sudah menyerah karna dia tahu melawan Toni tidak segampang itu apalagi menjadi saingannya.


"Anjir udah nyerah duluan dia." Ejek Rivaldo sambil tertawa.


Friska menatap Toni yang posesif terhadapnya. Apakah mendengar perkataan Jeje, Toni jadi cemburu? Kalau memang benar, Friska senang sekali.


"Gue cabut." Kata Toni kepada ketiga temannya lalu membawa Friska pergi dari sana.


Toni memberikan helm pada Friska ketika mereka sampai diparkiran kostan. Bukan hanya memberikan helm itu padanya, Toni bahkan memakaikannya ke kepala mungil Friska dan itu membuat Friska membeku.


"Ton," panggil Friska ketika Toni sudah memakaikannya helm dengan benar.


Toni menatap Friska. "Kenapa?"


Friska memilin bibirnya menahan senyumnya. "Lo cemburu?" Dengan tidak malunya dia malah mengatakan itu. Ya begitulah Adera and the geng, jadi jangan heran lagi.


Toni tersenyum, dia pun baru sadar kalau dia cemburu tadi saat Rio mengatakan Friska adalah gebetannya. Tanpa sadar dia memang memiliki perasaan spesial untuk Friska dan dia baru menyadarinya sekarang.


"Iya, gue cemburu puas?"

__ADS_1


Friska tertawa lebar sambil menganggukan kepalanya. Dia puas dengan jawaban Toni.


__ADS_2