Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
33: You First


__ADS_3

"Nih," Adera memberikan surat pada Regan yang sedang berbaring disofa sambil memainkan ponselnya.


Regan langsung mengambil surat yang diberikan Adera padanya. Dia menatap Adera tanpa membaca dahulu surat itu. "Apa nih?" Tanya Regan bingung.


"Liat aja."


"Surat apaan?"


"Surat lamaran dari Rina sama Friska buat jadi istri kedua sama ketiga kamu." Jawab Adera sembari tertawa kencang. Dia tidak habis pikir, sebelum pulang, kedua sahabat koplaknya itu membuat surat itu dan menyuruhnya untuk memberikannya pada Regan.


Regan mendengus. Dia menaruh surat itu dia atas meja sambil terbangun lalu terduduk disofa. Dia menatap Adera yang puas menertawakannya.


"Lo mau gue poligami?" Tanya Regan dengan sebelah alis terangkat.


Adera menjawab dengan anggukan. Dia masih tertawa terbahak-bahak, masih membayangkan kedua sahabatnya saat membuat itu tadi.


Regan tertawa gemas. Istrinya mengijinkannya berpoligami? Bukannya senang akan hal itu, Regan malah kesal dengan istrinya itu. "Lo beneran mau dipoligami hah?"


Adera berpikir sebentar lalu menganggukan kepalanya sambil menahan tawanya. "Iya gak papa. Tapi aku yang pilih sendiri siapa yang boleh jadi istri kedua sama istri ketiga."


Regan mendengus kesal. Yang benar saja, baru kali ini dia menemukan seorang istri mendukung suaminya mendua, bahkan Adera mendukungnya mentiga.


Saking kesalnya, Regan akhirnya menarik lengan Adera duduk dipangkuannya membuat Adera sontak terpekik terkejut. Regan akan memberi hukuman untuk Adera karna mendukungnya berpoligami. Dia tidak suka, karna yang dibutuhkan dalam hidupnya hanya satu wanita, yaitu Adera. Tidak ada yang lain.


Adera menatap Regan dengan jantung yang berdekup cepat bak sedang maraton. Adera gugup sekali, dalam posisi itu, Adera bisa melihat wajah Regan dari dekat bahkan jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.


Regan menatap Adera dengan wajah datar. "Segitunya lo senang kalo gue poligami?"


Adera gugup sekali. Dalam sedekat itu, Adera mulai menyadari sesuatu yang membuat wanita-wanita lain terpana dengan Regan yaitu ketampanan Regan. Pantas saja semua wanita yang menatap Regan terpana bahkan terpesona, ternyata Regan memang sangat tampan, dan juga dia mempunyai pesona badboy sejati yang membuat wanita-wanita tidak bisa melepaskan pandangannya darinya.


"A-apa? Gak begitu seneng tuh." Gugup Adera, dia memalingkan wajahnya.


Regan mendengus. Dia menarik dagu Adera agar memalingkan wajah Adera lagi kearahnya lagi menggunakan tangannya. Regan menatap mata Adera lekat-lekat.


"Sekarang gue gak butuh siapa-siapa. Yang gue butuhin cuma seseorang, tapi kalo nanti gue berubah pikiran. Jangan salahin gue kalo gue poligami." Kata Regan, dia tidak sungguh-sungguh pada kata-kata terakhirnya. Toh, yang dia butuhkan diseumur hidupnya hanya Adera seorang.


"Siapa?" Tanya Adera. "Siapa yang kamu butuhin? Apa ada wanita lain?" Lanjut Adera dengan serius.


Bibir Regan menyeringai. "Lo mau tau siapa orangnya?"


Adera menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Gue gak mau kasih tau."


"Lah kok gitu sih? Kan aku mau tau."


"Tapi gue gak mau."


Adera berdecak sebal. Memang sampai kapan pun sifat menyebalkan Regan tidak akan hilang.


"Nanti juga lo tau dengan sendirinya." Kata Regan.


"Gimana mau tau kalo gak dikasih tau!"


"Ya, mangkanya cari tau."


Adera menggeram kesal. Dia ingin bangun dari pangkuan Regan namun Regan menahannya.  "Lepas kek. Mau ngapain sih?" Jutek Adera.


Regan menyeringai miring. Dia menahan Adera yang ingin bangun dari pangkuannya. "Pengen ngelakuin apa yang lo lakuin di mobil malam itu." Seringai mesum Regan.


Regan mengecup bibir Adera lalu melihat reaksi Adera. Lalu dia kembali mengecup bibir Adera lagi sampai akhirnya kecupan itu menjadi lum atan yang begitu lembut.


Adera sontak menutup matanya, tangannya memegangi kedua bahu Regan. Dia juga mulai membalas ciuman Regan dengan pelan dan lembut. Entah dari kapan dia bisa sejago itu berciuman padahal ciuman pertamanya adalah Regan.


Tidak tahu dari kapan Adera sudah mengubah posisi duduknya dipangkuan Regan. Lebih tepatnya dia duduk menghadap Regan bahkan entah dari kapan kedua tangan Adera melingkar di leher Regan.


Tangan Regan juga melingkar dipinggang Adera, memeluk Adera erat. Suara kecapan demi kecapan terdengar disuasana yang sepi dan senyap itu. Menciptakan suara ciuman mereka itu diruangan itu.


Bohong kalau Adera tidak menikmati ciuman Regan. Regan sangat mahir membuat ciuman itu membuatnya nyaman. Regan bahkan melakukannya dengan sangat lembut dan teliti.


Regan menyudahi ciuman itu karna merasa kalau dia melanjutkannya, sudah dipastikan Regan tidak akan bisa menahan dirinya untuk melakukan hal lain pada Adera. Dia akan melakukan itu jika Adera sudah benar-benar menyukainya.


Nafas Adera tersegal-segal, wajahnya memerah setelah ciuman itu berakhir. Dia menatap Regan yang juga menatapnya.


Tapi bedanya Regan tidak tersegal-segal sepertinya. Mungkin dia sudah berpengalaman jadi dia tidak seperti Adera yang tersegal-segal setelah ciuman itu berakhir.


Tangan Regan mengusap sudut bibir Adera yang basah karna ulahnya. "Gue denger tadi dari temen lo, lo belum nemuin kantor buat magang?" Tanya Regan.


Adera menormalkan nafasnya dahulu sebelum menjawab pertanyaan Regan. "Iya, aku belum nemuin kantor buat magang. Abisnya bingung terus juga takut gak terima." Jawab Adera setelah nafasnya normal kembali.


"Emang kampus lo gak ngerekomendasiin?" Tanya Regan lagi.


Adera menggelengkan kepalanya. "Gak, dikampus aku tuh beda. Dia bikin semua mahasiswanya mandiri buat nyari kantor magang sendiri."

__ADS_1


Regan manggut-manggut. "Jadi udah nemuin kantornya?"


Adera menggelengkan kepalanya. Dia belum menemukannya.


"Mau magang di kantor gue?"


Benar juga. Regan kan punya perusahaan sendiri bahkan dibanyak tempat. Kenapa dia tidak minta kepada Regan saja sejak awal jadi dia tidak pusing mencari perusahaan untuknya magang.


Senyum Adera mengembang. "Boleh tuh."


"Oke, lo gue terima magang diperusahaan gue."


Adera gembira bukan main.


"Tapi ada syaratnya." Tentu saja Regan tidak memberi dengan gratis.


Adera menatap Regan lagi dengan kedua alis terangkat. "Apa?"


"Nanti gue minta syaratnya."


Adera memutar bola matanya malas. Dia baru ingat kalau dia masih duduk sipangkuan Regan, dan Adera langsung bangun dari pangkuan Regan dan duduk disebelahnya.


"Oh iya, Regan."


Regan menatap Adera. "Apa?"


"Aku pengen tanya sesuatu."


"Apa?"


"Udah berapa kali ciuman sama cewek lain?" Tanya Adera.


Sebelah alis Regan terangkat. "Kenapa lo nanya itu?"


"Ya, abisnya kayaknya kamu udah berpengalaman sih."


"Kalo gue bilang lo itu cewek pertama yang gue cium, lo percaya?"


Adera menahan tawa. Lelucon yang lucu. "Gak percaya lah."


"Yaudah terserah lo."

__ADS_1


__ADS_2