Ayo Nikah!

Ayo Nikah!
Raka Ananta


__ADS_3

Lima tahun kemudian.....


"Raka," panggil Adera, dia tengah sibuk memasak di dapur untuk membuat sarapan dan bekal namun yang dipanggil tidak keluar juga membuat Adera sedikit kesal.


Akhirnya yang dipanggil datang juga, seorang anak laki-laki bernama Raka Ananta yang berumur lima tahun dengan bermata hazel itu menghampiri Adera sambil menguap lebar-lebar. Dia duduk di meja makan lalu Raka malah menidurkan kepalanya di meja.


Adera yang sudah menyadari kehadiran anak itu langsung membalik badannya menghadap anak itu, dia berkacak pinggang dengan sebelah tangannya memegang codet, dia melihat anaknya itu malah bermalas-malasan padahal ini waktunya untuk dia pergi ke sekolah TK.


Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Adera pun mendekati Raka dan langsung menjewer telinga anak itu. "Nakal ya, mau sekolah tapi belum rapi-rapi juga?" Omel Adera.


Raka mengaduh kesakitan, dia mengangkat kepalanya lagi sambil memegangi tangan Adera yang menjewer telinganya. Berharap mamanya itu segera melepaskan jewerannya. "Ampun mah, iya aku pake baju tapi lepasin mah," Raka, anak laki-laki berusia lima tahun itu meminta ampun pada mamanya yang menjewernya dengan kencang.


Dan Adera pun segera melepaskan jeweran pada anaknya itu. Dia menatap galak anak itu. "Cepet pake baju atau gak nanti mama buang semua mainan kamu!" Suruh dan ancaman Adera yang membuat Rakalangsung turun dari kursi meja makan dan melarikan diri dari sang mama. Karna takut jika semua mainan kesayangannya di buang sang mama.


"Dasar godzilla," kata Raka sebelum dia masuk ke dalam kamarnya lalu menyempatkan menjulurkan lidahnya kepada sang mama.


Adera berkacak pinggang, menatap Raka dengan galak. "Wah, jadi mau beneran dibuang mainannya, heh?" Adera menantang anak laki-lakinya itu.


Dan Raka pun tertawa, karna merasa sang mama akan benar-benar mulai berubah menjadi godzilla, dengan cepat Raka langsung masuk ke kamarnya dan berpakaian baju seperti yang diperintah Adera padanya.

__ADS_1


Adera menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya. Ada saja kelakuannya setiap ingin ke sekolah, tidak tahu seperti siapa kelakuannya itu, padahal waktu ia kecil dia tidak senakal itu seperti Raka.


Setelah sudah membuat bekal untuk anak nakalnya itu, Adera membuka celemek yang melekat ditubuhnya, menaruhnya lagi dengan benar lalu dia duduk di meja makan menunggu putra kesayangannya keluar dari kamarnya.


Adera memasukkan bekal yang ia buat di dalam tas Raka, dia melihat ke jam tangan yang melingkar ditangannya sambil melihat Raka yang belum juga keluar dari kamarnya.


Dan tak lama kemudian anak laki-lakinya itu keluar juga dengan memakai seragam TK yang berantakan dan Adera yang melihat itu hanya menghebus nafasnya.


"Mah, aku sakit, aku demam, aku pusing, aku salting, aku gak sekolah dulu ya?" Kata Raka dengan wajah polosnya ketika dia sudah berdiri dihadapan Adera.


Adera benar-benar tidak mengerti kenapa anaknya itu banyak sekali alasan ketika ingin berangkat ke sekolah, kemarin dia beralasan kesandung anak ayam dan sekarang alasan sakit. Adera tidak tahu siapa yang mewariskan sifat ke anaknya itu, yang pasti bukan Adera.


Adera mendekati Raka, dan berjongkok dihadapannya. "Banyak alasan banget kamu, ya. Kemarin alasannya kesandung anak ayam sekarang alasan sakit, besok alasan apa lagi, hm? Kepatok sendal?" Kata Adera sembari merapikan baju Raka yang jauh dari kata rapi.


Kedua alis Adera terangkat. "Kenapa emangnya? Apa yang gak seru sih?" Tanya Adera.


Raka kembali menatap Adera dengan wajah cemberut. "Ya abis ngebosenin."


"Ngebosenin? Masa sih?" Tanya Adera dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Iya, aku juga gak suka sama gurunya. Katanya dia suka mama, dia juga suka nanyain mama ke aku terus juga dia suka ngasih uang ke aku tapi tetep aja aku gak suka dia." Jawab Raka dengan wajah yang dimana membuat Adera mengangkat kedua alisnya.


Adera tahu jika guru TK Raka menyukainya bahkan dia menyukai Adera secara terang-terangan tapi Adera tidak tahu jika gurunya itu menyogok Raka. Terdengar lucu juga sih, namun Adera tidak punya perasaan apapun pada guru Raka itu hanya saja gurunya itu cukup menyenangkan mungkin karna umurnya lebih muda dari Adera?


"Bukannya Raka kepengen punya papa? Raka kan suka nanyain papa. Gimana kalo mama nikah aja ya sama guru Raka itu?" Raka setuju gak?" Goda Adera melihat reaksi anaknya yang menggemaskan itu.


Raka menggelengkan kepalanya, sepertinya dia tidak rela jika mamanya menikah lagi dengan guru tknya itu. "Gak boleh! Mama kan punya aku, jadi gak boleh sama pak guru Rian!" Larang Raka dengan wajah menggemaskan dimata Adera.


Adera tidak bisa menahan tawanya melihat cara Raka melarangnya. Sungguh anaknya itu benar-benar sangat lucu dan menggemaskan, Raka sangat sensitif jika ada seorang pria mendekatinya apalagi guru tknya itu.


"Ya ampun, Raka, kamu imut banget sih, mama gak kuat tau." Adera mencubit kedua pipi putranya dengan gemas dan itu namun Raka masih cemberut.


"Mama gak boleh sama pak guru Rian ya? Pokoknya nanti aku bilang ke pak guru Rian jangan deketin mama lagi, mama itu cuma punya aku." Kata Raka dengan wajah tegas yang malah terlihat menggemaskan dimata Adera dan juga seketika merasa deja vu ketika melihat wajah Raka itu mengingatkan Adera pada seseorang.


Mata dan wajah Raka sangat mirip dengan seseorang dan itu bahkan sangat mirip sampai setiap melihat wajah Raka, Adera terus mengingat wajah yang sudah ia lupakan bertahun-tahun ini.


Dengan cepat Adera menepis wajah orang itu dari pikirannya, lalu dia tersenyum pada Raka. "Janji, mama cuma punya tuan muda Raka." Adera menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil Raka.


Raka kembali tersenyum lebar.

__ADS_1


"Yaudah yuk, kita berangkat, nanti kita terlambat, lho." Adera berdiri, dia merapikan pakaiannya dan mengambil tas ransel milik Raka dan juga tas seling miliknya.


"Kita berangkat, tuan muda!" Seru Adera setelah memakaikan tas ransel pada Raka.


__ADS_2