Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Dilema


__ADS_3

Di kantor pusat Mahardika Groups


Regan menatap malas Saskia yang tiba-tiba datang ke kantornya dengan membawa makan siang untuknya. Padahal dia tidak meminta atau mengharapkan wanita hamil itu datang ke kantor, Regan malah berharap jika Adera lah yang datang membawa makan siang untuknya bukan dirinya.


Namun itu mustahil, mengetahui Adera tidak pernah datang ke kantornya karna Regan pun tahu kalau Adera tengah sibuk menyelesaikan laporan magangnya.


Regan mengangkat sebelah alisnya menatap Saskia yang tersenyum lebar padanya. "Ada apa kamu kesini?" tanya Regan dengan wajah datarnya.


Saskia berdecak. Dia sedih jika Regan secara terang-terangan tidak suka dengan kehadirannya. "Ya tentunya untuk bertemu dengan calon ayah dari anak ku lah." jawab Saskia dengan percaya dirinya.


Mendengar kata calon ayah dari anaknya dari mulut Saskia, Raga mengangkat sebelah alisnya dan mulutnya terbuka. "Hah? Calon ayah? Sejak kapan aku jadi calon ayah dari anak kamu?"


Saskia mengangguk kencang. Dia mendekati Regan dengan senyuman manis. "Iya, karna emang kamu kan ayah dari anak aku." ucap Saskia membuat Regan pusing.


Jika itu benar anaknya, dan jika memang benar malam itu dia melakukan kesalahan dengan Saskia walau dia tidak mengingatnya. Regan sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi ke depannya. 


Saskia duduk disebelah kursi Regan, dia tersenyum senang melihat wajah Regan. Dengan lancangnya dia memegang wajah Regan walau langsung ditepis oleh Regan. Dan itu membuat Saskia berdecak sebal. "Jangan jutek dong sama calon ibu dari anak kamu. Aku liat kamu gak pernah begitu tuh sama Adera. Aku jadi cemburu." Kata Saskia membuat Regan terkejut.


Kenapa perkataan Saskia seperti sudah mengenal Adera? Dan apa tadi, dia cemburu? Apakah perlakuan Regan memang salah karna terus kasar dengannya? Kenapa Regan jadi seperti ini.


"Saskia maaf, udah merlakuin kamu kasar." Sesal Regan akhirnya, dia jadi merasa bersalah padanya. Seharusnya dia tidak memperlakukan Saskia seperti itu, mengetahui kalau Saskia sedang mengandung yang katanya adalah anaknya.


Saskia menganggukkan kepalanya. "Kemarin aku ketemu Adera, dan bahkan kita sudah bertemen. Hebat kan?" Kata Saskia dengan senyuman lebar.


Mata Regan melebar. Adera dan Friska sudah saling mengenal?


Saskia dengan beraninya bersadar dibahu Regan. "Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia? Padahal secara keseluruhan, aku pemenangnya tapi kenapa bisa dia memenangkan hati kamu?" Kata Saskia.


Regan terdiam sejenak. Tidak perlu dijawab lagi, jawabannya adalah karna dia adalah Adera yang bisa memenangkan hatinya.


Kini tangan Saskia bermain-main di dada bidang Regan. "Aku pengen kamu, Regan. Aku pengen memiliki kamu seutuhnya."


Regan menepis tangan Saskia yang dengan nakalnya membuka kancing kemejanya. "Aku udah punya istri, Kia. Harusnya kamu ngerti." Ucap Regan berusaha melembut walaupun rasanya dia ingin membentaknya.


"I know, dan kamu juga jangan lupa dengan anak yang ada dikandungan ku, Regan." Balas Saskia dengan tekanan.

__ADS_1


Regan mendengus. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Disatu sisi dia ingin hubungannya dengan Adera terus baik-baik saja tapi disatu sisi dia bingung dengan hatinya sendiri.


Jika memang itu adalah anaknya, anak darah dagingnya, apa yang harus dia lakukan berikutnya? Apa yang harus dia lakukan?


Melihat Regan bimbang seperti itu membuat Saskia tersenyum. Dia berhasil merasuki pikiran Regan, membuatnya bimbang seperti ini dengan begitu secepat mungkin dia yakin bisa memiliki Regan. Tapi pertama-pertama dia harus merusak pernikahannya dahulu lalu menyingkirkan Adera dari kehidupan Regan. Itulah rencananya yang sudah direnakan matang-matang.


"Udah deh, nanti aja kita sambung berbincang nya, sekarang kita makan aja, aku udah bawain makanan kesukaan kamu loh! Ayam kari." Saskia menunjukkan rantang yang ia bawa. "Aku jamin deh kamu suka sama masakan aku karna aku masaknya pakai bumbu cinta, tau!"


Saskia menaruh rantang berisi makanan itu diatas meja kerja Regan lalu Saskia membuka tutup rantang itu setelah itu dia menyuapi Regan dengan kari ayam yang ia buatkan.


"Ayo makan nanti dingin loh." kata Saskia menyodorkan sendok ke mulut Regan.


Melihat Regan tidak menerima suapannya, Saskia berpura- pura sedih. Dia menaruh lagi sendok itu ke dalam rantang dengan wajah ditekuk. "Kamu gak suka ya sama masakan aku?" lirih Saskia.


"Bukan begitu Kia, aku cuma gak terbiasa disuapi orang lain."


"Yaudah mulai sekarang harus terbiasa. Ya?" Saskia tersenyum cantik.


"Yaudah, suapin aku." kata Regan. Dia tidak mau melihat Saskia sedih.


"Enak kan?" tanya Saskia dengan semangat.


Raga mengangguk dengan wajah datarnya.


"Kalo gitu kamu harus abisi kari ayamnya ya?" Saskia kembali menyuapi kari ayam pada Regan.


"Kamu suka gak sama kari ayam buatanku?" tanya Saskia sambil terus menyuapi Raga. Raga mengangguk pelan. "Kalo gitu puji aku dong." pintanya.


Regan menghebus nafasnya. Dia mengangkat tangannya ke atas puncuk kepala Saskia, mengusap-ngusap lembut rambut Saskia. "Aku suka kari ayamnya. Makasih." puji Raga.


Karna mau bagaimana pun, Saskia adalah teman masa kecilnya. Walaupun dia mengaku anak yang ada dikandungannya adalah anaknya, Regan masih menganggap Saskia teman masa kecilnya yang menemaninya saat kecil.


......................


"Mbak, aku mau curhat deh." Kata Adera pada Alisia. Dia saat ini sedang bermain mengunjungi rumah Alisia, walaupun masa magangnya sudah berakhir dan Adera pun sudah menjadi karyawan tetap, Adera tetap dekat dengan Alisia hingga kini.

__ADS_1


Alisia yang tengah melipat baju-baju Ale, anaknya diruang tamu bersama Adera menoleh ke arah Adera yang juga membantunya melipat baju milik anaknya itu. "Kenapa? Ada masalah?" Tanya Alisia.


Adera menganggukkan kepalanya. "Aku bingung mbak," ucap Adera dengan nada lemas.


Kening Alisia mengkerut. "Bingung kenapa?" Tanyanya dengan penasaran.


"Aku merasa akhir-akhir ini perasaan aku selalu gak enak. Aku selalu kepikiran Regan, dan juga aku bisa-bisa berpirasat buruk tentang Regan mangka dari itu aku bingung mbak." Curhat Adera dengan wajah sedih.


"Terus juga, akhir-akhir ini sikap Regan jadi berubah ke aku. Mungkin gak semuanya, tapi kadang dia suka curiga yang gak masuk akal ke aku, dia juga kadang suka marah-marah gak jelas ke aku. Kenapa ya mbak?" Sambung Adera, dia menatap Alisia.


Alisia mengerti apa yang dirasakan Adera. Dia sangat mengerti itu namun mendengar itu Alisia jadi takut memberi saran ke Adera, takut-takut nanti malah ada yang salah.


"Mbak juga gak tau, tapi kalo emang sesuatu ada yang ganjal sama kamu, bicara baik-baik ke Regan. Mungkin dia bakal ngerti." Akhirnya hanya itu saran dari Alisia.


Adera manggut-manggut. "Dicoba kali ya mbak." Ucap Adera.


Alisia menganggukan kepalanya. "Dicoba aja dulu."


Adera menganggukkan kepalanya mengerti, dia akan mencoba membicarakan itu dengan Regan secara baik-baik nanti dirumah. "Oh iya mbak, aku boleh nanya sesuatu gak?"


"Nanya apa?" Sahut Alisia.


"Gimana perasaan mbak saat ngeliat suami mbak selingkuh terus juga gimana cara mbak ngehadapinnya?" Tanya Adera dengan hati-hati.


Alisia menghebus nafasnya panjang lalu dia tersenyum pada Adera yang bertanya seperti itu. Sepertinya memang dia harus menceritakan hal menyakitkan yang ia simpan dalam hati sendiri kepada Adera. "Gimana perasaan mbak waktu itu? Perasaan mbak hancur berkeping-keping Adera, gak kebayang lagi gimana hancurnya mbak hari itu.


Mbak juga dilema, apa mbak harus ninggalin rumah tangga yang udah toxic ini atau mbak tetap menetap membiarkan batin mbak dihancurkan dia. Karna waktu itu Ale baru aja umur dua tahun, Ale juga lagi deket-deketnya sama ayahnya saat itu.


Mbak gak tau lagi harus ngapain, disatu sisi mbak capek gak kuat dengan tingkah yang semakin hari semakin menjadi, juga disatu sisi mbak bingung karna Ale. Tapi dari semua dilema itu, akhirnya mbak nemuin jawabannya dari berdoa ke Allah, meminta jawaban darinya. Untuk meninggalkannya dan hidup berdua dengan Ale." Cerita panjang Alisia.


Dimana membuat Adera tidak percaya.


"Intinya saran dari mbak ya buat kamu. Kamu bicarakan dari jauh-jauh hari, kamu buktiin kalo prasangka buruk kamu itu gak benar. Daripada nantinya kamu dilema kayak mbak, itu lebih menyakitkan, Ra." Saran dari Alisia, dari matanya mengisyatkan kesakitan, kesedihan yang ketara.


Adera menganggukinya. Benar, dia harusnya membicarakan itu dengan Regan secara baik-baik dan membuktikan kalau firasat buruknya terhadap Regan itu tidak benar. Karna dia tidak ingin hubungannya dengan Regan berakhir begitu saja karna sekarang, dia sudah sangat mencintai Regan.

__ADS_1


__ADS_2