
Sesampai di apartemen.
"Kamu malu-maluin tau gak!" Kata Adera sembari menaruh semua barang-barang belanjaannya diatas sofa.
Regan mengangkat sebelah alisnya, dia menatap Adera dengan tidak percaya. "Aku malu-maluin?" Regan tidak percaya.
Adera mendengus, dia juga menatap Regan dengan kesal. "Iya, apa-apaan coba tadi. Mau mukulin orang lagi, iya?" Omel Adera.
"Ya itu karna dia. Aku gak mungkin mulai duluan kalo dia gak ngajak ribut." Bela Regan.
"Apa? Bukannya kamu yang nyari ribut? Ngajak ribut?" Adera mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Regan mendengus kesal. "Dia masih suka sama kamu! Gimana aku gak emosi?"
Adera tidak percaya. Dia menatap Regan yang berusaha membela dirinya. "Dia masih suka sama aku, itu hak dia. Kita gak bisa ngurusin perasaan orang lain, Regan. Asal dia gak jadi pengganggu, fine-fine aja."
"Apa? Fine-fine aja? Terus kamu seneng gitu masih disukain sama dia, iya?" Dengus Regan lagi.
"Aku gak bilang seneng. Semua orang punya hak untuk menyukai seseorang, Regan."
"Iya aku tau, semua orang punya hak. Tapi bukan berarti suka sama istri orang!"
"Yah, terus kamu mau apa? Dia gak berusaha ngerusak kita juga, dia gak berusaha ngerebut aku dari kamu, dia gak akan kayak gitu, Regan. Aku kenal dia. Dan satu hal yang perlu kamu tau, aku cuma milik kamu. Jadi gak usah khawatir." Ucap Adera dengan lembut.
Regan terdiam sejenak dia tertegun dengan ucapan Adera lalu dia mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan. Benar, Adera hanya miliknya, jadi dia tidak perlu khawatir tentang itu. "Maaf," sesal Regan akhirnya.
Adera tersenyum sambil menghebus nafas. Dia pun memeluk Regan, mendengarkan detak jantung Regan yang berdetak lebih cepat. Dia menyukai detak jantung itu seakan menjadi musik kesukaannya.
Regan membalas pelukan Adera. Pelukan itu selalu membuat Regan menjadi lebih tenang. Mungkin memang Adera obat penenang untuk Regan. "I love you," ungkapan yang sudah sering Regan katakan pada Adera.
"Huft, aku tau. Saking keseringan ngedengernya jadi udah gak ada efeknya." Canda Adera.
"Yah gak peduli. Aku cinta kamu, itu yang perlu kamu inget." Tekan Regan.
"Iya-iya." Jawab Adera.
Regan melepaskan pelukannya. Dia menatap Adera dalam. Gadis dihadapannya ini, selalu membuat Regan jatuh cinta padanya setiap waktu bahkan rasa cintanya selalu bertambah seiring berjalannya waktu.
"Kenapa?" Tanya Adera sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kesini," Regan menarik Adera ke sofa dan dia mengangkat tubuh Adera ke atas pangkuannya.
__ADS_1
Setelah sudah duduk dipangkuannya, tangan Regan bergerak membuka kancing blouse Adera satu persatu membuat Adera diam saja.
"Mau ngapain?" Tanya Adera ketika semua kancing blousenya sudah terbuka dan Regan berusaha membuka blousenya itu dan hanya tersisa tanktop saja.
Regan menatap Adera. "Apa lagi kalau bukan nyusu." Jawab Regan, tapi bukan itu lah tujuannya membuka blouse Adera.
Regan juga membuka tanktop Adera, sehingga Adera hanya memakai branya saja. Dengan mata yang tajam, dia menatap dada Adera dimana membuat Adera bingung.
"Ternyata bener." Gumam Regan masih dapat didengar Adera.
"Kenapa?" Tanya Adera.
Tangan dingin Regan menyentuh dada Adera yang terlihat melepuh dan itu seketika membuat Adera meringis. "Ini karna apa?" Tanya Regan.
Adera terkejut. Bagaimana Regan bisa mengetahuinya, padahalkan dia berusaha menutupinya dari Regan. Tapi kenapa pria itu selalu saja mengetahui semuanya. Dan sekarang apa yang harus Adera jawab?
"Eumm, i-itu.."
"Jawab, sayang. Ini kenapa?" Tanya Regan dengan tegas.
Mau tak mau Adera harus jujur pada Regan. Takut-takut jika Regan juga sudah mengetahuinya. "Tadi dikantin kantor ada wanita yang gak sengaja numpahin sopnya ke aku." Adera memilih jujur pada Regan.
"Aku gak kenal dia. Tapi dia emang gak sengaja kok, beneran. Dia gak sengaja kesandung terus sopnya tumpah ke aku."
Regan menatap Adera dengan wajah serius. "Kenapa kamu bisa menyimpulkan dengan mudah, Adera?"
"Dia emang gak sengaja Regan. Aku serius. Lagian aku juga gak papa kok, serius. Aku gak papa." Kata Adera, mengetahui tatapan yang diberikan Regan padanya.
Regan menghebus nafasnya gusar. "Tunggu disini." Regan mengangkat Adera dari pangkuannya ke sebelah sofa dan dia langsung bergegas ke kamar.
Tak lama kemudian, Regan keluar lagi sambil membawa P3K ditangannya. Lalu dia kembali duduk disebelah Adera, mengangkat tubuhnya lagi keatas pangkuannya seperti semula.
"Kamu bilang kamu gak papa, apanya yang gak papa, hah?" Terlihat sekali dari sirat mata Regan bahwa dia mencemaskan Adera.
"Aku emang gak papa--- shhh awwss," ucap Adera, dia meringis cukup keras ketika Regan mengolesinya salep bakar dikulit dadanya. Dia bahkan sampai mere.mas kedua bahu Regan saking menahan rasa perih itu.
Sembari mengolesi Adera dengan salep itu, Regan terus menatap Adera yang sedang menahan rasa perih.
Setelah sudah selesai, Regan meniupi dada Adera berharap rasa perih Adera hilang.
Adera menatap Regan. "Maaf, bikin kamu cemas." Sesal Adera dengan wajah sedih.
__ADS_1
Regan menatap Adera. Tangannya terangkat mengusap pipinya dengan lembut. "Gak usah minta maaf, kan aku bilang. Yang perlu kamu lakuin cuma kasih tau ke aku, tentang apapun itu. Bisa?"
Adera menganggukkan kepalanya.
"Good girl," kata Regan sambil tersenyum pada Adera. "Mulai besok, kamu bakal dijaga bodyguard."
Adera menganga tidak percaya. Dia akan dijaga bodyguard? Untuk apa?. "Kenapa?"
"Aku gak mau kamu kayak gini lagi, sayang."
"Tapi gak harus pake bodyguard juga kan?"
"Harus! Kamu gak tau apa yang dilakuin orang-orang jahat ke kamu berhubung kamu itu gadis polos yang gampang dibohongi." Ujar Regan.
"Regan, aku gak papa kok. Aku bukan cewek lemah, jadi gak usah pake bodyguard-bodyguardan ya?" Bujuk Adera dengan senyuman andalannya.
"Tetep harus!" Tegas Regan.
"Ayolah Regan. Aku gak butuh bodyguard kok." Lagi Adera berusaha membujuk Regan.
"Big no! Kamu butuh bodyguard, sayang."
Adera mendesah pasrah. Masa iya dia harus di ikuti bodyguard? Kemana pun harus diikuti bodyguard? Adera tidak nyaman dengan itu.
Namun sebuah ide terlintas diotaknya dimana dia akan membuat Regan langsung berubah pikiran.
"Gimana kalo kita buat kesepakatan?" Kata Adera dengan senyum penuh arti.
"Apa?"
"Kita buat kesepakatan, kalo kamu puas dengan apa yang dilakuin aku, kamu harus cabut kata-kata kamu tadi, gimana?"
Regan merasa tertantang sekali dengan kesepakatan istrinya itu. "Oke, bikin aku puas, rubah hati aku dengan pelayanan kamu."
Adera bangun dari pangkuan Regan, dan dia berjongkok dihadapan Regan. Dia menatap Regan yang menatapnya. Dengan segera, Adera membuka resleting celana bahan Regan dia akan melakukan aksinya untuk merubah hati Regan.
Setelah benda kepemilikan Regan menyembul dari celananya yang sudah dalam keadaan terbangun di depan matanya, Adera kembali menatap Regan lagi.
Regan mempersilahkan Adera melakukan sesuka hatinya pada juniornya lewat tatapannya. Dia ingin tahu bagaimana Adera melakukannya sendiri tanpa permintaan darinya dan tanpa tutorial darinya.
Perlahan-lahan Adera mengecup dahulu kepala junior Regan dimana sudah membuat Regan kenikmatan lalu selanjutnya dia melakukan pijit plus-plus ala Adera yang membuat Regan sampai sakit kepala karna saking nikmatnya pelayanan dari istrinya itu. Dan mungkin Regan akan segera menarik kata-katanya tentang bodyguard untuk Adera.
__ADS_1