
"Gue ngambek ya sama lo karna lo gak dateng ke pesta gue." Rina marah-marah pada Adera.
Karna hari ini hari minggu, Adera berkumpul dengan kedua sahabatnya dirumah Rina. Dan sekarang mereka sedang bersama-sama sambil menyemil diatas ranjang kamar Rina sambil bercerita-cerita panjang. Sudah seminggu lebih mereka tidak berkumpul begini.
Adera terkekeh dengan kemarahan Rina padanya, dia dengan sengaja melempar kulit kacang pada Rina. Padahal mereka tadi sedang seru-serunya bercerita tentang kelucuan.
Tiba-tibanya saja dia mengungkit hari itu, pesta ulang tahun Rina yang hanya diadakan untuk mereka bertiga dan Adera tidak datang.
"Parah emang lo ya, Ra." Celetuk Friska sambil menggeleng-gelengi kepalanya.
"Idih apaan, gue ketiduran ege." Tukas Adera. Berbohong, padahal malam itu dia sedang menangis sendirian di kamarnya.
Rina mendengus kesal mendengar ucapan Adera yang santai begitu. Padahal dia dan Friska sangat menunggunya malam itu untuk merayakan ulang tahunnya bersama-sama. "Lo kok ngeselin, Ra? Lo tau gak, kita udah nungguin lo lama, eh lonya gak dateng-dateng." Cerocos Rina.
Adera meringis. Dia memang merasa bersalah karna malam itu dia tidak datang dihari penting sahabatnya. Namun mau bagaimana lagi malam itu dia benar-benar enggan untuk pergi kemana-mana. "Sori elah. Kan gue juga udah ngucapin. Paling pertama lagi dibanding pacar lo ngucapin."
Friska tertawa tiba-tiba. "Mau tau gak sih lo ege. Dia dihadiahin celana boxing bekas sama Rivaldo." Kata Friska sambil tertawa.
"Seriusan?" Adera ikut tertawa dan itu membuat Rina sangat kesal.
"Lo mah, Fris. Parah banget lo mah!" Kesal Rina.
Friska dan Adera memberhentikan tawanya. Mereka tidak percaya, saking somplaknya kekasih Rina itu malah menghadiahinya celana boxing laki-laki dan itu pun bekasan dirinya. Membanggongkan.
"Abis gila banget sih. Dia kayaknya emang rada-rada deh." Ucap Adera.
"Bodo lah. Yang penting dia udah ganti hadiahnya. Nih liat kalung pemberian bebeb gue." Rina menunjukkan kalung emas dilehernya. Dan itu memang terlihat mahal.
Friska dan Adera berwow kencang bersamaan.
"Rivaldo orang kayak ya?" Tanya Friska.
"Iya ege. Dia dari orang berada." Jawab Adera. Dia pernah sesekali melihat barang-barang yang dikenakan Rivaldo dan itu memang merek luarnegri semua dan juga mahal tentunya.
"Wah, beruntung banget lo, Na. Punya doi kaya raya."
Rina membanggakan dirinya. "Jelas dong."
Friska memutar bola matanya melihat Rina membangga dirinya.
__ADS_1
"Oh iya, Ra. Pas lo gak dateng malam itu, gue sama Friska ngeliat suami lo, mas Regan sama cewek lain di restoran orangtua gue. Kayaknya dia lagi kencan deh." Mulut Rina gatal, tidak bisa tidak memberitahu Adera apa yang dia melihat Regan bersama wanita lain di restoran orangtuanya malam itu.
Friska melototkan matanya. Dia membekap wajah Rina dengan bantal karna mulut embernya itu. Padahal dia kan sudah bilang jangan mengatakan apapun pada Adera.
"Friska ribet lo!" Teriak Rina.
"Mulut lo comel banget!"
"Gue udah tau." Kata Adera membuat Rina dan Friska langsung menoleh kearahnya secara bersamaan.
"Apa? Lo udah tau?" Kaget Friska.
Adera menganggukan kepalanya. "Gue udah tau Regan kencan sama cewek lain."
Friska dan Rina bersamaan mendekat ke Adera. Mereka menatap Adera dengan serius.
"Lo tau suami lo selingkuh, Ra? Tapi kenapa lo diem aja?" Tanya Rina.
Adera tersenyum. "Kita udah mau pisah." Kata Adera membuat kedua sahabatnya terkejut tidak percaya.
"Kita bakal bercerai sekitar dua minggu lagi. Dan itu semua karna kesalahan yang gue buat."
"Maksud lo Ra?" Tanya Friska masih tidak percaya.
"Kenapa bisa begitu, Ra?" Rina menatap sahabatnya dengan sedih.
"Pas malam itu, kita bertengkar hebat. Gue yang kebawa emosi malam itu, bilang semua hal yang gak pernah gue bayangin sebelumnya, gue ngomong itu tanpa berpikir panjang dan itu yang bikin Regan mutusin buat cerai. Jujur, sebenarnya gue gak gak mau. Bahkan hati gue nentang semua yang omongan dikeluarin mulut gue tapi saking emosinya gue malam itu, gue ngomong semuanya yang mungkin bikin Regan sakit hati." Cerita Adera.
"Dan mungkin karna kejadian itu, dia jadi jatuh cinta sama wanita lain, wanita yang kalian liat direstoran itu. Gue juga semakin yakin ngeliat dia bahagia sama wanita lain, kalo dia sebenarnya gak punya perasaan apa-apa sama gue. Gue cuma jadi pelengkap aja, bukan buat dicintai."
"Tapi--" setetes airmata Adera terjatuh tanpa izin. "Jujur, karna kejadian ini, gue jadi sadar kalo gue suka sama dia. Gue benci dan marah kalo dia sama wanita lain apalagi ngeliat dia mesra sama wanita lain. Hati gue ngerasa sakit, gue gak rela dia sama wanita lain. Tapi apa daya gue?"
Friska dan Rina yang mendengar itu ikut sedih. Mereka tidak menyangka jika Adera akan melewati masa menyakitkan seperti ini dipernikahannya yang penuh paksaan seperti ini.
Tanpa sadar mereka berdua pun ikut meneteskan airmatanya.
"Gue suka Regan, Fris, Na. Gue kangen dia. Huhuhu," Adera menangis dengan kencang di depan kedua sahabatnya.
Mereka tidak menyangka jika cinta pertama Adera berakhir seperti ini. Dan Regan lah yang menjadi cinta pertamanya.
__ADS_1
Tidak tahan lagi melihat tangisan sahabatnya, Rina dan Friska sontak memeluk Adera. Mereka saling memeluk satu sama lain, memberi kekuatan kepada Adera.
Adera tidak pernah menangis seperti ini apalagi karna seorang pria. Jadi mereka merasakan apa yang dirasakan Adera.
"Ra, mungkin ini agak gak masuk akal atau mungkin ini sulit bagi lo. Kalo lo emang suka dia, pertahanin rumah tangga lo. Gue yakin lo bisa, pertahanin apa yang udah jadi milik lo. Kita, selalu ada buat lo, nyematin lo, Ra." Perkataan Friska membuat Adera makin memangis tersenduh-senduh.
"Ra, perjuangan dia. Perjuangin cinta lo, kebahagian lo. Gue juga yakin lo pasti bisa."
"Makasih,"
......................
Epilog.
"Jadi sekarang lo mau gimana?" Tanya Dito pada Regan.
"Gue besok bakal balik lagi ke kantor pusat. Lo tenang aja." Kata Regan, setelah menghebus asap rokok dari mulutnya.
Mendengar perkataan Regan membuat Dito lega karna Regan akan kembali ke kantor pusat. Tempatnya sebenarnya, namun entah kenapa Dito malah merasa bimbang. Apakah benar Regan akan melupakan Adera begitu dia kembali ke kantor pusat?
"Lo yakin lo bisa ngelupain dia?" Tanya Dito.
Regan menggelengkan kepalanya sambil menghisap rokok yang menyelip dijari-jari tangannya lalu mengehebus asapkannya lagi. "Gue gak tau." Jawab Regan.
Dito menghela nafasnya.
"Gue juga bakal pindah dari apartemen." Kata Regan lagi membuat Dito menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Maksud lo?"
"Gue bakal pergi besok dari sana. Gue gak yakin kalo gue bisa ngelupain dia sedangkan kita tinggal diatap yang sama. Jadi gue bakal kasih apartemen itu buat Adera."
"Lo serius?"
Regan menganggukan kepalanya yakin. "Gak ada cara lain selain pergi dari sana. Dan juga gue gak mau Adera ngerasa gak nyaman karna gue ada disana padahal kita udah pengen pisah."
"Lo serius sama keputusan lo?" Tanya Dito sekali lagi meyakinkan Regan.
"Cih, gue serius!" Decih Regan. "Gue bakal ngelakuin apapun biar Adera bahagia."
__ADS_1
"Tapi apa lo yakin kalo keputusan lo ini bikin dia bahagia? Gimana kalo sebaliknya?"
Regan tertawa pelan. "Gue yakin."