
Regan bangun dari tidurnya. Dia terbangun karna suara pecahan piring yang terdengar begitu nyaring. Dan Regan menduga kalau itu adalah Adera. Karna khawatir dengan Adera karna tak biasanya dia cereboh begitu, Regan segera turun dari ranjang dan pergi melihat Adera yang mungkin saja berada didapur.
Saat melihat Adera yang tengah membersihkan pecahan piring itu, Regan sontak menghampirinya. Dia langsung berjongkok disebelah Adera dan itu membuat Adera menatap kearahnya.
"Ceroboh lo." Kata Regan, dia ikut mengambili pecahan piring yang berserakan dilantai.
"Tadi gak sengaja kok. Ceroboh gimana?" Adera tidak terima jika dia dikatai ceroboh oleh Regan. Padahal kan memang tidak.
Regan mengangkat sebelah alisnya. "Terus kalo gak dibilang ceroboh apa, hah?"
"Ya, pokoknya bukan ceroboh lah." Adera membela diri.
Regan menepis tangan Adera yang ingin mengambil pecahan itu lagi. Dia menatap Adera dengan lekat. "Biar gue aja, sana masak."
Adera menghebus nafasnya lalu menganggukkan kepalanya. Dia tidak perlu masak lagi, toh kemarin masakan yang ia buat tidak dimakan sama sekali jadi dia menyimpannya dilemari es dan tinggal dipanasi lagi juga bisa.
Adera kembali memanasi makanan yang dibuatnya diatas pengorengan. Membiarkan Regan yang memberesi pecahan piring yang karna ulahnya.
Regan membereskan pecahan piring yang ada dan menaruh semua pecahan itu ditempat sampah. Lalu dia bangun menghampiri Adera yang sedang mengaduk-aduk masakannya dipengorengan.
"Masakan yang kemarin?" Tanya Regan melihat masakan Adera didalam pengorengan.
Adera menoleh sebentar sambil menganggukan kepalanya. "He'em. Sayang kan kalo gak dimakan. Untungnya dimasukin ke kulkas jadi gak basi." Jawab Adera.
Regan manggut-manggut. Dia menatap wajah Adera yang fokus mengaduk-aduk masakannya. Adera sangat cantik saat fokus begitu, dan itu membuat Regan tersenyum tipis.
"Duduk sana dimeja makan. Jangan liatin orang terus." Tegur Adera tanpa menoleh. Rupanya dia menyadari kalau Regan tengah memperhatikannya.
Regan malah sengaja mendekat memperhatikan wajah Adera sambil melipat tangannya didada. Dia tidak akan pergi dari sana. Masa iya nikmat tuhan yang disunguhkan didepan matanya, dia abaikan begitu saja. "Gak mau."
"Seterah. Emang sih yah, wajah aku ini cantik banget sampe bikin cowok-cowok terpana." Dengan sok cantiknya Adera mengibas rambutnya yang dikuncir kuda.
"Pfftt," Regan menahan tawanya.
Adera memutar bola matanya. Tidak mempedulikan Regan yang terus menatapnya.
Adera mencoba masakannya yang sudah selesai dipanaskan. Dia mengambilnya dengan sendok lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Rasanya masih sama seperti kemarin. Jadi itu masih bisa dimakan.
__ADS_1
"Mau coba gak?" Adera menawarkan Regan dengan menodongkan sendok itu ke depan mulut Regan.
Bukannya menerima suapan dari Adera, Regan malah menundukkan kepalanya sambil memiringkan kepalanya. Satu tangannya menarik kepala Adera mendekat.
Adera yang terkejut langsung menjatuhkan sendok dari tangannya. Kedua tangan Adera sontak langsung meremas kaos yang digunakan Regan. Dia pun menutup matanya.
Regan sekarang menciumnya. Bukan sebuah kecupan seperti waktu itu, dia benar-benar menciumnya. Regan meresap bibirnya, melu matnya dengan lembut. Sebelah tangannya menarik tekuk Adera agar bisa mendalami ciumannya.
Regan mendorong Adera sampai ke kabinet dapur. Dia masih menciumnya dengan lembut membuat Adera terbuai dengan ciumannya itu. Adera bahkan hanya terdiam, tidak membalasnya. Dia hanya terdiam menerima apa yang dilakukan Regan.
Kecapan bibir Regan dan bibir Adera terdengar jelas ditelinga mereka. Seperti sebuah suara yang menjadi saksi ciuman mereka kali ini.
Merasa sudah puas, Regan menjauhkan bibirnya dari bibir Adera. Dia menatap wajah Adera dari dekat, nafas gadis itu sekarang tersegal-segal. Mungkin dia sudah kehabisan nafas tapi menahannya. Dan begitu Regan melepaskan ciumannya, Adera membuka matanya. Seketika mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
"Enak." Kata Regan membuat Adera bingung.
"Eh? M-maksudnya apa?" Adera tidak mengerti maksud perkataan Regan itu.
Regan tersenyum. Tentu saja yang maksudnya adalah bibir Adera. "Masakan lo."
Pipi Adera memanas seketika. Padahal dia belum mencobanya bagaimana dia bisa memuji masakannya begitu? Apa karna ciuman itu, Regan bisa merasakannya dari mulut Adera? Tidak, Adera sangat malu sekarang. "K-kan kamu belum nyobain."
Wajah Adera menjadi memerah. Bagaimana Regan bisa mengatakan itu segampang itu? Tidak tahu kah dia kalau Adera jadi punya penyakit jantung dadakan begini karnanya. "U-udah ah. Sana duduk di meja makan." Adera mendorong dada Regan dan menjauh darinya.
Regan tersenyum gemas. Melihat wajah Adera memerah begitu, membuat Regan makin gemas padanya.
Sesuai suruhan Adera yang menyuruhnya duduk di meja makan. Regan segera berjalan ke meja makan menunggu Adera menyiapkan makanan yang memang sudah jadi semua.
Adera menaruh semua masakannya di atas meja. Setelah itu, dia duduk di kursi sebelah Regan yang masih saja memperhatikannya sambil melipat tangannya di dada dikursinya.
Adera menyendokki nasi ke piring Regan dan juga dirinya. "Mau pake apaan?" Tanya Adera tanpa menoleh.
"Semuanya." Jawab Regan.
Adera menyendoki semua laukan yang ia masak ke piring Regan dan juga dirinya. Setelah itu Adera kembali duduk dikursinya.
"Lo mau tau sesuatu gak?" Kata Regan.
__ADS_1
Adera menoleh merasa penasaran. Dia mengangkat kedua alisnya. "Apa?"
Regan mendekatkan wajahnya ke telinga Adera. "Kalo itu bukan pertama kalinya kita ciuman." Kata Regan lalu dia menjauhkan wajahnya lagi.
"Hah? Kapan? Aku rasa itu pertama kalinya."
Regan tersenyum. "Dimobil, malam pas lo mabuk. Lo nyium gue duluan."
Pipi Adera kembali memanas. Apa? Dia melakukan itu pada Regan? Mana mungkin. Ingin tidak percaya, namun bisa saja omongan Regan benar karna malam itu dalam keadaan mabuk jadi dia tidak mengingat apapun.
"S-serius?"
Regan menganggukkan kepalanya.
Adera langsung memalingkan wajahnya. Dia sangat malu. Kenapa dia melakukan hal memalukkan begitu sih?
Regan tertawa kecil melihat reaksi Adera itu. Begitu menggemaskan dimata Regan sampai tidak bisa digambarkan bagaimana gemasnya Regan pada istrinya itu.
"Regan." Adera menoleh lagi ke Regan.
"Hem?" Regan menyahut dengan deheman.
"Gak adil banget kalo cuma aku yang ngomong pake aku-kamu." Ucap Adera.
Benar juga, tidak adil kalau cuma Adera yang menggunakan bahasa itu.
Adera meletakan sendok dipiring. Dia menatap Regan. "Kalo lo gak ubah ucapan lo pake aku-kamu. Gue juga gak." Adera menuntut Regan. Dia menggunakan kata gue-lo lagi pada Regan.
Sebelah alis Regan terangkat. "Wah, mau mati?"
Adera memutar bola matanya. "Iya, gue udah siap mati kok."
"Kalo lo aja gak contohin istri. Seharusnya istri gak perlu ngikutin perkataan lo dong? Suami itu kan kepala keluarga, jadi apa yang dilakuin suami, istri juga harus ngikutin dong?" Ucap Adera lagi.
Regan tertawa geram. "Wahh, luarbiasa. Berani banget lo."
Adera bangun dari kursi. Dia menatao Regan dengan sengit. "Terserah. Gue gak takut kok apa yang pengen lo lakuin ke gue." Ucap Adera. "Gue mau mandi. Bye!" Adera meninggalkan Regan dimeja makan sendirian.
__ADS_1
Padahal itu cuma gertakan untuk Regan. Habisnya Adera kesal saja padanya, dia menuntut Adera ini itu, dia sendiri saja tidak mencontohkannya dengan benar. Sebagai istri seharusnya kan dia mengikuti apa yang dicontohkan suami.
Tapi tenang saja, Adera akan berbicara seperti itu lagi nanti. Karna itu cuma gertakan untuk Regan. Lagipun dia juga sudah terbiasa menggunakan kata aku-kamu pada Regan.