
Adera membuka pintu masuk ke dalam apartemen dengan tentengan ditangannya. Dia membawa dua kantong plastik itu yang berat sampai ke apartemennya dan dia merasa sangat kuat, hahaha.
Adera membawa kedua kantong plastik itu ke dapur, dia akan menaruh semua bahan-bahan makanan di dalam lemari dingin. Namun dia dikejutkan dengan Regan yang entah dari kapan berdiri disana dengan tatapan dingin kearahnya.
Adera memegangi dadanya yang seperti ingi jatuh dari porosnya saking terkejutnya dia. "Ya! Kamu ngapain disitu!" Gerutuk Adera.
Regan tidak menjawab, dia menatap Adera dengan tajam dan juga dingin dan tatapan itu membuat Adera takut. Tatapan Regan kali ini benar-benar berbeda seperti ada makna tersirat dari tatapannya itu namun itu malah membuat Adera takut.
"J-jangan natap aku begitu dong." Adera, menenteng kedua kantung plastik itu lagi, dia berjalan melewati Regan yang masih menatapnya dengan tatapan itu.
Adera ingin menghindar dari tatapan yang seakan membunuhnya lewat tatapannya itu. Dia berjalan ke dapur dengan terpincang-pincang karna tentengan yang ia bawa sangat berat dan juga dia kelelahan karna membawa kedua tentengan itu sampai kesini.
Adera menaruh kedua kantung plastik itu didepan lemari es. Dia langsung memegangi punggungnya yang terasa sangat keram karna membawa yang berat. "Encok deh punggung gue." Gumam Adera lalu dia segera mengerjakan perkerjaan.
Dia membuka pintu lemari es dan langsung memasukkan apa yang ada di dalam kantung plastik ke dalamnya. Dia memasukkan semuanya tanpa tersisa setelah sudah selesai, Adera bangun dan mengambil plastik kecil dimana ada peralatan make up yang dibelinya tadi di minimarket.
Adera duduk di meja makan, dia membuka semua peralatan make up diatas meja. Lalu dia memreviewnya satu-satu.
"Mau dandan buat siapa lo?" Suara Regan mengagetkan Adera.
"Agh! Bisa gak sih jangan ngagetin orang terus!" Kesal Adera. Sudah dua kali dia terkejut hari ini dan yang mengejutkannya adalah Regan.
Regan tidak menjawab. Dia menarik kursi disebelah Adera dan duduk disana sambil melipat kedua tangannya didada, Regan menatap Adera.
"Gue tanya, lo mau dandan buat siapa?" Tanya Regan dengan nada sedikit membentak.
Adera menatap Regan. Tidak biasanya Regan berbicara dengannya dengan nada seperti itu. Namun mendengar pertanyaan Regan barusan, Adera tidak ingin menjawab kalau dia berdandan hanya untuk dirinya. Dia malu mengatakannya. "Gak buat siapa-siapa. Cuma gak mau keliatan kucel aja pas ke kantor." Jawab Adera.
Regan tersenyum miring mendengar jawaban Adera. Dalam benaknya, Regan berpikir kalau Adera ingin terlihat cantik di depan pemuda bernama Toni itu. Melihat betapa bahagianya Adera berbicara dengan Toni, Regan sudah menduga kalau Adera punya perasaan spesial pada pemuda itu.
"Jangan bohong sama gue. Apapun itu, bisa?" Ucap Regan dengan serius.
__ADS_1
Adera memilin bibirnya. Tidak mungkin kan dia menjawabnya kalau itu semua untuk Regan? Dia hanya malu mengatakannya. "Gak serius kok, gak buat siapa-siapa." Kata Adera.
Regan terkekeh geram pada Adera. Dia memijit pelipisnya, mendinginkan rasa marah dan cemburu.
Namun mata Adera justru tidak sengaja melihat tangan Regan yang berdarah. Dia membulatkan matanya dan mengambil tangan Regan, melihat dengan jelas luka ditangan Regan yang mengeluarkan darah yang sudah kering.
Adera menatap Regan dengan tatapan penuh khawatir. "Ini kenapa?" Tanyanya dengan khawatir.
Regan baru ingat kalau tangannya berdarah karna menonjok pohon tadi.
"Ini kenapa?" Tanya Adera sekali lagi.
Regan tidak menjawabnya dan itu makin membuat Adera khawatir dan dia langsung bangun dari kursi dan berlari ke kamar untuk mengambil kotak P3K.
Tak lama kemudian Adera kembali sambil membawa kotak P3K ditangannya, dia menaruhnya diatas meja sambil mendudukkan bokongnya dikursi lagi.
Matanya memerah seperti menahan tangis. Saking khawatirnya dengan Regan, dia bahkan sampai ingin menangis. Lucu bukan?
Sambil mengobati luka Regan, tanpa sadar Adera meneteskan airmatanya. Hati Adera begitu lembut sampai kalau melihat orang yang ia sayangi terluka, dia akan meneteskan airmatanya seperti saat ini.
Mata Regan membulat melihat kedua bahu Adera bergetar saat mengobatinya. Apa yang membuat Adera menangis seperti ini?
"Jangan lukain diri lo sendiri lagi. Gue mohon." Lirih Adera.
Tangan Regan memegang dagu Adera, membuat Adera mendonggakan wajahnya. Bisa dilihat Adera menangis hanya karna melihatnya terluka dan itu membuat Regan makin terluka.
Regan memiringkan kepalanya. Dia mencium bibir Adera dengan lembut. Dia ingin memberi tahu Adera kalau luka ditangannya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan luka dihatinya melihat Adera terlihat bahagia dengan laki-laki lain.
Adera terdiam. Dia menutup matanya, membiarkan Regan menciumnya. Dia tidak tahu harus apa, namun dia sedih melihat Regan menyakiti dirinya sendiri walaupun dia tidak tahu apa penyebabnya.
Regan menjauhkan bibirnya dari bibir Adera. Dia menatap Adera sambil mengusap airmata Adera dengan tangannya yang sudah diperban. "Jangan nangis karna gue." Kata Regan.
__ADS_1
Adera terdiam membeku dengan perlakuan Regan padanya. Dia menyadari sesuatu dari sirat mata Regan yang menatap Adera. Ada kesedihan dimatanya yang tidak bisa dijelaskan menggunakan kata-kata. Matanya yang memancarkan kesedihan yang kentara.
......................
Epilog.
Regan menatap keluar jendela ruangannya dengan Dito yang masih berada diruangannya, menemani Regan sambil menikmati coffe yang sempat dia tinggalkam.
"Jadi, lo ngerasa kalo keputusan lo nikahin Adera itu salah? Lo jadi nyalahin diri lo sendiri karna maksa Adera pas itu?" Tanya Dito dengan serius.
Regan gelisah. Dia takut jika Adera memang tersiksa dipernikahan yang penuh paksaan ini seperti yang sering Adera bilang padanya awal menikah. Dia takut jika Adera akan meninggalkannya jika dia sudah menemukan cinta sejatinya dalam diri laki-laki lain. Itu ketakutan yang sering menghantui Regan.
Melihat Regan gelisah begitu membuat Dito menghela nafasnya.
Begitulah Regan, jika sudah menyayangi seseorang, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya seperti dia menikahi Adera dengan paksaan agar Adera menjadi miliknya seutuhnya.
"Kalo lo takut kehilangan dia, kasih tau dia alasan lo nikahin dia. Kasih tau tentang perasaan lo ke dia sampe dia ngerasa kalo pernikahan kalian itu gak salah dan dia terima lo." Kata Dito.
"Gue bingung. Gue mau kasih tau dia sebenernya dan bikin dia ngingat gue lagi dimasa lalu. Tapi begitu gue ngeliat muka polosnya, lidah gue keluh." Ucap Regan, dia masih menatap keluar jendela.
Dito menghebus nafasnya. "Adera itu tipe cewek yang gak gampang luluh, gue bisa tau dia pas awal ketemu dia. Kalo emang dia jatuh hati sama lo, lo menang."
Regan terdiam. Apakah dia bisa memenangkan hati Adera untuknya? Apakah dia bisa membuat Adera jatuh hati padanya? Itulah pertanyaan yang selalu saja berputar-putar diotaknya.
Namun malam itu, Regan melihat dengan jelas Adera bersama laki-laki lain ditaman dekat minimarket.
Hatinya bagai remuk kala itu juga, melihat betapa bahagianya Adera berbincang dengan laki-laki itu yang merupakan teman sekampus Adera. Bagaimana Adera tersenyum, tertawa sudah menjelaskan kalau memang Adera lebih bahagia bersama laki-laki itu.
Dia bimbang, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Hatinya bagai terbakar detik itu juga melihat Adera bersama laki-laki lain.
Dengan emosi yang tidak terkontrol, Regan yang melihat pemandangan menyakitkan itu, mengepalkan tangannya. Melayangkan kepalan tangannya dipohon tempat dia bersembunyi untuk melihat pemandangan itu.
__ADS_1
Dengan darah yang mengalir dari tangannya karna memukul pohon dengan kencang, Regan meninggalka tempat itu detik itu juga.