Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
65: Sekali Aja


__ADS_3

Sepulang dari acara pernikahan sepupunya, Regan langsung menidurkan tubuhnya diatas ranjang begitu mereka sampai dikamar. Regan membanting tubuhnya diatas ranjang tapi dia menatap Adera yang juga langsung menatap dirinya lewat cermin.


Regan mengubah posisinya memiring dengan satu lengannya menopang kepalanya, dia memperhatikan Adera yang membersihkan make upnya dimeja rias sambil menguncir rambutnya cepol.


"Ini susah banget bukanya ih!" Celoteh Adera ketika dia mencoba menurunkan resleting gaunnya yang berada dipunggungnya. Padahal tadi pas memakainya gampang, tapi kenapa pas ia ingin membukanya malah sulit begini?


Regan yang melihat istrinya kesusahan terkekeh geli. Pasalnya Adera mengumpat dan mengomel sendiri karna kesusahan membuka resleting gaunnya.


Merasa ditertawai Regan, Adera menoleh ke Regan, dia menceberutkan bibirnya. "Susah," cicitnya.


Regan terkekeh lagi, dia bangun dan teduduk ditepi ranjang. Dia menjetikkan jarinya menyuruh Adera mendekat. "Sini aku bukain." Katanya.


Adera menurut, dia langsung mendekati Regan dan berdiri dihadapan dengan membalikan tubuhnya hingga Regan hanya melihat punggungnya saja.


Regan berdecak, dia menarik tubuh Adera agar duduk dipangkuannya dan Adera yang diperlakukan seperti diam saja. Toh udah terbiasa karna terbiasa duduk diatas pangkuan suaminya.


"Tadi perasaan bisa deh, tapi kenapa pas mau dibuka susah banget ya?" Ucap Adera.


Tangan Regan dengan cepat menurunkan resleting gaun Adera sampai kebawah, dan langsung memperlihatkan punggung putih Adera di depan matanya. "Bodoh, kan bisa minta tolong." Kata Regan.


"Kenapa harus minta tolong kalo bisa sendiri?"


"Kenapa harus sendiri kalo ada suami yang bisa diminta tolong?" Balas Regan.


Adera hanya tertawa kecil mendengarnya. Benar juga, kan ada Regan yang bisa dia minta tolong tapi entah kenapa Adera tidak yakin kalau Regan membantunya dengan cuma-cuma dan pastinya dia minta bayarannya.


Tangan dingin Regan menyentuh punggung Adera, dia menaruh dagunya diatas bahu Adera, menciumi pipi Adera.


Benar kan kata Adera, Regan tidak akan membantu dengan cuma-cuma. Lihatlah aksinya sekarang yang seakan menggoda Adera dan punya maksud kearah tertentu.


"Gak ya!" Tolak Adera dengan cepat sambil bangun dari pangkuan Regan. Dia memang belum mendengar Regan meminta jatah padanya tapi dia sudah tahu dari apa yang dia lakukan padanya tadi.


Sebelah alis Regan terangkat. "Aku gak ngomong minta jatah lho."

__ADS_1


Adera memutar bola matanya. "Iya emang belum ngomong. Tapi aku tau maksud kamu itu apa ya!"


Regan terkekeh. "Ayolah, sekali aja." Regan menarik tangan Adera lalu memeluk pinggang Adera supaya mereka berdekatan, dia memasang wajah yang belum dia tunjukan kepada semua wanita selain Adera yaitu wajah melas ala Regan.


Adera menahan senyumnya melihat tingkah menggemaskan Regan yang manja seperti kurang belaian. Namun itu tidak membuat Adera berubah pikiran, dia tetap akan menolaknya malam ini.


"Gak ya! Aku capek, Regan. Mau istirahat, kamu juga besok kan harus ke ke kantor." Ucap Adera.


Regan menggelengkan kepalanya lucu dengan bibir cemberut. Seakan anak kecil yang sedih karna tidak mendapatkan apa yang dia mau. "Aku gak capek tuh."


"Iya kamu gak capek, aku yang capek Regan. Aku mau istirahat."


"Aku belom dapat jatah hari ini. Dia kangen rumahnya, sayang."


Adera memutar bola matanya lagi. "Baru sehari gini bukan berbulan-bulan. Aku capek hari ini, beneran. Kamu mau aku jadi sakit karna harus ngelayanin kamu setiap hari?"


Mau tak mau Regan harus menundanya. Karna sejujurnya Regan pun merasa lelah tadi, tapi saat mereka sudah sampai dikamar, rasa lelah itu menghilang dengan sendirinya. Namun dia tidak bisa memaksa Adera melayaninya, dia harus menundanya sampai besok.


Adera tersenyum, dia menatap Regan yang sepertinya kesal sendiri. Mungkin karna tidak bisa meniduri Adera malam ini.


Regan yang merasa ditatap Adera, langsung menatapnya dengan galak. "Apa liat-liat!" Galaknya.


Adera meyengir. Dia mencubit kedua pipi Regan dengan gemas lalu dia mengecup bibir Regan dengan singkat.


Regan diam saja namun tidak dengan hatinya yang merasa berbunga-bunga saat Adera mencubit pipinya dengan gemas sambil mengecupi bibirnya.


......................


"Ton, liat deh story-nya Rina." Friska memperlihatkan cerita sosial media Rina pada Toni.


Dia memberikan ponselnya pada Toni yang duduk disofa sambil bermain gitar tepatnya mereka sekarang berada dikostan Toni.


Toni yang sedang bermain gitarnya langsung menaruh gitarnya itu dan mengambil ponselnya dari tangan Friska, lalu memperhatikan cerita sosial media Rina dengan malas.

__ADS_1


Friska memperhatikan ekspresi Toni sekarang. Disana Rina memposting foto bersama Adera dicerita sosial medianya. Terlihat sekali mereka sedang berada dipesta atau apapun itu.


Seketika Toni tidak bisa melepaskan matanya dari layar ponsel milik Friska, dia memperhatikan foto itu dengan sungguh-sungguh. Dia bahkan memperbesar foto itu agar bisa melihat Adera dengan jelas di dalam foto itu.


Di dalam foto itu Adera tersenyum dengan kedua jarinya yang terangkat diudara. Toni tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau Adera di dalam foto itu benar-benar sangat cantik bahkan sangat amat cantik. Toni yakin kalau dia melihat Adera secara langsung, Adera akan lebih seribu kali lebih cantik dari pada difoto itu.


Melihat Toni diam saja sambil menatapi layar ponselnya, tersenyum jahil. Dia menyenggol tangan Toni. "Heh, nyebut Ton. Bini orang dipelototin begitu." Ledek Friska.


Toni berdecak sebal, saking kesalnya dia langsung memiting leher Friska. Ponsel Friska yang tadinya ditangannya terjatuh ke karpet tebal. "Itu salah lo, bego. Kenapa ngasib tau gue!"


Friska tertawa terbahak-bahak. "Gue cuma ngasih tau, ege,"


"Sama aja, bodoh!"


Friska tidak tahan lagi harus terus-terusan tertawa. Dia akhirnya memilih berdamai saja. "Damai aja, Ton. Gak kuat gue,"


Toni melepaskan pitingannya, dia menatap Friska dengan kesal. Karna akhir-akhir ini Friska menjadi dekat dengannya bahkan sangat dekat membuat Toni merasa tidak risih dengan gadis. Dan juga akhir-akhir ini Friska sering datang ke kostannya, menemaninya disana seperti sekarang.


Selain sering curhat pada gadis itu, Toni juga merasa nyaman bersama Friska. Walau Toni belum memahami perasaan nyaman itu mengartikan apa.


"Oh iya, Ton. Gue dikasih tau sama Rina katanya Adera udah baikan tuh sama suaminya. Sumpah gue lega banget ngedengernya." Kata Friska.


Toni diam sejenak. Kenapa setiap kali ada yang menyebut nama Adera membuatnya sedih, juga merindukannya? Tapi itu tidak boleh, Toni harus membuang perasaannya. Karna Adera sudah bahagia bersama pria lain. Dia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan pujaan hatinya, tidak boleh.


Toni menghebus nafasnya. "Syukurlah," ucapnya.


Kening Friska mengkerut. "Mau nangis lagi sekarang? Ayo, gue siap jadi senderan." Friska menyiapkan bahunya untuk Toni.


Toni menatap Friska dengan kesal, dia berdecak. "Gak usah sok keren lo, sialan." Cibir Toni dan Friska tertawa lagi.


Friska memberhentikan tawanya, dia melirik Toni yang fokus lagi bermain gitarnya. Dia tidak bisa membohongi dirinya lagi, kalau dia memang menyukai Toni. Tapi dia sadar, tidak mungkin Toni menyukainya jadi Friska berusaha menutupi perasaannya dan bersandiwara menjadi temannya agar dia bisa selalu dekat dengan Toni.


Memang itu menyakitkan, harus menyembunyikan perasaan pada seseorang yang dekat dengannya. Tapi Frisja tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan perasaannya pada Toni dalam-dalam. Bahkan seharusnya dia harus menguburnya dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2