Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Maaf


__ADS_3

Adera tidak tahu apakah ini mimpi atau bukan, baginya ini sangat tidak nyata. Namun dia tidak tahu perasaannya sekarang ini, apakah dia senang atau mungkin ada kesedihan dan kebencian yang masih tersimpan di hatinya pada Regan.


Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar, bagaikan jarum yang terus menusuk Adera setiap harinya, lima tahun yang begitu menyakitkan yang sudah ia lewatkan.


Dan apakah hatinya bisa kembali menerima Regan setelah kerusakan hatinya yang parah? Adera tidak tahu, namun melihat Raka anaknya, terlihat begitu ceria dan bahagia bermain dengan Regan membuatnya sedikit tersentuh.


Baru kali ini Adera melihat Raka seceria itu ketika bermain dengan Regan. Apakah dia sejahat itu jika dia harus menjauhi Raka dari Regan, papa kandungnya sendiri? Namun bagaimana pun hati Adera belum bisa menerimanya, bagaimana pun hatinya sudah sangat hancur.


"Mama, sini main bareng sama papa. Seru tau!" Raka mengajak Adera bergabung bermain dengan Regan disana.


Suara ceria Raka itu, tidak pernah terdengar begitu indahnya ditelinga Adera dan itu malah membuat Adera sedih. Anak itu hanya ingin kasih sayang dari papanya, dia sudah menunggu lamanya kehadiran papanya dan apakah Adera sanggup menjauhkan Raka dari papanya sendiri?


Adera yang mendengar ajakan dari anaknya langsung menggelengkan kepalanya. "Gak, sayang. Mama mau langsung istirahat aja, mama capek." Tolak Adera membuat Raka kecewa.


"Yaaa, yaudah deh." Kata Raka.


Adera tersenyum tipis pada anaknya tapi tidak dengan Regan. "Kalo udah selesai mainnya, suruh omnya langsung pulang ya, Raka." Kata Adera, untuk Regan namun dia mengatakannya pada Raka.


Raka menatap Regan yang saat ini menatap mamanya lalu dia langsung menganggukan kepalanya kepada Adera.


"Mama istirahat ya, sayang." Setelah mengatakan itu Adera meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke kamarnya.


Regan menatap kepergian Adera, dia tahu jika sulit bagi Adera menerimanya kembali. Mengetahui pasti sudah banyak luka yang Regan sebabkan pada istrinya itu.


Namun Regan tidak bisa membohongi dirinya sendiri, walau sudah melihat wajah Adera, wajah yang selama ini dia rindu-rindukan. Regan masih merindukannya, merindukan sosok Adera seperti dahulu walau Regan tidak yakin apakah dia bisa kembali lagi.


"Papa, papa suka kan sama mama aku? Mama aku cantik kan ya? Orang-orang juga ngomong begitu, tapi mama aku emang cantik kan ya?" Tanya Raka bertubi-tubi.


Regan kembali menatap putranya, dia tersenyum pada putranya itu dan menganggukan kepalanya. "Iya, mama kamu cantik, bahkan lebih cantik dari pertama kali papa liat." Jawab Regan.


Raka tersenyum senang dengan jawaban Regan. "Terus papa suka mama aku gak?" Tanya Raka lagi.

__ADS_1


Regan tertawa kecil. "Bukan suka lagi, Raka. Papa cinta sama mama kamu."


"Beneran? Wah ternyata bener mama aku cantik banget sampe orang-orang suka godain mama." Ucap Raka dengan bangga.


Kening Regan mengkerut. "Banyak yang godain mama kamu?" Tanya Regan dan Raka menganggukinya.


"Iya, guru tk aku juga suka godain mama. Tapi tetep aja aku gak suka mereka, aku lebih suka papa!"


Tangan Regan terangkat ke atas kepala Raga, dia tersenyum. "Bagus anak papa." Puji Regan.


Mendengar pujian dari papanya, Raka tersenyum senang.


Tatapan Regan mengarah ke pintu kamar yang tadi Adera masuki, apakah dia berharap Adera kembali lagi? Tentu saja, dia ingin melihat wajah Adera lebih lama lagi, jadi dia berharap Adera keluar dari kamarnya supaya Regan bisa menatap wajah cantiknya berlama-lama. Namun sepertinya Adera sudah tidur, seperti katanya tadi, dia lelah dan ingin langsung tidur dan itu membuat Regan sedikit kecewa.


"Papa mau aku panggilin mama lagi?" Seakan tahu apa yang dipikirkan dan diinginkan papanya Raka bertanya pada Regan dimana membuat Regan kembali menatapnya.


"Gak usah, mama kamu kecapekan. Gak papa, biarin dia istirahat." Kata Regan.


......................


Paginya, Adera langsung terbangun dari tidurnya ketika alarm dari ponselnya berbunyi, dia mematikan kembali alarm dari ponselnya dan setelah itu Adera segera bangun dari tempat tidurnya dan beranjak keluar kamar, dia harus cepat-cepat mandi dan menyiapkan kepeluan Raka.


Dan saat Adera keluar dari kamarnya sambil menguap lebar-lebar, Adera langsung dikejutkan dengan keberadaan Regan diruang tamu, duduk disana sambil memperhatikannya dengan kening mengkerut.


Walau Adera sangat terkejut bukan main, Adera berusaha setenang mungkin. Dengan wajah yang jutek, Adera menatap Regan dengan sengit. "Ngapain? Gak pulang tadi malem?" Tanya Adera dengan jutek.


Regan menahan senyumnya, tentu saja dia melihat wajah terkejut Adera saat melihatnya dan berusaha tetap tenang, itu terlihat begitu menggemaskan. "Aku pulang tadi malem, terus baru aja kesini." Jawab Regan.


"Oh, ngapain kesini lagi? Rumah ini gak seterusnya terbuka lebar buat kamu!" Ketus Adera.


"Aku tau, aku kesini bukan buat kamu tapi buat Ragk."

__ADS_1


Jawaban Regan membuat Adera menohok, apa katanya? Dia kesini hanya untuk Raka? Hanya Raka? Kenapa Adera jadi kesal mendengarnya, sial.


"Raka gak butuh kamu! Mending pulang sana!" Ketus Adera lagi.


Kedua alis Regan terangkat. "Terus kamu yang butuh aku, gitu?" Kata Regan dengan sedikit bumbu godaan.


"Hah? Aku butuh kamu? Gak akan pernah, kayaknya lima tahun ini udah ngejawab semuanya, aku gak butuh kamu. Aku bisa tanpa kamu." Ucap Adera dengan wajah dingin.


Regan terdiam, benar selama lima tahun ini sudah menjawabnya kalau Adera tidak membutuhkannya buktinya dia tidak membutuhkan sosok Regan untuknya tapi Regan lah yang membutuhkan Adera.


Melihat Regan terdiam begitu membuat Adera langsung beranjak begitu saja dari sana dan berjalan ke kamar mandi. Dia tidak mempedulikan Regan lagi, dia harus mengalihkan perasaannya yang jadi kacau begini.


Tak berselang lama, Adera menyelesaikan mandinya, Adera pun keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang tadi ia pakai. Mengingat adanya Regan, dia jadi memakai kembali pakaian yang tadi ia pakai dan dia akan segera menggantinya jika sudah dikamar.


Adera berjalan ke kamarnya namun tatapannya mengarah ke Regan yang kini sedang memainkan ponselnya. Begitu Regan menyadarinya bahwa dia menatapnya, Adera langsung mengalihkan pandangannya dari Regan dan berjalan dengan sok keren ke kamarnya.


"Dera," panggil Regan sontak membuat Adera memberhentikan langkahnya.


"Iya kenapa?" Tanya Adera tanpa menoleh lagi pada Regan.


"Maaf," hanya ucapan itu yang hanya bisa Regan katakan pada Adera.


Adera mengepal kedua tangannya, kenapa hanya itu yang dia katakan? Bukan itu yang Adera ingin dengar, bukan. "Terserah," acuh Adera kembali berjalan ke kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.


Itu membuat Regan sedih, padahal dia ingin mengatakan semuanya tapi sepertinya Adera masih butuh waktu.


"Papa!!" Raka yang baru saja keluar dari kamarnya langsung berlari kearah Regan yang duduk diruang tamu.


Regan yang melihat Raka baru bangun tersenyum, dia mengacak-ngacak rambut putranya. "Baru bangun jagoan?"


Raka menyengir lebar. "Papa mau ngantar aku ke sekolah ya?"

__ADS_1


Regan menganggukan kepalanya. "Iya dong, sekalian nganter mama kamu biar gak digoda orang."


__ADS_2