
"Papa tau gak, sahabat aku tuh ya pah. Sering banget ngegodain om-om dijalan, mungkin kalo mereka berdua ketemu papa pasti digoda juga." cerita Adera sembari tertawa.
Dan papa Jay juga ikut tertawa dengan yang diceritakan Adera. "Yaudah ketemuin papa sama sahabat kamu, ya lumayan kan daun muda. Papa pengen nikah lagi soalnya." kata papa Jay menganggapi cerita Adera.
Tatapan papa Jay beralih pada Regan yang duduk disofa. "Boleh kan Re, papa nikah lagi?" papa Jay membutuhkan persetujuan dari anaknya itu.
Regan yang tengah memandangi Adera langsung tersadar begitu papa Jay bicara dengannya. Dia menatap papa Jay yang meminta persetujuannya untuk menikah lagi. "Gak boleh!" sahut Regan.
Papa Jay cemberut dibuat-buat. "Kok gitu, papa kan juga mau nikah lagi, Re."
"Ya papa sadar lah, udah tua juga, rambut udah putih, kerisut, masih aja mau nikah lagi?!" omel Regan.
Adera baru tahu ternyata Regan dan papa Jay sedekat itu padahal awalnya dia kira Regan selalu menjaga jarak dari papanya berhubung papa dan mamanya bercerai saat dia masih kecil ternyata dia salah.
"Adera papa gak boleh nikah lagi, gimana dong?" rengek papa Jay pada Adera.
Adera tertawa, entah kenapa dia merasa papa Jay ketularan dengan bapaknya melihat tingkahnya itu yang sangat membanggongkan. "Ya, kawin lari aja pah, " Adera malah menyarankan yang tidak-tidak pada mertuanya.
"Tapi kata Regan papa udah kerisut, emang sahabat kamu mau sama papa?"
"Papa masih ganteng kok, masih macho. Tenang aja, sahabat aku itu seratus persen langsung mau apalagi papa kaya raya punya banyak uang. Pasti mereka mau." ucap Adera malah lebih memberi tahu kalau kedua sahabatnya itu mata duitan alias matre.
"Matre mereka." sambar Regan.
"Gak kok pah, ya walaupun emang matre sih mereka." bela Adera.
Papa Jay tertawa. Coba saja bapak Iqbal cepat-cepat kesana, mungkin akan lebih berisik namun kenapa bapak-bapak itu belum kunjung datang juga? Apakah dia tengah menggoda suster-suster montok tanpa memberi tahu papa Jay?
"Yaudah kalian pulang aja, kayaknya bapak Iqbal ketiduran dirumah. Daripada kelamaan disini, udah pengen magrib juga, mending kalian pulang aja." kata papa Jay menyuruh Regan dan Adera pulang.
"Ya terus papa gimana? Papa sendirian dong?"
__ADS_1
Papa Jay tersenyum pada Adera yang sudah khawitir dengannya. "Gak papa, papa biasa sendiri juga. Kalian pulang aja gih."
Regan bangun dari sofa, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dia menunggu Adera, dia akan pulang bersamanya.
"Tapi pah,"
"Gak papa Adera manis, papa malah seneng kalian pulang biar ditemenin suster-suster cantik disini."
Bukannya Adera tidak ingin pulang, hanya saja dia tidak ingin pulang bersama Regan. Dia hanya cangung saja apalagi mereka kan sebentar lagi ingin berpisah namun sepertinya Adera tidak punya cara lain.
"Yaudah kalo gitu aku pulang ya, pah." Adera menyalimi tangan papa Jay sebelum pulang. "Papa cepet sembuh ya, besok aku bakal kesini lagi." kata Adera.
Papa Jay menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Iya yaudah sana pulang." usir papa Jay.
Regan mendekati papa Jay dan menyalimi tangannya juga. Secara tidak sengaja kulit lengan Adera dan Regan bersentuhan dimana membuat keduanya canggung bukan main. "Aku pulang." pamitnya lalu berjalan keluar duluan. Dia sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan saat menyentuh kulit lengan Adera.
"Kalo gitu aku juga pulang, pah. Assalamualaikum," pamit Adera juga lalu dia beranjak pergi dari sana mengikuti Regan dari belakang.
......................
"Euumm, maaf sebelumnya, gue gak bisa pulang bareng lo." kata Adera dipertengahan jalan ke parkiran.
Dimana membuat Regan memberhentikan langkahnya dan menoleh kearah Adera dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa?" tanyanya tersinggung.
Adera memainkan jari-jarinya, dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Regan. "G-gue udah dijemput seseorang, maaf." jawab Adera.
Jawaban Adera malah membuat Regan menyeringai, dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku, Regan berjalan mendekati Adera dan berdiri tepat dihadapan gadis itu. "Segitu gak pengennya lo deket gue?" suara Regan terdengar dingin.
Adera memberanikan diri mendonggakan kepalanya. Seketika matanya menatap mata Regan yang menatapnya dengan tajam. "Gue cuma gak mau bikin hubungan lo sama Olivia jadi salah paham." jawab Adera.
Regan mengangkat sebelah alisnya. Alasan yang Adera berikan tidak masuk akal baginya. "Kenapa jadiin Olivia sebagai asalan kalo emang lo gak mau pulang bareng sama gue?"
__ADS_1
Adera mengigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepalanya lagi. Dia bingung harus menjawab apa. "Gak gitu," gumam Adera namun tidak dapat di dengar Regan karna saking kecilnya suaranya.
"Kasih gue alasan yang jelas, kenapa lo gak mau pulang bareng gue!" tekan Regan.
Adera akhirnya mendonggakan kepalanya lagi. "Karna gue gak mau deket lo!" entah kenapa Adera malah membentak Regan ketika dia mengingat kejadian dikantor tempo hari.
Regan tercengang dengan jawaban Adera yang malah membentaknya. Ini yang malah membuatnya yakin, berpisah adalah jalan yang terbaik untuknya dengan Adera melihat bagaimana Adera memperlakukannya seperti ini.
Namun Regan tersenyum miring mendengar itu, dia bahkan terkekeh sambil manggut-manggutkan kepalanya. Dia mengerti sekarang. "Kalo gitu lo pulang bareng siapa?" tanya Regan yang terdengar layaknya seorang teman biasa.
Dan itu membuat Adera terkejut. "Eh, g-gue pulang bareng Toni." jawab Adera hanya Toni yang terlintas dipikirannya.
Regan semakin yakin sekarang. Dia ber 'oh' ria sambil manggut-manggut lagi. "Oh dia, ngerti-ngerti. Jadi sekarang udah resmi?"
Resmi? apa maksud Regan Adera tidak mengerti.
"Kalo gitu, selamat ya." ucap Regan padahal hatinya sangat sesak sekarang bahkan dia hampir tidak bisa bernafas karnanya.
Regan salah paham, namun entah kenapa Adera malah tersenyum. "Makasih, lo juga. Selamat sama Olivia." balas Adera dengan senyuman dibibirnya.
Regan tersenyum tidak bisa dipungkiri kalau hatinya hancut berkeping-keping detik ini juga. Sama halnya dengan Adera, dia bahkan seberusaha mungkin menahan tangisnya.
Ucapan selamat dari keduanya membuat keduanya juga hancur. Kata selamat yang tidak seharusnya mereka ucapkan satu sama lain namun semua itu terlambat.
"Gue duluan kalo gitu," Regan langsung membalik badannya dan beranjak pergi dari sana. Dibalik punggungnya terdapat wajah sedih dari Regan. Dia bahkan berdecih karna saking sesaknya dada sekarang.
Begitupun dengan Adera, dia beranjak pergi berlawanan arah dengan Regan. Dia merintikkan airmatanya. Tanpa disadari hujan turun dengan lebat tiba-tiba, menguyur kepala Adera yang berjalan menjauh dari rumah sakit. Dia meneteskan airmata dengan bersembunyi dirintikan hujan.
Kini hujan lah yang menemaninya, memberi kekuatan padanya seakan tahu kesedihannya. Hujan yang menjadi temannya disaat dia terpuruk seperti ini.
Disisi lain, Regan yang baru saja masuk ke dalam mobilnya terdiam menatap rintikan hujan dari luar. Dia sedih, hatinya bagaikan hancur berkeping-keping. Apakah memang ini takdirnya?
__ADS_1
Regan mendengus, dia meneteskan air mata. Sepertinya dia memang harus merelakan Adera kepada lelaki lain. Tanpa mereka sadari, Hujan lah yang menjadi saksi kesedihan mereka.