Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Kebahagiaan Raka


__ADS_3

Setelah sudah berulang kali menolak tumpangan dari Regan, akhirnya Adera pasrah juga. Karna takut jika dia akan terlambat dan juga angkot yang biasanya lewat rumahnya kini tak ada satu pun yang lewat.


Dan akhirnya Adera dengan terpaksa berangkat bersama Regan naik mobilnya. Dengan duduk dikursi belakang, Adera memasang wajah masam sambil melipat kedua tangannya di dada. Padahal dia sudah berulang kali menolak ajakan dari Regan tapi dengan tidak malunya sekarang dia malah menumpang juga pada Regan.


Sebenarnya Adera malu, tapi dia berpura-pura tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa. Dia bisa berbuat alasan karna anaknya yang memintanya nantinya jika Regan mengejeknya, itu mudah kan.


Adera menatap Regan yang sedang bercanda-canda dengan Raka padahal dia tengah menyentir mobil sekarang, walau tidak sepenuhnya melihat wajah Regan yang tertawa bersama anaknya.


Ketahuan tengah memperhatikannya, Adera langsung melengos begitu Regan menatapnya lewat kaca di atas kepalanya. Tanpa diketahui Adera, sekarang Regan tersenyum menatapi Adera dari kaca dasboard diatas kepalanya itu.


"Ngapain ngelirik-lirik?" Tegur Adera dengan nada jutek, dia kembali menatap Regan lewat kaca.


Regan tertawa pelan. "Gak boleh emang?"


"Ya gak boleh lah apalagi buat kamu, gak boleh banget!" Ketus Adera malah membuat Regan tertawa pelan lagi.


"Raka, bilangin ke mama kamu, salah sendiri makin cantik." Kata Regan pada Raka dan Adera yang mendengarnya langsung merona.


"Apaan sih!" Galak Adera, menyembunyikan rona merah dipipinya karna Regan barusan memujinya.


Tidak boleh! Adera tidak boleh ambil hati dengan pujian itu bisa saja kan itu hanya buaya. Lagipun Adera juga tahu jika dia makin cantik sekarang mangkanya banyak lelaki-lelaki tampan yang menyukainya hahaha. Bercanda.


"Mama aku emang cantik, kan aku bilang ke papa. Mama aku itu yang tercantik di dunia!" Mendengar pujian dari Raka membuat Adera tersenyum hangat.


Regan menganggukinya, dia kembali melirik Adera dari kaca dasboard diatas kepalanya. "Iya, emang cuma mama kamu yang tercantik." Gumam Regan, sayangnya tidak dapat di dengar Adera.

__ADS_1


"Mama," panggil Raka lagi, dia menyembulkan kepalanya dari kursi sebelah kursi mengemudi.


Adera langsung menatap anaknya begitu Raka memanggilnya, dia mengangkat kedua alisnya pada Raka. "Kenapa sayang?" Sahut Adera.


Namun Raka menggelengkan kepalanya sambil menyengir dengan lebar. "Gak papa, aku cuma seneng aja bisa berangkat ke sekolah bareng papa sama mama." Katanya dimana membuat Adera jadi tersenyum seketika.


Adera tahu jika Raka sangat berharap dengan kehadiran papanya, dan Adera tahu bagaimana sakitnya anak itu selalu diejek teman-temannya karna tidak punya papa. Rasanya Adera ingin memeluk anak itu sekarang juga, melihat Raka seceria dan sesenang itu sekarang membuat Adera juga ikut senang dan juga sakit.


Regan pun menatap putranya itu, dia ikut tersenyum. Namun tidak dapat dipungkiri kalau hatinya sakit melihat Raka sebegitu bahagianya, seadainya Regan lebih awal menemukan Adera, mungkin Raka tidak akan mengalami rasa sakit itu semua di usia ini.


"Pasti temen-temen ku pada kaget, ngeliat aku punya papa! Biarin aja mereka biar tau rasa karna selalu ngatain aku." Senangnya dengan senyuman lebar hingga matanya tenggelam.


"Iya, mereka pasti kaget." Ucap Adera, menganggukan kepalanya ikut tersenyum.


"Raka tenang aja, mulai sekarang papa bakal nganter Raka ke sekolah dan kemana pun." Regan berkata dimana membuat Raka menatapnya.


......................


Setelah menghantar Raka ke sekolahnya, dan sesampai di kantor Anggara tempat Adera berkerja, Regan memberhentikan mobilnya tepat di parkiran. Seberhentinya mobil Regan, Adera langsung turun begitu saja dari mobil tanpa mengatakan apapun.


Namun buru-buru Regan ikut turun dari mobil dan langsung menahan tangan Adera yang ingin langsung pergi tanpa mengatakan sepatah katapun padanya.


Adera memberhentikan langkahnya dan menatap Regan yang menahannya tapi dia menepis tangan Regan yang menarik tangannya dengan kasar. "Kenapa?" Tanya Adera dengan wajah dingin.


"Bisa kita bicara sebentar?" Kata Regan dengan wajah memohon.

__ADS_1


Kedua alis Adera terangkat. "Apa? Aku gak punya waktu." Ketus Adera.


Regan menatap Adera lekat-lekat. "Maaf," kata Regan dengan sungguh-sungguh.


Namun permintaan maaf dari Regan itu membuat Adera marah, dia menatap Regan dengan wajah yang amat dingin. "Buat apa? Aku rasa gak ada yang minta kamu buat minta maaf."


"Dera, aku minta maaf buat semua. Aku tau kamu gak bakal maafin aku, tapi tolong kasih aku kesempatan sekali lagi." Ucap Regan dengan mata senduh.


Adera tersenyum sinis pada Regan. "Hah? Kesempatan sekali lagi? Maaf, tapi aku belum bisa."


"Kenapa? Sebegitu bencinya kamu sama aku sekarang?"


"Kamu pikir selama lima tahun ini, aku bisa benci kamu? Aku pengen, Regan. Aku pengen benci kamu, ngelupain tentang kamu semuanya. Tapi nyatanya apa, aku gak bisa. Dan setelah aku udah bener-bener sedikit ngelupain kamu dalam hidup aku dan mencoba cuma fokus ke Raga, tiba-tiba kamu datang seakan gak punya rasa bersalah sekali pun." Ucap Adera dengan emosional, dia meneteskan airmatanya di parkiran kantor.


Regan menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf, Dera." Hanya itu yang bisa diucapkan Regan, hatinya benar-benar sesak mengetahui fakta kalau Adera sudah berusaha melupakannya.


"Gak usah minta maaf terus. Aku gak butuh permintaan maaf dari kamu. Justru, aku yang minta maaf, aku udah ninggalin kamu saat itu tapi aku gak merasa menyesal sama sekali, maaf."


"Aku tau, semua salah aku. Aku yang harusnya minta maaf ke kamu tapi bisakah kita memulainya kembali, Adera? Kamu, aku dan Raka, kita bisa memulainya dari awal." Regan bersungguh-sungguh.


Adera menggelengkan kepalanya. "Maaf aku gak bisa, kita cuma terus saling menyakiti, aku juga udah gak mau tersakiti lagi. Udah cukup. Cukup banyak luka yang aku alami selama ini, jadi aku belum bisa memulai seperti yang kamu katakan. Maaf,"


"Tapi tenang aja, aku gak akan menjauhkan Raka dari kamu. Dia butuh kamu, kamu bebas nemuin Raka kapan aja, aku gak bisa ngelarangnya walau aku pengen. Aku cuma gak mau ngerusak kebahagian Raka tapi kalo untuk memulainya kembali, aku belum bisa."


Adera beranjak pergi dari sana, meninggalkan Regan sendirian disana. Dengan airmata yang jatuh ke pipinya, Adera mengusapnya dengan kasar.

__ADS_1


Dan Regan hanya menatap punggung Adera yang semakin lama menjauh darinya. Regan tidak bisa melepaskan Adera begitu saja, dia masih sangat mencintainya dan dia pun yakin kalau Adera juga masih mencintainya.


Regan hanya perlu meyakinkan dan meluluhkan hatinya lagi, dia akan berjuang mendapatkan hati istrinya lagi meskipun itu sulit sekalipun. Dan sepertinya, Regan membutuhkan dukungan dan bantuan dari putranya, Raga.


__ADS_2