Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
50: Hancur


__ADS_3

"Eh tau gak, katanya pak Regan sama bu Olivia kemarin ada yang lihat pergi ke hotel, lho." Gosip para karyawan di toilet.


Adera yang sedang mencuci tangannya di wastafel jadi menguping pembicaraan mereka.


"Iya pasti lah mereka kesana. Toh, bu Olivia cantik, seksi lagi gimana pak Regan tahan liat dia." Sahut karyawan lainnya.


"Haduh, beruntung banget ya bu Olivia bisa ngeliat plus diterkam sama pak Regan. Bisa liat gak sih, badan pak Regan itu bagus banget gimana kalo dia telanjang dada?"


"Setuju banget, tambah berdamage dia."


Adera mendengus mendengar gosipan mereka. Kenapa mereka senang sekali membicarakan seseorang yang sudah melakukan hubungan terlarang di hotel? Dan sepertinya mereka sangat mendukung Olivia. Apa bagusnya coba Olivia? Hehhh, gak ngerti, Adera gak ngerti.


Adera mencuci wajahnya. Mendengar gosip itu membuatnya emosi. Lalu setelah itu dia keluar dari toilet. Dia sudah lelah mendengar gosipan para karyawan tentang Regan dan Olivia.


"Hay Adera gemes." Sapa sekretaris Dito ketika dia melihat Adera.


Adera memberhentikan langkahnya dan tersenyum pada sekretaris Dito yang menyapanya. Sudah lama dia tidak bertemu dengannya padahal dia sering sekali bolak-balik ke kantor cabang ini namun karna rumor tentangnya dan Dito, Adera menjadi enggan berbicara dengan Dito untuk beberapa waktu.


"Hay, bang!" Sapa Adera dengan ceria.


Dito mendekati Adera sambil tersenyum padanya. "Abis dari mana kamu?" Tanya Dito.


"Eumm, abis dari toilet, bang. Bang Dito abis dari mana?" Tanya Adera kembali.


"Biasa lah. Bolak-balik ke kantor pusat karna presdir sialan malah santai-santai disini." Jawab Dito.


Adera manggut-manggutkan kepalanya. "Mungkin dia pengen selalu berduaan sama pacarnya kali, bang."


Sebelah alis Dito terangkat. Kenapa reaksi Adera begitu? Apa dia baik-baik saja ketika mendengar Regan dan Olivia berpacaran? Tapi kenapa dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?


"Ra, kamu gak papa kan?" Tanya Dito yang malah membuat Adera bingung.


"Emangnya aku kenapa, bang?" Adera memainkan jari-jari tangannya. "Oh iya, bang. Gimana keadaan mbak Ratih, aku denger dia positif hamil ya? Wah selamat ya, bang Dito yang sebentar mau jadi orangtua." Kata Adera.


Dito tersenyum senang. Memang istrinya, Ratih positif hamil dan itu memang membuatnya benar-benar bahagia karna sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.


"Adera, kamu beneran yakin pisah sama Regan?" Tanya Dito dengan wajah serius.

__ADS_1


Adera menganggukan kepalanya. "Kalo Regan aja udah mutusin begitu, aku bisa apa?" Dengan paksa Adera mencoba tersenyum seakan baik-baik saja dengan itu semua.


Dito merasa ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Kenapa Dito melihat Adera juga merasa sedih karna mereka ingin bercerai? Dan dia merasa Adera tidak bahagia, bagaimana terlihat wajahnya yang tidak seceria kemarin-marin. Sepertinya ada yang salah dengan mereka.


"Ra," Dito memberikan berkas ditangannya pada Adera.


Adera menatap Dito dengan bingung. Dia menerima berkas itu dari tangan Dito dengan kedua alis terangkat.


"Tolong kasih ke ruangan Regan ya?" Pinta Dito dimana membuat Adera tidak percaya dengan apa yang dipinta Dito barusan.


"Tapi kan bang..."


"Abang mau ngantar Ratih ke rumah sakit dulu, buat meriksa kandungannya. Jadi tolong ya, Ra. Antar itu ke ruangan Regan." Pinta Dito.


"T-tapi.."


Tiba-tiba saja Dito langsung pergi dari sana meninggalkan Adera disana sendirian dengan berkas penting yang harus diberikan pada Regan.


Adera menghela nafasnya melihat Dito sudah pergi. Mungkin dia sudah buru-buru ingin mengantar Ratih ke rumah sakit untul check up kandungan Ratih.


Mau tak mau Adera akan pergi kesana dengan jantung yang berdekub dengan kencang karna dia harus bertemu dengan Regan lagi.


Dia harus menyiapkan hatinya untuk memberikan berkas itu pada Regan. Dan berharap dia bersikap seperti karyawan lainnya jika berhadapan dengan Regan nantinya.


Sesampai di depan ruangan Regan, Adera menghela nafas dan membuangnya berulang kali. Menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Regan lagi.


Setelah sudah punya tekad yang kuat, Adera langsung mengetuk pintu ruangan Regan dan menunggu sahutan dari Regan.


Namun kenapa tidak ada yang menyahut? Apakah Regan tidak ada di dalam? Kalau jika iya, bukan kah itu bagus untuknya menaruh berkas itu langsung diatas meja kerja Regan tanpa bertemu dengannya? Iya, Adera hanya perlu menaruh berkas itu di meja tanpa harus melihat wajah Regan.


Tanpa menunggu lagi, Adera membuka pintu ruangan Regan dengan pelan sampai pintu itu terbuka sedikit dengan mengendap-endap dia masuk ke dalamnya dan ketika dia mendonggakan kepalanya. Berkas ditangannya jatuh begitu saja dengan tubuh yang terdiam membeku di tempat.


Ternyata salah, di dalam ruangan Regan bukannya kosong karna tidak ada yang menyahut ketika dia mengetuk pintunya, dan ternyata dia tidak menyahut karna sedang bercumbu dengan kekasihnya dimeja kerjanya dengan Olivia yang ada dipangkuannya.


Karna melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit, Adera sampai menjatuhkan berkas penting itu dari tangannya sampai membuat suara yang lumayan gaduh.


Dan suara itu membuat Regan dan Olivia memberhentikan aksinya. Mereka secara bersamaan menoleh ke Adera dan begitu Regan menoleh, dia membulatkan matanya melihat sosok Adera yang terdiam disana.

__ADS_1


"Ada apa?" Bukannya Regan yang membuka suaranya, Olivia yang bertanya dengan nada ketus. Posisinya masih sama, di pangkuan Regan dengan blousenya yang terbuka memperlihatkan belahan dadanya.


Adera tersentak karna memandangan itu membuatnya seakan mati dalam detik itu juga. Dengan cepat dia mengambil kembali berkas yang terjatuh dilantai. Dia mendekati meja Regan dengan seberusaha mungkin bersikap biasa saja.


"M-maafkan saya karna mengganggu waktu anda... sekretaris Dito menyuruh saya memberikan berkas ini ke ruangan anda. Jadi, maaf karna menjadi pengganggu." Adera meminta maaf dengan bibir bergetar juga dengan wajah menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Regan yang membuatnya ingin menangis detik ini juga.


"Berikan berkas itu." Titah Regan, dia tidak bisa berhenti menatap Adera yang menundukkan kepalanya. Dia ingin sekali menatap wajah cantiknya itu.


Adera memberikan berkas itu pada Regan dan Regan mengambilnya dari tangannya.


Olivia yang melihat Regan terus menatap Adera menjadi kesal. Waktu bercumbunya dengan Regan jadi terganggu karna gadis itu. Lihat saja apa yang akan dilakukan nanti padanya karna sudah berani mengganggunya.


"K-kalau begitu, saya permisi pergi. M-maaf mengganggu waktu anda." Kini Adera menundukkan tubuhnya sampai 90 derajat.


Tidak ingin berlama-lama disana dimana membuatnya ingin menangis saking tidak kuatnya dia melihat pemandangan itu, Adera langsung pergi dari ruangan Regan.


"Huft, dasar j*lang. Dia itu penggoda yang pura-pura polos tau gak. Awas aja kalo kamu tergoda sama jal*ng itu." Kata Olivia, setelah Adera pergi dari sana.


Regan mengangkat sebelah alisnya. "Jadi lo orangnya yang bilang itu semua ke Adera?"


Olivia mengerutkan keningnya ketika Regan yang marah seperti sudah mengenal dekat dengan Adera. "Terus kenapa? Emang bener kok, dia itu cewek murahan yang sering godain laki-laki. Dia itu ****** kecil."


Rahang Regan mengeras. Dia menatap Olivia dengan tajam. "Turun!" Kata Regan dengan dingin.


Dan itu membuat Olivia takut dan langsung turun dari pangkuan Regan. Dia tidak mengerti kenapa sikap Regan jadi berubah begitu.


"Rasanya gue pengen cabik-cabik mulut lo yang nyebutin kata-kata itu ke Adera. Tapi karna lo udah rela gue jadiin pelampiasan gue, gue biarin lo kali ini." Ucap Regan dengan mata tajam.


"A-apa? Aku cuma dijadiin pelampiasan kamu?" Olivia tidak percaya.


"Pergi dari sini sebelum gue berubah pikiran dan cabik-cabik mulut lo yang busuk itu!"


Karna ketakutan Olivia langsung pergi dari ruangan Regan dengan mata berkaca-kaca.


Seperginya Olivia, Regan menyenderkan kepalanya di senderan kursi kerjanya sambil mengusap bibirnya sendiri dengan tangannya. Sialan, wanita itu berani sekali menciumnya seperti tadi dan itu terjadi bertepatan dengan kedatangan Adera ke ruangannya.


Wanita sialan itu! Regan tidak akan membiarkan wanita itu lagi jika berani menghina dan menyakiti Adera. Dia menyesal karna menjadikan wanita itu sebagai pelampiasannya.

__ADS_1


__ADS_2